
"Sa....sayang..."
"Kau tidak mau menjelaskan padaku Rey?" tanya Nara dengan lirih.
"Sayang maaf ak...."
"Katakan! jangan hanya minta maaf, saya butuh penjelasan!" tegas Nara.
Reyhan terkejut mendapati sikap dingin kekasihnya yang untuk pertama kalinya Nara berkata dingin padanya, tidak ada kata hangat, tidak ada senyum hangat dan tidak ada tataoan cinta dari gadisnya itu. Hanya tatapan datar tanpa ekspresi yang dia lihat saat ini dari sorot mata Naranya.
Reyhan terdiam, lidahnya terasa kaku untuk berucap. Padahal dulu dia berpikir jika Nara tidak tau hal ini tapi sungguh di luar dugaanya bahkan belum satu hari Reyhan kembali tapi bencana ini sudah menimpa hubungan mereka.
"Maaf..." lirih Reyhan.
"Reyhan, aku rasa kau mengerti apa maksudku kan? aku bertanya kebenaran bukan permintaan maafmu" pinta Nara kembali mengulang apa yang menjadi keingininanya.
"Ya, benar" lirih Reyhan.
Luruh sudah air matanya, pertahanannya runtuh seiring dengan dunianya yang mendung mendengar jawaban singkat dari pria yang pernah menjadi pujaan dan dewa cintanya. Sakit benar benar sakit dirasakan seperti ribuqn belati menghujami tepat di hatinya mana kala telinga suara kekasihnya.
Dengan tangan yang terkepal kuat Nara mencoba menenangkan gemuruh dadanya, "kenapa Rey? apa dia lebih baik dariku?" tanya Nara.
Reyhan tersentak mendengar pertanyaan itu. tidak, Nara wanita yang sangat sempurna baginya dan itu benar benar sangat di syukurinya karena dia yang menjadi pria yang di cintai dan di puja oleh wanita cantik itu.
Dengan kepala yang menggeleng, "tidak sayang, tidak ada yang bisa membandingkan dirimu bahkan dia sekalipun" jawab Reyhan meyakinkan Nara.
"Lalu kenapa? kenapa akhirnya kau menikahi dia Rey?" tanya Nara dengan bibir yang bergetar.
"Aku...aku terpaksa sayang ak..."
"Kalah! aku kalah walau kau mengatakan jika aku makhluk yang sempurna" sela Nara membuat ucapan Reyhan terpotong.
Nara tertawa miris. Salah, akhirnya pilihannya salah dan orang tuanya benar jika Reyhan bukanlah jodoh yang terbaik untuknya.
Kalah, Nara kalah karena cintanya yang begitu tulus bahkan dengan kesempurnaan yang dia miliki dan cintanya yang sudah bertahta lama kalah dengan wanita asing dan dia berhasil menerobos masuk memisahkan mereka.
"Sayang....."
"Tidak! jangan berkata lagi Rey" sela Nara.
Dengan senyum mirisnya Nara kembali menatap Reyhan dengan tatapan yang sudah jelas tersirat kekecewaan disana dan Reyhan sadar akan hal itu.
"Selamat untuk pernikahanmu. Semoga kau dan dia di beri kebahagian" ucap Nara tulus walau dia sendiri sakit saat mengucapkan hal itu.
"Tidak Nara sayang.... jangan katakan itu, kebahagiaanku hanya bersamamu ku mohon jangan kau tinggalkan aku" pinta Reyhan dengan kedua tangan yang menggemggam jemari Nara.
Nara kembali menggeleng mendengar permintaan Reyhan yang menururnya sedikit konyol, "jangan serakah Rey, cukup kau fokus pada istrimu dan kita sebaiknya jangan lagi bertemu" putus Nara.
Nara berlalu meninggalkan restoran yang sudah disediakan Reyhan untuk mereka kembali mengukir moment indah tanpa menghiraukan seruan dan panggilan dari Reyhan yang terus meneriaki namanya.
.
Sementara di salah satu meja di dalam restoran, tempat yang sedikit tersembunyi dari meja yang di sediakan Reyhan seseong dengan mata lekatnya memandang pertunjukan itu sejak awal hingga kini.
