
"Morning Ms.Nara" sapa Radith dengan ramah dan senyum manis yang mengembang.
Nara terkesima melihat perubahan Radith pagi ini, entah apa yang merasuki bocah tampan ini sampai menyapa lebih dulu terlebih lagi senyum di berikan untuk pertama kalianya selama berada di sekolah untuk Nada.
"Ms.Nara kenapa tidan menjawab?" kesal Radith, bibirnya di kerucutkan ke depan membuat gadis cantik itu semakin di buat syok.
Lagi lagi bocah tampan itu menunjukan sisi dirinya sebagai anak anak yang selama ini tidak pernah terlihat oleh Nara sekalipun walau susah sering sekali Nara mencari cara untuk membuat sikap kenakan Radith muncul.
"Ada apa denganmi pagi ini boy?" tanya Nara dengan kening yang sedikit mengerut.
Radith pun membalas dengan kerutan di keningnya pertanda dia tidak mengerti dengan pertanyaan targetnya ini, "apa?" tanya Radith polos.
"Kenapa kau bersikap seperti ini? tumben sekali"
Radith mendengus sebal karwna di pertanyakan seperti itu, salahkah dirinya yang ingin menjadi bocab sesuai umurnya? dan bukankah gadis dewasa di hadapanya ini menginginkan hal iti juga? bahkan sangkin inginnya Nara selalu melakukan banyak cara tapi tidak ada hasilnya, lalu kenapa di saat memutuskan untuk mengikuti arahan Nara malah di pertanyakan.
"Apa tidak boleh!" ketus Radith.
"Tentu saha boleh, Ms.Nara jutru sangat senang"
"Benarkah?"
"Ya, kau terlihat lebih menggemaskan" jawab Nara dengan kedua tangan yang mencubit gemas pipi Radith.
"Sungguh aku menggemaskan?" tanya Radith dengan mata yang berbinar.
"Hooh, sangat menggemaskan. Ayo kita masuk" ajak Nara dengan mengulurkan tangannya.
Dengan penuh antusias dan tanpa bantahan lagi Radith mengganden tangan Nara, kali ini dia tidak peduli jika ada teman temannya yang iri ataupun marah karena baginya adalah untuk menjalankan misi mendapatkan mommy sesuai dengan keinginannya.
Radith terus menebar senyum bahagiaa, benar benar senyum yang berasalh dari hati buka di buat buat untuk di tunjukan di hadapan Nara, rasanya di sudah tidak sabar memanggil Nara dengan sebutan Mommya apa lagi jika Nara mau menjadi ibu sesungguhnya maka Radith adalah orang paling bahagia.
Bisa di akui Radith jika memang sejak awal dirinya sudah terpesona dan kagum dengan Nara, terpesona dalam arti merasa suka terlebih saat mendengar suara lembut Nara dan senyum tulus yang di pancarkan walau Radith berbicara ketus dan bersikap arogant tapi tetap Nara menyayanginya dengan tulus.
Namun mengingat setiap kali Radith ingin seorang ibu, ayahnya tidaj pernah memenuhi keinginan itu, malah dia hanya akan mendapatkan jawaban yang mengecewakan, 'untuk apa mommy jika daddy sudah ada dan bisa memenuhi semua keinginanmu'
Itulah jawaban yang selalu di dapatkannya kala ia mengutarakan keinginanya tanpa ayahnya sadari bahwa bukan kebutuhan materi atau mainan mainan mahal saja yag di butuhkan atau ponsel dan komputer untuk bermain game, Radith juga butuh kasih sayang walau kakek nenek dan daddy memberi kasih sayang tapi Radith tatap merasa ada yang kurang.
Sepanjang pelajaran sambil bermain berlangsung Radith tidak pernah mau jauh dari Nara, selalu melakukan banyak aksi untuk mencari dan memonopoli waktu Nara agar sepenuhnya untuknya, tapi walau begitu Nra tetap bersikap adil dan memperhatikan semua muridnya dan tidak mau terlalu larut dengan perubahan sikap Radith yang tiba tiba.
Sedangkan Radith pun sebenarnya kesal karena waktu Nara harus terbagi tapi dia juga berpikir dewasa tidak mungkin bisa di egois untuk memiliki waktu Nara agar untuknya karena dia tau teman teman yang lainnya juga butuh perhatian dan bimbingan dari Nara hinga mau tak mau akhirnya Radith memilih mengalah untuk saat ini tapi tidak nanti jika sudah sah menjadi mommya, maka Radith sudah bertekat tidak akan mengijinkan Mara untuk bekerja disini lagi agar waktu Nara tidak tersita oleh orang lain.
.
Siang hari seperti biasa, Radith menunggu di di tempat biasa dan sekarang sepertinya rencana kedua akan di lancarkan sesuai arahan dari sang nenek tadi pagi.
__ADS_1
Flashback....
"Ingat boy harus pandai beracting" ucap Cara saat mereka sedang dalam perjalanan menuku sekolah.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan nanti agar bisa berhasil dengan rencana kita?" tanya Radith dengan mata yang sudah berbinar.
"Berpura pura sedih melihat tua temanmu dan tarik simpati Ms.Nara, baru deh buat wajah sememlas mungkin dan minta agar di ijinkan untuk panggil mommy" usul Clara dengan senyum liciknya.
"Baiklah akan aku lakukan" jawab Radith dengan semangat 45 nya.
Flashback off...
"Belum di jemput?" tanya Nara membuar Radith sedikit tersentak tapi berpura pura tidak dengar.
