
Nara sudah bersiap, saat ini dai berada di dalam kamarnya di kediaman Saker. Kamar yang sudah tiga tahun ini tidak ia tempati demi memperjuangkan kekasih hatinya, kamar yang rela ia korbankan dan tinggalkam kenayamanannya demi Reyhan cintanya.
Sebenarnya jauh dalam lubuk hati Nara yang paling dalam dia sangat merindukan suasana kamarnya, merindukan hangat dan nyamannya kamar dan kasur empukya. Bukan hanya itu saja, Nara juga sangat merindukan suasana rumah merindukan untuk mengukir semua kenangan dan kehangatan keluargaya.
"Mungkin malam ini aku akan tidur disini, aku sudah sangat merindukan kamarku" gumam Nara.
Tak ingin berlama lama dan tidak mau membuat keluarganya menunggu, dia langsung melenggang keluar dari kamarnya menuruni tangga menuju ruang keluarga yang ternyata sudah ada ayah dan ibunya disana.
"Kau sudah siap sayang"
"Sudah bu, kak Lionel mana bu?" tanya Nara.
"Belum keluar, sudah lama ibu dan ayah menunggu" celutuk Naina.
"Haa..." Naina melongo mendengar ibunya berkata jika kakanya masih berada di dalam kamar, "apa kakak tidak tau waktu kita berkunjung?" tanya Nara.
"Tentu saja tau, bagaimana mungkin dia tidak tau sementara dia bintangnya" jawab Anan.
Nara menggeleng kepala, dia bisa menebak jika kakakanya itu sedang gugup sekarang dan sudah pasti saat ini posisi kakaknya sedang mondar mandir seperti setrikaan di kamarnya.
"Biar Nara lihat dulu bu, Nara yakin jika saat ini kaka pasti seperti setrikaan mondar mandir" kekeh Nara.
Ayah dan ibunya ikut terkekeh mendengar perkaraan putri cantik mereka, karena memang sudah pasti apa yang di katakak Nara itu benar. Tida ada yang lebih mengenal Lionel dari Nara, mereka sangat akrab dan saling terbukan membuat apa pun yang di alamai satu dengan yang lain tidak ada yang di tutupi.
Nara membuka perlahan pintu kamar kakaknya dan benar saja apa yang dia tebak, saat ini Kakaknya Lionel mondar mandir tidak jelas di dalam kamarnya sesekali dia menggigit jarinya lalu menghela napasnya untuk menetralkan degupan jantungnya.
"Jadi kaka masih melalukan ritual" ucap Nara.
Lionel yang mendengar perkataan adiknya sangat terkejut, gugup, kikuk, malau berbaur jadi satu dan Nara hanya terkekeh melihat sikap kakaknya.
"Kakak, kenapa kau selalu saja melakukan ritual seperti ini" goda Nara.
Lioenl mengengus sebal mendapati adiknya menggoda dirinya, dia pun tidak bisa menyembunyikan apa pun pada Nara karena adiknya itu sudah tau kebiasaanya jika sedang merasa gugup.
"Jangan menggoda kakamu ini Nara!" ketus Lionel.
Nara semakin terkekeh melihat kakanya yang memasang wajah masamnya sungguh lucu menurutnya, "kakaku yang tampan, tidak usah grogi seperti itu karena apa? karena kakak tampan dan tidak ada yang bisa menolak pesina seorang Lionel Saker" ucap Nara.
Mata Lionel berbinar mendengar ucapan pujian dari adik kesayanaganya, tidak ada yang bisa membuat dirinya percaya diri selain pujian dari adik cantiknya itu.
__ADS_1
"Benarkah yang kau katakan adikku sayang?"
"Benar"
"Sungguh?"
"Sungguh kakak, adikmu ini tidak pernah salah dalam menilai bukan?"
"Ya kau benar, ok ayo kita berangkat karena kau sudah mengatakan hal itu jadi aku tidak perlu merasa cemas lagi" ucap Lionel dan langsung menggandeng Nara keluar menemui orang tuanya yang sudah pegal menunggui dirinya.
"Maaf yah, ibu aku membuat kalian menunggu" ucal Lionel merasa tidak enak hati.
"Sudah lebih baik?" tanya Anan.
"Sudah, dan ini berkat adikku yang tidak ada duanya ini" jawab Lionel.
"Jangan katakan itu, karena sebentar lagi akan ada orang lain yang memasuki kehidupan kakak" ucap Nara.
"Kau benar tapi bagi kakak kau tidak akan bisa di gantikan dan mereka memliki tempat sendiri kau juga" jawab Lionel dan mengusap kepala Nara dengan lembut.
Pasangan paru baya itu tersenyum bahagia melihat bagaimana anak anak yang mereka besarkan kini bertumbuh menjadi anak yang saling menyayangi, saling melengkapi dan saling mendukung setiap keputusan satu sama lain dan semua itu tidak lepas dari didikan dan ajaran orang tua itu.
