
Usai makam malam, semuanya berkumpul diruang keluarga termasuk Radith yang memilih untuk belajar mengerjakan setiap tugas dari ibunya diruang keluarga dengan dibimbing oleh Nara yang kadang memberitahu jika putranya tidak mengerti.
Sementara tiga orang dewasa lainnya hanya berbicang, terutama Rajehs dan Heru yang sedang memperbincangkan masalah bisnis apalagi Rajehs yang katanya akan membuka cabang di Malaysia dan mungkin untum itu Rajehs cepat atau lambat pasti akan terbang kesana untuk meninjau langsung perkembangan cabang perusahannya.
"Jadi kapan kamu akan meninjau perusahaan cabang disana?" tanya Heru.
"Leo belum mengkonfirmasi Pa kapan tepatnya, tapi pastinya dalam bulan ini pembukaan cabang sudah bisa dijalankan" jawab Rajehs yang memang saat ini sedang menunggu pemberitahuan dari Leo terhadap peninjauan di Malaysia yang dilakukan anak buah Leo, tapi menurut informasi singkat jika pembukaan itu akan dilakukan bulan ini.
"Baguslah, berarti kamu akan langsung terhina?" tanya Heru lagi.
"Tentu saja, dan mungkin aku akan beberap hari disana sampai semuanya benar benar sudah bisa kutinggalkan Pah"
"Jangan lupa beritahu istrimu," ucap Heru dengan bisikan pada Rajesh, dia tidak mau jika menantunya mendengar dan Rajehspun langsung menganggukan kepalanya mengerti dengan maksudnya ayahnya.
Beberapa jam berhincang kini semua sudah waktunya untuk tidur, mengingat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan lagi Raadith sudah sejak tadi menguak karena mengantuk membuat Nara menjadi kasihan.
"Ayo sayang, kita tidur saja...besok lanjutkan lagi tugasnya" ajak Nara.
Radith mengangguk, segara ia mengemasi perlengkapan belajarnya memasukan dalam tas lalu berdiri bersipa untuk kembali ke kamar.
"Mas....aku antar Radith tidur dulu, dia sudah sangat mengantuk" ucap Nara berpamitan pada Rajehs.
Rajesh melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya terlebih dahulu kemudian kembali memandang sang istri yang masih menunggu jawaban darinya, "Mas juga sudah mengantuk, ayo kita tidur saja" ajak Rajesh sang bergegas untuk berdiri.
"Kalian tidurlah, Mama sama Papa juga mau tau" timpal Clara karena memang dirinya juga sudah mengantuk sejak tadi hanya saja tidak mau mengganggu suaminya yang sedang asyik bercerita dengan putra mereka.
"Iya, lihatlah Mamamu juga sudah mengantuk sejak tadi" ungkap Heru dengan kekehan kecilnya.
"Jika Papa sudah tau, lalu kenapa tidak peka" dengkus Clara.
"Hahahah terlalu asyik bercerita Ma, jadinya seperti ini" gelak Heru.
__ADS_1
Clara mencebikkan bibirnya, bergegas berdiri bersipa untuk memasuki kamar, "kalian tidurlah, tinggalkan saja Papamu ini disini" ketus Clara.
"Ingat umur Ma, jangan suka merajuk" goda Heru.
"Terserah Papa saja" sentak Clara dan meninggalkan ruang tengeha setelah sebelumnya menympakan kakinya dihentakan di atas lantai membuat semuanya tertawa.
Nara tersenyum dan benar benra bahagia dengan keluarga suaminya, tidak kenal waktu jika ingin berdebat, menggoda, dan bercanda tapi itu semua sangatlah menyenangkan dan terasa tidak membosankan.
"Pa...kami istrhat dulu" pamit Nara.
"Istrhatlah" titah Heru.
Nara mengantarkan terlibih dahulu putranya, seperti biasanya Nara akan menemani Radith untuk membersihkan diri terlebih dahulu lalu menemaninya tidur sambil membacakan dongeng untuk Radith walau pada awal awal Radith merasa risi karena tidak terbiasa tapi lama kelamaan justru bocah tampan itu tidak bisa tidur jika tidak ada dongeng dari Nara keculai jika memang Nara akan tidur bersamanya dan memberikan dirinya pelukan sepanjang malam.
