STORY OF NARA

STORY OF NARA
sarapan bersama


__ADS_3

Keesokan paginya, Nara terbangun lebih cepat, langsung bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar dapat segar setelah itu langsung melangkah menuju pintu kamar dan keluar dari sana.


Tujuannya saat ini adalah dapur, dia akan memasarkan sarapan untuk kedua lelaki terhebarnya, entah kenapa pagi ini Nara begitu bersemangat sekali padahal memasak ini sudah menjadi kegiatan sehari harinya, bahkan dalam sehari Nara memasak sebanyak tiga kali tapi kebosanan tidak pernah menghinggapinya bahkan kini semakin bersemangat setiap pria pria yang sangat dicintai itu memuji masakannya.


"Nyonya, anda sudah bangun sepagi ini?" maid bertanya karena merasa terkejut dengan majikannya yang bangun pagi pagi dan langsung menuju dapur untuk berkutat disana.


"Tidak apa Bi, aku hanya ingin memasak lebih awal saja karena menunya ada beberapa yang ingin aku masak" jawab Nara dan tangannya sibuk memeriksa isi lemari untuk memastikan makanan apa yang akan dihidangkan.


Dan itu semua sedikit membuat Nara berpikir dengan keras masakan apa yang ingin dimasakan karena sudah pasti setiap pagi selama lima tahun ini wanita cantik itu tidak pernah memasak makanan yang bahannya ada minyak karena itu tidak baik untuk kesehatan keluarganya.


bahkan saat Radith meminta untuk dibuatkan nasigoreng, Nara selalu menggunakan mentega sebagai bahan untuk menggoreng bawang ataupun campuran lainnya.


"Nyonya Muda mau menghidangkan apa pagi ini?" tanya Maid yang sejak tadi terus memperhatikan gerakan gerakan yang diciptakan majikannya.


"Sesuatu yang berbeda dari sebelu sebelumnya tapi tetap tidak ada minyak" jawab Nara disela sela kesibukannya memilah Milah bahan makanan.


"Ohhh, lalu apa ada bahan yang kurang? jika ya, maka saya bisa memberi di minimarket yang buka dua puluh empat jam di blok sebelah" tawar Maid.


"Tidak ada sepertinya, semua masih lengkap Bi" jawab Nara, "lebih baik Bibi kerjakan yang lain saja ya, biar aku saja yang masak" pinta Nara yang langsung dijawab anggukan oleh maid itu.


Tanpa membuang waktu lagi, Nara langsung mengerjakan apa yang ingin dikerjakan, memasak dengan beberapa jenis makanan untuk putra dan suaminya, anggap saja sebagai syukuran untuk awal yang baru bagi perasaan Nara, yang sudah mengikhlaskan rumah tangganya.


Beberapa menit berkutat dan terlalu asyik hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang tiba tiba memeluk tubuhnya dari belakang membuat wanita cantik itu sedikit tersentak tapi tak lama setelah itu kembali biasa saja saat mendapati aroma khas tubuh dari pelakunya.


"Mas sudah bangun?" tanya Nara.


"Kenapa kamu bangun pagi sekali sayang?" Rajehs bukannya menjawab pertanyaan Nara justru berbalik bertanya pada wanitanya.


"Aku ingin memasak banyak pagi ini untuk kalian berdua" jawab Nara sembari tangannya sibuk mengaduk isi dalam wajan.


"Woww kenapa sangat tumben sayang?" tenya Rajehs dengan sedikit heboh.


"Tidak apa, aku hanya ingin saja" jawab Nara Santai.


"Baiklah, selamat memasak" ucap Rajehs tapi tidak melepaskan pelukannya, justru sekarang malah menyandarkan pipinya di bahu Nara, dan menenggelamkan wajahnya dicerik wanita cantik itu.


"Mas... jangan begitu, geli" tegur Nara saat merasakan kegelian di ceruk lehernya karena hembusan nafas serta sentuhan lembut dari bibir Rajehs.


Bukannya mendengar, Rajehs malas semakin menenggelamkan wajahnya membuat Nara mendengkus sebal, "Mas.. aku sedang memasak, jangan seperti ini dong nanti tidak kelar kelar masakannya" kembali Nara menegur tapi kali ini kalimatnya lebih panjang dari sebelumnya.

__ADS_1


"Mas suka posisi ini sayang" saut Rajehs tanpa mengubah posisinya.


"Tapi aku lagi masak Mas, nanti kerjaanku tidak akan kelar" kali ini Nara bicara dengan nada yang sangat lembut berharap dengan itu Rajehs suaminya akan melepaskan pelukannya.


"Biar Maid saja yang lanjutkan sayang" usul Rajehs.


