
"Ms.Nara....! " seru seseorang yang tak lain adalah Radith.
"Hei boy, how are you?" tanya Nara.
"I am fine Ms."
"Good boy"
"Oh Ms.Nara bawa mobil kan?" tanya Radith memastikan.
"Tentu sesuai permintaanmu"
"Horeee I am happy"
"Ohhh sayangku, Ms.Nara senang jika kau senang"
"Thank you Ms."
"Sudah ayo kita masuk" ajak Nara.
"Let's go....aku sudah tidak sabar segera siang" jawab Radith.
Nara hanya tersenyum, sesederhana ini kah keinginannya? dan semudah ini kah membuatnya tersenyum? sangar sederhana dan mudan untuk membuar menggukir sebuah senyum di bibir bocah tampan itu.
"Sabarlah, dan belajar saja. Kau tau kalau belajar serius maka waktu tidak akan terasa berjalan dan pasti kau tidak akan merasakan jika waktu sudah siang"
"Sungguh?"
"Of course"
"Baiklah aku akan belajar dengan benar hari hari ini agar waktu cepat berlalu" ucap Radith membua Nara kembali tersenyum.
"Jauh lebih menggemaskan jika kamu seperti ini boy" batin Nara.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah, Nara tidak lagi singgah lebih dulu di ruang guru. Tentu saja untuk menghindari seseorang tapi mungkin memang hari sial atau susah waktunya bertemu kini orang yang di hindari Nara malah bertemu di koridor sekolah.
"Ms.Nara.....kau langsung masuk kelas? tidak mampir di ruang guru dulu?" tanya Dilon yang tak lain adalah kepala sekolah.
"Ohh tidak Mr.Dilon, saya lebih suka seperti ini karena harus menyambut anak anak di depan kelas" jawab Nara memberi alasan.
"Ohhh begitu? lalu bagaimana kalian bisa kenal?" tanya Dilon.
"Tadi di halaman"
Nara sebenarnya mulai merasa risih karena Dilon terus saja mengajak dirinya berbicara tapi matanya tidak lepas menatap wajah Nara yang sudah sangat jelas tersirat kekaguman di sana.
Radiht yang melihat mommy angkatnya merasa gelisah menjadi semakin tidak suka dengan Dilon, padahal tadi dia mencoba bersikap santai selama itu tidak melebihi batas dan tidak mengganggu mommy angkatnya, tapi sepertinya di hadapannya ini malah semakin gencar saja menahan Nara dengan pertanyaan pertanyaan yang menurut Radith konyol.
"Ms.Nara ayooo....kita masuk sekarang" rengek Radith yang sengaja bersikap manja untk merecoh Dilon yang terus berbicara tanpa mau peduli ketdak sukaan lawan bicaranya.
"Ah eh kau mau masuk?" tanya Dilon dengan lembut.
"Tentu saja...!" ketus Radith.
"Sudah masuk saja lagian kelasmu tidak jauh lagi kan? Mister ingin berbicara sebentar dengan ibu gurumu" ucap Dilon.
Rsdith menatap tajam ke arah Dilon, sepertinya pria dewasa ini perku gertakan yang manjur agar tidak lagi mendekati calon momny nya.
"Aku mau bersama Ms.Nara dan kau kenapa malah mengganggu yang sedang bekerja sih" sindir Nara.
"Bukan menghalagi tapi ingin mengobrol sebentar" jawab Dilon memberi pengertian.
"Tetap saja itu mengganggu" ketusnya, "ayo kita masuk" ajak Radith seraya menarik tangan Nara dan memaksanya untuk melangkah.
"Oh sorry Mister saya harus masuk" ucap Nara dengan nata tidak enak yang padahal dalam hatinya bersorak riang karena bisa menghindar berkat Radith.
"Jangan merasa tak enak padanya!" ketus Radith.
"Oh boy, terimakasih"
"Aku tau mommy tidak suka dengannya makanya aku menarik paksa mommy untuk pergi dari sana" ucap Radith setelah memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Oh terimakasih sekali sayang, kau memang penyelamat mommy"
"Tentu saja, aku akan melindungi mommy dari orang jahat" jawab Radith penuh kebanggaan.
