
"Mom...." panggil Radith saat melihat ibunya tersenyum sambil menatap ponselnya.
Nara tentu saja terjingkat kaget saat ada suara yang membutakan lamunannya seolah Nara sedang tertangkap basah membuat wajahnya mendadak memanas karena merasakan malu dihadapan putrnya.
"Ada apa Mom? kenapa wajahnya merah? mommy sakit?" todong Nara dengan Radith dengan banyataan.
"Ehh ti..tidak sayang, Mommy baru saja bicara dengan Daddy" ucap Nara dengan kikuk.
"Ohh jadi Daddy baru saja menelpon? makanya Mommy tersenyum seperti ini" gumam Rajehs dengan wajah polosnya membuat Nara semakin malu karena ketahuan dengan putranya, "astaga Nara...bagaimana bisa kamu bertindak seperti itu di kamar putramu" batin Nara dan merutuki kebodohannya sendiri.
"Sudah ayo pakai pakaiannya" titah Nara.
"Ok Mom"
Nara mengajak Radith untuk menuruni tangga, tapi sebelum itu terlebih dahulu menghampiri Vivi didalam kamar tempat sahabatnya istrahat, "ayo turun makan siang dulu Vi" panggil Nara.
"Oh ok" Vivi langsung begegeas menghampiri Nara melihat ada anak kecil yang bersama sahabatnya, dan langsung cari aman saja saat mengingat ancaman bocah tampan itu sebelumnya.
"Ini kamu yang masak Ra..?" tanya Vivi.
"Iya...maaf ya, aku masak menu kesukaan Dadih saja, jadi kita mana hany bisa makan ini saja " jelas Nara merasa tidak enak hati karena memang niatnya tadi Nada semua menu makanan itu untuk Radith, untuk menyenangkan putra sambungnya.
"Tidak masalah, aku tidak memilih makanan" ucap Vivi.
"Ayo, silahkan makan jangan sungkan" ucap Nara.
Makan siang sudah selesai dan kini kedua gadis cantik itu sudah berada diruang tengah untuk bersantai sedangkan Radith memilih untuk mengambil buku pelajarannya dan mengejutkan tugas yang diberikan.
"Ra.... anak sambung kamu mandiri ya, belajar tanpa dirusuh" bisik Vivi saat melihat Radtih kembali menuruni anak tangga menuju tempat mereka di ruang tengah.
"Iya, aku juga awalnya kaget gitu, dia tidak seperti anak kecil lainnya yang hobi merengek, tapi kau tau aku lebih suka dia merengek dan bergantung denganku dan membuat diriku sibuk dengan dirinya" ucap Nara dengan tatapan mata sendurnya.
Dari cara bicaranya, terselip sebuah rasa disana, entah rasa apa itu hanya Nara dan Tuhan yang tau, jelasnya ada harapan besar dalam diri Nara Tuhan segera memberikan apa yang diharapkan.
"Kamu benar, anak kecil merengek pada kita jauh lebih menyenangkan, dan walaipun repot tapi tetap saja menyenangkan" timpal Vivi yang sama sekali tidak tau maksud dari ucapan Nara.
"Mom...." panggi Radith.
__ADS_1
"Yes Boy"
"Aku mau mengerjakan tugas bersamamu" pinta Radith
"Tentu saja sayang, kamu tau jika Mommy tidak akan pernah menolak permintaanmu" jawab Nara.
"Thank Mom"
"Sama sama sayang, ayo kemarilah dan belajar disamping Mommy" titah Nara.
Vivi yang melihat ketulusan dan binar bahagia dimata Nara membuat gadis cantik itu memikirkan sesuatu yang ingin ditanyakan, "Ra...kamu udah isi belum?" bisik Vivi.
Nara terdiam, binar kesenangan yang tadi tergambar kini meredup berganti dengan tatapan sendu yang ia perlihatkan para Vini, dengan lemah Nara menggelangkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Vivi, rasanya bibirnya terlaku keluh untuk menjawab.
