STORY OF NARA

STORY OF NARA
semua terkena imbas


__ADS_3

"Dasar orang ini, walau sudah jadi adik iparku tetap saja tidak bisa aku taklukan bahkan dia yang mengintimidasiku" gumam Lionel dalam hati.


Selesai sarapan, keluarga kecil itu langsung mengambil ancang ancang untuk berlalu meminggalkan kediaman Saker, "semuanya kami pamit pergi" ucap Rajesh setelah acara sarapan selesai.


"Oh kalian akan pergi sekarang?" tanya Naina yang sebenarnya masih ingin putrinya tinggal disini.


"Iya Bu, suami dan putraku harus kerja dan sekolah jadi kami harus berangkat sekarang" jawab Nara.


"Tidak bisa kamu tinggal saja, nanti Radith kembali kesini lagi dan juga suamimu kembali ke sini juga" pinta Naina yang ingin memberikan penawaran.


"Maafkan Nara Bu, tapi Nara juga ada pekerjaan jadi tidak bisa berlama lama, nanti jika ada waktu lagi kami akan kesini" ucap Nara juga memberi penawaran pada ibunya.


"Sudahlah Bu, jangan seperti ini" sela Anan saat melihat istrinya masih belum menyerah untuk membujuk Nara.


"Tapi Yah..."


"Nanti, jika pekan saya tidak ada pekerjaan, kami akan kesini lagi" sela Rajehs.


Tentu saja pria itu tidak mau jika kedua mertuanya berdebat hanya untuk memperebutkan Nara tinggal atau tidak, sehingga pria tampan itu mengambil jalan tengah tapi juga tidak mau juga untuk berjanji karena takut tidak bisa memenuhinya atau mungkin bisa saja ada halangan di akhir pekan.


"Baiklah, tapi janji pekan nanti akan kemari" pinta Naina.


"Saya tidak mau berjanji Bu, tapi saya akan usahakan agar pekerjaan saya bisa ditinggalkan " jawab Rajehs membuat Naina kembali kecewa tapi berusaha untuk berpikir positif jika menantu dan putri serta cucunya akan kemari pekan nanti.


"Baiklah, semoga saja kamu tidak banyak pekerjaan di pekan nanti" harap Naina yang langsung mendapat teguran dari Anan.


"Ibu... jangan bilang begitu" tegur Anan.


Naina tidak menanggapi, wanita paru baya itu masih dengan keinginannya sehingga membuat Anan hanya bisa mendengkus dalam hati melihat sikap istrinya tapi tidak bisa melakukan apapun.


"Yasudah kami berangkat ya Ibu, Ayah, Kakak ipar, dan kakak" pamit Nara.


"Hati hati" jawab mereka serempak.


"Ponakan, Aunty berangkat dulu ya byee" pamit Nara pada Raisa dan langsung menghujani Raisa dengan banyak ciuman.


"Nenek, Kakek, Radit pamit pulang yaa..." pamit Radith.


"Hati hati sayang, belajar yang giat" ucap Naina dan mencium pipi Radith dengan sayang.

__ADS_1


"Adik manis, kakak pergi dulu ya... nanti kita bermain lagi" pamit Radith lalu mencium pipi Raisa dengan sayang juga.


"Hei anak keci..! kau tidak berpamitan pada Pamanmu ini" seru Lionel saat mendapati Radith hanya diam sama bahkan hendak berbalik untuk pergi.


"Bibi cantik tapi lebih cantik Mommy Nara, aku pamit pergi dulu ya bye...." pamit Radith yang justru menggoda Martha membuat Lionel melongo tak percaya dengan tingkah anak itu, sudah tidak berpamitan justru malah menggoda istrinya dihadapannya sendiri.


"Hei kalian benar benar ya, gak anak gak bapak sama saja" teriak Lionel melampiaskan kekesalannya.


Rajehs terkekeh mendengar teriakan kakak iparnya, "kau tau? walau kami sering seperti ini tapi kami selalu kompak pada orang yang tidak kami senangi" ejek Rajesh.


"Hei apa maksudmu? kau tidak menyukaiku?" teriak Lionel.


"Pikir sendiri saja" saur Rajehs dengan tawanya laku kembali melangkah menuju mobil yang sudah terparkir dan supirnya tak lain dan tak bukan adalah Leo sang asisten.


