
Selsai dengan kegiatan panas yang sudah tiga hari tidak lakukan pasangan suami istri itu, kini mereka berpelukan dengan nafas yang masih terengah dan sibuk meraup oksigen untuk menormalkan kembali pernafasan keduanya.
"Terimakasih sayang" ucap Rajesh lalu mencium kening Nara dengan mesra dan lembut.
Nara hanya bisa mengangguk sebagai jawaban dari perkataan suaminya, dia kembali menelusupkan kepalanya dan membiarkan tenggelam di dada bidang suaminya sedangkan Rajesh merengkuh tubuh Nara dengan Allah tetapi tetap membuat wanitanya nyaman.
"Tidurlah sayang" ucap Rajesh.
lagi-lagi Nara hanya menganggukkan kepala di dalam pelukan Rajesh rasa yang tenaganya habis terkuras karena kegiatan ini hingga bibirnya tidak mampu mengeluarkan suara.
Rajehs menyusul istrinya, memejamkan mata sama seperti wanitanya dengan membawa hati yang terus berharap untuk sebuah keajaiban Anugerah dari Tuhan, berharap Tuhan menjawab semua doanya dan istri tercintanya selama tiga tahun ini didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
"Semoga....semoga kau memberi kami MukjizatMu Tuhan..." harap Rajehs dalam hati lalu memejamkan matanya menyusul istrinya menyelami alam mimpi berharap hari esok kebahagiaan keluarganya menghampiri.
Keesokan harinya Nara sudah terbangun pagi pagi sekali, niatnya dia ingin memastikan sesuatu, memastikan sesuatu yang membuat dirinya sejak semalam gelisah dan pagi ini dia akan mendapatkan jawabannya, dan jujur saja dia berharap jawaban yang dia dapatkan kali ini adalah jawaban yang membahagiakan dirinya, yang tidak mengecewakan harapannya
Dengan segera Nara membual laci mejanya dan mengambil satu benda lalu membawanya ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan apa yang sudah smhampir setiap bulannya ia lakukan selama tiga bulan ini, Nada menunggu dengan harap harap cemas, dia resah takut jika tidak sesuai harapannya tapi tidak menyurutkan keinginan wanita cantik itu untuk melihat hasilnya.
Beberapa menit kemudian, Nara mengambil benda yang dia bawa kedalam kamar mandi barusan dari dalam wajan, air matanya kemali luruh, kakinya lemas dan seketika tangisnya pecah tapi berusaha menutup mulutnya agar tidak didengar oleh suaminya.
Nara menatap test pack dengan linangan air mata yang tidak bisa dihentikan. Ya, Nara sedang melakukan pengecekan terhadap datang bulannya yang telat sudah tiga hari berlalu tapi ternyata hasilnya sangat memilukan hatinya, hancur.. hatinya kembali hancur kala teas pack menunjukan hasil negatif lagi untuk yang entah keberapa kalinya selama tiga tahun ini dan itu benar benar membuat Nara kembali hancur akan kenyataan..
Nara menggigit bibir bawahnya menahan tangis sekaligus menahan sakit di dadanya, suaranya tercekat di tenggorokannya dan tangan kanannya memukul mukul dadanya yang terasa sesak mendapati kenyataan kembali mematahkan duaninya, mematahkan harapannya yang selalu mengharapkan.
"Ya Tuhan....kesalahan apa yang hamba lakukan dimasa lalu? sampai Engkau tidak memberiku kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu, begitu burukkah aku sebagai hambamu sehingga kepercayaan itu belum hamba dapatkan hingga kini..." Nara menangis sesegukan tapi tetap menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suaranya yang akan membuat Rajehs tau jika dirinya menangis.
__ADS_1
"Hamba tidak meminta banyak Tuhan... hanya anak, hanya anak yang saya minta, bahkan jika Engkau mau aku harus menukar dengan hartaku, aku bersedia Tuhan...tapi....tapi aku mohon...aku mohon dengan segala kekurangan hamba, tolong.... berikan hambamu ini kepercayaanmu untuk bisa menjadi seorang Ibu" pinta Nara ditengah Isak tangisnya.
Rajehs yang tadinya masih terlelap dalam tidurnya kini muali terusik dengan samar sama telingan menangkap suara tangis seseorang, dia menggeliat dan melihat tidak ada istirnya disana, dan dia menatap kamar mandi saat telinganya kembali mendengar tangisan itu membuat Rajehs langsung turun kebawah dan menuju kamar mandi.
"Sayang....sayang....kau tidak apa apa...? buka pintu sayang....ayo buka...kamu kenapa menangis disana, sayang ayo jika pintunya"
Rajehs menggedor gedor pintu kamar mandi yang tertutup dari dalam, dia sangat khawatir dengan istrinya, dia takut jika istrinya kenapa Napa didalam.
