
Nara sudah tiba di halaman sekolah dan bersamaam dengan itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman sekolah, dan ternyata penumpangnya adalah seorang panak berusia lima tahun yang tak lain adalah Radith calon sisa yang baru mengikuti pelajaran mulai hari ini di kelas Nara.
"Selamat pagi Ms.Nara..!" sapa Clara nenek Radith.
"Selamat pagi bu" jawab Nara dengan senyum manisnya, "selamat pagi Radith" lanjut Nara menyapa Radith.
Radith tidak menjawab sapaan itu, hingga sebuah bariton suara memaksa dirinya menjawab.
"Radith, nenek tidak pernah mengajari Radith seperti itu!" tegas nenek.
"Baiklah, selamat magi Ms.Nara" jawab Radith dengan penuh keterpaksaan.
"Ms.Nara, aku titip Radith ya"
"Baiklah nanti jam pulang pukul sebelas ya bu Clara" ucap Nara.
"Baik Ms.Nara, nanti saya akan menjemputnya" jawab Clara dan kemudian pergi meninggalkan sekolah setelah memberi kecupan di kening dan kedua pipi Radith.
"Baiklah Radith pergilah cuci tangan lebih dulu baru setelah itu masuk ke dalan kelas" ucap Nara dengan lembut.
Lagi lagi Radith tidak menjawab, dia pergi meninggalkan Nara dan menuju westafel umum tempat murid murid mencuci tangan terlebih dahulu.
"Jangan mengikutiku! aku bisa melakukan nya sendiri tanpa kau awasi!" ucap Radith dengan datar walau tidak melihat ke arah Nara.
Nara mengelus dadanya melihat sikap dingin bocah yang ada dihadapannya, bagi Nara Radith sudah dewasa sebelum waktunya, tidak seperti anak anak lain pada umumnya yang mesti harus di bantu oleh orang dewasa dan masih memikirkan bermain.
Tapi berbeda sekali dengan Radith yang tidaj tertarik dengan bermain, bahkan di kawal oleh guru pun dia sangat keberata.
"Baiklah Mis harap kau tidak melakukan kesalahan" ucap Nara dan berbalik badan hendak pergi.
"Memangnya sesuatu yang tidak bisa di lakukan disini sehingga kau memperingatkan aku untuk tidak melakukan kesalahan!" tanya Radith dengan nada dinginnya.
"Pertama Radith memanggil ku dengan tidak sopan! bukankah sudah mis katakan kalau Radiht berkata degan sopan? panggil Mis, bukan KAU!" ucap Nara dengan penuh ketegasan.
Radith menatap Nara dengan tajam, dia tidak suka jika diatur seperti itu karena baginya yang boleh mengaturnya hanya kakek nenek dan daddy nya saja yang berhak dan orang lain tidak boleh.
"Jangan menatap Mis dengan tatapan seperti itu, karena itu tidak mencerminkan sikap seorang anak didik" ucap Nara lembut tapi penuh penekanan.
Radith mengalihkan perhatiannya kemudian pergi meninggalkan Nara, tapi sebelum benar benar pegi Radith berkata "I hate you!"
"but I like you, really like you" jawab Nara terkekeh.
__ADS_1
Radith mendengus kesal mendapati wanita dewasa ini sangat menyebalkan menurutnya karena bukannya kesal dengan sikap dan perkataan Radith tapi malah dirinya yang kesal mendengar perkataan gurunya itu.
Sementara Nara terkekeh melihat Radith yang sangat kesal, dan memang ini adalah salah satu trik Nara dalam menghadapi bocah itu, yaitu dengan bersikap tidak tau malu dan juga membalas dengan keras juga.
Bukan kerasa dan kasar tapi keras kemauan akan di gunakan Nara dan mungkin sistem kekuasaan akan di gunakan untuk anak muridnya yang baru itu agar bisa menaklukan Radiht.
Radith berlalu meninggalkan Nara berjalan menuju kelasnya tapi seketikan langkahnya terhenti saar mendengar pertanyaan Nara.
"Kau tau kelasmu bocah tampan?"
Radith tidak menjawab ataupun bertanya, tapi dia tetap diam membatu di tempatnya menunggu kelanjutan Nara yang akan mengatakan kelasnya. Tapi Nara pintar, dia tidak mau mengatakan pada Radith karena dia ingin anak itu harus bertanya baru Nara akan menjawabnya.
Nara berjalan mendahului Radith dengan senyum yang berusahan di sembunyikan melihat wajah masam Radith, sementara bocqh lima tahun itu mendengus kesal karena dia di abaikan sama wanita dewasa itu dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah Nara saja.
Nara yang melihat itu kembali memutar otaknya agar Radith membuka suaranya untuk bertanya, dengan segera Nara memutar langkahnya dan tujuannya saat ini adalah ruanganya dan Radith yang tidak tau apa apa dan gengsinya yang tinggi tidak mau bertanya hanya mengikuti langkahnya.
Nara membuka pintu ruangan dan hendak menutup tapi dia berpura pura kaget mendapati Radith yang ada di belakanganya, dengan kening yang mengerti Nara bertanya.
"Loh kenapa Radith mengikuti Ms.Nrara disini?" tanya Nara kaget.
Sementara Radith merona karena malu mendapati Nara yang ternyata tidak melangkah ke kelas, melainkan malah ke ruang, dia tidak menjawab sementara Nara masih terus berusaha menahan tawanya karena dia tidak mau membuat Radith kesal nanti.
"Hey boy kenapa tidak menjawab, kau mau kemana hemm?" tanya Nara dengan lemut.
"Jadi kalau tidak tau, apa yang harus kau lakukan?"
"Tentu saja mencari tau, memangnya apa lagi!"
"Ya sudah cari tau saja sana" cuek Nara.
"Ck ini sedang aku usahakn tapi ternyata aku malah di bawah di ruangan ini"
"Kau sudah bertanya Radith?" tanya Nara dengan wajah datarnya"
"Tidak" lirih Radith yang sedikit merasa takut melihat reaksi Nara.
Nara menghela napasnya dengan berat, sebenarnya bukan dirinya sekali jika harus berkeras diri karena apa lagi pada anak kecil karena takut akan mempengaruhi mental anak tapi mau bagaimana lagi anak yang batu satu hati jadi muritnya ini memilimi sifat yang berbeda dari temannya bahkan dari anak anak pada umumnya.
Nara kembali sedikit membugkukkan badannya lalu meraih kedua pundak Radith, Radith ingin beregerak namun dengan cepat Nara menahan tubuh Radith dan sedikit menekan lebih kasar dan tatapannya masih lembut ke arah Radith
Mereka saling bersiborok, menatap dan menyelami ke dalam mata Radith dan Nara mendapati jika ada kekosongan di sana, ada kerinduan yang tidak pernah sampai dan di miliki Radith.
__ADS_1
Begitu pun sebaliknya Radith menatap lamat lamat mata Nara, walau dia anak kecil tapi lewat tatapan itu dia isa melihat ada rasa sayang, lembut sekaligus kasihan pada dirinya dan Radith benci itu karena harus terselip rasa kasihan untuknya dari wanita itu.
"Dengan sayang, biasakan jika tidak tau harus bertanya, karena tidak akan ada pengetahuan jika tidak bertanya" ucap Nara dengan lembut.
"Ck, aku pintar karena membaca bukan bertanya!" ketus Radith.
"Ya kau benar, kau pintar dalam akademik tapi tidak dalam hal seperti ini sayang karena jika tidak bertanya maka tidak akan tau" ucap Nara lagi.
"Jadi ayo bertanyalah"
"Untuk apa? kau sudah tau jika aku butuh kelas jadi tidak perlu lagi aku bertanya"
"Kau benar lagi tapi dengar ya, jika kau tidak bertanya maka orang itu tidak akan mengatakannya jadi ayo biasakan untuk bertnya" jawab Nara.
Radith masih merasa enggan membuak mulutnya, tepatnya sih dia tidak mau berkata dan masih mempertahankan keinginannya untuk tidak bertanya dan dia menginginkan Nara memberitahukannya saja.
"Baiklah Ms.Nara ada kesibukan ya, kau masuklah" ucap Nara seraya memutar tububnya.
"Aku bilang aku tidak tau kelasku...!" teriak Radith membua beberapa orang yang ada disana melihat bahkan termasuk kepala sekolah.
"Ms.Nara ada apa? ada masalah?"
"Tidak ada Mr, saya bisa mengatasinya" jawab Nara.
"Maka bertanyalah Radith, itu tidak akan menurunkan gengsimu"
"Dimana kelasku?"tanya Radith dengan suara kecilnya.
Nara tersenyum karena akhirnya bocah tampan di hadapannya ini bertanya juga dan dengan senang hati pula Nara menggandeng tangan Radith lalu melangkah.
"Ayo Ms.Nara tunjukan" ucap Nara.
Radith terkejut mendapati ada orang lain yang menggandeng tanganya tapi tatap Nara mengeratkan pegangannya membuat Radith jadi kesulitan.
"Jangan lepas jika kau akan tersesat lagi nanti" tegas Nara.
Akhirnya Radith mengalah dan mengitu arah langkah Nara, dia berpikir jika gurunya yang cantik itu tidak akan bisa di tindas seperti orang orang yang selama ini dia kenal terutama para pembantu di rumah daddynya.
"Dia benar benar beda" batin Radith denganata yang tidak lepas dari Nara.
.
__ADS_1
.
Bersambung