
Beberapa hari sudah berlalu Nara masih tetap pada kegiatannya, mengajar bermain berasama Radith dan mengantar Radith ke rumahnya setiap pulang sekolah seperti keinginan bocah berusia lima tahun itu, tapi sedikit ada yang berbeda di rasakan Nara semenjak tragedi perginya Rajesh tanpa kabar.
Dalam hati kecilnya berharap Rajesh sudah kembali dan datang ke apartementnya lalu memasak dan makan bersama seperti sebelum sebelumnya, bahkan sangkin inginnya Naea seperti itu terkadang refleks saat bangun pagi dirinya langsung bergegas menuju dapur melihat apakah ada orang yang dia harapkan disana tapi selalu saja kecewa yang dia dapatkan karena Rajesh pria yang sudah mulai masuk menerobos dinding perasaanya kini tidak ada disana.
Begitu setiap sore, saat pulang dari pekerjaan, ajakan Radith selalu di tolak untuk mampir ke rumahnya karena ingin segera sampai di apartement kemudian tidur dan akan bangun sore harinya dan lagi lagi bergegas menuju dapur melihat adakah seseorang yang berkutat didapurnya dan lagi lagi Nara harus murung karena sampai detik ini orang yang dia harapakn tidak ada disana.
Beberapa hari juga Reyhan tidak menemuinya karena sibuk dengan perusahaan yang baru dirintisnya, mencari tenaga kerja yang bisa membantunya suka rela untuk awal pendirian, gedung masih dalam bentuk sewa karena modal tabungan yang dia miliki belum mampu membeli gedung sendiri, asistennya dengan setia membantu karena memang kesetiaanya hanya untuk Reyhan walau awalnya dia di tempatkan di sisi Reyhan oleh Abraham untuk memata matai Reyhan tapi lamban laut seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka membuat asistennya berbelok arah dan kini mereka saling terbukan dan mendukung sengan penuh kesungguhan.
Nara sendiri tidak masalah dengan itu, justru merasa bersyukur karena Reyhan tidak lagi datang padanya walau dia sendiri tidak tau apa alasannya tapi sudahlah Nara pun tidak mau tau akan hal itu. Yang ingin di ketahui Nara saat ini adalah Rajesh, bagaimana kabar pria itu, sedang apa pria itu, dan kemana perginya pria itu.
Ya, semua tentang pria itu yang tak lain adalah Rajesh Fernandese yang sudah mampu menarik anestesinya sedikit sedikit dan menjauhkan pikirannya dari Reyhan bahkan tanpa disadari Nara jika dirinya mulai mengikis nama Reyhan disana dan menggantikannya Rajesh tanpa di rencanakan.
Nara mengehempaskan bokongnya di kasur empuk miliknya, istrahat sejenak sebelum berangkat ke kediaman orang tuanya seperti janjinya sebelumnya jika setiap pekan akan kembali dan mungkin dia akan menginap beberapa hari disana sesuai dengan ijinya pada Dilon tadi siang.
Bukan hanya pada Dilon saja ijin tapi Radith yang selama ini memanggilnya mommy itu juga Nara ijin karena tidak mau jika Radith marah karena kehilangan kabar darinya walau sedikit terjadi drama karena bocah itu tidak mau di tinggal bahkan mengusulkan akan ikut tapi tidak di perbolehkan oleh Clara takut jika Nara akan kerepotan dan akhirnya dengan segala bujuk rayu yang Nara lontarkan termasuk janji akan makan malam kelas di rumah Radith akhirnya bocah tampan itu mengijinkan dirinya cuti.
Bunyi ponsel milik Nara mengalihkan kembali pikirannya, dengan segera ia menyambut ponselnya dan menjawab panggilan dari nomor baru, "dengan siapa?" tanya Nara dengan suara yang lebut seperti biasanya dan sopan.
Rajesh sudah berada di bandara, pria itu baru saja kembali dari Paris untuk menyelesaikan masalah perusahannya dan sengaja kembali karena mendapat undangan dari keluargan Saker, undangan pernikahan Lionel Saker dengan Martha Bakrie.
Mendapat ini adalah kesempatan untuk Rajesh mengambil hati keluarga Saker, membuat dirinya tidak pikir panjang lagi meninggalkan pekerjaanya di Paris dan kembali ke Indonesia memenuhi undangan Saker.
