
Ting Tong
Sura bel apartemen milik Nara berbunyi menandakan ada tamu yang datang, sengan segera pemilik lebih dulu mengintip sebel benar benar membukanya, dahinya mengkerut melihat pria asing yanh belum pernah di temuinya.
Tapi walau ragu Nara tetap membuka pintu apartementnya karena menurutnya tidak mungkin jika pria itu akan berbuat macam macam di apartement yang banyak cctv nya ini.
"Siapa?"
"Selamat sore nona, saya asisten penghuni apartement di lantai atas" jawabnya.
"Lalu...?"
"Majikanku mengundang anda untuk makan malam bersa sebagai tetangga yang baik" jawabnya.
Nara kembali mengerutkan keningnya, "hanya aku?" tanyannya dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya sendiri.
"Tidak, penghuni lain pun di undang" bohongnya.
"Bailklah, jam makan malam saya datang"
"Terimakasih Nona, saya pamit pergi dulu"
Nara kembali di sibukan dengan dirinya yang membersihkan apartement, karena waktu sudah semakin sore dan dia berpikir jika tidak perlu memasak lagi karena dia akam makan di sana saja nanti untuk memenuhi undangan dari sanga tetangga baru.
Nara sudah bersiap, walau hanya naik satu lantai tapi Nara berpikir jika harus tetap berpakaian sopan agar tidak di nilai buruk nanti oleh tetangga baru beserta tetangga lainnya pikir Nara.
"Kok jadi malah jadi gelisah begini, padahal hanya mau berkenalan dengan tetangga" celutuk Nara yang merasa sedikit merasa deg deg serk.
"Ah sudah lah hanya tetangga kok" gumamnya lagi kemudian mulai melenggang pergi.
Baru saja Leo ingin memencet bel apartement tapi pemiliknya sudah lebih dulu membuka pintu membuat sang pria yang berstatus asisten itu tercengang kagum.
"Gila...pantas saja Tuan Muda tergiala gila karena ternyata incaranya sangat cantik walau hanya dress sederhana dan polesan wajah yang sangat sangat natural" batin Leo.
"Hei tuan..." seru Nara yang melihat pria yang tadi sore datang kini datang lagi dan berdiri dengan wajah bengongya di depan pintu apartementnya.
"Ah eh maaf nona, saya datang untuk menjemput" jawab Leo dengan sedikit kelabakan karena ketahuan sudah mengagumi sosok gadis Tuan Mudanya.
"Loh kenapa harus di jemput? apa saya sudah terlambat? jika iya maka lebih baik jika tidak usah ke sana saja, tidak enak jika jadi bahan sorotan mata" ujar Nara yang merasa sedikit sungkan untuk melangkah.
"Tidak masalah nona, anda belum terlambat" jawab Leo
"Tapi kenapa saya harus di jemput?" tanya Nara yang masih belum paham akan perlakuan yang menurut Nara ini sedikit istrimewa.
"Karena hanya kau nona yang jadi tamunya dan kau pun tamu yang sangat istimewa" jawab Leo yang hanya bisa melalu hatinya saja.
"Tidak masalah nona, saya pun tadi sudah mampir mengingatkan beberapa penghuni lainnya" bohonh Leo.
__ADS_1
"Baiklah"
Akhirnya Nara mau mengikuti langkah Leo menuju lift untuk ke lantai atas, dan sepanjag jalan di setiap langkahnya nervous yang menghinggapi dirinya tanpa tau kenapa seperti itu, padahal ini hanya untuk jamua makan malam dari tetangga tapi seolah akan ada sesuatu yang dia lihat disana dan pastinya akan membuat dia terkejut.
"Silahkan nona" ucap Leo setelah sampai di depan pintu apartement dengan tanganya langsung membuka pintu untuk Nara.
"Semakin berdebar jantung Nara kala langkahnya kini sudah sampai dan melewati ambang pintu, dia mengedarkan pandangannya keseluruh sisi ruangan menelisik hingga membuat dia berdecak kagum karena tatanan ruangan yang bagus dan luas, benar benar khas orang kaya dan Nara sangat yakin biaya sewa perbualannya bukanlah kaleng kaleng harganya.
Lama mengamati, tiba tiba kening Nara mengerut saat menyadari sesuatu, "tunggu...kenapa tidak ada orang? bukankah katany pria tadi sebagian susah datang?" gumam Nara.
"Loh mana yang la....?"
Suara Nara tersekat tak berlanjut menyadari sudah tidak ada lagi Leo di sana bahkan pintu pun sudah tertutup rapat. Seketika rasa khawatir mulai merambat dalam diri Nara, dia khawatir jika ternyata dia hanya di tipu dan khawatir jika pemiliknya akan berbuat tidak baik padanya.
Dengan penuh ketakutan Nara terus saja memutar gangang pintu berusaha untuk mengeluarkan diri sari sana tapi usahanya sia sia karena pintu susah tertup, "Ya Tuhan....selamatkan saya dari situasi ini" mohon Nara.
"Kau sudah datang calon istri?"
Suara pria yang khas, walau belum dia tau siapa pemiliknya tapi suara itu sangat dia kenal, ya siapa lagi jika pukan suara pria yang pernah menolongnya di tambah lagi kata calon istri membuat Nara semakin yakin akan tebakannya.
Rasa khawatir yang tadinya melanda kini berubah menjadi rasa kesal, kupingnya terasa panas mendengar kata calon istri dari mulut pria yang bahkan tidak di kenal namanya itu.
