
Nara masih meneteskan air matanya, dia tidak percaya sama sekali jika suaminya mampu membuat semua ini untuknya bahkan di Negri orang pula.
"Ini... ini sangat spesial Mas, dan ini sudah sangat cukup untukku, terimakasih Mas..." ucap Nara dan memeluk tubuh Rajehs yang langsung disambut baik oleh pria itu.
"Aku hanya ingin menciptakan moment yang indah, yang tidak akan kami lupakan dalam hidupnya di Negara yang sangat kamu inginkan" kata Rajesh.
"Terimakasih, dan aku sangat bahagia malam ini" lagi Nara mengungkapkan isi hatinya, tentang kebahagiaan yang saat ini dirasakannya.
"Ayo kita makan dulu, ini malam terakhir kita disini" ucap Rajesh.
Nara mengangguk dan kemudian duduk dikursi yang dipersilahkan Rajesh untuknya, senyum manisnya tiska terlepas dari bibirnya, lengkungan itu terus bertahan karena terlalu bahagia dengan apa yang terjadi saat ini.
"Sepertinya istriku tidak akan bisa move on dengan moment ini?"
"Tentu saja, karena ini moment paling indah" jawab Nara layaknya akan kecil yang sedang puas karena keinginannya dipenuhi.
Keduanya makan dengan nikmat sembari menikmati alunan musik yang sangat merdu membuat keduanya terbuai akan suasan romantis yang tercipta benar benar durasi hati bahkan mungkin bagi orang yang hanya sekedar lewat juga akan merasakan hal itu.
Selesai makan malam, kini keduanya berbincang sejenak setelah itu Rajehs mengajak wanitanya untuk berdansa bersama, tentu saja Nara akan memenuhi undangan dari suaminya dan seseat kemudian pasangan muda itu kini sudah bergerak indah di lantai untuk berdansa.
Jam sepuluh malam pasangan baru itu baru kembali dan sampai di Villa, Nara langsung membersihkan sisa makeup yang menempel wajahnya sementara itu, Rajehs memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menuju alam mimpi.
"Sayang...bersihkan dirimu" titah Rajesh.
"Iya, ini sebentar lagi akan selesai kok" jawab Nara dan tanganya masih bergerak indah disekitar area wajahnya.
Selesai dengan semua kegiatannya, baik membersihkan sisa makeup, mandi dan memakai cream malam untuk menutrisi wajahnya yang habis terkena zat kimia dari makeup, Nara menyusul suaminya yang asyik mengotak Atik ponselnya sembari menunggu istrinya.
__ADS_1
"Mas sedang apa?" tanya Nara.
"Mengecek email" jawab Rajesh, sesaat kemudian ponsel yang ada di genggamannya diletakan diatas nakas dan membaringkan tubuhnya lalu menarik Nara untuk masuk kedalam pelukannya.
"Tidurlah sayang" ucap Rajesh menjadikan lengannya sebagai bantalan Nara agar mereka semakin tidur saling merapat.
Keesokan harinya, Nara sudah disibukan dengan kegiatannya bersiap siap, untung saja pekerjaannya yang mengepak pakaian kemarin sudah diambil alih oleh para pelayan jadinya pagi ini tidak merasa kerepotan sekali, karena kini Nara sedang berkutat dengan dapur, menemani para pelayan memasak sesuai dengan ciri khas makanan Hawai.
Nara tentu saja ingin belajar membuat makanan makanan seperti itu agar bisa diaplikasikan nanti saat berada di Indonesia dan memanjakan lidah keluarganya dengan aneka jenis makanan.
"Morning sayang" sapa Rajesh dan mendararkan satu kecupan di bibir Nara dengan lembut didepan semua karyawan.
Nara merona merah dengan tindakan suaminya yang tidak memperhatikan sekelilingnya, "Mas..malu, ada mereka" tegur Nara menggunakan bahas Indonesia agar para pelayan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan.
Tapi walau seperti itu, para pelayan tetap mengerti akan apa perkataan Nara, semua mereka lihat dari gerakan tubuh Nara serta ucapnnya dan wajahnya yang memerah karena malu membuat para pelayan hanya tersenyum menyaksikannya.
