STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 31


__ADS_3

Sudah satu minggu Nara tinggal dengan keluarganya dan kini dia berniat untuk kembali ke apartementnya, dia yang sudah terbiasa hidup sendiri selama tiga tahun ini membuat dirinya terbiasa dengan semua aktifitasnya mengurus apartement sehingga tidak merasa jenuh sedangkan di rumah kini selama satu minggu dirinya tidak melakukan apa pun dan itu benar benar membuat dia bosan.


"Emm...Nara ingin bicara" ucap Nara di sela sela kegiatan makan malam mereka.


"Makan dulu sayang, nanti kita bicara" jawab Naina dengan lembut.


Nara mengangguk mengiyakan perkataan ibunya, karena memang ini waktu yang belum tepat dan dia juga merasa jika dirinya seperti mengabaikan aturan jika sedang makan.


"Katakan nak ada apa?" tanya Naina.


Saat ini keluarga hangat itu sudah duduk santai di ruang keluarga untuk berbincang seperti biasa yang sering mereka lakukan, dan Nara berada di samping Lionel dengan posisi sedang menyandarkan kepalanya di bahu Lionel layaknya kekasih orang akan menganggap jika tidak ada yang mengenali mereka.


"Emm....Nara ingin kembali ke apartement bu" lirih Nara.


Semua orang serempak melihat dirinya bahkan Lionel mengankat kepala adiknya agar bisa leluasan melihat apakah adiknya sedang bergurau atau tidak.


"Ulang!" pinta Lionel dengan wajah yang tidak senang.


Nara menghela napasnya dengan pelan, "aku ingin kembali apartement" ulant Nara dengan mantap.


"Kenapa? apa kau tidak nayaman? atau apa kami menyakiti perasaanmu nak?" tanya Naina dengan wajah sedihnya.


Nara berdiri dan berpi dah tempat duduk du tengah tengah ayah dan ibunya, lalu dengan lembut memeluk sang ibu dan berkata, "bu...aku hanya ingin disana karena Nara sudah terbiasa, tidak ada yang menyakiti Nara kok karena kalian semua sayang sama Nara" jawab Nara masih dengan posisi memeluk ibunya yang terlihat enggan untuk membalas pelukanya dan Nara bisa maklum akan hal itu.


"Jangan marah...Aku ingin disana karena apartement dekat dengan tempat aku bekerja dan aku janji setiap akhir pekan akan kembalu dan menghabiskan waktu dengan kalian" lanjut Nara yang masih berusaha menjelaskan pada semuanya terutama ibunya.


"Tapi ibu ingin kau tetap disini" sergah Naina.


"Bu..."


"Tidak maslah tapi mari kita buat kesepatakan litle girls" sela Anan.

__ADS_1


"Apa maksudmu ayah? kau akan membiarkan putriku sendiri lagi. Apa kau tidak menyayangi putriku!" sentak Naina yang mendengar jawaban suaminya.


"Tidak, bukan seperti itu bu" jawab Anan, "kita tidak mungkin mengekang kenyamanan putri kita, kau tau bukan sejak dulu bagaimana kita mendidik mereka" jelas Anan membuat Naian bungkam.


Bagaimana tidak bungkam saat dirinya menyadari jika mereka selalu akan mendukung keputusan anak anak mereaj selagi itu tidak melebihi batas apa lagi jika sampai merugijan diri mereka. Tapi walau begitu masih saja ada rasa tidak rela dalam diri Naina jika harus berpisah lagi dengan putri semata wayangnya.


"Tapi bukankah anak kita sudah hudup sendiri selama tiga tahun? lalu untuk apa sendiri lagi? dan untuk alasan apa lagi?" tanya Naina.


"Tidak apasan untuk siapa bu, tapi Nara sudah terbiasa dan lagi pula kan Nara sudah bilang jika tempat kejaku dan apartemenkan dekat, dan lagi putrimu ini akan selalu pulang tiap pekan kok dan kita akan melepaskan rindu , melakukan banyak hal" jelas Nara.


