STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 40


__ADS_3

Pagi pagi sekali Nara sudah di buat terbangun oleh suara berisik yang berasal dari dapurnya, dengan kening yang mengerut Nara mengumpulkan kesadarannya dan kemudian melangkah menuju dapur miliknya, matanya membulat sempurna melihat siapa gerangan yang berkutat di diapurnya.


"Kau lagi?" sentak Nara membuat Rajesh tersentak.


"Pagi calon istriku" sapa Rajesh tanpa merasa bersalah.


"Sedang apa disini?" tanya Nara.


"Tentu saja untuk membuatkan sarapan"


"Apa tidak ada dapur di apartementmu sehingga kau memasak disini?" sindir Nara.


"Ada, hanya saja dapurmu jauh lebih bersahabat mungkin karena pemiliknya adalah wanita cantik yang sudah memikat hatiku" jawab Rajesh.


Seketika wajah Nara merona malu, jelas sekali terlihat hal itu di karenakan wajahnya yang belum terpoles apapun maklum baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Kenapa wajahmu? apa kau sakti?" tanya Rajesh pura pura tidak tau.


Nara memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk menyembunyikan wajahnya, sudah bisa di tebak saat ini seperti apa wajahnya.


"Ckck kau lebih baik selesaikan pekerjaanmu jangan membuat dapurku sia sia karena mau di gunakan olehmu!" ketus Nara untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Dia sangat menggemaskan jika sedang merona seperti itu" batin Rajesh.


"Kenapa aku harus salah tingkah sih hanya karena mulut manisnya" batin Nara yang merutuki kebodohannya yang mudah baper.


"Kau lebih baik mandilah, jangan menggodaku dengan wajah menggemaskanmu" celutuk Rajesh.


Nara melongo mendengarnya, bagaimana bisa wajah yang baru saja bangun bahkan belum menyentuh air di katakan menggemaskan oleh pria itu, Nara jadi bertanya bertanya apakah penglihatan Rajesh masih bagus atau sudah mulai fungsi lihatnya berkurang.


Tak ingin berdebat Nara memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya melihat waktu yang sudah menunjukan pukul setengaj tujuh artinya wakti bersiap tingga sedikit untuknya.


Sementara Rajesh kembali menyibukan dirinya membereskan makanan dan meletakannya di atas meja, matanya melirik sejenak ke arah kamar Nara dan di rasa masih aman Rajesh pun menghubungi asistenya.


"Kau kempeskan ban mobilnya sekarang!" tutah Rajesh to the poin lalu memutuskan panggilannya sepihak.


Sedangkan Leo di sana bingung mobil siapa yang di maksud Tuan Mudanya, tapi seketika pikirannya tertuju pada Nara saat mobil yang di kendarainya sudah sampai di parkiran apartement.


"Apa mungkin Tuan Muda maksud adalah ban mobil Nona Nara agar dia bisa jadi pahlawan kesiangan menawarian tumpangan" tebak Leo.


"Ya sepertinya begitu" jawabnya sendiri.


Tanpa pikir lagi Leo segera menjalankan tugasnya mengempeskan ban milik Nara lalu kembali berjalan menuju apartement Rajesh tapi sampai di sana tidak ada orang yang dia cari.


"Apa Tuan Muda di apartement incarannya?"


Nara sudah selesai berpakaian rapi dan sudah berdanda alakadarnya tapi walau begitu Rajesh tetap mampu terpukau dengan kecantikan Nara, "bidadari kayangan yang menjelma jadi wanita biasa gadisku ini" batin Rajesh tanpa berkedip matanya melihat Nara


"Hei kenapa menatapku seperti ini? apa ada yang aneh?"


Tidak ada jawaban dari pria tampan itu, seluruh anestesinya masih terpusat pada wajah cantik gadisnya, hingga tidak sadar jika Nara sudah berulang kali menegurnya.


"Astaga kenapa dengan pria ini? apa ada masalah dengan penampilanku" bati Nara yang jadinya salah tingkah.


"Hallo....kenapa melihat ku seperti ini?" tegur Nara untuk kesekian kalinya.


"Ah eh emm kenapa hanya berdiri saja, ayo duduk kita sarapan" ucap Rajesh menghilangkan kekikukannya.


"Aneh pria ini, tadi bengong sekarang malah jawab yang tidak berkaitan" batin Nara.