Setelah menemani putranya tidur, kini Nara keluar dan menuju kamarnya dan Rajehs dan dia melihat suaminya masih terjaga dan duduk manis di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya dengan nyaman dikepal ranjang membuat Nara dengan cepat melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan menukar pakaiannya.
Selesai menukar pakaian, kini Nara berjalan mendekat kearah meja rias yang tidak jauh dari ranjang, suaminya masih tidak bergeming dari tempatnya apalagi fokusnya yang tidak terganggu sama sekali dengan aktifitas Nara yang walau kadang menimbulkan suara dari hasil dentuman antara botol cream malam Nara dan meja kaca itu.
Nara mendengkus sebal melihat suaminya yang seolah tidak mengetahui keberadaanya atau mungkin lebih tepatnya tidak menganggap keberadaan Nara Disana.
"Ada apa sayang?" tanya Rajehs tanpa merasa bersalah.
Nara kembali mendengkus sebal medenhar pertanyaan suaminya yang menurutnya tidak peka itu, "tidak ada!" ketus Nara lalu merebahkan dirinya dengan kasar dan membelakangi Rajehs juga.
Rajehs tersenyum geli mendapati sikap istirnya, benar benar sangat menggemaskan, "Nana...." panggil Rajehs dengan lembut.
Panggilan itu membuat amarah Nara menyuap seketika entha berlari dan berhambur kemana, karena kini perasaanya sedang berbunga saat telinganya kembali mendengar panggilan sayang suaminya seperti dulu, saat mereka belum menikah.
Dengan cepar Nara berbalik dan kini menghadap suaminya dengan senyum sumringahnya memhuat Rajehs lagi lagi merasa gemas, bagaimana bisa istrinya bisa berubah suasan hati dalam sekejap hanya karena sebuah panggilan.
"Kamu memanggilku Mas..?" tanya Nara dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Iya Nana sayang, kenapa tidur membelakangi suami yang tampan ini hemm?" tanya Rajesh dengan lembut, tangannya mengusap pipi Nara dengan lembut dan sangat hati hati seolah wajah Nara adalah benda yang muda retak jika di sentuh terlalu keras.
"Tidak ada, aku hanya sebal saja" jawab Nara dengan ketus.
"Kenapa sayang?"
"Mas mengabaikan kedatanganku, bahkan aku sudah berusaha menimbulkan suara tapi tetap saja tidak membuat Mas melihatku" jelas Nara.
Rajesh terkekeh mendengar istrinya mengakui kekesalan dihatinya dan itu membuatnya semakin mencintai kekasih halalnnya, "jangan marah sayang, Mas hanya mengerjaimu saja"
"Jadi Mas hanya mengerjaiku" Nara memukul lengan suaminya karena kesal, wanita cantik itu sangat kesal karena suaminya sengaja melakukan hal itu.
"Mas jahat..." cebik Nara lalu kembali memunggungi suaminya.
"Janvan memunggungi suamimu sayang, itu tidak baik loh" ucap Rajehs dengan segala bujuk rayunya, tangannya mengelus lembut bahu Nara membuat wanita cantik itu merasakan sensasi panas.
Jangan menyentuhku seperti itu Mas..." tegur Nara.
Rajehs yang melihat reaksi istrinya menjadi tersenyum, dia tau apa yang dirasakan wanitanya sebagai wanita normal dan Rajehs tidak ingin melewatkan kesempatan dan tangannya terus mengelus lembut bahu itu semakin dalam membuat Nara kembali merasakan hawa panas dalam dirinya.
"Mas...."
"Ssttt....jangan banyak bicara sayang, semakin kamu bergerak semakin Mas ingin melakukan hal yang lebih" ucap Rajesh dengan tawa liciknya.
Nara terbelalak mendengar penuturan suaminya, dia tidak menyangka suaminya ternyata semesum ini, otaknya belum bisa mencerna apa yang harus dilakukan untuk menolak tapi tidak sempat karena suaminya sudah menyentak tubuhnya hingga kini posisinya menengadah dan dengan cepar Rajshs menindih tubuh Nara.
"Mas...." pekik Nara.
Rajehs langsung menyerang bibir istrinya, tidak memberi kesempatan untuk Nara melayangkan protes hingga akhirnya Nara melemah dan terbuai dengan sentuhan lembut dari bibir suaminya dan pertempuran sore tadi kembali lagi terulang dimalam yang sunyi dimana semua orang dengan menyelami waktu tenang.
.
__ADS_1
.
Bersambung....