
"Nanti Mommy jemput ya sayang" ucap Nara.
Saat ini mobil yang dikendari sudah berhenti sempurna di gerbang sekolah Radith, tempat dulu Nara bekerja.
"Ku tunggu Mom" Radith mengatakan keinginannya jika dia akan menunggu Nara nanti, sedangkan wanita cantik itu hanya mengangguk mengiyakan dan memang benar niatnya dia akan menjemput Radith kembali.
"Bye sayang"
"Bye Mom"
Mobil kembali melaju tapi tujuannya bukan dirimu, melainkan salah danau untuk menenangkan pikirannya, memanfaatkan waktu sejenak untuk melepaskan penat, menghirup udara untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
" Pak kita berhenti di tepi danau sebelah sana" pinta Nara.
"Baik Nona, tapi kalau boleh tau untuk apa kita kesana Nona?" tanya supir, dia ingin tau untuk apa dan apa tujuan nona mudanya, agar nanti bisa dilaporkan pada sang tuan mudanya.
"Aku hanya ingin bersantai sebentar saja, sambil menunggu Radith pulang sekolah" jelas Nara.
Nara berjalan menuju tepian danau, dia merentangkan tangannya menikmati udara yang masih sangat pagi dan orang orang belum terlalu ramai sehingga Nara leluasan mengekspresikan perasaanya saat ini.
Beberapa kali hembusan napas terlihat dari wanita cantik itu hingga tak terasa matanya kembali berembun kala melihat sepasang ibu dan anak yang sedang bermain tidak jauh dari tempatnya, ada rasa iri pada Nara melihat senyum bahagian seorang wanita yang tidak jauh berbeda umur dengannya sedang tertawa melihat tingkah lucu anaknya.
Nara ikut tersenyum, tapi bukan senyum bahagia yang terlukiskan melainkan senyum masam yang mengasihani dirinya sendiri karena tidak bisa seperti itu, tidak bisa maresakan bagaimana bisa menemani anak dalam bermain, walau ada Radith tapi jujur saja itu masih sangat kurang, dan tidak merasakan bagaimana pertumbuhan Radith karena nyatanya dia hadir saat Radith sudah berumur lima tahun bahkan sudah terlihat dewasa.
"Kasihan sekali kamu Nara, Tuhan tidak memberikanmu kesempatan untuk bahagia" gumamanya mengasihani diri sendiri.
Matanya terus menatap hingga satu suara mampu mengalihkan anestesinya, suara yang tidak asuming baginya, suara yang dulu terdengar lembut sebelum mengenal Rajehs suaminya.
"Jangan menatapnya terlalu dalam, nanti ada iri dalam dirimu" ucap seseorang.
__ADS_1
Deg
Nara berbalik ingin melihat siapa yang sudah berani mengusik ketenangannya saat ini tapi hasilnya sangat mengejutkan dirinya, bibirnya terkatup, lidahnya keluh untuk berucap, matanya tidak terlepas dari objek yang ada dihadapannya, atau tepatnya situasi yang dialami Nara saat ini adalah cukup mengjutkan dirinya.
"Bagaimana kabarmu Nara...?" tanya pria itu.
"Reyhan...." akhirnya setelah lama diam, hanya satu kata yang keluar dari mulut Nara yaitu nama pria yang ada dihadapannya.
Ya, dia adalah Reyhan, pria yang dulu mengisi hatinya, pria yang sudah tiga tahun ini tidak pernah lagi dia temui dan terkahir kabar yang dia dengar adalah pria yang ada dihadapannya ini sudah keluar negeri tapi kini pria tampan itu berdiri tegak dihadapannya.
Satu kata yang ada dalam benak Nara saat ini untuk Reyhan adalah berubah, Reyhan sudah sangat jauh berbeda, mulai dari penampilan seperti seorang direktur seperti suaminya, hingga pahatan wajahnya yang semakin sempurna tapi Nara tidak mengagumi hal itu karena bagaimana pun perubahan mantan kekasihnya itu, hanya Rajesh yang ada dalam hati dan kehidupannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Reyhan dengan suara lembutnya, sorot matanya teduh dan masih terlihat sama seperti tiga tahun yang lalu, sorot mata yang penuh cinta dan pemujaan terhadap dirinya.