"Ohh berabarlah sedikit sayang, mungkin berkat itu sedang dalam perjalanan bersemayam disana" hibur Vivi, dia bisa merasakan jika keadaan hati sahabatnya saat ini sedang tidak baik dan Vivi sadar dengan ucapan Nara barusan yang sangat menginginkan Radith bermanja dengannya mungkin karena ingin menyalurkan rasa sayangnya dan kerinduannya ingin memiliki anak.
"Ini sudha hampir empat bulan Vi" bibir wanita cantik itu akhirnya bicara, walau sedikit bergetar karena tidak kuat tapi tetap saja ingin menyampaikan apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Radith, aku sedang menemani Mommymu, maukah kamu memintakan Maid membuat cemilan?" pinta Vivi, dia sengaja ingin mengusir Radith dari sana agar tidak menangkap percakapan mereka.
Nara ikut menatap Radith, menyiratkan jikaibunya juga meminta hak demikian, dan bocah tampan itu tidak keberatan lagi karena melihat ibu sambungnya, "baiklah tunggu sebentar"
"Tapi... "
"Apa suamimu mempermasalahkannya?" tanya Vivi dan dijawab gelengan oleh Nara.
"Lalu apa yang membuatmu harus bersedih? jika suaminya tidak mempermasalahkannya dan sabar menanti waktu maka bersabarlah juga"
"Tapi aku tau suamiku ingin Vi, dia sering sekali mengusap perutku dan aku tau itu sebuah harapan akan kehamilanku" ucap Nara.
"Yang terpenting dia tidak mempermasalahkannya, usah deh... justru semakin kamu pikirkan maka akan semakin menekan batinmu dan kamu akan terus kepikiran.
"Bagaimana jika aku tidak bisa hamil Vi?" tanya Nara dengan bibir yang bergetar, ada rasa takut jika dirinya tidak bisa mengandung anak dari pria yang dicintainya, takut jika dia tidak bisa jadi wanita yang sempurna untuk suaminya.
"Sttt...jangan bicara seperti itu, jangan menduga hal yang tidak pasti" tegur Nara.
"Sudahlah jangan menangis, aku tidak mau putramu menjadikanku tawanannya karena membuatmu menangis" hibur Vivi dengan tawanya membuat Nara juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Mom...." seru Radith.
Nara dengan cepat menghapus sudut matanya yang basah, dia tidak mau putranya melihatnya menangis, mungkin benar kata Vivi jika dia hanya perlu bersabar akan hal ini, karena memang benar masih banyak diluar sana yang penantiannya lebih lama dari dirinya.
"Mom ada apa? apa Mommy menangis?" tanya Radith.
Vivi melotot tak percaya dengan kepekaan anak sambung dari sahabatnya, padahal Nada sudah beracting dan sudah menampilkan senyum manisnya tapi entah kenapa masih saja diketahui oleh Radith.
"Tidak sayang, Mommy tidak menangis...mana mungkin Mommy menangis" elak Nara.
"Sungguh?" tatapan Nara penuh selidik.
"Tentu saja, Mommy tjdak berbohong, Mommy berkata jujur" ucap Nara meyakinkan.
"Baiklah, kata Bibi nanti akan diantarkan kemari" ucap Rajesh menyampaikan apa yang dikatakan maid padanya.
"Baiklah, sekarang kamu lanjutkan belajarnya" ucap Nara.
"Ok Mom"
Radith kembali belajar sedangkan Nara dan Vivi kembali melanjutkan obrolan ringan mereka, hingga kembali terjeda saat kedatangan Maid yang membawa cemilan dan jus sesuai dengan permintaan asal mereka untuk menghindari Radith mendengar percakapan mereka.
"Terimakasih ya Bu" ucap Nara.
"Sama sama Non, silahkan diminum"
"Makasih Bi" ucap Vivi.
"Sama sama Non Vivi, silahkan diminum" ucapanya.
"Iya Bu, terimakasih sekali lagi" ucap Vivi.
Dan kini keduanya kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda sedangkan maid sudah kembali ke dapur untuk bekerja dan Radith kini bergabung dengan ibunya untuk menikmati cemilannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...