Sampai di bandara Rajesh sudah di sambut oleh supir yang akan membawanya pulang tapi kali ini dia akan kembali ke mension bukan ke apartement karena percuma bagi Rajesh jika dia kembali, Nara tidak akan ada di sana sesuai informasi dari pengawal yang di tugaskan mengawasi Nara dari mantan kekasihnya.
Begitu merinda hingga akhinya Rajesh memutuskan untk memghubungi Nara selama dalam perjalan menuju mension.
"Calon suamimu" jawab dari sebrang sana.
"Rajesh!" pekik Nara spontan membuat dia menutup mulutnya setelah sadar apa yang diucapkan.
"Jadi kau sudah mengakuinya sayang, jika aku adalah calon suami mu yang tepat" goda Rajesh.
"Ish a..apaan sih kamu gak lucu tau!" ketus Nara.
Rajesh terbahak mendengar Nara tergagap yang sudah bisa di pastikan jika gadisnya sedang merona malu karena ketangkap jika sebenarnya Nara sudah lama menanti kabar dati Rajesh dan gelas calon istri yang di berikan Rajesh perlahan mulai di terima Nara.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rajesh basa basi.
Kenapa basa basi, karena sudah jelas Rajesh tanpa bertanya pun sudah tau kabar Nara karena laporan dari anak buahnya yang setiap saat melaporkan apa pun yang di lakukan Nara kecuali tentang Nara yang mengantar putranya pun karena pengawalnya hanya sekitaran apartement saja mengawasi.
"Aku baik" jawab Nara sok cuek.
"Kau tidak merindukanku kah?" tanya Rajesh.
__ADS_1
"Tidak, untuk apa aku merindukanmu" jawab Nara.
"Oh aku pikir kau merindukanku" ucap Rajesh dengan nada kecewanya.
Nara yang mendengar nada suara Rajesh mengandung kekecewaan ingin memperbaiki upannya tapi kembali terhenti saat mendengar kembali perkataan Rajesh.
"Baiklah saya kembali bekerja saja jika seperti itu, tidak usah kembali dulu lah. Yasudah ya bye" ucap Rajesh dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Bukan tanpa alasan Rajesh langsung mematikannya tapi dia ingin melihat apakah Nara akan kemblai meghubunginya atau tidak, dan benar saja dugaannya belum semenit panggilan dari Nara sudah masuk dalam ponselnya.
Senyum kemenangan tercetak di sudut bibir Rajesh, dia sudah tebak jika Nara akan menghubunginya kembali dan itu artinya Nara sudah mulai terbiasa dengannya. Dengan sengaja Rajesh tidak menjawab panggilan itu hingga ketiga kalinya, tapi langsung mengirimkan Nara pesan.
"Jangan hubungi dulu, aku sedang rapat. Aku tau kau merindukanku tapi gensi untuk mengatkannya, tunggulah aku akan pulang untukmu, love you calon istri" pesan Rajesh.
Ting
Notifikasi pesan masuk dalam ponsel Nara dan itu pesan dari Rajesh, senyum manis terukir dan segera ia membaca isinya. Senang bercampur malu bersatu setelah membacanya.
Memang benar yang dikatakan Rajesh jika dirinya merindukan pria tampan itu tapi terlalu gensi untuk mengatakannya, bukan apa apa hanya saja Nara merasa tidak berhak untuk mengatakan rindu pada pria yang bukan siapa siapanha ditambah pagi kenyataan yang di ketahui Nara bahwa Rajesh sudah berkeluarga membuat Nara mengubur dan membatasi dirinya sebisa mungkin agar tidak terlalu dekat dan mengenap Rajesh.
"Kau benar, entah kenapa aku merindukan dirimu untuk mengusikku tapi aku juga tidak boleh menjadi gadis jahat membuat keluargamu rusak karena aku meladeni sikapmu" lirih Nara.
Tidak mau memikirkan pria itu, Nara lekas bersiap merapikan dirinya untuk kembali ke tempatnya, surga indah yang hangat dan penuh kebahagian tempat dimana dia di besarkan dengan orang orang yang penuh kasih.
Tak berselang lama Nara sudah selesai dan kini waktunya berangkat tapi bunyi ponsel kembali mengurungkan niat Nara, "Iya kakak" jawab Nara dengan ciri khasnya yang manja dan lembut.
