STORY OF NARA

STORY OF NARA
terlambat


__ADS_3

Nara sedang mempersiapkan Rajesh, tepatnya semua kebutuhan suaminya untuk keberangkatannya, wanita cantik itu sengaja tidak masuk ke kesekolah hari ini karena dia ingin mengantar kepergian suaminya tapi ternyata Rajehs malah tidak menginjinkan dirinya mengantar hingga ke Bandara, Rajesh justru menyuruhnya untuk tetap berada didalam rumah dan mungkin nanti dirinya juga yang akan menjemput Radith sepulang sekolah.


Sepanjang Nara mempersiapkan kebutuhan Rajehs, tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya, dia murung dan wajahnya seperti menunjukan kebingungan, khawatir yang bercampur menjadi satu seolah ada sesuatu yang menjanggal hatinya tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu pada suaminya, Nara tidak mau jika dianggap terlalu paranoid.


Rajehs yang baru saja keluar dari kamar mandi menyerngit melihat raut wajah istrinya yang tidak berekspresi tapi lebih ke bingung dan berpikir kersas terlihat deri guratan keningnya yang terlipat.


"Sayang...." panggil Rajehs membuat Nara tersadar dan segera menolah lalu menghampiri Rajesh.


"Mas sudah selesai? ayo aku bantu bersiap" pinta Nara.


Rajesh mengangguk, mendekat kearah istrinya sedangkan wanita cantik itu dengan sigap membatu suaminya memasangkan kemeja dan mengancingkannya, "dimana Radith? sudah berangkat?" tanya Rajesh mencoba mencari topik bicara.


"Sudah, dianatarkan supir tadi setelah sarapan" jawab Nara tanpa memandang wajah suaminya, dia terlalu sibuk dengan pikirannya dan pekerjaan tangannya.


"Ohhh"


"Sudah selesai, Mas rapikan rambut sendiri ya" ucap Nara yang dijawab anggukan oleh Rajesh.


"Sudah..."


"Rajehs mengandeng tangan Nara untuk menuruni tangga, tangan keduanya saling bertautan seolah saling menuntun dan membantu agar tidak tergelincir saat menuruni tangga.


Sampai di bawah, tetpatnya dilantai satu, ternyata Leo sudah kembali dari mengantar Radith dan saat ini sedang duduk menunggu majikannya dengan ditemani segelas kopi hasil bikinan maid.


"Kau sudah kembali?" tanya Rajehs dengan wajah datarnya.


"Sudah Tuan Muda" jawab Leo.


"Kalau tidak, kau tidak mungkin melihatku disini Tuan Muda" lanjut Leo dalam hati.


"Tunggulah diluar Leo, aku harus pamit pada istriku" titah Rajesh.

__ADS_1


"Astagaaa.... pamit yang seperti apa yang akan dilakukan Tuan Muda, kenapa mendadak jika kepoku merontan ingin melihat, tapi Tuan Muda sudah mengusirku" batin Leo dengan raut wajah yang sedikit kecewa.


"Baik Tuan Muda, saya tunggu di depan" Leo bergegas pergi meninggalkan para majikan yang kini adalah segmen untuk mereka berdua saja, tanpa ada yang mengganggu sedikitpun.


"Ada apa sayang? kau tidak mau aku pergi?" tanya Rajehs.


"Bukan, aku tidak melarangnya pergi" jawab Nara dengan cepat rapi wajahnya tetap merasa cemas seolah ada trauma disana tapi sebisa mungkin Nara menyembunyikannya dari Rajesh, Nara tidak ingin hanya karena dirinya Rajehs mengorbankan perusahaannya.


"Lalu apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Rajehs, tanganya mengusap pipi Nara dengan lembut lalu mengecupnya singkat.


"Tidak ada Mas, pergilah jangan sampai ketinggalan pesawat" ucap Nara menyuruh suaminya agar segera berangkat dengan senyum manis masih merekah indah di bibirnya.


"Kami minta dibawakan apa sayang?" tanya Rajehs.


"Minta bawakan cintamu semakin besar untukku" goda Nara dengan kekehannua seolah dia hanya bercanda mengatakan hal itu tapi tetap saja terselip nada ketegasa didalam intonasinya.


"Tanpa kamu meminta, aku pastikam cinta ini hanya akan untukmu, kini nanti dan selamanya" ucap Rajehs dengan nada yang serius, menegaskan pada istrinya bahwa apa yang dikatakan adalah kenyataanya dan dia tidak mau istrinya takut dan meragukan hal itu.


"Kau tua itu Mas, dan aku percaya itu" jawab Nara dengan senyumnya.