Radith sedang memainkan dramanya, berpura pura sedih melihat anak anak lainnya yang di jempu para mama mereka untuk menjerat mangsa kata neneknya.
Nara yang tidak pernah terpikir dengan apa yang di lakukan Radith langsung termakan, dia menjadi iba dengan Radith karena dia tau apa yang saat ini di perhatikan oleh bocah tampan itu. Dengan pelang Nara mengusak rambut Radith, "belum di jemput?" tanya Nara lagi.
Radith kaget dan reflek melihat ke arah Nara dengan mata yang sudah berkaca kaca, Nara bahkan di buat tersentak, hatinya mendadak pilu melihat mata bocah tampan yang biasanya tajam kini menjadi layu bahkan berembun.
"Stttt...jangan seperti itu" pinta Nara dan langsung membawa Radith dalam pelukannya.
Senyum kemenangan terbit di sudit bibir anak berusia lima tahun itu, dia sudah yakin jika gadis cantik dan dewasa yang dia harapkan jadi momny ini sudah terjebak dengan actingnya yang artinya Radith hanya perlu pemulus saja agar bisa menyempurnakan rencana dan nanti dukungan akan datang dari neneknya menambhakn bumbu bumbu dalam cerita agar rasanya pas di cerna.
"Apa Radith tidak bisa memiliki mommya?" tanya Radith dengan bibir yang bergetar.
"Tapi Radith tidak punya mommy"
Nara tertegun mendengar jawaban yang singkat tapi mampu menyayat hatinya, bagaimana bisa anak yang baru berusia lima tahun tidak punya ibu sementara di unur seperti ini anak anak sangat ketergantungan dengan ibu dalam segala hal tapi... tapi Radith sebaliknya, dia tidak memiliki ibu.
Nara kini bisa menyimpulkan jika sikap Radith selama ini fix sesuai dengan dugaanya, Radith tidak memiliki ibu sehingga Nyonya Clara lah yang mengantar jemput dirinya ke sekolah setipa hari bahkan tidak sekali pun ayah dari Radith tidaj pernah terlihat mengantar ataupun menjemput.
"Kemana mommy Radith?" tanya Nara dengan hati hati.
"Tidak tau. Kata daddy, Radtih tidak butuh mommy karena sudah ada dirinya" lirih Radith dengan wajah yang menunduk.
Kali ini Radith tidak bersandiwara, apa yang memang ia katakan benar adanya jika jawaban daddy seperti itu setiap membahas persoalan momnya.
"Ya Tuhan.." lirih Nara.
Dia kembali merengkuh tubuh Radith ke dalam pelukannya, benar benar Nara tidak bisa membayangkan jika dirinya di posisi anak yang ada dalam pelukannya ini. Apa mungkin dia juga akan merasakan hal yang sama? atau bahkan mungkin lebih dari itu mengingat dirinya yang sangat manja pada keluarganya.
"Sudah, kau akan memiliki mommy nanti" jawabn Nara spontan.
"Siapa? daddy saja tidak suka" lirih Radith.
__ADS_1
"Loh kenapa?'
"Tidak tau" lirih Radith, "lagian pasti tidak ada yang mau jadi momnya Radith karena kata teman teman Radith nakal dan sombong" lanjutnya mengadu.
"Hadeuh bukan kata lagi, tapi memang iya kamu sombong dan angkuh, api sekarang aja sih luluh sama saya" batin Nara.
"Siapa bilang kalau sombong tidak ada yang mau jadi mommy Radith? lagian Radith bukan sombong hanya kurang di perhatikan" jawab Nara dengan lembut.
"Tapi siapa?"
Nara bingung mau menjawab apa, dia juga tidak tau siapa yang akan menjadi ibu dari anak lima tahun ini, tidak mungkin Nara asal menjawab karena sama saja membari harapan palsu nantinya sedangkan Radith tertawa licik melihat raut wajah bingung targetnya.
Merasa itu adalah kesempatan untuk melancarkan misi, dengan segera Radith memberi pertanyaan, "apa Ms.Nara mau jadi mommya Radith?" tanya Radith dengan wajah di buat penuh harap.
"Ehhh..."
"Mau jadi mommy Radith?" ulang Radith.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Nara terbata.
"Ms.Nara bilang tidak akan ada yang menolak, berarti kau pun tidak akan menolak bukan jika aku ingin memanggilmu momnya" tutur Nara.
"Tap..."
"Berarti kau berbohong padaku!" teriak Radith.
Radith bergerak ingin menjauh tapi dengan segera Nara merengkuh tubuh anak kecil itu, dia tidak mau menyakiti perasaan Radith, "jangan begini, baiklah kau boleh memanggilku mommy" ucap Nara dengan lembut.
Radith berbinar mendengarnya, dia merasa usahnya berhasil dan tidak sia sia beracting seperti ini karena nyatanya Nara mau di panggil mommya olehnya.
"Sungguh?" tanya Nara memastikan.
"Sungguh, kau bisa memanggilku mommya" jawab Nara.
"Thank you mommy... Love you" ucap Radith seraya memluk tubuh Nara dengan hangat.
"Nara pun senang bisa melihat senyum bahagia anak kecil itu, sungguh sederhana sekali permintaanya untuk bisa bahagia.
Sementara tidak jauh dari sana seseorang sedang tersenyum puas melihat cucunya berhasil berdrama di hadapan target dan target pun sudah termakan umpan terbukti sekarang cucunya tersenyum bahagia.
"Sekarang giliranku" gumamanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...