Tidak mau pusing pada akhirnya Nara memutuskan untuk sarapan tapi baru saja hendak mendaratkan bokongnya bel apartementnya berbunyi membuat keduanya saling bertunmkar pandang.


"Siapa yang bertamu pagi pagi sekali? apa mungkin keluargaku? jika ya maka gawat mereka bisa salah paham" batin Nara yang mulai merasa gelisah.


"Siapa yang bertamu, kenapa sepagi ini? apa Nara sudah biasa kedatangan tamu tiap pagi?" tanya Rajsh dalam hati.


"Kau biasa menerima tamu sepagi ini?" tanya Rajesh dengan nada tak sukanya.


"Tidak, tidak ada tamu yang biasanya datang selain keluargaku" jawab Nara dengan perasaan yang masih wanti wanti.


Sedangkan senyum Rajesh mengembang mendengar jawaban Nara, yang artinya jika Nara bukan gadis sembaragan terlihat dari dirinya yang tidak membiasakan diri menerima tamu dan artinya lagi baru dirinya yang pertama kali datang bertamu sebagai orang lain.

__ADS_1


"Itu bagus, jadi aku bisa bertemu dengan mereka" jawab Rajesh membuat Nara mengerutkan keningnya.


"Untuka apa kau bertemu?"


"Tentu saja un..."


Ting Tong


Ucapan Rajesh kembali tertelan mendengar bel kembali berbunyi membuat Rajesh akhirnya memutuskan menyuruh Nara untuk membuka pintunya, "sudahlah bula saja dulu"


"Baiklah, sebentar"


Nara bergerak dan melangkah menuju pintu dan tak lama matanya berotasi mencoba mengingat siapa yang ada dihadapannya.


"Nona, apakah Tuan Mudaku ada disini?" tanya Leo.


"Oh kau aistennya Rajesh?"


"Benar nona, saya ke apartement Tuan Muda tapi dia tidak ada" jawab Leo.


"Siapa...." teriak Rajesh dari dalam.


"Eh masuk saja Tuanmu sedang sarapan"


"Tidak nona, saya tunggu disini saja"tolak Leo dengan halus.


Tidak mungkin Leo masuk, bisa bisa kepalanya di penggal oleh tuannya karena sudah lancang mengganggu kesenangan mereka, jadi lebih baik Leo mencari aman saja menghindari amukan singa yang sedang jatuh cinta.


"Tidak maslah, masuk saja" paksa Nara.


"Tapi nona..."


"Tidak apa, masuk saja"


Mau tak mau akhirnya Leo mau mengikuti apa yang di katakan Nara, dan bila nanti Rajesh mengamuk maka dia harap Nara mau membelanya nanti di hadapan singa itu.


"Siapa?" tanya Rajesh kembali.


"Ckck, harusnya kau sudah tau dimana aku" kesal Rajesh.


"Tuh kan benar Tuan mulai mode marahnya" batin Leo.


"Hei apa kau sekarang bisu!" sentak Rajesh.


Entah kenapa pagi ini asistennya ini merasa bodoh sehingga dengan lancangnya dia mengganggu waktu berduanya dengan gadisnya.


"Iya Tuan Muda, justru karena saya tau anda disini makanya datang kemari" jawab Leo dengan suara yang terbata.


"Ckck kau sudah bosa hidup Leo!" tanya Rajseh penuh penekanan.


"Ti...tidak Tuan Muda"


"Sudah kenapa jadi tegang begini sih?" lerai Nara.


"Duduk lah Tuan Leo" ucap Nara mempersilahkan Leo.


"Jangan memanggilku tuan Nona, cukup panggil nama saja" ujar Leo yang merasa terancam akan keadaan hidupnya.


"Ya baiklah, silahkan duduk Leo"


"Tidak nona, saya tunggu disini saja" tolah Leo.


"Tidak maslah, siapa yang kau takutkan? jika tuanmu maka kau tenang saja dia tidak akan aku ijinkan lagi ke apartemenku jika dia mengancammu" ucap Nara membuat Rajesh tersentak kaget.


"Duduklah Leo" ucap Rajesh dengan tegas.


"Tapi Tuan..."


"Duduk!"