Dia menyaksikan semuanya bagaimana Reyhan yang memohon pada Nara untuk tidak meninggglkanya, melihat bagaimana wanita cantik si Nara menyiratkan kekecewaan pada Reyhan bahkan mendengar jelas setiap kata demi kata yang terus terucap dari mulut kedua insan itu.
__ADS_1
Tidak bisa di pungkiri jauh dalam lubuk hatinya ada rasa bersalah karena susah memisahkan pasangan itu terlebih lagi melihat Nara yang tidak marah dan malah terlihat jelas ketulusan gadis cantik itu memberi doa terbaik walau dia yakin pasti Nara merasakan nyeri saat melantunkan doa itu.
Tapi di balik rasa bersalah karena sudah menyakiti gadis sebaik Nara rasa iri pun kian membesar dan mengambil alih keaadarannya karena melihat suaminya yang masih saja memohon untuk tidak di tinggalkan tanpa berpikir jika sudah ada dirinya yang bisa mencintai dirinya leboh dari Nara.
Dia adalah Cleora, seorang gadis yang menyandang status sebagai istri Reyhan tapi tidak pernah di anggap. Cleora yang tadinya sedari rumah sempat berdebat dengan Reyhan memutuskan untuk mengikuti suaminya diam diam.
Alasannya adalah karena dia ingin melihat seperti apa Nara gadis cantik yang sangat di cintai kekasihnya itu dan benar saja Nara memang gadis yang sangat cantik bahkan Cleora pun merasa terpesona dengan wajahnya di tambah dengan suaranya yang membuat mampu membuai dan mengobrak abrik persaan orang lain.
"Kau memang wanita yang baik Nara, tapi maaf jika aku tidak bisa berhenti dan terimakasih karena kau sudah memberi doa terbaikmu" vtin Cleora.
Cleora juga ikut bergegas menyusul kepergian Nara, sebenarnya dia ingin berbicara dengan Nara tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu mengingat keadaan pasangan itu yang sedang di rundung bencana.
Nara sendiri memutuskan untuk ke taman, tidak langsung menuju apartementnya.
Di sana dia menumpahkan air matanya, menangis tanpa takut akan ketahuan jika dirinya sedang rapuh. Tangannya meremas dadanya yang terasa sesak tangis pilu tidak bisa lagi di hentikan.
"Hiks..hiks..hiks..kenapa kau tegas sekali menghianati kepercayaanku Rey, kau menikahi wanita lain dan mengabaikan rasaku yang sudah menunggumu selama ini" keluh Nara dengan tangan yang mengcekram kuat bangku yang duduki.
Nara masih menangis, menumpahkan segala rasa kekecewaan dan sakit yang bercampur karena setelah ini di berjanji tidak akan lagi menangisi Reyham, dia akan melupakan pria itu walau tidak tau bagaimana tapi dia akan mencoba dan akan berusaha untuk melupakan Reyhan.
Tak berselang lama bahkan Nara yang masih menangisi kisah percintaanya, awan yang sudah menggelap kini semakin menggelap dan hujan pun turun memberi kesejukan bagi tumbuhan yang satu hari menikati panas terik, tapi sepertinya bukan hanya untuk tumbuhan tapi Alam seperti mengerti akan hati yang saat ini sedang terluka sehingga turun untuk memberi keredaan untuk Nara.
"Lagi lagi akam ikut menangis karena kisah cinta muliaku berakhir kandas karena penghianatan" batin Nara.
Kepalanya menengadah dengan mata tertutup meresapi hujan yang membasahi wajahnya, bersatu dan melebur dengan air matanya, benar benar benar alam ikut merasakan apa yang kini tengah di alaminya.
Sementara tidak jauh dari sana seorang pemuda tengan menatap lekat ke arahnya tidak beralih barang sedetik pun dari arah Nara yang duduk di bangku taman dan bertahan dengan dibawah guyuran hujan.
"Ckck kenapa dia sudak sekali bermain air? seperti anak akan saja. Tidak kah dia berpikir kesehatannya" gumam pemuda itu tapi masih bisa di dengat oleh asistennya.