"Ibu sudah dengar bukan, tapi atah harus membuat kesepatakan" timpal Anan yang ibgin mangambik kesempatan.


"Apa itu yah?" tanya Nara.


"Mulai saat ini kau harus membawa mobil dan gunakan sebagai kendaran untuk bekerja" tegas Anan.


"Tapi yah, aku bisa naim taxi" sanggah Nara.


"Kalau begitu naik taxi lah dari rumah hingga ke sekolah" putus Anan.


Nara menghela napasnya dengan berat sepertinya untuk saat ini dia kalah, dia tdak lagi bisa menolak apa yang di minta keluarganya karena keinginanya pun di penuhi. Jadi akan terasa tidak adil bagi keluarganya jika menolak.


"Biaklah..."


"Jadi kapan akan kembali?" tanya Anan.


"Besok sekalian aku akan berangkat kerja dari sini"


"Ckck kalian ini memutuskan sepihak tanpa ibu" dengus Naina.


"Apa ibu masih tidak mengijinkan putrimu ibu?" tanya Nara dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


Senjata andalan yang sudah pasti tidak akan pernah bisa di tolak oleh mereka jika sudah bertinggah seperti itu sama seperti Naina yang hanya bisa menghembuskan nafasnya oasrah akan permintaan putrinya.


"Yahh... baiklah sayang"


***


Nara sudah sampai di parkiran sekolah dengan menggunakan mobil hasil paksaan dari keluarganya, dan bukan tanggung mobilnya karena hanya miliknya lah yang jauh lebih mewah dan tentunya jauh lebih mahal dari milik guru lainnnya bahkan dari Dilon sekalipun.


Tidak sedikit guru guru yang melihat mobil yang asing yang memasuki parkiran merasa penasaran bahkan Dilon yang hampir berbarengan dengan Nara datangnya juga ikut penasaran siapa gerangan pemiliknya dan saat Nara keluar seketika dirinya menjadi pusat perhatian bahkan orang tua yang mengantat anak anak mereka juga ikut memperhatikan Nara.


Nara menjadi tidak enak sendiri merasakan tatapan banyak orang mengarah padanya, dengan kecanggungan yang ada Nara hanya mengangguk kaku menyapa Dilon tanpa bicara kemudian berlalu pergi menuju ruang guru tapi kembali terhenti saat suara cempreng yang sudah bisa di tebak Nara itu adalah milik sahabatnya.


"Nara...." panggil Vivi sedikit berteriak tanpa mempedulikan mata orang orang.


"Astagaa kamu bisa feminim sedikit tidak Vi? banyak yang lihat kita" bisik Nara dengan geramnya.


"Ohhh bisa kok, tapi yah...mau bagaimana lagi kadang kadang lepas kontrol"


Nara hanya menggelang kemudian melenggang pergi meninggalkan Vivi yang kembali berteriak memanggil namanya, tapi Nara tidak mengopen bahkan niatnya tadi yang ingin lebih dulu ke ruang guru menjadi urung dan langsung memutar langkahnya menuju kelas untuk menyambut anak didiknya yang sudah dia telantarkan satu minggu ini.


Nara terus berjalan tanpa sadar jika ada seseorang yang tengah bersedeka dada dan berdiri di tengah tengah pintu dengan tatapan tajamnya mengarah pada Nara.


Baru saja Nara akan membelok menginjakn pembatas pintu tapi terhenti kalah menyadari jika ada orang yang menghadangnya dan lahi dia adalah seoranf bocah yang selalu membuat Nara memiliki ide ide jail.


Nara mengerutkan keningnya melihat siaoa gerangan yang menghadang jalannya dan semakin dalan keningnya mengerti saat mengetahuinya.


"Ada apa Radith?" tanya Nara.


"Ms.Nara dari mana saja? kenapa satu minggu tidak terlihat? apa Ms.Nara mau melalaikan tugas, jika begitu maka mundur saja dari pekerjaan itu dan makan gaji buta!" ketus Radith.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2