
Pasangan muda itu keluar dari kamar mandi, wajah Rajehs berseri menunjukan jika pria tampan itu sedang bahagian, berbanding terbalik dengan Nara yang memasang wajah cemberutnya, wanita cantik itu kesal dengan suaminya yang berbuat seenaknya bahkan tidak ada rasa takut saat Nara melayangkan ancaman seperti biasanya, karena memang jika sudah menyangkut hal itu Rajehs pasti pasti akan menulikan telinganya mendengarkan segala bentuk ancaman dari istinya, baginya perkara itu hal mudah dan konsekuensi bisa ditanggung nanti, yang terpenting adalah dirinya yang puas karena mendapatkan apa yang diinginkan.
"Jangan manyun sayang, kamu semakin menggemaskan jika seperti itu" ucap Rajesh dengan wajah polosnya.
"Ckck...jangan membuatku semakin kesal dengan wajahmu Mas, itu sangat menjengkelkan" ketus Nara.
"Hei sayang, Mas hanya ingin tersenyum pada istriku yang cantik ini" ucap Rajehs beralasan.
Rajesh yang melihat Nara masih manyum membuat Rajehs berinisiatif untuk menggoda semakin wanitanya, "sayang....jika seperti ini terus, Mas pastikan kita tidak akan keluar malam ini" bisik Rajesh tepat ditelinga Nara, tangnnya merangkul pinggang wanitanya dengan mesra tapi erat agar Nara tidak melepaskan dirinya.
"Jangan manyun atau Mas akan menerkammu Kemabli, kau tau? semakin manyun seperti itu, Mas semakin bergairah untuk menerkam" bisik Rajesh tepat ditelinga Nara.
Nara melototkan matanya tidak percaya dengan ucapan suaminya, "jangan gila kamu Mas...!" pekik Nara, wanita cantik itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya, bagaimana bisa disaat dirinya marah justru suaminya malah mengancamnya dengan hal itu.
"Jika tidak mau, maka jangan manyun, tersenyumlah agar istriku semakin terlihat cantik" ucap Rajehs dengan senyum manisnya.
"Mas...lepaskan, kita harus segera turun untuk makan malam" ucap Nara dengan senyum yang bibuat semanis mungkin.
"Anak manis jika seperti ini,walau sebenarnya Mas lebih suka jika kamu garang seperti tadi, dengan begitu Mas bisa dapatkan suplemen darimu" ucap Rajesh disusul dengan gelak tawanya.
Nara hanya bisa mendengkus sebal melihat tingkah suaminya yang bahkan tidak merasa bersalah karena sudah membuatnya kelelahan seperti ini.
"Kamu benar benar keterlaluan Mas" ketus Nara tapi hanya dibalas senyum oleh Rajesh.
Rajehs mendekat kearah istrinya merangkul mesra bahu Nara dan menuntunnya untuk keluar dari kamar menuju meja makan, "auo turun" ajak Rajesh.
Mereka akhirnya menuruni anak tangga dengan beriringan, tangan yang tadinya merangkul bahu Nara kini berganti posisi, tangan kekar itu menggandeng jemari Nara dengan mesra, menuntun istrinya untuk menuruni tangga.
"Maaf ya membuat kali menunggu" ucap Nara.
"Tidak masalah sayang, kami bisa mengerti" jawab Clara berniat menggoda menantunya.
"Mamamu benar, kami sangat mengerti" timpal Heru yang ikut menggoda Narra membuat wanita cantik itu tersipu malu, wajahnya sudah merona karena karus mendapat godaan dari para mertuanya.
__ADS_1
"Iya, Radith juga mengerti" saut Radith yang tidak mengerti apa apa.
"Memangnya apa yang kamu mengerti Son?" tanya Heru saat mendengar cucunya menimpalai pembicaraan mereka.
"Aku mengerti jika Mommy lama karena pasti ulah Daddy" jawab Radith dengan santai.
Semua yang mendengar jawaban santai anak itu langsung melotot, Rajehs yang melotot karena sudah tau seperti apa putranya, sedangkan Nara melotot karena berpikir jika putra sambungnya juga memikirkan pikiran dewasa, lain halnya dengan pasangan paru baya itu justru penasaran apa alasan Radith berkata demikian.
"Memangnya ada dengan Daddymu Boy? kenapa kamu berada seperti itu?" tanya Heru.
"Iya benar, memangnya apa yang Daddymu lakukan?" tambah Clara.
"Ma Pa, jangab diteruskan" tegur Rajesh tapi tidak diindahkan oleh kedua orang tuanya.