"Tidak Mas, aku tidak mau usahaku tidak dihargai hanya karena Maid melanjutkan pekerjaanku" jawab Nara, "Mas tau kan? Radith pasti tidak akan mau makan nanti" lanjut Nara mencoba mengingatkan Rajehs akan putra mereka yang sangat pemilih sekarang.


"Ya mau benar, bahkan Mas sendiri tidak akan mau makan lagi nanti" saut Rajesh yang disusul dengan kekehannya.


"Nah itu Mas akui, yaudah lepas dulu" pinta Nara.


Mau tak mau Rajehs akhirnya melepaskan pelukannya dan hal itu dimanfaatkan wanita cantik itu untuk membuatkan teh untuk suaminya sembari menunggu waktu untuk mandi.


"Minum teh dulu Mas" ucap Nara seraya meletakan cangkir dihadapan Rajesh yang saat ini sedang duduk di ruang tengah meyaksikam berita di pagi hari.


"Terimakasih sayang" ucap Rajehs dengan senyum manisnya.


Nara hanya membalas dengan senyum manis Pulu, setelahnya wanita cantik itu kembali berbalik menuju dapur untuk melanjutkan kegiatannya memasak.


Setengah jam kemudian, semua pekerjaan khususnya memasak sudah selesai di lakukan Nara, "Bi... tolong tata di meja ya makanannya" pinta Nara.


"Ayo Mas, aku siapkan air hangat untuk mandi" ajak Nara setelah sudah berada dihadapan Rajehs diruang tengah.


Tanpa suara, pria tampan itu langsung beranjak dari duduknya, menggandeng mesra wanta cantik yang menjadi istrinya selama tiga tahun ini kembali menuju kamar untuk membersihkan diri.


"Mas mandi dulu, aki siapkan pakaiannya dan kalau nanti aki tidak ada disini berarti aki di kamar Radith ya" ucap Nara setelah selesai menyiapkan.air hangat untuk suaminya.


"Iya sayang, terimakasih ya" ucap Rajehs dan langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Nara langsung melangkah keluar menuju kamar Radith, dan dilihatnya ranjang sudah kosong yang artinya putranya sudah bangun dan artinya sekarang sudah berada didalam kamar mandi.


"Berarti sedang di kamar mandi" gumam Nara.


Kakinya melangkah menuju lemari pakaian Radith, mencari seragam yang akan dikenakan putranya untuk hari tapi di tengah tengan kegiatannya pintu kamar mandi terbuka.


"Mom..." panggil Radith.


"Morning Boy" sapa Nara.

__ADS_1


"Morning Mom" balas Radith.


"Kau sudah selesai? kemari biar Mommy banru bersiap" titah Nara.


Rajesh tentu saja dengan senang hati menuruti permintaan ibu sambungnya karena memang inilah yang sejak dulu yang dia inginkan, walau terkadang dia merasa malu kala teman temannya mengatakan sudah berpakaian sendiri dan tidak mau merepotkan orang tua tapi entah kenapa setiap anak kecil itu ingin melakukan hal sama pasti akan selalu gagal karena tak mampu membantah permintaan Nara.


Radith justru cenderung merasa sangat bahagia jika dibantu bersiap oleh ibu sambungnya , dan tekat untuk mandiri runtuh seketika saat mendengar suara lembut dari Nara.


"Selesai" seru Nara.


"Thank you Mon, i love you so much" ucap Radith dengan senyum manisnya.


"Ohh honey, u love you to so much" balas Nara rka kalah lembutnya.


Radith tersenyum lebar mendengar balasan daid ibunya, rasanya kebahagiaan sangat memihak dirinya saat ini dan dia berharap kebahagiaan itu terus ada walau waktu terus berputar dan berjalan.


"Ayo sayang kita turun" ajak Nara.


Mereka melangkah keluar dari kamar Radith tapi sampai di kamar utama, mendadak langkah Nara terhenti, "sayang... kamu turun duluan ya, Mommy mau mengecek ayah dulu" ucap Nara.


"Ok Mom" tanpa membantah Radith langsung mengiyakan permintaan Nara, sedangkan waniti cantik itu langsung memasuki kamarnya.


"Sini aku pasangkan dasinya Mas" pinta Nara saat tau suaminya sudah selesai berpakaian.


"Ini sayang, dan terimakasih" ucap Rajesh dan menyodorkan dasi ke hadapan Nara.


"Selesai"


"Terimakasih" Rajesh berterimakasih disusul dengan kecupan manis didaratkan dibibir wanitanya dan lama kelamaan berubah mendai ******* yang mengikis oksigen hingga mau tak mau akhinya terlepas untuk meraup oksigen dan menetralkan kembali nafas keduanya.


"Ayo kita turun" ajak Radith dengan senyum manisnya setelah nafasnya mulai teratur.


Nara hanya mengangguk dan menyambut genggaman tangan suaminya dan menuruni anak tangga untuk sarapan bersama.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2