Nara mengalihkan perhatiannya saat tersadar setelah mendengar saapaan Reyhan, entah kenapa tiba tiba saja hatinya memanas yang dirinya sendiri tidak tau apa artinya.
"Aku baik" Singkatnya jawaban dari Nara membuat Reyhan bungkam, matanya menatap lekat kearah wanita yang sangat dirindukan selama tiga tahun ini tapi Nara justru mengalihkan perhatiannya kearah lain.
"Ya, aku baik baik saja... harusnya kamu sudah tua itu" kata Nara.
"Aku tidak tau, karena yang aku tangkap saat ini adalah sorot matamu yang sendu" ucap Reyehan, "ada apa? sungguh kau bahagia dengan pernikahanmu?"
"Sudah aku katakan aku bahagia Rey, jangan bertanya hal yang sama berulangkali!" sentak Nara.
Reyhan terperangah melihat perubahan sikap Nara padanya, wanita yang dia puja sudah berbuah banyak, bahkan tutur katanya tidak selembut dulu, bahkan saat Reyhan menyakitinya dia masih bisa berbicara lembu, tapi kini semua sudah berubah.
"Kamu bukan Nara, Nara tidak akan berani membentak siapapun" Reyhan menggelng tak percaya dengan apa yang dia tau saat ini, Reyhan memang sengaja tidak mencari tau tentang Nara selama ini karena berharap bisa melupakan wanita itu walau sebenarnya tidak ada niatan untuk melupakan dan kini dia sungguh terkejut dengan perubahan luar biasa Nara.
"Apa maksudmu?" Nara mengerutkan keningny a mendengar perkataan Rajesh, merasa tidak paham dengan hal itu.
__ADS_1
"Nara tidak pernah membentak siapapun, bahkan disaat dulu kami kecewa tapi kini kamu usdah berani membentakku, dan perkarannya hanya karena aku ingin bertanya dan memastikan kabarmu" jelas Reyhan.
Nara terdiam medengar penuturan Reyhan, memang benar banyak orang yang mengatakan dirinya berubah bahkan Radith yang masih anak kecil saja merasakan perubahan Nara setahun terakhir ini.
"Jangan asal menebak, aku hanya tidak suka kau terlalu mau tau kehidupanku" elak Nara.
"Karena aku mencintaimu Nara, masih mencintaimu hingga kini"
Nara mengabaikan pernyataan cinta dari Reyhan, wanita cantik itu memilih untuk berlalu dari sana mengingat waktu kini sudah semakin mendekati waktu Radith pulang sekolah.
"Tunggu Nara..." seru Reyhan membuat langkah Nara terhenti, tapi tidak ada niatan untuk menoleh, Nara hanya memasang telinganya untuk kelanjutan perkataan Reyhan.
"Apa dia menyakitimu..?"
Pertanyaan Reyhan sontak membuat Nara berbalik, matanya menatap tajam kearah Reyhan menyiratkan dia jika dia tidak menyukai akan pertanyaan itu, " tidak...!" Nara menjawab dengan tegas mengenai pertanyaan Reyhan, "dan jangan pernah bertanya lagi, aku harap ini pertemuan terakhir kita" ucapnnya lalu berbalik dan meninggalkan Reyhan yang terus menyerukan namanya.
"Kembali ke sekolah Radith" titah Nara.
Supir hanya mengangguk, walau dia tau dan melihat jelas jika ada orang yang mengajak bicara nona mudanya tapi dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya walau Nara terkenal ramah tapi untuk kali ini raut wajahnya terlihat sangat dingin.
Sementara setelah kepergian Nara, Reyhan masih memantung menatap sendu kearah gadis yang dulu sangat dua cintai kini semakin menjauh bahkan kini terasa sangat asing baginya, padahal tujuan pria tampan itu kembali adalah untuk merajut cinta lagi tapi melihat sikap Nara, ada keraguan dalam dirinya akan mendapatkan Nara kembali.
"Kamu semakin asing, dan aku tidak yakin apakah masih bisa mendapatkamu, tapi walau demikian aku akan tetap mencoba dan berusaha" batin Reyhan lalu merogoh saku jasnya dan mendial nomor seseorang.
"Cari tau semua mengenai wanitaku selama tiga tahun ini...!" titahnya
"Aku pasti akan mendapatkanmu kembali dengan caraku Nara...!"
.
__ADS_1
.
Bersambung