"Tidak masalah, kamu lupa kalau kita sekarang berada dimana?" tanya Rajehs yang tetap seja untuk kesekian kalinya mengingatkan Nara akan keberadaan mereka.
Ya Nara sedikit banyaknya kesal dengan sikap suaminya yang tidak pernah mau mengerti situasi dan keberadaan mereka, selalu saja main sosor jika dia mau membuat Nara harus menebalkan rasa malunya setiap dihadang situasi seperti itu.
"Lebih baik kamu mandi, biar mereka yang melanjutkan pekerjaan itu" titah Rajesh mengingat waktu mereka yang tidak banyak lagi.
"Baiklah, tapi setelah kopimu jadi" jawab Nara.
"Terimakasih sayang" ucap Rajehs setelah cangkir berisikan kopi hitam kesukaannya diletakan di depannya.
"Sama sama, aku ke kamar dulu ya Mas" pamit Nara yang dijawab anggukan oleh Rajehs lalu menyesap kopinya yang terasa sangat nikmat buatan Nara.
__ADS_1
Selsai semuanya, sarapan, berkemas, kini keduanya sudah berada diperjalanan menuju Bandara. Nara bersandar di dada bidang suaminya sedangkan si pria tampan itu menyibukkan tangan kirinya mengelus sayang rambut Nara sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap layar ponselnya untuk membalas email masuk dari Leo asistennya.
Sampai di Bandara, tanpa menunggu lagi keduanya memasuki pesata sesuai dengan bookingan sebelumnya yang dilakukan Leo. Ya, lagi lagi Leo ya g mengatur semuanya padahal pria tampan yang bernasib sebagai asisten itu berada jauh di Indonesia dan disibukan dengan urusan perusahaan yang ditinggalkan sang tuan musa tapi masih harus direpotkan lagi oleh si pria arogant yang tidak malas mengurus hal seperti ini
Walau menggerutu hati Leo tapi tetap juga dilakukan, memesan tiket kedua majikannya hanya dengan melalui via telepon saja, rupanya jaringan kekuasaan yang dimiliki Rajesh justru sudah mendunia sehingga hanya dengan menyebutkan namanya saja semua beres tanpa kekurangan, bahkan mengupayakan pelayanan yang sangat VIP dan istimewa.
Sepanjang perjalanan pedangan muda itu hanya menghabiskan waktunya duduk dan rebahan saja karena waktu tempuh yang memakan waktu satu hari lebih.
Empat puluh jam kemudian, pesawat yang ditumpangi pasangan muda itu kini mendarat sempurna di Bandara internasional Soekarno Hatta dan dari kejauhan susah terlihat Leo menunggu mereka, Leo yang menjemput keduanya sesui dengan istruksi dari Rajehs dan kerena memang itu adalah pekerjaan Leo.
Leo rasanya jauh lebih tenang jika dirinya yang langsung memastikan keadaan majikannya dari pada hanya mendengar melalui laporan anak buahnya yang ditugaskan.
"Selamat datang kembali Tuan Muda, Nona Muda" sapa Leo membungkuk hormat.
"Terimakasih sudah menjemput kami Skretaris Leo" ucap Nara dengan tulus.
"Ini sudah tugas saya Nona" jawab Leo dengan wajah datarnya.
Ya, saat ini Leo sedang mencari jarak aman, dia tidak mau tersenyum apalagi ramah pada istri majikannya karena itu sama saja membangunkan singa jantan yang sedang tertidur dan sudah pasti dia tidak akan terlepas dari serangan si Singa.
Sementara Rajehs memang sudah memasang wajah masamnya, matanya menyiratkam untuk Leo jaga sikap dan seceptanya mencari keamanan dirinya.
"Jalan!" titah Rajesh dan merangkul pingag istrinya dengan mesra, menunjukan pada Leo jika gadis yang baru saja bersikap ramah padanya itu adalah istrinya, miliknya dan tidak ada yang bisa mengambilnya termasuk Leo sekalipun.
"Tuan Muda benar sudah bucin pada Nona Muda, lihat saja gayanya... cih, dia kira aku akan merebut wanitanya? tidak akan...tidak akan aku merebut wanitaku Tuan Muda...!" geram Leo dalam hati yang mulai merasa muak dengan kebucinan tuan mudanya sehingga menyubah Rajesh dari sosok aslinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung..