
"Sungguh luar biasa memang presentase anda Tua Fernandese tapi tidak bisa dipungkiri jika presentase dari Tuan Reyhan juga sangat bagus terutama dari segi penataan propertinya...." Mich berhenti sejenak, terlihat ragu untuk menyampaikan tapi tetap ia harus mengatakan ini agar tidak mengecewakan keduanya.
"..... Bagaimana jika kalian berkolaborasi untuk pembangunan ini?" tanya Mich membuat Rajesh maupm Reyhan terkejut, jawaban yang sangat diluar ekspetasi keduanya, permintaan untuk bekerjasama, apakah itu bisa terjadi? entalah hanya mereka dan mungkin keadaan yang tau akan hal itu.
"Maaf Tuan Mich, bisakah memberi alasan kenapa kamu harus berkolaborasi dalam hal ini?" tanya Rajehs, dia berharap jawaban dari Mich adalah jawaban yang bisa ia sanggah agar tender sepenuhnya jadi miliknya Tampa harus menjalin kerjasama dengan Reyhan.
"Begini Tuan Fernandese.... saya tau presentase anda sudah sangat baik, semuanya sudah saya mengerti dan jujur saja saya sangat tertarik, tapi tidak bisa dipungkiri jika saya juga sangat menyukai penataan dari properti yang dijelaskan perusahaan Tua Reyhan, dan sangat sulit untuk saya lepaskan." jelas Mich, "jika saja saya memiliki proyek lain, mungkin saya akan menggunkana jasanya di tender lain tapi hanya ini yang masih mampu saya berikan, jadi bagaimana menurut anda Tuan Fernandese?" tanya Mich setelah menjelaskan alasan apa dia menginginkan keduanya berkolaborasi.
Baik Reyhan maupun Rajehs terdiam, bibir keduanya terasa sangat sulit terbuka untuk berucap, mereka larut dalam pikiran masing masing, memikirkan bagaimana mungkin keduanya bisa bekerjasama sedangkan mereka sendiri adalah rival, rival yang artinya tidak akan pernah ada masa untuk kompak tapi kini, justru keduanya dipersatukan dalam alasan kerjasama.
"Bagaimana Tuan Rajesh, Tuan Reyhan?" tanya Mich tapi tidak ada jawaban.
"Tuan Muda anda harus memberi jawaban" bisik Leo membuar Rajehs tersadar.
"Ehm...apa harus seperti itu Tuan Mich? tidak bisakah kepercayaan itu dilimpahkan pada saru orang saja?" tanya Rajehs, sepertinya pria itu masih ingin terus bernegosiasi tentang hal ini.
"Benar Tuan Mich? jikapun anda hanya memilih perusahaan Tuan Fernandese, itu tidak masalah bagi saya walau sebenarnya besar harapan saya anda bisa memilih perusahaan kami" timpal Reyhan.
Rajehs dan Reyhan saling menatap dengan tatapan tajam, menunjukan ketidak sukaan mereka satu dengan yang lain membuar Mich merasa ada yang janggal dan Leo yang menyadari hal itu lagi lagi kembali menyadarkan tuan mudanya.
"Tuan Muda... jangan seperti itu, jaga wibawa anda dihadapan Tuan Mich, sejak tadi dia menatap pada kalian berdua" bisik Leo membuat Rajehs tersadar akan keadaan.
"Baiklah, Tuan Mich... jika memang itu adalah keputusan ada, asalkan dia hanya bisa menangani bagaina properti, maka tidak masalah dengan hal itu, dan... aku rasa tidak ada salahnya untuk berkolaborasi dengan pengusaha baru ini" ucap Rajehs pada akhirnya menerima akan keputusan Mich tapi itu justru membuat Reyhan sangat terkejut dan menebak nebak apa maksud dari Rajesh.
"Benarkah Tuan? saya sangat bahagia mendengarnya, maka mulai sekarang kerja sama kita akan disepakati dan kalia berdua saya harap tidak mengecewakan perusahaan saya" ucap Mich.
"Baiklah"
__ADS_1
"Ok demikian rapat kita, kami pamit undur diri" ucap sekretaris Mich yang mewakili tuannya untuk pamit.
"Ah baiklah, silahkan Tuan Mich... mungkin Anda sedang buru buru" ucap Reyhan.