"Daddy suka seki menahan Mommy, entah apa tujuannya tapi pastinya dia akan membuat Mommy tidak bisa keluar sampai dia mau mengijinkannya, aku saja heran entah apa yang mereka kerjakan" ujar Radith diakhiri dengan ekspresinya yang seolah memikirkan sesuatu.
Heru dan Clara tergelak tak terkecuali Rajesh yang ikut tertawa mendengar penuturan putranya, dia jadi berniat untuk menggoda Radith saat ini, "kau mau tau apa yang Daddy kerjakan bersama Mommymu Boy?" tanya Rajesh dengan seringai liciknya.
Nara yang mendengar pertanyaan suaminya serta matanya yang melihat ada seringai licik terbit disudut bibir suaminya membuat Nara bisa menebak jika ada sesuatu yang direncanakan oelh suaminya.
"Tidak ada, hanya ingin membuatnya kesal sedikit" jawab Rajesh ikut berbisik.
"Memangnya ada apa? kenapa selalu lama berada di kamar?" tanya Radith yang kini jiwa keponya mulai meronta.
"Daddy sedang memijit Mommy, terus setelah itu gantian Mommy yang memijit" jawab Rajesh enteng membuat Nara kini melototkan matanya dengan garang kearah Rajesh.
"Mas....sudah aku bilang jangan bicara sembarangan" terus Nara disertai gertakan bibirnya pada Rajesh.
"Loh memangnya Mommy sakit?" tanya Radith yang mulai khawatir.
"Ya, Mommy sakit dan hanya Daddy yang boleh memijitnya" ucap Rajesh membuat Radith mencebik kesal.
"Kenapa hanya Daddy? apa aku tidak bisa?"
__ADS_1
"Yaps... anak kecil tidak bisa dan tidak diperbolehkan" jawab Rajesh dan tangnya menarik kursi untuk istrinya duduki.
"Loh apa bedanya Dad?" tanya Radith yang tidak terima akan jawaban dari ayahnya.
Heru dan Clara hanya menyaksikan perdebatan putra dan cucunya yang sudah hampir tiap hari dulu suka berdebat karena hal hal tidak penting dan kini semakin riuh saja saat yang mereka perdebatkan adalah seorang wanita cantik yang jelas jelas adalah meilik keduanya, wanita cantik yang setiap harinya ada bersama mereka tapi masih tetap berusaha bersaing untuk merebut perhatian Nara.
"Tentu saja beda, kamu masih akan kecil sedangkan Daddy orang dewasa" ucap Rajesh dengan nada meremehkan pada Radith saat mengatai tentang posisi Radith.
Radith menggeram marah karena dikatakan anak kecil oleh ayahnya, tentu saja bocah tamapn itu tidak terima hal itu, bagaimana mungkin dia dikatakan anak kecil sedangkan menurutnya dia sudah bisa menjawa ibunya dari godaan pria lain yaitu Dilon kepala sekolahnya.
"Jangan mengatakan aku anak kecil Dad, kau tau aku sudah menyelamatkan Mommy dari pria mata keranjang itu hingga dia tidak berani mendekati Mommy" sentak Radith.
"Huh..tapi dia masih mencuri pandang pada Mommy dan Daddy tidak suka itu" ketus Rajehs saat mengingat Dilon yang memasang istrinya dengan tatapn memuja.
"Loh sebentar, siapa yang kamu maksud sayang?" tanya Nara.
"Upss..."
Radith menutup mulutnya karena keceplosan, membaut ibunya jadi penasaran dan kini malah bertanya, " tidak ada apa Mom, aku hanya bicara asal" jawab Radith dengan senyum manisnya.
"Jangan bohong sayang,.....dan ini? kenapa Mas mengatakan juga suka curi pandang padaku, memangnya siapa dia?" tanya Nara kini ditujukan pada Rajehs.
"Tidak ada sayang" jawab Rajehs yang juga tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Nara.
"Tidak masalah kalau tidak dijawab" ucap Nara santia membuat Rajshs justru kini pias, dia tidak tau kenapa dengan cepat istrinya berkata demikian, biasanya dia akan mengancam dan memaksa Rajehs maupun Radith untuk menjawab tapi kini tidak sama sekali membuat Rajehs maupun. Radith justru wanti wanti.
"Sudah selesai? karena Nara tidak lagi menginginkan jawaban, sekarang kita makan saja karena ayah sudah lapar harus menunggu kalian berdebat" keluh Heru dengan wajah masamnya.
Nara hany tersenyum kikuk saat menyadari jika ada mertuanya bersama mereka, "silahkan Pah dimakan" ucap Nara dan akhinya mereka semua makan malam dengan hikmat termasuk para Maid yang makan ditempat masing masing hasil dari pemberian Nara sebagai syukuran memasuki rumah baru.
.
.
__ADS_1
Bersambung...