
Nara membating pintu mobil dengan keras dan itu membuat Rajesh terlonjak kaget, dengan gerakan halus ia mengelus dadanya dan bergumam, "untuk aku menyukaimu jika tidak sudah ku lempar ke pulai terperncil. Berani sekali gadisku berbuat begitu"
Dengan senyum samarnya Rajesh menggeleng dan kembali berlalu pergi meninggalkan apartement menuju mension, dia akan meminta ijin pada putranya terlebih dahulu untuk menjalankan rencananya mulai malam ini. Ya, Rajesh harus ijin karena tidak mau anaknya mengamuk lagi seperti yang sudah sudah.
Sampai di sama, rupanya putra kebanggannya tengah melamun di halaman belakang, mainannya berserak begitu saja.
"Ada apa dengannya? apa ada masalahnya? atau jangan jangan dia sedang sakit" batin Rajesh yanh seketika merasa cemas.
"Hei boy, ada apa? kenapa kau disin sendiri? kau sakit nak? ayo berit tau daddy" cerca Rajesh dengan banyak pertanyaan.
"Nothing...! aku baik baik saja dad, aku hanya mikirkan cara yang baik" jawabnya.
"Cara yang baik? untuk apa? apa yang kau lakukan?" tanya Rajesh yang melihat tidak biasanya putrnya bersikap seperti ini.
Radith yang sedikit ragu mengatakan pada daddy, walau selama ini dirinya tidak pernah menutupi apa pun ada daddy, tapi perihal yang satu ini dia benar benar ragu. Bukan tanpa alasan tapi karena memang setiap mengutarakan keinginannya selalu saja jawaban daddy nya adalah 'TIDAK PERLU MOMMY JIKA DADDY BISA MENGURUSMU'
"Hei katakan ada apa? kenapa kau terlihat ragu?" pinta Rajesh yang bisa melihat keraguan di mata putranya dan sudah bisa di tebak hal apa yang akan di sampaikan itu, apa lagi jika bukan tentang seorang mommy untuknya dan itu membuat Rajesh kali ini ingin membahasnya sekaligus mengutarakan niatnya yang ingin pindah ke apartement untuk berjuang.
"Apa daddy akan menjawab hal yang sama lagi nanti?" tanya bocah tampan itu.
"Memangnya pertanyaan ini sudah pernah kau katakan?" tanya balik Rajesh seolah tidak tau apa apa.
"Entahlah, tapi ku rasa ini sudah berkali kali aku utrakan" jawabnya dengan mengedikan bahunya sedikit acuh.
"Baiklah katakan sekarang agar kita bisa membahasnya"
"Aku ingin Mommy!" ujarnya lantang.
"Sungguh? kau tidak akan menyesal nanti?"
"Sungguh dan pilihanku dan nenek tidaklah salah"
"Tapi sayang sekali karena daddy sudah memiliki calon sendiri, lalu bagaimana itu.?"
Radith memicingkan matanya, dia tidak suka jika daddy nya sudah memilik calon karena sesuhngguhya tidak bisa di pungkiri jika dirinya sangat setuju akan rencana neneknya "daddy jangan bergurau, aku sudah memiliki calon momny yang sangat cantik dan aku yakin jika daddy pasti akan sangat menyukainnya" ujar Radith yang ingin ayahnya memilih sesuai dengan keinginan dirinya dan neneknya.
"No...! calon pilihan daddy jauh lebih dari segalanya dan tidak akan ada yang bisa memandingi bidadari daddy" jawab Rajesh menolak keras perkataan anaknya.
__ADS_1
"Ckck...kau tau daddy bagaimana putramu ini?" tanya bocah dengan seringai liciknya.
"Tentu saja kau hasil didikanku" jawab Rajesh cuek.
"So....?"
"Kau akan tetao bertahan,...eh tidak tidak, untuk kali ini biarkan daddy yang menentukan dan kau bocah menurut saja" titah Rajesh saat sadar jika putranya pasti akan tetap keukeh.
"Big no..!"
"Jadi apa mamumu?" tanya Rajesh frustasi.
"Aku mau daddy menyukai pilihanku dan nenek" jawabnya keceplosan.
Menyadari keceplosannya seketika Radith menutup mulutnya , "uppsss..."