"Siapa lagi yang maksud Tuan Muda?" tanyanya dalam hati.
Mereka adalah sepasanga atasan san bawahan yang tak lain adalah Rajesh Fernandese dan Leo Rendra sangan asisten kepercayaan. Netah alasana apa yang membuat mereka bisa berada disana malam hati begini di tengah hujan pula.
Flahs back...
Rajeh yang merasa bosan makan dj rumah memilih untuk mekan di luar bersama Leo. Mereka makan dengan nikmat dan hening seperti biasanya di ruang VIP yang sudah di pesan Leo sebelum berangkat dari rumah.
Tapi setelah selesai dan hendak melangkah keluar, kakinya tiba tiba diam saat matanya tak sengaja menatap sosok wanita yang selama ini mengganggu pikirnnya, wanita yang selama ini sangat di harapkan untuk bertemu kembali dan kini mereka kembali bertemu tapi dalam keadaan gadisnya bersama dengan pria lajn dan situasinya pun dapat di tebak oleh Rajesh jika sedang tidak baik baik saja.
"Gadisku" batin Rajeh.
Reyhan masih diam, matanya tidak lepas menatap Nara. Ya, fokusnya hanya pada Nara dan pendengarannya pun hanya untuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manis gadisnya tapi sayang hanya beberapa kalimat yang dia dengar karena sepertinya kejafiameja yang di sediakan Reyhan seseong dengan mata lekatnya memandang pertunjukan itu sejak awal hingga kini.
Dia menyaksikan semuanya bagaimana Reyhan yang memohon pada Nara untuk tidak meninggglkanya, melihat bagaimana wanita cantik si Nara menyiratkan kekecewaan pada Reyhan bahkan mendengar jelas setiap kata demi kata yang terus terucap dari mulut kedua insan itu.
Tidak bisa di pungkiri jauh dalam lubuk hatinya ada rasa bersalah karena susah memisahkan pasangan itu terlebih lagi melihat Nara yang tidak marah dan malah terlihat jelas ketulusan gadis cantik itu memberi doa terbaik walau dia yakin pasti Nara merasakan nyeri saat melantunkan doa itu.
Tapi di balik rasa bersalah karena sudah menyakiti gadis sebaik Nara rasa iri pun kian membesar dan mengambil alih keaadarannya karena melihat suaminya yang masih saja memohon untuk tidak di tinggalkan tanpa berpikir jika sudah ada dirinya yang bisa mencintai dirinya leboh dari Nara.
Dia adalah Cleora, seorang gadis yang menyandang status sebagai istri Reyhan tapi tidak pernah di anggap. Cleora yang tadinya sedari rumah sempat berdebat dengan Reyhan memutuskan untuk mengikuti suaminya diam diam.
Alasannya adalah karena dia ingin melihat seperti apa Nara gadis cantik yang sangat di cintai kekasihnya itu dan benar saja Nara memang gadis yang sangat cantik bahkan Cleora pun merasa terpesona dengan wajahnya di tambah dengan suaranya yang membuat mampu membuai dan mengobrak abrik persaan orang lain.
"Kau memang wanita yang baik Nara, tapi maaf jika aku tidak bisa berhenti dan terimakasih karena kau sudah memberi doa terbaikmu" vtin Cleora.
__ADS_1
Cleora juga ikut bergegas menyusul kepergian Nara, sebenarnya dia ingin berbicara dengan Nara tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu mengingat keadaan pasangan itu yang sedang di rundung bencana.
Nara sendiri memutuskan untuk ke taman, tidak langsung menuju apartementnya.
Di sana dia menumpahkan air matanya, menangis tanpa takut akan ketahuan jika dirinya sedang rapuh. Tangannya meremas dadanya yang terasa sesak tangis pilu tidak bisa lagi di hentikan.
"Hiks..hiks..hiks..kenapa kau tegas sekali menghianati kepercayaanku Rey, kau menikahi wanita lain dan mengabaikan rasaku yang sudah menunggumu selama ini" keluh Nara dengan tangan yang mengcekram kuat bangku yang duduki.
