STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 18


__ADS_3

Anan, Lionel dan Naina saat ini dalam perjalan menuju apartement Nara setelah tiga hari yang lalu melamar calon istri Lionel, kini mereka bersepakat tiga hari ke depan akan mengadakam pertunangan Lioenel dan mereka mau menjemput Nara agar selama tiga hari itu mereka tinggal bersama untuk persiapan.


Nara sendiri masih berada di sekolah tapi perihal keluarganya yang akan datang sudah di ketahui, masalah kunci apartement mereka tidak khawatir karena ada seraf ditangan Lionel.


Sampai di sana rupanya ada orang asing yang yang terus berdiri dan memencet bel apartemen Nara, tentu saja kuarga Saker bertanyanya tanya tapi setelah melihat logo seraganya mereka bisa menebak jika itu adalah kurir.


"Cari siapa?" tanya Lionel dengan suara tegasnya.


"Saya cari pemilik apartement atas nama Kanara Saker" jawab kurirnya dengan sopan.


"Dia adikku, berikan saja kirimannya" pinta Lionel dengan tegas.


Kurir itu melihat Lionel dengan ragu antara memberikan atau tidak karena sesuai perintah bahwa kiriman itu barus sampai di tangan orang yang di tuju, "maaf tuan tapi saya harus memastikan undangan ini sampai di tangan pemiliknya" ucap Kurir itu dengan ragu.


Lionel mendengus sebal mendengar penolakan kurir itu, dengan ketus dia kembali berkata, "aku kakanya dan kami sedang menunggu adikku kembali!"


"Baiklah, tolong pastikan orangnya menerima paketnya" pinta kurir itu kemudian pergi meninggalkan apartement.


Anan dan keluarganya masuk dalam apartemen tanpa ada niatan membuka paket itu, tapi Lionel yang merasa penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk membukanya, masalah kemarahan adiknya itu belakangan pikirnya.


Dengan tidak sabarnya Lionel membuka dam membaca yang ternyata itu undang, seketikan wajahnya berubah masam, rahangnya mengeras serta tanganya ikut tekepal mendapati nama dama undangan itu.


"Ada apa nak? kenapa kau terlihat marah?"


Naina bertanya saat menyadari perubahan air muka Lione setelah membuka peket yang di tujukan untuk Nara, "Bajingan itu akan menikah bu dan adikku dia hianati!" jawab Lionel dengan api kemarahan.


Anan dan Naina mengerutkan kening tidak mengerti tapi sejuru kemudian raut wajah Niana berubah saat menyadari siapa yang di maksud Lionel putranya.


"Jangan bilang jika itu Reyhan nak?" tanya Naina sedikit khawatir.


"Ibu benar, bajingan itu akan menikah dan adikku akan terluka karenanya" jawab Lionel membuat Naina bersedih memikirkan nasib putrinya yang pasti akan sangat terluka.


Dengan segera Anan mengambil undangan itu dan membacanya, tangannya ikut terkepal mendapati kebenaran setelah memastikan perktaan putranya. tidak ada ayah di dunia ini yang akan rela putrinya terluka karena pastinya dia akan ikut terlukan.


"Sudah dari dulu ayah tidak menyukainya dan kini semuanya terbukti, dia meningglkan putriku!" geram Anan.


"Siapa wanita itu ya" tanya Naina.


"Cleora Abraham!"


"Bukankah Abraham salah satu koleg bisnis ayah? lalu kenapa dia mengirimkan undangan pada putriku? kenapa bukan padamu yah?" tanya Naina.

__ADS_1


"Ayah tidak tau, ta..-"


Ucapan Anan menggantung saat ponsel miliknya berdering, "ada apa?" tanya Anan yang ternya orang yang menghubunginya adalah pelayan rumah tangga di kediamannya.


....


Anan Saker langsung mematikan sambungan ponselnya setelah mendengar perkataan pembantu itu, ternyata dia juga mendapat undangan dan itu dj kirimkan langsung dikediamannya yang berarti undangan itu secara pribadi.


"Siapa yah.?


"Dia juga mengirimkan undangan di rumah barus saja" jawabnya.


"Apa...?"


Naina menutup mulutnya, dia benar benar sedih dan khawatir pada Nara jika tau hal ini, sudah bisa di pastikan jika putri kesayangannya itu akan terluka dan pengorbanannya selama ini sia sialah sudah.


"Berarti mereka juga mengundang ayah dan Nara juga di undang secara pribadi?" tanya Lionel dengan kesal.