Dengan gerakan kasar Nara memutar badannya, matanya melotor besar melihat pria yang hanya berdiri dan tersenyum manis padanya seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
"Jadi kau penghuni apartement ini? tetangga baru yang katanya mengundang makan mapam?" tanya Nara sedikit ketus.
"Ya tebakan calon istriku istriku sangat benar" jawab Rajesh santi.
"Lalu kau mau aku memanggil apa? kekasih, sayang atau apa?" tanya Rajesh membuat Nra semakin kepanasan kepalanya.
"Ckck...buka pintunya! aku mau keluar" ketus Nara.
"Loh, kita belum makan malam sayang, bagaimana bisa kau pergi?" tanya Rajesh membuat Nara kembali melotot marah mendengar kini dirinya di panggil sayang.
"Ya Tuhan....saya bisa darah tinggi bila terus bersamamu lebih lama" keluh Nara.
"Tidak, kau justru akan terbiasa dan ujungnya tidak akan merasa tidak nyaman jika tidak aku panggip seperti itu" jawab Rajesh, " sudahlah kita makan malam saja dulu" lanjuta Rajesh mengajak Nara.
Rajesh mengulurkan tangannya tapi tidak di sambut oleh Nara, dia malah nyeloyor melangkah menuju meja makan yang terlihat dari ruang tamu sedangkan Rajesh hanya tersenyum melihat gadisnya seperri itu. Pria tampan itu sangat yakin jika nanti pasti tangannya akan di sambut hangat oleh Nara dan itu tidak akan lama lagi.
"Silahkan duduk calon istri"
Nara hanya bisa mendengus sebal melihat Rajesh yang benar benar keras kepala, Nara akhinya memilih diam dan mengambil makan malamnya dengan wajah yang di pasang cemberut.
"Kau tidak mau melayani calon suamimy ini?"
"Ckck kenapa kau selalu seperti ini sih? aku bahkan tidak tau siapa namamu!" ketus Nara.
__ADS_1
"Ohh aku lupa sayang, kau belum tau siapa namaku kan? baiklah mari berkenalan sengan sah" ajak Rajesh.
"Aku Rajesh Fernandese"
Naea tercengan mendengar perkataan pria tampan ini, Nara syok dan tidak percaya jika pria tampan yang ada di hadapanya ini adalah pemuda sukses dalam dunia bisnis bahkan ayah dan kakanya pun masih berada di bawah Rajesh, lalu bagaimana bisa pria ini dengan gilannya mengatakan kepemilikan pada Nara? tidak adakah gadis lain yang lebih sepadan.
Bukan karena tidak percaya diri, Nara adalah gadis paling cantik mungkin jika di adakan pemilihan gadis cantik dari kalangan kalangan keluarga kaya, hanua saja Nara tidak pernah bermimpi untuk mengenal pria sukses itu apa lag kini lelaku ini mengatakan dirinya adalah calon istri, benar benar sulit di percaya.
"Jadi kau adalah pengusa sukses itu?" tanya Nara yang masih ingin memastikan.
Rajesh menjadikan ini peluan untuk menjerat Nara, karena pikirnya jika wanita pada umumnya pasti akan bertekuk lutut seperti kebanyakan yang lainnya jika mengetahui dirinya orang terkaya.
"Tentu" jawabnya dengan bangga.
Nara kembali diam, dia tidak tau harus menanggapi apa, di sisi lain ada kebanggan karena bisa mengenal pengusaha sukses itu tapi di sisi lain juga ada rasa minder karena merasa kurang pantas untuk dekat dengan pria itu.
"Hei Kanara Saker kenapa tidak memperkenalakn dirimu?" tanya Rajesh.
"Bagaimana saya perkenalkan lagi sementara kau saja sudah tau nama lengkapku" jawab Nara ketus.
"Tapi aku ingin kita berkenalan resmi dan kau menyebutkan namamu dengan suara indah dan merdumu itu" jawab Rajesh dengan senyum menawannya.
Kanara merona mendengar penuturan Rajesh, dia merasakan wajahnya memanas dan jantungnya sedikit berpacu lebih cepat dari biasanya, "Aku Kanara Saker" jawab Nara setelah bisa mengontro deguban jantungnya.
"Nama yang sangat cantik secantik pemiliknya" goda Rajesh.
"Ish apaan sih...!" kesal Nara untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Bisa kau bantu mengisi piringku?" tanya Rajesh sembari menyodorkan piringnya.
Tanpa kata dan hanya aggukan yang di berikam serta tangannya yang bergerak menerima piring dan mulai mengisikan piring kosong itu sembari sesekali bertanya kesukaan Rajesh.
"Terimakasih..."
"Sama sama" jawab Nara dengan senyum manisnya.
Deng
"Ya Tuhan...senyumnya benar benar membuatku meleleh, bibirnya terlihat sangat lebut jadi pengen mencoba" batin Rajesh menjerit melihat senyum manis yang mampu membuatnya terpesona.
"Hei kenapa bengong, ayo makan aku sudah lapar"
"Ah eh i iya ayo silahkan makan" ujar Rajesh kikuk.
Mereka pun akhirnya makan dalam diam tapi sesekali Rajesh mencuri pandang ke arah Nara dan gadis cantik itu pun sebenarnya sadar hanya saja dia pura pura tidak tau.
.
__ADS_1
.
Bersambung...