
Kegiatan mengajar Nara sudah selesai dan kini waktunya wanita cantik bersama putrinya menunggu jemputan, tapi sayang sudah setengah jam berlalu jemputan baik dari Leo maupun aja suaminya tak kunjung datang membuat Ratih terus saja menggerutu karena menunggu terlalu lama.
"Astaga... kenapa Daddy sangat lama" keluh Rajesh.
"Sabar Boy, mungkin lagi macet" ucap Nara menenangkan putranya.
"Ckck...ke apa juga jalanan ibu Kota harus macet" ketus Radith melampiaskan kekesalannya menyalahkan keadaan jalanan kenapa harus macet membuat Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan menggerutu Boy, kau terlihat tidak tampan lagi" goda Nara pada putranya.
"Mana mungkin seperti itu Mom, hanya karena menggerutu aku menjadi tidak tampan lagi" tanya Radith yang tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Yasudah jika tidak percaya, Mommy hanya mengatakan padamu" ucap Nara cuek.
"Mom....jangan seperti itu" rengek Radith yang masih tidak mau dikatakan jelek oleh ibunya.
"Hahaha... jangan menangis, kah tetap tampan didepan Mommy" ucap Nara menghibur putranya.
"Thanks Mom, dan harusnya aku sudah menduga hal ini" balas Radith membuat Nara kembali terkekeh.
Kedua anak manusia yang tak lain adalah ibu dan anak itu asyik bercengkrama sembari menunggu jemputan, keasyikan itu membuat mereka tidak menyadari jika tidak jauh dari tempat mereka menunggu ada sebuah mobil yang terparkir dan pengemudinya sedang memperhatikan mereka.
Memperhatikan keduanya dengan tatapan pilu, tatapan yang sendu menyiratkan kerinduan, tepatnya kerinduan kepada wanita cantik yang kini menjadi istri dari pengusaha sukses yang pastinya tidak bisa disaingi oleh siapa saja.
Dia adalah Reyhan, dia terus mengawasi Nara dari kejauhan, semenjak perpisahannya dengan Cleri dan terbebasnya dari perusahaan manta mertuanya membuat dirinya bisa kekuasan mengikuti Nara kemanapun, tak jarang pula pria itu akan menunggu hingga berjam jam didepan gerbang sekolah mengabikan usahanya baru saja dia rintis hanya untuk seorang Nara.
"Aku merindukanmu sayang, aku disini kesakitan menahan rindu tapi kamu bahagia dan tertawa disana, bersama dirinya tanpa memikirkan diriku yang hancur ini" gumam Reyahn lirih.
__ADS_1
Sampai kini hati pria tampan itu tidak bisa berbohong jika hatinya masih terpaut untuk Nara dan hatinya tidak bisa menerima kenyataan jika gadis sudah menjadi milik dari pria lain. rasanya sulit sangat sulit jika harus berdamai dengan keadaan itu.
"Hatiku masih tidak bisa menerima sayang, berharap ini hanya mimpi bahwa kita sudah berpisah" gumamnya lagi.
Tak terasa setetes air mata kembali jatuh mencari dataran rendah, mengalir membasahi pipi Reyhan yang mulai tirus karena tidak terurus, makak yang tidak teratur dan alkohol yang selalu menjadi konsumsinya.
"Ini semua karena wanita murahan itu, dia yang sudah membuat kita jadi berpisah, coba saja jika dia tidak licik dan menjebakku mungkin kini kita sudah bahagia" racau Reyhan dengan menyalakan Cleora sebagai penyebab semua yang terjadi terhadap hubungannya.
Reyhan masih berdiri disana hingga terlihat mobil mewah berwarna hitam berhenti tepar dihadapan Nara dan dia yakin jika itu jemputan dari suami gadisnya membuat pria tanpa itu semakin jatuh sejatuh jatuhnya saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kemesraan yang ditunjukan pasangan itu dihadapannya secara tidak langsung.
Reyahn melajukan mobilnya setelah mobil yang ditemanin kekasih hatinya sudah melaju mempelajari berakhir dengan panas terik sementara di dalam mobil, Nara yang melihat mobil yang sama yang berhenti di depan gerbang sekolah juga mengikuti dirinya membuat dia bisa menebak jika itu adalah milik Reyhan.