"Kau tau apa yang kamu pikirkan sayang, tapi percayalah aku bukan pria brengsek seperti dia yang menyia nyiakan apa yang sudah susah payah aku raih, aki akan menjadi pria paling bodoh di dunia ini jika harus melepaskan apalagi menyakiti dirinya" batin Rajehs dan kini tatapan keduanya bertemu.


Rajehs mendekatkan wajahnya, tepatnya bibirnya medekat ditelinga Nara, "aku tidak akan pernah mengkhianatimu sayang, karena ku bukan pria bodoh yang akan melepaskan berlian seperti dirimu" bisik Rajehs lalu mencium sekilas daun telinga Nara membuat wanita cantik itu memejamkan matanya merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


Nara belum membuka matanya saat perlahan Rajehs mendekatkan bibirnya dan menempelkannya pada bibir lembut Nada dan seketika tautan sudah terjadi diantara keduanya, sebagai tanpa perpisahan untuk beberapa hari kedepan.


"Mas berangkat sayang" pamit Rajehs, tangannya mengusap bibir Nara yang basah karena salifanya.


Wanita cantik itu membuka matanya dan menatap tepar Dimata Rajshs, "hati hati Mas, jaga kesehatanmu disana" ucap Nara.


"Tentu sayang, Mas akan hati hati, ska kau juga berhati hatilah" ucap Rajesh yang dijawab anggukan oleh wanita cantik itu.

__ADS_1


Nara mengantarkan Rajehs sampai di depan pintu karena memang itulah kebiasaan Nara y jika sedang berada didalam rumah, melakukan pekerjaan seperti para istri pada umumnya dan Rajehs Sanga senang jika Nara berada di rumah tapi pria tampan itu juga tidak bisa memaksakan Nada untuk berhenti bekerja apalagi saat itu kesepatan sudah mereka buat.


"Aku berangkat ya sayang" ucap Rajesh, Nara mencium punggung tangan suaminya dengan lembut dan penuh hikmat sedangkan Rajehs menyambutnya dengan ciuman lemhut mendarat di kening wanitanya.


"Hati hati Mas"


"Iya sayang, jaga dirimu saat aku tidak ada"


"Pasti Mas" jawab Nara.


ciuman lembut tapi singkat dibibir Nara menjadi penutup basa basi dan pamitan dari keduanya, Rajesh sudah memasuki mobil dan Lei langsung menjalankannya sedangkan Nara berbalik masuk kedalam rumah saat mobil yang membawa keperhain suaminya tidak lagi terlihat dari balik tembok yang menjulang tinggi yang dijadikan sebagai pembatas atau tepatnya pagar tembok yang mengelilingi Mension.


"Berharap kamu tidak menghianatiku Mas, aku percaya kamu tidak seperti dia" gumam Nara lalu kembali kedalam rumah.


Nara menyibukkan dirinnya, memanfaatkan keadaan suaminya yang tidak ada dengan membersekan rumah tapi tetap dia mengikuti perkataan Rajesh untuk bekerja tidak terlalu berlebihan dan Nara mengikuti hak itu, karena menurutnya mungkin karena terlalu lelahlah makanya hinggak kini tak kunjung diberi kesempatan memiliki anak.


Selsai dengan pekerjaan kecil dalam Mesin, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh siang dan sebanyak lagi waktunya Radith akan kembali ke sekolah, Nara langsung bergegas menuju dapur untuk memasak terlebih dahulu makan siang untuk putrnya agar nanti Radith langsung makan saja tanpa menunggu lagi dirinya memasak.


Nara berkutat denga dapur sedikit lama karena ternayata ada beberapa bahan makanan yang habis dan terpaksa Nara harus menunggu terlebih dahulu maidnya yang membelikan di Minimarket hingga memakan waktu yang banyak bagi Nara dan melewatkan Radith yang sudab pulang seklah sejak dua puluh menit yang lalu.


Nara memekik kaget, waktunya habis hanya untuk menunggu bahan makanan tanpa sadar jika waktu terus berjalan dan kini putranya sudah waktunya pulang sejak tadi sedangkan dirinya masih berada disini dan baru menyelesaikan pekerjaannya.


Dengan segera Nara berniat mengambil kontak mobilnya, tidak lagi berniat untuk membersihkan diri karena yang ada dipikirannya saat ini adalah bocah tampan yang pasti sudah menunggu lama dirinya.


Tapi baru saja sampai didepan pintu utama, mobil yang tidak asing, yang sering dilihat Nara berkeliaran di sekolah yang sama dengannya memasuki halama rumahnya dan ternayata ada seseorang yang sedang dia khawatirkan turun dari sana.


"Mommy...."


"Radtih...."


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2