"Ba....baiklah"

__ADS_1


Mereka bertiga makan dengan situasi hati yang berbeda, Nara makan dengan nikmat, Rajesh mekan dengan perasaan dongkol karena belum seberapa Nara sudah mampu memberi ancaman padanya sedangkan Leo makan dengan perasaan yang cemas akan hukuman apa yang akan di berikan Tuan Mudanya nanti untuknya.


Selesai semuanya, ketiganya berangkat menuju parkiran tapi sialnya Nara malah menemukan mobilnya kempes, mana waktunya kini sudah menunjukan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit yang berarti lima belas menit sisa waktu untuk dia sampai di sekolahan.


"Kempes ya?" tanya Rajesh pura pura tidak tau, padahal saat ini dia sedang berusaha menyembunyikan senyum kemenangannya mendapati dewi keberuntungan berada di pihaknya.


"Iya nih, padahal semalam masih baik baik saja" keluh Nara.


"Mau berangkat bareng?" tawar Rajesh si pria licik.


"Em tidak usah, aku tunggu taksi saja"


"Kelamaan, nanti keburu telat kamu"


"Tapi kamu juga akan telat nanti" ucap Nara.


"Kamu lupa jika perusahaan itu mililku, jadi siapa yang berani marah jika aku terlambat" jawab Rajesh sedikit berbangga diri.


"Tapi bagaimana dengan mobilku?"


"Leo yang akan mengurusnya" jawab Rajesh dengan lirikan mata ke arah Leo di sertai senyum jahat dan Leo bisa mengerti jika saat ini dirinya tengah di beri hukuman oleh Tuan Mudanya.


"Tapi aku tidak bisa merepotkannya"


"Tidak masalah nona, saya akan mengurus mobil anda, lebih baik sekarang anda berangkat saja bersa Tuan Mudaku"


"Benar tidak masalah?" tanyanya memastikan.


Rajesh mendengus sebal meluhat sikap Nara yang merasa tidak enak pada Leo, bukankah ini merupakan pekerjaan Leo? jadi untuk apa Nara merasa tidak enak.


"Awas kau Leo, aku akan memberimu hukuma karena kau sudah berhasil membuat gadisku memikirkan dirimu, walau pikirannya tentangmu yang akan kerepotan tapi aku tetap saja tidak suka" batin Rajesh dengan pelototan yang mampu menghunus jantung Leo.


"Mampus aku Tuan Muda semakin marah saja padaku, aduh....Nona kenapa harus berdebat lagi sih padaku" batin Leo ketar ketir.


"Nona, sebaiknya berangkat seja sekarang waktu tidak banyak lagi" ujar Leo yang berniat mengusir dengan halus.


"Astagaa....Nona cepatlah pergi sebelum aku mati karena ketakutan" jeritan hati Leo.


"Baiklah, aku pergi daj terimakasih ya Leo"


"Ya nona sama sama"


Nara dan Rajehs berangkat tapi sebelum itu Rajesh masih sempat sempatnya memberi ancaman padan Leo membuar pria yang bekerja sebagai bawahan itu melemas seketika.


"Mobilku di mension bel di berihkan, tunggulah kau akan berteman dengan air dan pencuci" bisik Rajesh kemudian menyusul Nara masuk dalam mobil dan mereka pun berangkat meninggalkan Leo dengan sejuta penderitaan batin.


"Disini kau bertugas tanya Rajesh setelah mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dan berhenti di depan sekolah tempat Nara bekerja yang ternyata itu adalah milik Rajesh sendiri.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Ini milikku dan purtraku bersekolah disini juga" jawab Rajesh singkat.


Deg


Nara terkejut mendengar penuturan Rajesh dan kenyataan tentang pria tampan yang selalu mengusiknya alhir akhir ino ternyata sudah memiliki anak, lalu kenapa masih menganggu dirinya jika sudah memiliki anak.


"Ka...kau sudah punya anak?" tanya Nara terbata.


"Susah dan dia sekolah disini" jawab Rajesh santai yang semakin membuat Nara bungkam.


Entah kenapa mendadak ada rasa kecewa dalam diri Nara mendapati kenyataan tapi perihal kecewa kecewa karena apa itu Nara sendiri tidak tau sedangkan Rajesh sendiri tau jika ada raut wajah kecewa yang di tampilkan Nara tapi dia tidak berniat untuk meluruskan tanggapan Nara.


"Turunlah"


"Baiklah aku turun"


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2