
Sementara di sekolah ternama tempat Nara mengabis, seorang bocah tampan sedang uring uringan sendiri tidak jelas. Tidak ada semangat saat tau hari ini bukan waniya cantik yang mengisi pelajaran melainkan seorang pria yang jujur saja dia tidak sukai.
Bukan tanpa alasan tidak suka, itu semua karena pria itu selalu saja cari perhatian gadis dewasa yang selalu membuat harinya berantakan dan susah menurutnya karena di atur sedemikian rupa dan akan ancam jika membantah.
Siapa lagi bocah tampan itu jika bukan Radith dan gadis dewasa yang di maksud adalah Kamara Saker yang menjadi wali kelasnya dan pria yang mengisi kelasnya hari ini adalah Dilon kepala sekolah mereka.
Radith tidak semangat bahkan terkesan dia malas melakukan apa pun dan akan sensitive jika merasa terganggu karena Kanara si yadis cantik yang membuat hari hari Radith penuh dengan banyak cerita tidak datang membuat bocah tampan itu tidak bersemangat
Mungkin karena suadah muali terbiasa hidup dan hari hari nya ada Nara yang mengusiknya membuat Radith seolah ketergantungan dan merasa sendiri saat Nara tidak ada.
"Ckck kenapa dia itu...tidak bertanggung jawab sekali!" gerutu Radith.
Saat ini bocah tampan itu sedangn dudu di taman dengan wajah masamnya sembari menunggu Nenek Clara menjemputnya, "lebih baik tidak usah bekerja saja jika tidak sanggup" lanjutnya.
Terus saja menggerutu hingga tak sadar jika Nenek nya sudah berada hadapannya dan sedikit banyaknya mendengar setiap gerutuam dan keluh kesahnya.
Clara tersenyum, mencoba mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Nara tapi tidak dia temukan membuat Clara berasumsi jika cucu kesayangannya ini sedang marah pada gadis cantik itu.
"Hey cucuk nenek yang ganteng, kenapa menggerutu terus?" goda nenek.
Radit tersentak karena tidak menyadari kedatangan neneknya, seketika wajahnya mendadak merah memikirkan kalau kalau neneknya mendengar semua gerutuannya.
"Ne..nenek sudah lama ya? kok aku gk tau?" tanya Radith dalah tingkah.
Clara semakin berusaha menahan tawanya, dia tidak mau cucunya nanti kesal, "sudah lamaa tapi dari tadi kau mendumel terus jadi tidak mendengar nenek memanggilmu" jawab nenek santai.
Semakin memerah wajah Radith mendengarnya, dia benar benar malu dan ingin sekali rasanya menenggelamkan kepalanya saat ini ke kolam berenang di mension mereka.
__ADS_1
"Ckck tidak ada yang mendumel nenk!" ketus Radith.
"Jadi kau bicara pada siapa? tidak ada orang disini?" tanya Clara dengan bertingkah seolah tidak tau dan celingak celinguk mencari orang di sekitar Radith.
Radith semakin mendengus melihat neneknya yang semakin bertingkah, dia yakin jika neneknya saat ini sedang bercanda.
"Oh ya sayang...Ms.Nara kok tidak terlihat?" tanya Clara berusaha mengorek untuk membenarkan tebakannya.
"Ckck, dia itu tidak datang dan aku tidak suka yang orang yang tidak konsisten" jawab Radith dengan cepat.
"Jadi kau kesal karena dia tidak datang dan mendumel tidak jelas jadinya?" tanya Clara ingin menggoda Radith
"Ckck nenek jangan mengarang, mana mungkin aku seperti itu!" ketus Radith kemudian berlalu pergi melewati Clara dan menuju mobil dan tak lama Clara pun menyusul dan tak lama mobil pun berjalan membawa mereak kembali kerumah.
Nara sedang mendudukan dirinya di sofa, kembali wajahnya murung saat mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Pertengkaran yang berakhir perpisahan karena sebuah penghianatan yang tidak bisa di terima akal apa lagi untuk di benarkan.
"Hiks...hiks..hiks...kau benar benar mengecawakanku Rey, aku memilih menikah dengannya tanpa bertanya solusi yang baik seperti apa"
Nara bergumam di sela sela tangisan, tangannya meremas dadanya yang terasa sesak dan sakit, terlalu sakit dirasakan saat pengorbanan dan penantian di balas dengan penghiatan.
Sungguh saat ini Nara berada di fase keterpurukan karena cintanya yang menyakitkan, "tidak bisakah kau berkata padaku? tidak bisakah kau tidak menipuku dengan cara seprti ini...? kau jahar Rey...bemar benar jahat, aku...aku tidak bisa membenarkan perbuatanmu"
Ceklek
"Nara sayang....Princess ibu.." panggil ibu setelah pintu di buka dengan kunci yang di miliki Lionel.
Nara mendongak melihat siapa yang memanggilanya walau dia sudah tau jika itu adalah ibunya, dengan cepat Nara menghapus air matanya agar tidak membuat keluarganya khawatir. Tapi terlambat, mereka sudah tau bahkan jauh sebelum Nara tau mereka sudah tau dan dampak dari yang terjadi ini puj mereka sudah menduga.
__ADS_1
"Nak..."
Naina langsung memeluk Nara kesayagannya, rasanya tidak sanggup melihat putrinya terluhat sangat buruk seprti itu sementara Anan hanya menatap sendu putrinya, terbesit rasa bersalah pada dirinya karena merasa dialah semuanya bisa terkadi seperti ini.
"Ibu ada apa?" tanya Nara pura pura, Nara tidak mau mengatakan pada ibunya atau pun pada yang lainnya tapi ekspresi biasa itu berubah dalam sekejab menjadi murung bahkan tangisnya tidak bisa di bendung lagi saat mendengar ucapan ibunya.
"Nak...jangan pendam sayang, lepaskan saja. Bunda tau kamu pasti terluka tapi ingat mungkin dia bukan jodohmu" ucap Naina dengan lembut.
"Hiks...hiks...hiks..."
Nara lansung menumpahkan tangisnya dalam pelukan hangat Naina, sedangkan Lionel mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu melihat adik yang selama ini di jaganya dan dia akan melakukan apu agar air mata kesayanganya tidak tertumpah sedikitpun taoi kini di depan matanya adiknya memangis bahkan terlihat menyedihkan hanya karena seorang bajingan yang bertindak tanpa berpikir.
Itu tidak bisa di terima akal Lionel, dia ingin sekali menghajar pria yang melukai adiknya tapi seketika tangan lembut nan dinging mengusap dadanya untuk meredahkan amarahnya dan dia adalah wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamingnya.
"Tenanglah, jangan tunjukan amarahmu di depan Princess kita" ucap gadisnya dengan lembut.
Lionel menguembuskan nafasnya dengan kasar, dia tidak tau harus bersikap seperti apa. dan dia hanya mengikuti perkataan tunangannya yang begitu merdu di telingannya dan mau tak mau dia harus mengontrol emosinya saat ini tapi mungkin nanti dia memang harus memberi pelajaran pada Reyhan itu.
Sedangkan Anan semakin terpukul melihat putri yang di besarkan dengan kedua tangannya penuh kasih sayang dan kelembutan, putri yang dia didik dengan sangat baik agar menjadi wanita yang terhormat dan memiliki akhlak mulia harus terpuruk karena dirinya, karena keegoisannya yang hanya memandangat latar belakang dan status sosial karena berfikir dengan itu semua maka akan baik baik saja tanpa memikirkan kebahagiaan putrinya yang sesungguhnya.
"Maafkan Ayah nak..." batin Anan.
.
.
Bersambung...
__ADS_1