Nara masih menangis, menumpahkan segala rasa kekecewaan dan sakit yang bercampur karena setelah ini di berjanji tidak akan lagi menangisi Reyham, dia akan melupakan pria itu walau tidak tau bagaimana tapi dia akan mencoba dan akan berusaha untuk melupakan Reyhan.
Tak berselang lama bahkan Nara yang masih menangisi kisah percintaanya, awan yang sudah menggelap kini semakin menggelap dan hujan pun turun memberi kesejukan bagi tumbuhan yang satu hari menikati panas terik, tapi sepertinya bukan hanya untuk tumbuhan tapi Alam seperti mengerti akan hati yang saat ini sedang terluka sehingga turun untuk memberi keredaan untuk Nara.
"Lagi lagi akam ikut menangis karena kisah cinta muliaku berakhir kandas karena penghianatan" batin Nara.
Kepalanya menengadah dengan mata tertutup meresapi hujan yang membasahi wajahnya, bersatu dan melebur dengan air matanya, benar benar benar alam ikut merasakan apa yang kini tengah di alaminya.
Sementara tidak jauh dari sana seorang pemuda tengan menatap lekat ke arahnya tidak beralih barang sedetik pun dari arah Nara yang duduk di bangku taman dan bertahan dengan dibawah guyuran hujan.
"Ckck kenapa dia sudak sekali bermain air? seperti anak akan saja. Tidak kah dia berpikir kesehatannya" gumam pemuda itu tapi masih bisa di dengat oleh asistennya.
"Siapa lagi yang maksud Tuan Muda?" tanyanya dalam hati.
Mereka adalah sepasanga atasan san bawahan yang tak lain adalah Rajesh Fernandese dan Leo Rendra sangan asisten kepercayaan. Netah alasana apa yang membuat mereka bisa berada disana malam hati begini di tengah hujan pula.
Flahsback...
Rajeh yang merasa bosan makan dj rumah memilih untuk mekan di luar bersama Leo. Mereka makan dengan nikmat dan hening seperti biasanya di ruang VIP yang sudah di pesan Leo sebelum berangkat dari rumah.
Tapi setelah selesai dan hendak melangkah keluar, kakinya tiba tiba diam saat matanya tak sengaja menatap sosok wanita yang selama ini mengganggu pikirnnya, wanita yang selama ini sangat di harapkan untuk bertemu kembali dan kini mereka kembali bertemu tapi dalam keadaan gadisnya bersama dengan pria lajn dan situasinya pun dapat di tebak oleh Rajesh jika sedang tidak baik baik saja.
"Gadisku" batin Rajeh.
Rajesh masih diam, matanya tidak lepas menatap Nara. Ya, fokusnya hanya pada Nara dan pendengarannya pun hanya untuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manis gadisnya tapi sayang hanya beberapa kalimat yang dia dengar karena sepertinya kejadian itu sudah berlangsung lama sebebelum dirinya berdiri di sana.
Sayang....."
"Tidak! jangan berkata lagi Rey" sela Nara.
Dengan senyum mirisnya Nara kembali menatap Reyhan dengan tatapan yang sudah jelas tersirat kekecewaan disana dan Reyhan sadar akan hal itu.
"Selamat untuk pernikahanmu. Semoga kau dan dia di beri kebahagian" ucap Nara tulus walau dia sendiri sakit saat mengucapkan hal itu.
"Tidak Nara sayang.... jangan katakan itu, kebahagiaanku hanya bersamamu ku mohon jangan kau tinggalkan aku" pinta Reyhan dengan kedua tangan yang menggemggam jemari Nara.
Flashback off...
Jadilah Reyhan kini menunggu Nara dalam mobil, menanti kapan gadinya akan kembali tapi semakin lama Reyhan semakin gusar karena Nara sudah terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan.
"Kenapa Tuan Muda tidak menghampirinya saja, jangan cuma bisa memandang saja" sindir Leo yang pastinya hanya bida berbatin saja.
.
.
Bersambung...
__ADS_1