"Silahkan Tuan Mich"
Mereka keluar dari ruang rapat dan dari sebarang sana Nara berjalan cepat menuju ruangan suaminya rapat, sepertinya dia lupa kalau saat ini suaminya sedang bersama pria dimasalalunya sehingga dengan langkah ringannya melangkah.
"Mas.." seru Nara dengan lembut, tak lupa senyum manis yang diberikan untuk Rajesh, ya hanya untuk Rajehs karena kini matanya tidak berkedip atau hanya melirik sekilas saja kearah lain, dan fokusnya
hanya pada Rajehs.
"Sayang..." respon Rajehs, tanganya sengan sigap mendekap tubuh wanitanya didepan kedua rekan kerjanya, terutama dihadapan Reyhan.
Narapun tanpa sadar masuk dalam pelukan Rajesh, dengan ringan dan senyum manisnya yang tidak pernah pudar, "Mas... aku harus menjemput putra kita" ungkap Nara.
"Sembentar sayang" ucap Rajehs, "maaf Tuan Mich... perkenalkan ini istri saya, wanita paling cantik yang tidak ada duanya" ucap Rajehs dengan penuh penekanan untuk seseorang.
"Ohh ini istri anda? sangat cantik.. dan kamu benar bagi seorang suami yang setiap, istri memang tidak ada duanya" timpal Mich dengan senyum manisnya.
"Selamat siang Tuan, saya Nara istri dari Mas Rajehs" ucap Nara dengan senyum manisnya.
"Tuan Fernandese memang tidak salah memilih pasangan, sangat cantik dan tutur katanya saja sudah membuat meleleh" gurau Mich, " tapi sayang saya tidak tertari karena saya pria setia dan saya hanya tertarik sama istri saya" lanjut Mich disusul dengan kemehan renyah darinya dan Rajehs.
"Anda benar sekali, berasa tidak ada yang paling cantik lagi selain istri"
Mereka terus bergurau melupakan kehadiran seseorang yang menatap Nara dengan sendu, matanya kembali mengembun ingin sekali meloloskan diri dari pelupuk mata itu, tapi sebisa mungkin dia menahan dirinya apalagi dihadapan Mich, jangan sampai ada pertengkaran yang akan merusak nama baiknya.
__ADS_1
"Mas, aku harus menjemput putra kita" ucap Nara, wanita cantik itu mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan, apalagi melihat tatapn Reyhan yang sama sekali tidak beralih darinya.
"Sebentar sayang, Mas akan ikut menjemput putra kita, sekalian kita akan makan siang" ucap Rajehs menahan Nara agar tidak beranjak terlebih dahulu.
Nara akhirnya mengatupkan bibirnya, dia tidak tau lagi harus berkata bagaimana untuk melepaskan diri dari keadaan seperti itu, dan akhirnya memilih untuk bersikap seolah tidak ada Reyhan disana tapi bukan berarti bertingkah menyakiti Reyhan, tidak. karena Nara kini hanya mampu diam dan tersenyum menimpali candaan dari Mich client dari suaminya.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Reyhan? sudah ada calon atau sebenarnya statusnya sama dengan Tuan Rajehs?" tanya Mich membuat Reyhan tersadar.
"Emm tidak ada Tuan Mich" jawab Reyhan singkat.
"Oh ya...? tidak ada karena apa ini Tuan? tidak ada yang mau? tapi ku rasa itu tidak mungkin jika ada yang berani menolak pesona anda" kekeh Mich.
"Tapi kenyataannya saya memang ditolak dan ditinggalkan" ucap Reyhan dengan tawa tipisnya.
"Oh ya? wanita mana yang berani menolak pesonamu Tuan Reyhan?" tanya Mich yang justru tertarik dengan kehidupan percintaan Reyhan.
Kembali Reyhan tertawa miris mengingat dirinya yang ditinggalkan karena kebodohannya sendiri, "tidak ada yang menarik Tuan Mich, hanya kepedihan dimasalalu" ucap Reyhan.
"Dia berhianat? jika ya maka jangan pertahankan wanita seperti itu Tuan Reyhan, banyak wanita yang lebih baik diluar sana" ucap Mich yang mengira mungkin wanitanya Reyhan berhianat.
"Mungkin wanitanya ada alasan pergi Tuan Mich, karena pastinya tidak akan ada asap jika tidak ada api" bela Rajesh, dia merasa tidak suka dengan perkataan Mich karena itu adalah istrinya.
"Apa benar begitu Tuan Reyhan?"
"Benar, dia pergi karena kebodohan saya" jawab Reyhan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...