"Baiklah, kau duduk saja, mommy akan menyambut temanmu dulu".
"Baiklah"
Nara sibuk menyambut anak anaknya sedangkan Radith mengambil kesempatan untuk menemui Dilon, sepertinya bocah tampan itu akan memeberikan gertakan sedikit untuk kepala sekolah yang jelalatan itu dan dia sudah punya senjata yang ampuh untuk itu.
Tok tok tok
"Siapa...?" sahutan dari dalam.
Ceklek
"Radith?"
Dilon menautkan alisnya melihat kedatangan cucu dari pemilik sekolah tempat dia bekerja datang menemui dirinya.
Ya, semua sudah tau jika dirinya adalah cucu dari pemilik sekolah tapi perkara cucu dari anak yang mana tidak ada yang tau sama sekali, semua sebar tertutup tidak ada yang mampu menerobos dan membobol untuk mengetahui identitas diri mereka.
"Ada apa nak?" tanya Dilon dengan lembut.
"Cih..."
Radirh berdecih melihat Dilon sangat ramah dan lembut berbicara dengannya, Radith yakin jika itu hanya percitraan dan itu dilakukan untuk mengambil muka di hadapannya agar dinilai baik oleh orang orang dan posisinya tetap aman.
"Aku tau kau sama sekali tidak tulus tersenyum" batin Radith yanh terus menatap Dilon.
"Ada apa dengan anak ini? datang tapi tidak bicara, menggangguki saja. Untung kau cucu dari pemilik sekolah jika bukan sudah ku usir kau dari sini" batin Dilon menahan kekesalannya.
"Jangan ganggu Ms.Nara lagi!" ucap Radith to the point.
Dilon kembali menautkan alisnya, kenapa anak itu dengan lancangnya menyuruh untuk menjauhi Nara, apa dia menyukai Nara pikirnya.
"Ada apa dengan bocah ini?" tanya Dilon dalam hati.
"Kenapa? apa kau cemburu? kau masih kecil jangan memikirkan urusan orang dewasa" jawab Dilo di sertai kekehan renyahnya.
Dilon mendadak diam, ada rasa tidak suka mendengar perkataan Radith. Tangannya terkepal menahan amarahnya agar tidak kelepasan pada anak kecil itu.
"Apa maksudmu?" tanya Dilon yang masih berusaha untuk menahan dirinya.
"Apa kau bodoh, ku bilang Mommy Nara adalah calon mommy ku berarti calon istri ayahku jadi jangan mengganggunya apa lagi menyukainya"
"Kenapa aku harus menjauhinya, bagaimana jika Nara suka sama saya?" tantang Dilon dengan begitu percaya dirinya
Radith terkekeh mendengar kepercayaan diri Dilon, "apa kau pikir aku bodoh, tidak bisa melihat kalau mommy Nara sangat tidak nyaman dengamu? bahkan aku harus bertingkah untuk menyelamatkan mommyku darimu" ucap Radith dengan ekspresi mengejeknya.
"Kau....!"
"Jangan dekati mommy ku atau kau akan ku tendang dari sekolah ini, bukan perkara sulit bagiku meminta daddy menendangmu apa lagi jika alasannya adalah karena kau jelalatan dengan calon istrinya" gertak Radith.
Dilon yang ingin mengumpat marah kembali tertahan mendengar ancaman dari cucu pemilik sekolah ini, ini bukan ancaman belaka. Dia yakin jika bocah tampan ini tidak main main mengingat garis keturunan Fernandese bukanlah orang yang suka menggertak.
Sementara Radith yang melihat lawannya tidak berkutik tersenyum puas karena bisa di lumpuhakn hanya dengan ancaman jabatan.
"dasar bodoh, mana mungkin daddy sibuk mengurusi hal ini sedangkan dia sendiri tidak tau jika aku dan nenek berencana menjodohkan dirinya dengan Ms.Nara" batin Radith dengan tawa jahanya.
"Kau pahamkan, kalau begitu saya ijin keluar Mister" ijin Radith dengan tawa kemenangan.
"Kau dari mana saja boy?" tanya Nara saat Radith sudah sampi depan kelas yang langsung di sambut pertanyaan dari Nara.