"Jadi provokator sesungguhnya itu nenekmu boy?"
"No, bukan itu dad. Maksudku nenek juga menyukai yang aku sukai dan memutuskan untuk dia harus jadi mommy ku kelak" jawab Radith pada akhirnya karena takut melihat tatapan ayahnua.
"Harusnya kau yang paham boy, kau masih kecil dan tidak pantas memikirkan urusan orang dewasa"
"Hei ada apa?" tanya seorang wanita paru baya.
"Ckck privokatornya datang" sinis Rajesh.
"Apa maksudmu provokator? kau pikir mama ini nakal dan tukang rusuh apa!" kesalnya.
"Tidak nakal, tapi mama mencuci otak anakku sehingga begini" ketus Rajesh.
"Hei memangnya apa yang sudah mama lakukan?"
"Mama menyuruh putraku untuk mencari mommy barunya sedangkan aku sudah punya calon sendiri"
"Sungguh....? tapi belum tentu kan di sukai oelh putramu, kau tau sekali bukan putramu ini sangat pemilih. Kau juga harus ingat bukan hanya kau yang akan ada tapi putramu akan ikut di setiap keputusanmu" jelas mamanya.
"Tapi aku yakin kali ini tidak akan salah ma, karena hanya dia yang bisa membuat pusat ku tertarik dan hanya bertuju padanya, dan lagi belum tentu pilihan kalian mampu menarik anestesiku" jelas Rajesh yang masih mempertahankam cintanya.
__ADS_1
"Oh dad bagaiamana jika bertaruh?" usul bocah itu
Rajesh mengerutkan keningnya mendengar anaknya memberi ide, entah bertaru seperti apa yang di maksud tapi Rajesh akan mencoba untuk mendengarkan lebih dulu.
"Apa itu? jangan berbuat hal hal aneh boy, ayah tidak suka!" tegas Rajesh.
"Daddy dekati kekasihmu dan aku akan mendekati calon mommyku nanti jika ada waktu yang tepat makan kita akan pertemukan mereka dan daddy bisa memilih tapi harus ada bukti bukti kepantasan mereka untuk ayah dan untuku"
Rajesh dan mama melotot mendengar ude konyol bocah yang berusia lima tahun itu tapi tak lama wanita paru baya itu berubah dam tersenyum saat menyadari otak licik cucuny, dia yakin jika cucunya tidak akan menyerah begitu saja karena memang sikap anak dan ayah itu seblah dua belas.
"Sepertinya itu ide yang bagus" celutuk sang Nenek
"Sungguh Nek?"
"Tentu saja boy, nenek juga ingin tau pilihan kalian ini sudah tepat atau kedua duanya tidak tepat" jawabnya.
Rajesh akhinya mengalah, dia tidak mau lagi berdebat karena menurutnya itu semua percuma saja, putranya tidak akan mengubah apa yang menjadi keputusannya.
"Baiklah, kalau begitu daddy akan ijin menginap di apartement dan kau boy harus mengijinkan daddy mu ini" ujar Rajesh menyetujui usulan anaknya dan sekaligus ijin untuk tinggal di apartement sampai waktu yang belum di tentukan.
"What!"
"Yeah, bukankah kita sedang bertarung untuk berjuang jadi anggap ini syarat dari daddy untuk menerima usulanmu" jawab Rajesh dengan seringai liciknya.
"Tapi kenapa harus di apartement?"
"Karena target daddy adalag gadis yang tinggal di apartement milik daddy jadi ini untuk memuluskan rencana daddy" jawab Rajesh santai.
"Ya baiklah jika itu syarat dari daddy, tapi ingat daddy jangan berbuat curang untuk memenangkan pertarungan ini" ancamnya pada sang daddy.
Rajesh mengusak gemas rambut putranya, sementara yang di usak memberengut kesal karena tatanan rambutnya kembali berantakan.
"Stop it daddy!" teriaknya.
"Ohhh jagoan daddy marah, baiklah daddy harus bersiap menyusun rencana untuk memulai misi dan kau berusaha juga boy. Walau pun jika nanti daddy tidak menyukainya maka kau bisa menikahinya saja" seloroh Rajesh membuat putrnya melotot tak percaya sedangkan Rajesh terbahak dan pergi meninggalkan mama dan putranya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...