
Reyhan pergi meninggalkan restoran, dia. sudah bertekat akan merebut Nara cepat atau lambat tapi terlebih dahulu dia ingin memiliki kekuasaan sama seperti Rajesh, dia mau mengembangkan perusahaannya agar menajdi perusahaan besar dan dia bisa melawan Rajehs kelak jika dia bergerak mengambil kembali gadisnya.
Sementara masih di restoran, keluarga kecil yang selalu di berkahi kebahagian itu masih terus melanjutkan acara makan siangnya, walau Rajesh dan Nara sudah selesai tapi Radith masih menikmati makanannya yang belum tandas.
"Finish Mom" seru Radith saat semua sisa makakan tak ada lagi yang bersisa.
"Ohhhh kau hebat sekali Boy, tapi tunggulah sebentar lagi, biarkan makannya sampai pada tempatnya" ucap Nara.
"Mas masih mau kembali ke kantor?" tanya Nara.
"Iya, masih ada rapat di kantor sore nanti" jawab Rajshs dengan senyum manisnya.
"Baiklah, lebih baik kita pulang agar Mas tidak terlambat nanti" usul Nara yang dijawab anggukan oleh Rajesh karena memanh benar walau hanya dapat bersama karyawan saja tapi tetap saja dia tidak boleh mengabaikan hal ini.
Leo yang sebaagi asisten sekaligus sebagai supir bagi Rajesh membuka pintu mobil untuk manjikannya barulah mobil kembali dijalankan saat semua penumpangnya sudah duduk dengan santai didalam.
"Leo, bagaimana proyek kita di Bali?" tanya Rajesh.
"Sepertinya kita harus meninjau barang sekali dua kali Tuan Muda, walau berjalan lancar seperti laporan anak buah kita tapi tetap saja pantauan kitanjauh lehih baik" jawab Leo menjelaskan semua maksudnya.
"Kau atur semuanya, kita akan kesana tapi Ingan jangan terlalu lama berada disana" titah Rajesh.
"Baik Tuan Muda, pekan depan kita akan kesana" jawab Leo menginterupsi jadwal keberangkatan keduanya.
Nara sendiri hanya memilih menjadi pendengar setia, dia tidak terlalu paham dengan semua yang diucapkan suami dan sekretaris suaminya itu, sementara Radith hanya memilih untuk bermain game diponsel milik ibunya.
Sampai di halaman rumah, Radith dan Nara keluar sedangkan Rajehs kembali melaju meninggalkan pelantara Mension milik keluarganya, melaju menuju kantor sesuai dengan apa yang dikatakan sebeluknya terhadap Nara.
"Ayo sayang, tukar pakaian dulu lali istrhat ya" ucap Nara.
"Ok Mom"
"Mom...." panggil Radith.
"Ada apa sayang?" tanya Nara.
"Emmm..... tidak jadi deh, nanti saja pasti ada cemilan lagi daur Mommy" jawab Radith dengan cengirannya, dia yang awalnya ingin dibuatkam cemilan nanti Soren kembali diurungkan karena dia sadar ibu sambungnya pasti tidak akan lupa atupun absen membuatkan cemilan sore untuknya.
"Kamu ini ya... sudah sana salin pakaian dulu* titah Nara.
__ADS_1
"Ok Mom"
Radith bergegas menuju kamarnya begitu juga dengan Nara yang langsung masuk kamar dan menukar pakaiannya dengan pakaian santai, pqkaiaan rumahan yang lebih leluasa untuk bergerak.
Selesai dengan itu semua, seperti biasa Nara yang tidak memiliki pekerjaan jika menjelang sore seperti ini akhirnya memutuskan untuk membuatkan cemilan untuk Radith sesuai permintaan putranya tadi, dan setelah semuanya selesai barulah Nara kembali ke kamar dan mengustrahatkan tubuhnya agar tidak terlalu capek seperti perkataan Rajesh yang selalu diultimatum padanya.
Sore hari, seperti biasa anak dan ibu itu akan duduk santai didepan tv ruang tamu, Radith akan menonton kartun kesukaannya sedangkan Nara akan menunggu waktunya memasak untuk keluarganya.
"Hai sayang...." sapa Clara yang baru saja tiba entah dari mana.
"Nenek dari mana?" tanya Radith.
Kebiasaan sang nenek yang akan selalu pergi dengan teman sosialitanya dan akan meninggalkan Radith sendirian, dulu itu saat Nara belum menjadi menantu maka hanya kesendirian dan kejenuhan yang akan dirasakannya.
