STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 30


__ADS_3

"Mau ikut kami sayang?" tanya Naina.


Saat ini kelima orang dewasa yang berbeda generasi itu sedangn duduk santai di ruangan dalam apartement milik Nara setelah tadinya selesai makan.


"Nara tersenyum pada ibunya, dan kemudain mengangguk mengiayakan pertanyaan ibunya. Nara berpikir mungkin ini bukanlah ide buruk untuk kembali semenatara waktu di kediaman Saker agar pikirannya jernih.


"Iya bu, aku akan ikut" jawab Nara dengan senyum manisnya, "tapi aku boleh kan meminta tolong pada kakakku yang tampan ini?" lanjut Nara yang kini bertanya pada Lionel.


Lionel dengan semangatnya mengangguk, karena dia merasa sudah lama adikanya tidak bergantung padanya, tidak mengandalkan dirinya hingga kini saat Nara meminta tolong padanya dengan cepat mengangguk tanpa mempertimbangkan apakah itu akan menyulitkannya atau tidak.


"Katakan"


"Apa pun itu kakak akan berikan" lanjutnya.


"Tolong berikan surat cutiku selama satu minggu ke depan di sekolah, aku yakin kakak pasti bisa mengurusnya kan?"


"Tentu saja, kakak akan menangani hal itu" jawab Lionel dengan cepat.


Mereka akhirnya memilih untuk keluar daru apartement setelah tadi Nara membereskan beberapa keperluan untuk di bawa pulang ke rumah yang seharusnya, tapi tak lama setelah itu Reyhan datang membawa buket bunga di genggamannya.


Ya, Reyhan datang ke apartement Nara untuk kembali bicara pada gadisnya, dia akan menjelaskan kebenarannya dan meminta Nara mau mengerti posisinya dan bisa kembali lagi bersama seperti sebelumnya.


Ting tong


Reyhan memencet tomobol bel berkali kali tapi tidak ada jawaban dari saja, tidak ada tanda tanda jika penghuni ada di dalam. Tapi Reyhan terus menunggu, dia masih bertahan menuggu karena berpikir mungkin Nara keluar sebentar dan pasti akan segera kembali.


Hingga waktu sudah menunjukan awan muali menguning dan matahari mulai menuu peraduan, Nara tak juga datang tetapi salah satu penghuni apartement malah keluar dari salah satu pintu apartement dan mengatakan jika Nara sudah keluar sejak siang tadi bersama keluarganya.


Jawaban itu tentu saja membuat Reyhan kecewa karena setelah sekian jam menunggu ternyata orang yang di tunggu tidaj ada di tempat, malahan sudah kembali ke rumah orang tuanya.


"Apa kau benar benar marah padakua Nara? hingga kau memilih untuk kembali ke kediaman Saker, itu artinya kau tidak lagi mau menunggu?" lirih Reyhan dengan wajah sendunya.


Reyhan masih sangat mengingat dengan jelas walau sudah berlalu tiga tahun saat Nara mengatkana padanya jika dia akan kembali ke rumahnya jika bersama dengan dirinya.


Flashback...


Pasangan kekasih yang saling mencintai sedang duduk di pinggir danau tempat kesukaan merek, tempat menghabiskan waktu waktu senggang, "kembalilah ke rumah Nara sayang" pinta seorang pria yang ternyata adalah Reyhan.


"Tidak Rey, aku sudah memutuskan akan kembali ke sana jika bersamamu" jawab Nara lembut tapi penuh ketegasan di dalamnya.


"Tapi sayang...aku tidak mau sendirian di apartement"


"Tidak masalah, tapi jika kau merasa kasihan dan khawatir maka cepatlah kembali"


"Tap....."

__ADS_1


"Sttt...sudah tidak ada tapi, aku benar benar tidak masalah jika sendirian di apartement untuk sementara"


"Baiklah tunggu aku sayang" ucap Reyhan pada akhirnya mengalah.


Reyhan mengusap wajahnya kasar, dia benar benar frustasi saat ini. Penyesalan kini menghinggapinya, terlalu gegabah dan tertutup pada kekasihnya karena gengsi tinggi dan ambisinya yang menguasai dirinya untuk setara dengan keluarga Saker membuat dirinya tidak lagi berpikir jernih.


"Maafkan aku Nara sayang" lirihnya.


Reyhan berlalu pergi meninggalkan apartemen karena dia yakin Nara tidak akan kembali lagi ke apartement, sementara tidak jauh dari parkiran apartement seorang wanita cantik sedang duduk dengan gelisah di dalam mobil menunggu pria yang menjadi suaminya keluar dari apartement yang sudah di yakininya adalah apartement wanita yang di cintai suaminya.


"Kau benar benar menguji kesabaran dan cintaku Rey....aku tidak tau harus dengan apa lagi meluluhkan hatimu" gumam Cleora.


Matanya terus menatap lurus ke arah gedung, hingga tak lama kemudian sosok yang di tunggu keluar dari sana dengan raut wajah yang sudah dipastikan jika suaminya tidaj bertemu dengan gadisnya.