"Reyhan...." batin Nara, "kenapa kamu seperti ini? kenapa kamu bertingkah seperti penguntit yang selalu mengikutiku? sungguhkah kau tidak bisa melupakanku? kenapa....kenapa kamu tidak bisa melupakanku dan melanjutkam hidupmu" lanjut Nara yang hanya memapu menyampaikan semuanya didalam hati.
Ingin sekali Nara menghampiri Reyhan, meminta pria itu untuk berhenti bersikap seperti itu dan malanjutkan hidupnya sendiri dan mencari kebahagiaanya juga tapi Nara takut, takut jika suaminya tau dan salah paham padanya, mengingat suaminya yang sangat possesif dan pencemburu, itulah alasan Nara tidak mau menemui Reyhan.
"Ada sayang? kau lelah?" tanya Rajesh.
Nara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya, rasanya mulutnya enggan untuk bicara saat ini karena di yakin jika itu hanya akan memicu kecembuan suaminya nanti.
"Sungguh tidak ada?" tanya Rajesh lagi ingin memastikan keadaan istrinya.
"Sungguh, aku tidak apa apa" jawab Nara meyakinkan suaminya.
"Tidak saki?" Nara menggeleng.
"Tidak lelah?" Nara kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa ada seseorang yang kamu lihat?"
Deg
Pertanyaan Rajesh membuat Nara membatu, dia tidak tau harus menjawab dengan apa, jika mengatakan tidak, tapi kenyataan dia melihat seseorang dari masa lalunya, tetapi jika iya itu juga tidak mungkin secara Rehan tidak menemuinya langsung dan hanya melihatnya dari kejauhan.
Nara menggeleng lagi, "tidak...aku tidak bertemu siapapun" jawab Nara pada akhirnya memilih untuk tidak jujur terhadap suaminya, tapi jika dipikirjuga Nara bukan tidak jujur, wanita cantik itu berkata sejujurnya jika tidak ada yang menang punya hanya saja dia juga tidak mengatakan jika dia melihat seseorang yang selalu mengikutinya selama beberapa hari ini.
"Maaf....maafkan aku yang tidak jujur padamu Mas, aku tidak mau kamu cemburu apalagi marah sama aku" batin Nara menatap suaminya sejenak kemudian kembali memejamkan matanya, menikmati elusan lembut dari tangan kekar suaminya.
"Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu sayang, dan aku juga tau apa itu, apalagi jika bukan tentang mantanmu yang tidak bisa move on itu, aku tau...aku tau kamu juga menyadari kehadirannya tapi enggan untuk menghampiri, tapi aku tidak akan marah, aku tidak masalah jika dia hanya menatapmu dari kejauhan asalkan dia tidak mendekat dan menyentuhmu maka aku tidak akan keberatan, walau sebenarnya terkadang hatiku memanas karena ada seseorang yang terus memperhatikan milikku"
Mobil yang dikendarai Leo berhenti disalah satu restoran terkenal di Ibu kota, Rajesh mengajak istri dan putranya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke Mension utama, dan lagi-lagi Reyhan juga ikut berhenti dan mengikuti kemana pasangan itu menuju.
Mereka Dudu disalah satu meja dan Reyhan juga ikut mengambil tempat yang aman dari jangkauan Nara pasangan itu, matanya terus memperhatikan gerka gerik yang ditimbulkan dari keduanya membuat dadanya kian lama kian memburu menahan amarah kecemburuannya.
Dia tidak Sudak, sangat tidak suka melihat Rajesh terus memanjakan Nara dan dia juga tidak suka melihat gadisnya menerima perlakuan Rajesh, walau sebenarnya dia sadar itu hal yang wajar dilakukan oleh pasangan tapi hatinya mengalahakn akal sehatyua hingga tidak bisa menerima kenyataan.
"Aku tidak melihat semua ini, terasa sangat sakit melihat gadisku diperlakukan baik oleh pria lain, harusnya aku...harusnya aku yang melakukan hal itu pada Nara, harusnya aku yang berhak melakukannya" geram Reyhan.
Tangannya terkepal kuat menahan amarah yang membuat nafasnya memburu tapi dia tetap tidak bisa berbuat apa apa saja ini, sekali merelakan semuanya, membiarkan luka dihatinya semakin menganga melihat kemesraan kekasih hatinya.
"Aku harus merebut dirinya kembali padamu" tekat Reyhan dengan tangan yang masih terkepal kuat.
.
.
__ADS_1
Bersambung...