Nara tersenyum melihat mommy angkatnya khawatir padanya, "aku hanya bermain di taman Ms.Nara" jawaabnya berbohong.
"Sungguh kau hanya bermain?" tanya Nara memastikan.
"Sungguh, aku mana mungkin berbohong" jawab Radith.
"Tumben sekali kamu bermain? biasanya kamu tidak suka bermain?" tanya Nara.
__ADS_1
"Aku hanya suntuk Ms.Nara sibuk menyambut anak anak lainnya" jawab Radith beralasan.
"Ohh maafkan aku, ini adalah pekerjaan" ucap Nara.
"Its ok"
"Sudah ayo masuk"
"Ok mommy" goda Radith.
Nara kemabali di sibukan dengan mengajar dan bermain dengan anak anak, bahkan Radith dengan giatnya belajar seperti perkataan Nara pagi tadi dan benar saja tidak terasa waktu cepat sekalo berlalu dan kini waktu pulang sudah tiba membuat Radith bersorak gembira karena akan di antar oleh Nara sesuai keinginannya.
"Mommy ayo kita pergi" ajak Radith dengan tidak sabarnya.
"Tunggulah sebentar masih ada satu kawanmu yang belum di jemput" jawab Nara.
"Ckck, kenapa mamanya lama sekali menjemput" decak Radith.
"Bersabarlah boy, sebentar lagi"
"Baiklah aku akan bersabar" jawab Radith akhirnya kembali menunggu.
Setelah beberapa menit akhirnya Radith dan Nara pulang karena memang ini sudah di rencanakan oleh Radith makanya tidak ada yang menjemputnya sama sekali dan lagi Clara sudah menghubungi Nara sesuai instruksi dari Radith semua.
"Mommy, aku suka dengan mobilnya" ucap Radith memecah keheningan.
"Oh ya?"
"Iya, aku suka mobil mommy, nanti aku suruh ayah beli yang seperti ini" ucapnya.
"Memangnya daddy mu mau membelikannya?" tanya Nara sedikit meragu karena belum begitu tau apa apa tentang Radith.
"Tentu saja, apa pun yang aku inginkan pasti di berikan daddy, keculai hanya satu" jawab Radith dan langsung memasang wajah sendunya
"Apa itu?" tanya Nara penasaran.
"Daddy tidak memberiku mommy" jawabnya dengan lesu.
"Loh kenapa?"
"Ish daddy bilang tidak perlu momny jika sudah ada daddy" jawabnya dengan cemberut.
"Oh ya, memangnya kenama mommy mu?" tanya Nara yang ingin mengetahui tentang Radith.
"Tidak tau, daddy tidak mengatakan apapun padaku" jawabnya dengan mata yang berkaca kaca.
Nara yang melirik Radith dan melihat jika bocah tampan itu hampir menangis membuat dirinya memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan lalu menghadap Radith.
"Hei kenapa kau bersedih?" tanya Nara dengan tangan yang menangkup pipi Radith.
"Radith tidak punya mommy" jawabnya dengan bibir yang bergetar.
"Sttt....bukankah aku sekarang mommy mu,? atau kau hanya berpura pura mengatakan aku mommy mu?"
"Tidak, aku bersungguh sungguh"
"Kalau begitu kau jangan bersedih lagi karena sudah ada mommy mu sekarang"
"Apa mommy tidak akan meninggalkanku?" tanya Radith.
"Selama Radith menginginkan mommy maka kau akan tetap bersama mommy" jawab Nara yang tanpa sadar sudah memberi harapan pada Radith.
Niat hati ingin menghibur tapi mulutnya tidak bisa di kontrol untuk berjanji membuat Radirh semakin berharap pada Nara.
"Terimakasih mommy" ucap Radith dan langsung memeluk Nara dan juga di balas oleh gadis itu.
"Maafkan aku, semoga kelak kau bisa memaafkanku jika tidak bisa menepati janji" batin Nara.
"Kau akan menjadi mommy ku sebentar lagi, apapun caranya akan aku lakukan agar kau bersama dengan kami. Jangan salahkan aku jika begini karena kau sudah memberiku harapan" batin Radith dengan senyum liciknya dalam pelukan Nara.
.
__ADS_1
.
Bersambung...