"Reyhan...." seru Cleora yang kini sudah berada di dekat mobil.


Reyhan yang merasa namanya dipanggil menghentikan niatnya membuka pintu mobikya, raut wajah yang tadinya murung kini semakin bertambah muram melihat siapa yang mendekatinya.


"Ada apa?" tanya Reyhan dengan suara dinginnnya.


Cleora berdecak kesal melihat sikap Rehan yang sangat dingin padanya, tidak seperti saat Reyhan bicara dan bersikap dengan Nara yang sangat lembut dan memuja.


"Kenapa kamu selalu saja bersikap dingin padaku? tapi dengan Nara kau sangat lembut"


Reyhan tertawa sinis mendengar pertanyaan Cleora yang menurutnya tidak tau malu padanya, "kau masih bertanya di saat kau tau seperti apa perasaanku padamu dan seperti apa kita"


"Hahaha....! jangan mimpi Cleora, itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan sudi memulai dengan baik yang sudah berawal karena penipuanmu"


"Ta..."


"Diam!" bentak Reyhan, "aku malas berdebat, simpan saja keinginanmu itu" lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Cleora yang mengepalkan tangannya.


"Aku tidak akan menyerah Reyhan, aku akan terus berjuang hingga aku benar benar sudah jenuh nanti" tekat Cleora.


***


Nara sudah tiga hari berada di rumah orang tuanya, dan selama tiga hari itu pula orang tuanya selalu mencari cara agar Nara tetap tersenyum dan benar saja Nara tersenyum dengan luas tanpa paksaan di sana.


"Pagi semua...." sapa Nara saat sudah tiba di ruang makan.


"Pagi litle girl" jawab mereka bersamaan.


Nara mengedarkan pandangannya menatap menu sarapan yang lagi lagi sesuai selera dan kesukannya, "ibu...Nara sedang tidak ulang tahun, kenapa masak makanan kesukaan Mara terus?" tanya Nara.


"Hei girl....apa kau lupa jika ibumu ini selalu memasak menu favoritmu?" tanya Anan.

__ADS_1


"Sudah kakak bilang, ibu sedang meluapkan semua kasih sayangnya sebelum sainganmu datang" goda Lionel.


Nara mendengus sebal mendengar godaan kakaknya, "ibu...apa itu benar? ibu meluapkannya kinu sebelum kakak iar datang" ketus Nara pura pura merajuk.


Lionel semakin terbahkan melihat ekspresi adiknya yang sangat menggemaskan, bibirnya di kerucutkan seperti bebek menurutnya, "bibirmu seperti bebek saja" ejek Lionel.


"Kakak....."


"Sudah sudah....Lionel kau suka sekali menggoda adikmu, lihatlah bibirnya semakin maju mengalahkan bebek" tegur Anan tapu seketika berganti ledekan yang lebih dari Lionel.


"Huaaa....Ibu....kedua pria kita ini menggodaku terus" teriak Nara persis seperti anak kecil, untung saja dia tidak merajuk sambil duduk di lantai, jika seperti itu Nara sudah sama dengan bocah lima tahun yang merajuk minta di belikan maianan.


"Sudah... jangan menggoda putriku terus atau kalian akan berhadapan dengan ibu, terutama untuk ayah" lerai Naina dan berpura pura mengancam.


Seketikan kedua pria yang menjadi pelindung itu terdiam dan kini berganti Nara yang terbahak kedua prianya diam tak berkutik lagi jika sang nyonya beraksi.


"Princess juga diam dan duduk kemudian makanlah"


Nara terdiam, dengan gerakan perlahan Nara menarik kursi di dekat kakaknya danya mengisikan piringnya dengan sarapan paginya.


"Selamat pagi...." sapa seseorang yang tak lain adalah Martha.


"Selamat pagi kakak ipar...."


"Pagi sayang.."


"Selamat pagi nak...."


Jawaban setempak tapi dengan sapaan dan panggilan yang berbeda, "kakak ipar ayo duduk disini" pinta Nara seraya membangunkan dirnya dari dekat Lionel dan berpindah ke dekat ibunya.


"Loh kenapa pindah?" tanya Martha merasa tak enak.


"Tentu saja, karena kursi itu akan menjadi tempa kaka nanti dan di sini aku akan duduk" jawab Nara dengan senyum manisnya.


Martha hanya tertawa canggung sedangkam Pasangan orang tua dan Lionel tersenyum melihat sikap Nara yang sangat sopan, tidak sia sia didikan mereka selama ini, dan bukankah itu senada dengan pekerjaan Nara saat ini sebagai seorang guru.


"Sarapanlah sayang, baru kalian pergi ke butik" ucap Naina dengan lembut.


"Baiklah mah" jawab Martha dengan senyum manisnya.


Kelimanya pun makan dengan nikmat dan diam, danya suara dentingan sendok yang mengambil ambil suasana saat ini di ruang makan.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2