"Aku baru mau berangkat kak, kaka tidak usah menjemput" jawab Nara.
"Sungguh kau baru mau berangkat? dan tidak perku di jemput?" tanya Lionel.
"Sungguh kak, calon pengantin dirumah saja tunggu adikmu yang cantik ini" ucap Nara menggoda kakaknya.
"Kau benar, cepatlah kemari. Kau tau kakq sangat bosa disini" keluh Lionel.
"Tunggulah kak, sudah ya aku sudah di parkiran"
Panggilan terputus dan Nara segera melajukan mobilnya menuju kediaman Saker, selang empat puluh menit kemudian mobil yang di kendarai kini berhenti sempurna di parkiran ruamah megah miliknya, di sambur sopan oleh para asisten rumah tangga yang memang sudah merasa senang dengan putri rumah ini.
"Selamat datang nona muda" sapa para pelayan.
"Selamat siang, bagaimana kabar kalian?" tanya Nara dengan senyum hangatnya.
"Kami baik non, silahkan masuk Tuan besar, Tuan Muda dan Nyonya sudah menunggu di ruang keluarga" ucap kepala pelayan.
__ADS_1
"Terimaksih bibi, kalian istrhatlah jika pekerjaan sudah beres" ucap Nara lalu meninggalkan para pelayan rumahnya.
"Nona Muda benar benar sangat baik dan tidak sombong"
"Benar Nona Muda tidak pernah berubah"
"Itu karena didikan yang baik, Tuan dan Nyonya besar kan juga orang orang baik, ramah dan tidak sombong"
Desas desus yang sering terjadi dan terucap dalam setiap bibir para pelayan jika sudah menyangkut Nara, tapi bukan hal buruk melaikam pujian dan doa baik yang selalu merka cetuskan karena kebaikan keluarga Saker yang tidak bersandiwara alias selalu nyata dan tulus tidak pernah membedakan derajat setiap orang.
"Haii gays aku pulang..." sapa Nara setelah tiba di ruang keluarga milik mereka.
"Kau sudah datang, kakak pikir masih lama, jika masih lama kakak akan menjemputmu" celutuk Lionel menyambut adiknya.
"Ada apa dengan kakak ku Ibu Ayah,?" tanya Nara.
"Biasa nervous" kekeh Anan.
"Oh my God jangan membuat adikmu ini malu kakak, tunjukan kharisma mu jangan gugup seperti ini" goda Nara.
"Ckck... apa Kau pikir kaka juga mau begini!" ketus Lionel.
Nara terkekeh melihat wajah kakaknya yang penuh kesal, dia merasa terhibur. Dia paham sebenarnya jika semua pasti akan merasa nervous tapi Nara hanya ingin menggoda kakaknya agar tidak terlalu tegang memikirkan pernikahnnya.
"Sudahlah kakak, santai saja jangan terlalu tegang" ucap Nara kemudian duduk di samping kakaknya.
"Benar itu, kenapa harus tegang begitu" ucap Anan menimpali.
"Halah Ayah bilang begitu, macam tidak pernah aja sih. Dulu pas nikahi Ibu juga ayah gugup sampai keringat dingin dan wajahnya pucar gitu" sindir Naina.
Anan yang di skat oleh istrinya mendadak kaku, malu sekali rasanya karena aibnya di bongkar oleh isrtinya sendiri dan lagi itu di depan anak anaknya yang saat ini juga akan mengalami hal itu.
"Astaga ibu, jangan di ungkap kenapa sih aibnya. Ayah hanya ingin memberi semangat" keluh Anan.
"Iya tapi jangan di sindir putraku" sinis Ibu.
"Ibu sudah berubah" rajuk Anan.
"Tentu saja sudah ada anak anak yang jadi prioritas, sudahlah Kakak tidak perlu nervous walau itu datang tanpa di undang tapi anggap santai saja, anggap besok adalah hari biasa bukan hari yang istimewa agar tidak gugup lagi" ucap Naina.
Sedangkan Lionel dan Nara sudah tidak bisa menyembunyikan tawa melihat ayah mereka yang memasang wajah masamnya karena aibnya di masa muda sudah di ungkap oleh istrinya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung...