STORY OF NARA

STORY OF NARA
ternyata sedang masak


__ADS_3

Pagi sekali Rajehs sudah terbangun dari tidurnya tapi belum beranjak dari sana, pria tampan itu justru tengah asyik memandangi wajah polos tanpa polesan istrinya, terlihat sangat cantik natural dan jujur saja Rajehs sangat menyukai itu.


Tangannya terulur membelai pipi halus Nara, mengusap dengan pelan dan penuh cinta dan bibirnya kini berulang kali mencium kening dan ujung kepala istrinya dengan sayang.


"Kamu sungguh cantik sayang dan Mas sangat beruntung mendapatkanmu" gumam Rajehs.


Tangannya semakin lihai membelai pipi Nara bahkan kini tak segan mencium bibir wanita yang sangat dicintai, tapi anehnya wanita cantik itu tidak merasa terusik sama sekali dengan perbuatan Rajehs membuat si suami gemas sendiri dengan istrinya.


"Istriku bikin gemas sekali" gumam Rajehs kembali menciumi wajah istrinya.


"Mas... jangan menggangguku" Nara rupanya kali ini terusik dengan tingkah suaminya hingga kata teguran terlontar darinya.


"Belum mau bangun?" tanya Rajesh.


Nara tidak menjawab tapi tindakannya yang semakin mengeratkan pelukannya menjawab pertanyaaan Rajehs jika wanitanya belum ingin beranjak bahkan mungkin suaminya juga belum diijinkan beranjak.


"Sayang.... apa kamu tidak apa apa jika Mas tinggal?" tanya Rajesh.


Bukan apa apa Rajehs bertanya, pria tampan itu hanya tidak mau kejadian semalam terulang kembali, pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan masih tertidur dan alhasil beritanya berikutnya justru membuat jantungnya hampir melompat jatuh dari tempatnya.


"Pergilah Mas" kata Nara tapi pelukannya justru semakin erat.


Rajehs terkekeh mendengar ucapan istrinya, bagaimana tidak, istrinya berkata pergi tapi tubuhnya malah semakin dikungkung oleh Nara.


"Sungguh Mas boleh pergi?" tanya Rajehs.


"Sungguh, pergilah Mas aku tidak masalah"


"Tapi bagaimana bisa pergi, beranjak dari sini juga Mas rasa tidak bisa" ucap Rajehs disusul dengan tawa renyahnya.


"Kenapa?" Nara masih saja bertanya karena tidak menyadari sama sekali tindakannya, mungkin karena posisinya saat ini sedang terpejam.


"Kamu memeluk Mas terlalu erat jadi tidak bisa beranjak"


Nara yang mendengar ucapan suaminya langsung membuka matanya, pipinya seketika merona malu karena ketahuan jika sebenarnya dia tidak ingin ditinggal oleh Rajesh, "hehe aku lupa Mas" cengir Nara.


"Jika tidak mau Mas pergi, maka Mas akan libur saja hari ini" ucap Rajehs.


Pria tampan itu seolah mengerti, tingkat kepekaannya terlalu kuat untuk mengetahui apa yang diinginkan istrinya sehingga memutuskan untuk meliburkan diri hari ini.


"Tidak apa Mas, berangkat saja sana" ucap Nara, "tapi nanti aku akan berkunjung ke kantormu ya" lanjut wanita itu yang langsung dianggukan Rajehs dengan cepat.

__ADS_1


"Datanglah sayang, setidaknya penawarku ada disaat moodku tidak baik" ungkap Rajesh.


"Ckck... aku kesana hanya untuk berkunjung bukan untuk menjadi penawarmu Mas" decak Nara.


"Tidak masalah, berkunjung pun tetap membuat Mas senang" ucap Rajehs.


"Tapikan sudah biasa aki kesana Mas?"


"Tapi mungkin kali ini akan berbeda..." jawab Rajehs sengaja menggantungkan ucapannya.


"Berbeda bagaimana?"


"Em.... mungkin nanti kita bisa melakukan seperti yang semalam di kantor, merasakan sensasi tempat yang berbeda tapi dengan posisi seperti semalam" jelas Rajehs dengan tawa nakalnya, bukan hanya tawanya saja bahkan matanya ikut nakal naik turun melihat wajah dan tubuh Nara bergantian.


Nara yang sadar akan tatapan suaminya langsung tersadar dan menarik selimut sampai menutupi lehernya, "jangan mesum Mas"


Nara tentu saja merasakan malu mengingat bagaimana dirinya yang seperti wanita penggoda melayani suaminya tapi disisi lain hatinya juga tidak terlalu gelisah saat mengingat ucapan suaminya semalam yang mengatakan 'melayani suami bukanlah seorang ****** hanya karena ingin menyenangkan prianya'


"Kenapa sayang hem...!" Rajehs semakin gencar menggoda istrinya melihat wajah merona Nara kini terpampang didepan matanya dan berpikir mungkin Nara malu karena mengingat percintaan mereka tadi dalam.


"Jangan malu karena semalam, kau tau..? kau sangat **** dan semakin menggairahkan saat memimpin permainan" ucap Rajehs yang langsung disusul pekikan kesakitan dari mulutnya.


"Auhhh sayang... kenapa Mas dicubit?" wajah Rajehs dibuat semelas mungkin, menunjukan dirinya merasa teraniaya sehingga wanita cantik itu hanya berdecak sebal dengan tingkah suaminya.


"Tentu saja, itu akan menjadi sejarah, dan kisahnya akan menyamai malam pertama kita" jawab Rajehs yang mengungkapkan isi hatinya.


Lagi lagi Nara mencubit perut kotak kotak Rajehs, semakin geram dengan jawaban suaminya, bagaimana bisa suaminya berkata tanpa keringanan seperti itu, padahal dirinya saja sudah malu setengah mati bahkan jika bisa ingin sekali rasanya wanita cantik itu menenggelamkan dirinya di dasar laut.


"Sudah aku katakan lupakan saja Mas" sentak Nara.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, yang terpenting saat ini adalah Mas sangat senang dan akan mengingatnya terus" ucap Rajehs tetap keukeh dengan keinginannya.


"Apa Mas tidak merasa aku seperti wanita penggoda?" tanya Nara.


Rajehs menghela napasnya dengan pelan, entah kenapa istrinya selalu berkata seperti itu padahal sudah berulang kali dirinya berkata jika seorang istri menyenangkan suaminya tentu bukanlah wanita penggoda.


"Sudah Mas katakan, istrinya yang ingin menyenangkan istrinya buka wanita penggoda dan ingat jangan di pikirkan lagi" tegas Rajehs.


"Mandilah sana Mas" ucap Nara.


Tentu saja wanita itu tau ekspresi suaminya, dan dia tidak mau jika sampai Rajehs marah hanya hanya karena terus membicarakan hal itu.

__ADS_1


"Masih mau tidur?" tanya Nara.


"Iya, maaf ya tidak masak lagi" ucap Nara dengan wajah memelasnya.


"Iya sayang, nanti aku akan katakan pada Radith" jawab Rajehs, "sekarang tidurlah lagi" lanjutnya.


Nara mengangguk sedangkan Rajehs langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, awalnya wanita cantik itu ingin sekali tidur tapi kembali lagi rasa bersalahnya pada Radith karena sudah tidak mempedulikan putranya sejak kemarin ditambah lagi dia tidak mau jika putranya terus menghawatirkan dirinya.


Akhirnya Nara memutuskan untuk bangkit dari ranjang,n terlebih dahulu mempersiapkan pakaian kerja suaminya barulah dia menuruni anak tangga menuju dapur untuk membuatkan menu sarapan alakadarnya saja agar tidak memakan waktu yang lama.


Sementara Rajehs yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyerngitkan keningnya karena tidak mendapati istrinya di atas ranjang dan pandangannya kini beralih pada pakaian yang sudah tergeletak diatas ranjang.


"Kenapa Namaku?" tanya Rajesh pada diri sendiri.


Tangannya sibuk membalurkan pakaian pada tubuhnya sambil beberapa kali terus melihat kearah pintu berharap istrinya datang dari arah sana karena pria tampan itu sudah yakin jika istirnya pasti keluar antara ke kamar putranya dan dapur yang menjadi tujuannya.


Sampai selesai Rajehs membalut dan merapikan pakaiannya, wanita yang ditunggu tak kunjung datang, membuat dirinya memutuskan untuk keluar dari kamar menuju kamar putranya terlebih dahulu.


"Boy... Mommy ada kemari?" tanya Rajehs sembari matanya menelisik isi kamar Radith.


"No Dad, belum ada Mommy kemari"


"Ohh berarti di dapur" gumam Rajehs.


"Apa Mommy baik baik saja?" tanya Rajehs.


"Yes, bahkan Mommy sudah bisa keluar dari kamar" jawab Rajehs dengan santainya.


"Ohhh berarti di dapur Dad"


"Ya kau benar, baiklah Daddy akan menyusul Mommy" ucap Rajehs dan berlalu dari kamar putranya.


"Cepatlah bersiap Boy" Rajehs masih sempat mengingatkan putranya sebelum benar benar benar meninggalkan putranya.


Rajehs berlalu meninggalkan lantai atas menuruni anak tangga menuju dapur dan benar saja dilihat istrinya sedang berkutat dengan wajan di dapur.


"Dia memasak rupanya" gumam Rajehs.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2