STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 48


__ADS_3

"Apa benar aya dulu sama sepertiku Bu?" tanya Lionel yang merasa ini akan menjadi cerita menarik.


"Iya, coba ceritakan Bu bagaimana dulu hari pernikahan kalian" timpal Nara.


"Hei kenapa malah penasaran hal itu sih, lebih baik kau Lionel pikirkan saja perbikahanmu dan Princess temani kakakmu" ucap Anan yang ingin menghalangi istrinya cerita.


"Sudah saya pikirkan Yah, dan saya sudah siap"


"Dan Princess sudah menemani kakak, ini buktinya" jawab Nara mengatakan situasi mereka saat ini.


"Ish kalian ini, lagian Ibu kenapa harus berkata begitu sih tadi" kesal Anan.


"Ya biarkan saja, agar jadi hiburan" cuek Naina.


"Ayo bu cepat cerita" desak Lionel.


"Lionel, kamu kurang kerjaan sekali" ketus Anan.


"Loh aku memang tidak ada pekerjaan Yah, ini buktinya sedang bersama kalian" jawab Lionel dengan senyum kemenangan.


"Kalian benar benar ya"


"Sudah sudah...ini masih mau di dengar tidak?" tegur Naina.


"Tentu saja kami ingin mendengarnya" jawab Nara dan Lionel bersamaan.


"Maka dengar baik baik" ucap Naina.


Naina mulai menceritakan hari perbikahan mereka di masa muda, sedangkan Anan semakin uringan melihat istrinya tanpa beban mengungkap semuanya. Jangan tanyakan lagi bagaimana Lionel dan Nara, mereka terbahak tidak dapat lagi menyembunyikan tawa yang karena cerita sang ibu.


"Jadi ayah benar benar seperti itu bu?" tanya Lionel dengan tawa yang masih belum bisa di hentikan.


"Aku tidak menyangka pahlawanku bisa grogi pada ibu kesayanganku" timpal Nara semakin membuat Anan gusar.


Baru kali ini dirinya yang menjadi bahan olokan keluarganya karena tingkah istrinya sendiri, "sudah hentikan tawa kalian" sentak Anan.


"Kenapa ayah mesti malu sih?" tanya Naina.


"Tentu saja harga diri ayah di pertaruhkan" jawab Anan.


"Tidak apa ayah, justru ini akan menjadi pelajaran bagi kami, kak Lionel harus mampu bersikap seperti itu nanti pada kak Martha dan aku berharap kelak calon suamiku seperti Ayah" ucap Nara memberi pujian pada ayahnya.


"Sungguh ayahmu ini hebat?" tanya Anan.


"Sungguh Ayah, aku salut dengan ayahku ini, benarkan kak?" tanya Nara meminta pendapat kakaknya.


"Heem kakak setuju, kakak akan belajar seperti Ayah, agar Martha bisa bertahan denganku hingga tua" ucap Lionel membayangkan kelak kehidupan rumah tangga mereka.


"Baguslah jika kalian berpikir seperti itu, ayah harap jika kalian semua sudah menikah kelah keluarga kalian harmonis dan sejahterah" ucap Naina.


"Aminn...doakan kami bu" jawab Lionel dan Nara bersamaan.


"Yasudah bersihkan diri kalian sebentar lagi makam malam" ucap Naina dan mereka pun bergegas menuju kamar masing masing tanpa di perintah dua kali oleh sanga Nyonya.


Nara menghempaskan tubunya di kasur miliknya, rasanya benar benar nyaman setelah sekian lama tidak merasakan empuknya kasur miliknya dalam rumah ini.


"Nyaman sekali" gumamanya.


Ting


Satu pesan masuk mampu membuat Nara bangkit dari rebahannya mengambil ponsel dan membukanya, "Rajesh" gumam Nara dan langsung membaca pesannya.


"Selamat petang, jangan lupq bersihkan dirimu setelah itu makan malam" pesan Rajesh.

__ADS_1


Pesan singkat yang mampu membuat Nara tersenyum, memang hanya kata sederhana dari pria asing tapi entah kenapa terasa sangat indah sekali untuk di baca Nara, berasa kembali pada mada remaja Nara tersenyum sendiri dan membaca berulang kali pesan dari Rajesh.