Naina kembali merebut surat undangan itu, mengoyak sampulnya dan membaca isinya dan ternyata di dalam lipatan terselip surar kecil yang mereka tau itu dari Reyhan karena ada tertanda nama di bawahnya.


"Maaf jika kamu terluka karena memutuskan menikahi dia, tapi aku berharap kamu bisa bersensa hati menerima dan mau datang di hari pernikahanku" isi surat singkat itu.


"Dasar Bre**sek..! aku tidak akan memafkannya, aku akan memberi dia pelajaran" geram Lioenel.


"Tidak! putriku tidak akan terluka dan dia tidak boleh tau masalah ini" ucap Anan.


"Tapi ayah.."


"Ayah akan menghubungi Abraham.


Di negara lain, Abraham sedang merebahkan dirinya memikirkan putrinya yang akan menikah tiga hari lagi, kalau boleh jujur sebemarnya Abraham ragu akan pernikahan ini tapi mengingat putrinya yang sangat menginginkan Reyhan membuat dia hanya pasrah akan keinginan hatinya.


Ponselnya berdering di tengah lamunanya dan itu membuatnya tersadar, kenignya mengrrut mendapati Anan Saker ternyata yang menghubunginya.


"Tuan Saker" ucapnya.


"Maaf tuan Abraham jika saya mengganggu waktu anda"


"Tidak masalah, tidak perlu sungkan"


"Em begini saya ingin bertanya mengenai undangan pernikahan keluarga Abraham? apa itu putri anda tuan?"

__ADS_1


"Ahh iya dia putri tunggalku yang akan menikah, apa undangannya sudah sampai tuan?" tanya Abraham yang sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan Anan.


"Sudah tuan, hanya saja saya mau katakan dengan sangat menyesal karena tidak bisa menghadiri acaramu karena tepat hari itu juga putraku akan bertunangan" ujar Anan.


"Ohh sayang sekali, aku berpikir mungkin anda bisa datang tapi sepertinya sangar kebetulan anda tidak bisa datang"


"Iya tuan Abraham, sekali lagi maaf ya. Oh ya apa anda mengenal calon menantumu?" tanya Anan rgu ragu.


"Tentu saja aku mengenalnya, dia berasal dari indonesia dan dia bekerja di perusahaanku, ya...walau pun dia bukan dari keluarga berada tapi itu tidak masalah yang terpenting adalah kebahagiaan putriku" ucap Abraham sekaligus memberi sindiran.


Anam diam dan sedikit merasa tersindir dengan perktaan Abrahan tentang derajat, dia sadar dirinya tidak memberi restu kerna status karena berpikir jika Nara tidak bahagian tanpa berpikir kebahgaiaan Nara yang sesugguhnya.


"Baklah tuan Abraham, saya masih ada pekerjaan untuk mempersiapkan pertunangan putraku" putus Anan.


"Ahh ya baiklah tuan Saker semoga acaranya pun lancar" jawab Abraham.


Percakapan berakhir berganti dengan tatapan Naina yang marah pada suaminya, Naina tentu saja mendengar suara Abraham karena Anan suaminya mengeraskan volumenya.


"Ini kan akhirnya yah, anak kita terluka karena keegoisan ayah yang menginginkan derajat tanpa memikirkan perasan putriku..!" sentak Naina pada suaminya.


"Ayah tidak tau kalau begini yang terjadi pada akhirnya. Ayah berpikir mungkin dia akan berusaha karena masih menjalin hubungan dengan Nara kita bu" lirih Anan.


"Tapi ini...! ini kenyataanya putriku akan terlukan yah, lalu apa yang akan kita lakukan"


Tangis Naina pecah tidak bisa lagi untuk tidak menangis memikirkan nasih percintaan putrinya bukan apa apa, bukan pula lebai tapi semua orang tau bagaiman perjuangan dan pengorbanan Kanara memperjuangkan cintanya.


"Ayah minta maaf" lirih Anan.


"Tidak ada gunanya minta maaf sekarang yah, karena sudah pasti hanya sakit yang akan di dapatkan putriku"


"Sudah bu, jangan menyalahkan ayah. Ini memang sudah dasarnya lelaki itu brengsek!"


"Ta-"


"Sudah bu, lebih baik sekarang jangan ada yang mengatkan pada Nara kita, biarkan lelaki itu menikah saja baru jika nanti Nara pun tau tidak masalah asal mereka tidak bersama lagi" sela Lionel.


"Baiklah" jawab Naina pasrah.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2