"Kau memang luar biasa, kau datang sangat pagi, bulan ini gajimu akan ku naikan" ucap Rajesh yang memang bena salut dengan kinerja Leo yang selalu bisa memuaskannya, bagaimana tidak senang jika contoh kecilnya saja seperti ini padahal mereka sama sama kelelahan dari luar kota semalam bahkan bisa dikatakan Leo lah yang sangat capke karena harus menyetir tapi masih bisa datang sepagi ini di mension mertuanya untuk menjemput keluarganya.


"Terimakasih Tuan Muda" ucap Leo dengan binar bahagia.


Tentu saja Leo akan bahagian, bagi pria tampan itu tidak ada yang jauh lebih membahagiakan selain bisa mengumpulkan banyak pundi pundi yang dari bosnya karena baginya itulah yang paling menyenangkan baginya.


"Kau terlihat bahagia sekali" cibir Rajshs.


"Masih ada yang jauh lebih membahagiakan dari pada yang bodoh" sergah Rajesh.


"Istri"


"Mommy"


Kali ini Radith yang tadinya tidak berniat untuk imut campur pembicaraan orang dewasa kininikut angkat bicara apa yang sangat membahagiakan selain dari pada yang dan itu sukses membuat kdua orang dewasa lainnya yaitu Nara san Leo hanya melongo tak percaya dengan kekompakan anak dan bapak itu.


"Kompak sekali mereka" batin Nara.


"Dasar anak sama bapak sama saja, giliran wanita saja pasti kompak" batin Leo.


"Kamu kok bisa bicara begitu?" tanya Rajehs.


"Tentu saja aku bicara yang berharga adalah Momnyku" jawab Radith dengan cuek membuat Nara tersenyum bahagia.


"Ohh sayangnya Mommy terimakasih" ucapnya.

__ADS_1


"Kamu tidak bertanya pada Daddy Boy?"


"Untuk apa? aku sudah tau itu jawaban yang akan Daddy kasih" jawab Radith masih dengan gaya coolnya.


"Ya Tuhan.... dosa apa yang kau lakukan dimasa lalu adikku, kenapa putramu harus semenyebalkan ini" teriak Rajehs dalam hati.


"Kau sangat menyebalkan Boy" ketus Rajesh.


"Terimakasih pujiannya"


"Ya Tuhan...." Rajesh menjedotokan keningnya berulang kali di kaca mobil sangkin frustasinya menghadapi putranya yang seperti itu, "baru satu Tuhan tapi sudah semengerikan ini, lalu apa ajabar nanti jika bertambah, bisa teraniaya seumur hidup aku ini" keluh Rajehs.


Leo terbahak dalam hati sedangkan Nara hanya terkekeh dengan sikap suaminya dan jangan tanyakan lagi bagaiaman Radith, anak kecil yang baru saja membuat orang tua frustasi itu bersikap santai saja, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi dan dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Sudah Mas... kok ngomong gitu sama anak sendiri" ucap Nara seraya mengelus punggung suaminya agar tenang.


"Putramu menyebalkan sayang" saut Rajesh.


"Jangan lupakan dia juga putramu" kekeh Nara.


"Iyalah, yang begini saja dia juga putraku" kesal Rajesh.


"Aku memang putramu Dad, karena aku bisa membuat dirimu kesal sama sepertimu dirimu yang sering membuat orang lain kesal" ejek Radith.


"Radith... jaga sikapmu Nak, jangan kelewatan menggoda Daddymu" walau Nara suka dan merasa lucu dengan pertengkaran kecil seperti ini tapi tidak bisa juga dia membenarkan putranya terus membuat suaminya marah, karena Nara taku jika nanti Rajehs lepas kendali dan memarahi putranya.


Radith langsung bungkam mendengar tegurans ibunya sedangkan Rajehs tertawa puas karena kali ini mendapat pembelaan dari sang istri sedangkan pria yang satunya yang tak lain adalah Leo benar benar merasa terpuaskan meliha kedua pria yang bermulut tajam dan pedas itu bisa bungkam hanya karena satu gertakan dari Nara.


"Ohh astaga... walau aku selalu merasa tertindas tapi ada juga kesenangan tersediriku dan itu jika aku bersama dengan Nyonya Muda" batin Leo masih dengan tawa puasnya.


"Jangan hanya bicara dalam hati Leo, itu akan membuat funsgi hatimu berkurang dan mempercepat kematianmu" ucap Nara penuh penekanan.


Glek


Leo menelan ludahnya kepayahan medapat teguran dari Nara, apalagi perkataanya yang seolah menyumpahi dirinya untuk cepat mati, "oh sial..! aki menarik kembali perkataan ku, karena nyatanya aku juga ikut terkena imbasnya" batin Leo.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2