"Astaga ada apa denganku...!" pekik Nara.


Baru tersadar jika dirinya sudah termakan pesan dari Rajesh padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi memikirkan pria itu apalagi jika harus welcome pada Rajesh tapi nyatanya hati kecilnya mulai berhianat pada prinsipnya .


"Jangan pernah berhianat hati, mohon sejalanlah dengan prinsipku" peringat Nara.


Tak ingin terus berlarut, Nara memutuskan untuk membersihkan dirinya, dia ingin mengalihkan perhatiannya dari Rajesh dengan terus berada di dekat keluarganya agar pikirannya terlaihkan.


Beberapa menit berlalu, Nara kembali ke kamar mandi tapi panggilan video dari nomor baru kembali menghentikan kegiatan Nara, mengecek siapa gerangan tapi melihat nomor baru apalagi panggilang yang lakukan panggipan video membuat Nara akhirnya mengabaikannya dan kembali memakai pakaiannya.


Ting


Pesan masuk dalam ponsel Nara membuat gadis cantik itu kembali menghentikan gerakannya yang ingin merapikan rambutnya, mengecek kembali ponselnya dan pesan dari nomor yang baru saja menghubunginya.


"Mommy, angkat telponya" pesan singkat.


Nara tersenyum membaca pesan yang ternyara dari anak sekolah yang merangkak jadi anak angkatnya secara tiba tiba tanpa membuang waktu Nara langsung menghubungi kembali nomor Radith dan tak butuh waktu lama panggilan sudah terjawab menampakan bocah tampan yang sangat menggemaskan, yang selalu mengisi hari harinya selama di tempat kerja.


"Hai mommy...." sapa Radith dengan girang.


"Haii sayang, apa kabarmu?" tanya Nara.


"Aku baik mom, bagaimana dengan mommy?" tanya Radith.


"Mommy baik sayang" jawab Nara..


"Aku merindukanmu mom" lirih Nara.


"Hei boy kita baru bepisah, dan kau sudah merindukan mommy" kekeh Nara.


"Apa mommy tidak merindukanku?" sedih Radith.


"Ya kau benar" jawab Radith dengan lesu.


"Radith...Boy...!" seru seseorang membuat Radith gelagapan dan itu tidak lepas dari perhatian Nara.


"Mommy sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi" ucap Radith dan langsung mematikan sambungan ponselnya.


Nara tidak lagi sempat menjawab karena panggilan sudah terputus membuat Nara bertanya tanya kenapa anak angkatnya bersikap demikian dan itu...suara yang sempat di dengar Nara rasanya tidak asing di pendengaran Nara tapi siapa Nara pun lupa.


Tak ingin terlalu memikirkan Nara memutuskan untuk turan bergabung di meja makan dengan keluarganya sedangkan di kediaman Radith sedangan berdebar takut jika daddy nya tau apa yang di lakukannya.


"Boy apa yang kau lakukan? dan itu hp siapa itu?" tanya Rajesh.


"Tidak ada dad, ini ....ini hp nenek" jawab Radith.


"No! ini bukan hp nenek dan lagi nenek tidak ada dirumah jadi tidak mungkin meningglkan hp nya" ucap Rajesh dengan tegas.


"Sorry dad, ini hp salah satu pelayan" jawab Rajesh pada akhirnya jujur.


"Kenapa kau mengambilnya? kemana hp mu?" tanya Rajesh yang tidak mengerti.


"Emm...em..."


Radith bingung ingin menjawab seperti apa, karena nyatanya hp miliknya ada hanya saja dirinya sudah membanting saat melampiaskan amarahnya dan belum sempat meminta ganti karena daddy tidak ada dirumah.


"Em em apa Radith jangan membuar ayah kesal"


"Radith menghubungi mommy" jawabnya.


"Mommy?" beo Rajesh.

__ADS_1


"Iya, ku harap daddy tidak lupa alasan apa daddy tinggal di apartemen dan mengabaikan diriku" kesal Radith.


"Jadi kau masih berusaha boy, dan sekarang malah memanggilnya mommy?" tanya Rajesh tak percaya.


"Tentu karena pilihan putramu tidak akan salah".