"Sayang...ayolah buka pintunya, jangan buat Mas khawatir sayang.... ayo buka pintunya Nara..." Rajehs kembali berteriak dan mengetuk pintu kamar mandi semakin kuat, dia sangat khawatir karena Nara yang tak kunjung membuka pintu untuknya.
Rajesh mengambil ancang ancang ingin menendang pintu kamar mandi mereka karena Nara tak kunjung membuahkan pintu, rapi baru saja akan mengambil posisi, pintu sudah terbuka
Ceklek
Nara keluar dengan mata sembabnya, bahkan air matanya masih setia bembasahi pipi Nara, wajahnya terlihat kacau dan wajahnya pucat.
Nara membalas pelukan suaminya, dia menumpahkan tangsinya yang tadinya berusaha ia redakan tapi mendapat pelukan dari Rajehs membuatnya tidak bisa membendung air matanya lagi dan kembali dia menangis dalam pelukan suaminya.
"Ada apa sayang? kenapa kamu menangis? apa ada yang menyakitimu? katakan sayang, jangan membuatku khawatir" ucap Rajehs dan terus memeluk dan mengelus punggung istrinya.
Nara tidak menjawab, dia tetap menangis dalam pelukan suaminya, melepaskan rasa sakit hatinya atas harapan yang hingga kini tidak tersampaikan.
"Sayang jangan menangis, ayo tenanglah lalu ceritakan pada suamimu ini" ucap Rajesh, prai tampan itu masih dalam posisi memeluk istrinya, menenangkan melalui tepukan pelan dipunggung wanitanya.
Setelah Nara muali tenang, Rajehs melonggarkan pelukannya dia menjauhkan sedikit tubuh Nara agar bisa mereka saling berhadapan, tapi bertepatan dengan itu, Rajehs melihat satu benda di tangang Nara dan dengan segera merampasnya dengan lembut dan ternyata itu adalah rest pack yang menunjukan satu garis.
__ADS_1
Rajehs memandang test pack itu bergantung dengan memandang istrinya juga, Rajehs kini mengerti apa yang membuat istrinya bersedih seperti ini, menghela napas dengan pelan lalu menggiring Nara untuk dan mendudukannya di ranjang milik mereka.
Rajehs bersimpuh dihadapan Nara, tanganya meraih kedua tangan Nara dan meremaskan dengan erat tapi penuh kelembutan agar tidak menyakiti istrinya, matanya menatap lekat di mata istrinya, "Sayang...." Rajehs menghentikan ucapannya sejenak dan menarik napas terlebih dahulu.
"Kenapa kamu menangisi ini lagi? tidak kamu merasa lelah sedikit dan berhenti menangis karena hal ini?" tanya Rajesh, matanya masih tak lepas tadi mata Nara, sorot matanya seakan mencari sesuatu di mata Nara.
"Mas...."lirih Nara, " aku tidak bisa bersikap baik baik saja disaat hatiku rapuh Mas, hatiku terlalu lemah untuk terlihat tegas, dan aku tidak kuat untuk menahan kesedihan karena harapan yang tidak kunjung datang dipenantianku yang sudah selama ini" ungkap Nara.
Wanita cantik itu tidak bisa berbohong pada suaminya, karena jelas Rajehs tau jika jika Nara berbohong, makanya terkadang Nara menangis diam diam saat suami dan anaknya tidak berada dalam rumah.
"Tapi tidak harus terus menangis" sanggah Rajesh, "hatiku terlalu sakit melihat kamu menangis seperti ini, lebih sakit dari harapanku yang sama denganmu, aku tidak suka melihat air matamu yang seperti ini"
"Mas..."
"Tolong sayang...mari kita bersabar, mari bersabar menanti mukjizat itu, mari bersabar menunggu giliran diberi kepercayaan, kita terus berdoa agar diberi kepercayaan dan Mas mohon jangan seperti ini terus, bukankah jika kami stres akan semakin sulit untuk kita punya anak? kami pasti masih ingat bukan dengan apa yang dikatakan dokter?" Rajehs mengingatkan istrinya, dan Nara hanya bisa mengangguk pasrah.
"Tersenyumlah sayang, Mas mengunginkan hal itu" pinta Rajesh.
Nara mengulas senyumnya sesuai permintaan Rajehs membuat pria tampan itu langsung mematik bibir istrinya sekilas membuat Nara memekik kaget sedangkan Rajesh tertawa menah dan menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, raut wajah senang dan tawa itu lenyap sama sejekap berganti denhan wajah datar dan dingin menatap pantulan dirinya melalui cermin yang terdapat disana.
"Tidak bisakah kau beri apa yang istriku minta Tuhan..." lirih Rajesh, matanya berkaca kaca saat tak bisa memungkiri perasaanya juga ingin memliki seorang keturunan hanya dia tidak ingin menunjukan pada Nara karena itu hanya akan semakin menambah beban istrinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...