"Tentu saja karena kami memiliki orang tua yang hebat dan penuh kasih sayang" jawab Lionel
"Betul, kalian adalah orang tua terhebat kami" timpal Nara.
"Sudah, segment haru haru nya nanti saja kita harus segera ke rumah calon keluarga baru kita" ucap Naina mengingatkan.
"Yah, baiklah" jawab mereka bersamaan.
Keluarga Saker malam ini sangat bahagia karena lamaran putra sulung dari keluargnya yaitu Lioner Saker diterima baik oleh keluarga perempuan, terlebih Nara yang sejak dulu sangat menginginkan kakak perempuan merasa sangat bahagia karena sebentar lagi wanta cantik yang bernam Stella itu akan menjadi kakak iparnya.
.
Tapi sepertinya keadaan bahagian keluarga Saker berbanding terbalik dengan keadaan pria dan wanita yang saat ini sedang bertengkar, padahal tinggal satu minggu lagi hari pernikahan mereka bahkan semua undangan sudah di sebar terutama kepada para koleh bisnis dan orang orang penting di negara itu.
Mereka adalah Reyhan dan Cleora yang saat ini sedang berada di apartement pria yang mengaku adalah kekasih Kanara Saker.
Cleora yang bari pertama kali menginjakan kakinya dalam aparetement itu di buat tercengang, kaget sekaligus kesal dan marah melihat semua isi apartement itu.
__ADS_1
Isinya adalah figuran figuran Nara dan Reyhan ketika pacaran dulu dan ketika keduanya belum terpisah jarak tapi ada sebagian juga ada foto Kanara yang menggunakan seragam tugasnya sebagai PNS dan itu adalah hasil foto yang selalu di kirimkan Nara selama tiga tahun ini.
Tangan Cleora terkepal kuat mendapati semua isinya hanya tentang Nara Nara dan Nara saja, hatinya terasa panas dan matanya mulai mengembun menatapi satu persatu gambar wanita cantik dengan senyum manis dan lembut itu.
"Kau benar benar cantik Nara, pantas saja jika Reyhan tidak bisa berpaling tapi maafkan aku jika harus menghancurkan cinta kalian karena aku juga sangat mencintai Reyhan dan aku ingin hidup dengan dia. Aku akan berusaha memanfaatkam waktu enam bulan itu untuk membuatnya jatuh cinta padaku" gumam Cleora dalam hati.
Perlahan Cleora mendekati bingkai bingkai tempat terpajangnya foto Nara dan menurunkannua satu persatu, tapi baru beekisar tiga bingkai yang di turunka suara kemaran terdengar dari Reyhan membuat Cleora terkejut dan spontan menghentkan kegiatannya.
"Apa yang kau lakukan ha...!" teriak Reyhan.
Cleora terpundur ke belakang dan melihat Reyhan dengan wajah yang sudah memerah marah, rahang pria tampan itu mengeras pertanda emosinya benar benar sedang meluap.
"Apa begini didikan yang kau dapatkan sehingga tidak memliki etika sama sekali" sinis Reyhan.
Cleora sebenarnya merasa sangat takut pada tatapan Reyhan, tapi tetap saja cinta dan keinginan dirinya yang ingin memiliki Reyhan membuatnya berani menangtang pria tampan itu.
"Apa seperti ini caramu menyambut calon istrimu? kau tidak lupa kan satu minggu lagi kita akan menikah"
"Istri? kau tidak lupa juga bukan jika kau dan ayahmu yang menginginkan ini" sindir Reyhan.
"Dan kau dengan senang hati menerimanya bukan? bukankah kau jauh lebih picik dari ayahk" balas Cleora yang tidak mau kalah.
"Kau....! aku tidak habis pikir, kenapa ada wanita seperti dirimu"
"Kenapa ha..! apa kau akan mengatakan jika aku tidak seperti Naramu, iya ha...!" balas Cleora yang sudah bisa menebak arah perkataan Reyhan.
"Ya, kau benar! mau tidak bisa bersaing dengan Naraku, kau tidak ada apa apanya bila di bandingkan dengan Nara!" jawab Reyhan membuat air mata Cleora terjatuh tanpa bisa di cegah.
"Kau jangan lupa Rey, jika pun Naramu itu begitu sempurna tapi jangan lupakan jika aku yang akan menjadi istrimu" ucap Cleora dengan suara yang mulai bergetar.
"Hanya enam bulan, dan setelah itu Nara ku yang akan menjadi istriku selamanya" jawab Reyhan dengan tegas dan lantang tanpa menghiraukan air mara Cleora.
Tanpa kata Cleora pergi meninggalkan aparetment membawa sakit hatinya karena sikap Reyhan sedangkan pria itu kembali menaruh bingkai foto Nara di tempatnya tanpa mempedulikan perasaan Cleora.
.
.
Bersambung...
__ADS_1