"Boy, untuk apa melakukan itu, daddy bisa mencari mommy yang lebih baik bahkan daddy sudah punya calonnya" jelas Rajesh.


"Tapi aku hanya mau dia saja!" tegas Radith.


"Daddy juga hanya mau pilihan daddy" ucap Rajesh ikut tegas.


"Dad percayalah daddy akan menyukainya nanti" bujuk Radith.


"Boy percayalah kau akan menyukainya nanti" balas Rajesh membalikan perkataan Radith.


Radith yang kesal dengan sikap ayahnya langsung pergi meninggalkan Rajesh menuju tempa pembantu dan mengembalikan ponsel yang dia pinjam setelah itu melangkah ke kamar dan membanting pintu dengan kerasa hingga menimbulkan suara membuat Rajesh yang ada di lantai dasar hanya bisa menghela napas.


"Entah seperti apa gadis yang kau inginkan jadi mommy itu Radith hingga kau bersikap seperti ini" gumam Rajesh dan melangkah menuju kamarnya.


Nara sudah duduk di samping Lionel kakaknya untuk makam malam bersama, "malam guyss" sapanya.


"Malam Princess" jawab mereka bersamaan.


"Ayo kita makan" ajak Naina yang langsung di anggukan anggota keluarga.


"Oh ya, sayang besok belum mau pulang kan? tanya Naina di sela sela kegiatan mereka.


"Makan dulu Bu, bahasnya nanti!" tegas Anan yang paling tidak suka jika ada yang bericara saat makan dan dia yakin istrinya sudah tau akan hal ini tapi semuanya terabaikan jika itu sudah menyangkut putri semata wayangya.


Naina tidak lagi berkuti, dia sadar jika saat ini situanya sedang makan malam dan dia melupakannya hanya karena ingin putrinya tetap disini lebih lama.


Nara sendiri hanya tersenyum melihat ibunya yang kena terguran dari ayah hanya karena dirinya, dia pun tidak bisa menjawab karena aturan rumah yang sudah sejak dulu tidak boleh ada yang bersuara jika sedang makan.


Selesai dengan semua itu, keluarga Saker memilih untuk bersantai ria di ruang keluarga sedangkan meja makan di bersihkan oleh para pelayan dalam rumah merekan.


"Gimana nak, kamu belum meu pergi besok kan?" tanya Naina.


Nara tersenyum lagi mendengar pertanyaan ibunya, padahal mereka baru saja menghempaskan bokong di sofa tapi sudah di beri pertanyaan yang sama lagi oleh ibunya.


"Ibu ini kenapa tidak pernah sabara" cibir Anan.


"Tentu saja semua yang menyangkut anak anak ibu tidak pernah sabaran" ketus Naina.


Lionel dan Nara hanya geleng kepala, terkadang pasangan paru baya itu akan berbedea pendapat tapi selaku saja Naina akan mengakah dan mempercayakan sepenuhnya Anan suaminya dalam bertindak apa lagi jika sang Ayah sudah memberi perintah maka tidak akan ada yang bisa membantah termasuk Naina yang notabeneknya wanita yang di cintai pria paru baya itu.


"Sabar dong bu, kenapa harus seperti ini, bukankah sejak dulu kita sudah sepakat untuk memenuhi semua keputusan anak anak asalkan itu tidak melanggar aturan dari keluarga kita?" tanya Anan.


"Loh ibu kan sudah mengijinkannya? memang apa lagi!" ketus Naina.


"Iya udah mengijinkan tapi tidak rela kan?" cibir Anan.


"Ibu hanya peduli pada anak kita pa, dia putriku satu satunya" kata Naina memberi pembelaan.


"Dia juga putriku tapi kita harus bisa menghargai keputusannya"


"Padahal kamu sudah tidak pacaran dengan Reyhan lagi, tapi masih saja mau tinggal disana" kata Nain secara tidak sadar sudah menyinggung Nara tentang Reyhan.


Seketikan Naina menutup mulutnya baru tersadar akan apa yang di ucapkan, dia sudah menyinggung masa lalu yang menyakiti anaknua sendiri, hanya larena egoisnya yamg ingin Nara tetap bersama mereka.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2