Bahkan tak jarang neneknya akan mengikuti suaminya keluar kota, bahkan keluar Negeri dan itu bena Bena membuar Radirh murka hingga membaung semua barang barang yang ada didalam dan semakin hari kerakter keras Radith terbentuk karena itu, tapi kini sekarang tidak lagi, walau Nara masih bekerja tapi tetap saja tidak membuat Radith merasa kesepian karena Nara bekerja ditempat dia bersekolah bahkan menjadi wali kelasnya dan dirumah pun Nara selalu setia menemaninya bermain dan menonton seperti sekarang ini.
"Nenek dari mana? tanya Radith.
"Bertemu teman teman Nenek" jawab Clara dan ikut duduk bersama menantu dan cucunya.
Radith hanya mengangguk tidak berniat untuk terlalu menimpali karena sudah bisa seperti itu, beruntungnya kini Clara sudah mulai mengurang waktu waktu kepergiannya, dulu bisa sampai malam barulah Clara akan kembali ke rumah.
"Baik Nek, tanyakan saja pada Mommy" saut Radit malas.
Matanya masih fokus untuk menonton kartun kesukaannya, sehingga sedikit merasa terganggu dengan pertanyaan Neneknya yang entah sudah berapa puluh kali pertanyaan itu diulang ulang sejak dirinya bersekolah.
"Dasar anak ini, masih saja bertingkah seperti ini jika sedang asyik" decak Clara.
"Maafkan sikap Radith ya Ma.." ucap Nara.
"Kenapa minta maaf, Mama sudah biasa menghadapi sikap dingin bocah itu, hanya sama kamu saja dia akan bermanja" ucap Clara sengaja membuat wajahnya bersedih.
Radith yang melihat hal itu berdecak kesal, dia tidak suka melihat orang orang terdekatnya bersedih, dengan berat hati Radith beranjak menuju Clara, "Jangan beracting Nek, aku tidak suka melihatnya" ketus Radith tapi tangannya memeluk erat tubuh Clara.
Kedua wanita dewasa itu tersenyum melihat tingkah gemas dari Radith, dia marah tapi justri tubuhnya malah bersikap manja pada Clara.
"Putramu bisa bermajan dengan Nenek juga Nara" ucap Clara bercanda.
"Nenek....." rengek Radith karena masih digoda oleh Clara.
__ADS_1
"Hahahaha...."
"Susah kamu habiskan cemilanamu, Mommy mau memasak dulu dan kau bersihkan dirimu setelah itu" titah Nara.
"Ok Mom, biarkan ini selesai dulu" jawab Radith seperti biasanya.
"Ma, aku tinggal masak dulu ya" pamit Nara.
"Iya sayang, Mama mau bertukar pakaian dulu lalu akan menyusul ke dapur"
"Jika Mama lelah jangan dipaksakan, aku masih bisa memasak sendiri untuk kita kok" ucap Nara mengerti.
"Tidak masalah, Mama suka memasak bersama kamu" kata Clara meyakinkan mertuanya.
"Terserah mama saja" ucap Nara akhirnya mengalah.
Nara menuju dapur, dia mulai berkutat dengan dapur sementara Radith masihh asyik menonton kartun kesukaan, dan Clara kembali dari kamar melangkah menuju dapur untuk memasak bersama dengan menantunya.
"Mana yang bisa Mama kerjakan?" tanya Clara membuat Nara terjangkit kaget.
"Aku kaget Ma"
"Hehehe maaf sayang, Mama terlalu bersemangat" ucpa Clara menampakan cengirannya.
"Mama benaran mau bantuin aku masak?" tanya Nara lagi.
"Tentu saja, bukankah bisanya juga seperti itu"
"Baiklah, seperti biasa saja ya yang Mama lakukan" tawar Nara, sesungguhnya dia tidak Inging merepotkan ibu mertuanya tapi rupanya mertuanya yang satu ini tidak beda jauh sikapnya dengan Rajesh suka memaksa dan mau menang sendiri dan satu lagi yang tidak bisa dilewatkan, yaitu memiliki seribu satu cara untuk membuat lawan mengalah.
Keduanya asyik memasak, kadang bercengkrama dan membahasa banyak aneka masakan untuk mereka hidangkan kedepan tapi tiba tiba keheningan mengambil alih kalah Clara bertanya sesuatu yang membuat tubuh Nara membeku, lidahnya keluh dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
" Apa sudah ada tanda tanda kamu hamil Nara?" tanya Clara.
Deg
.
.
__ADS_1
Bersambung...