STORY OF NARA

STORY OF NARA
permintaan konyol


__ADS_3

Nara sudah selesai mempersiapkan Radith yang memang belum terlalu pandai merapikan dirinya, dan setelahnya Nara kembali ke kamar dan melihat Rajesh sudah berpakaian tapi kancingnya belum terpasang sama sekali.


Seperti biasa Nara yang mengancingkan kemeja Rajesh, disusul dengan memasangkan dari untuk suaminya barulah yang terakhir jas pria tampan itu.


"Terimakasih sayang" ucap Rajesh.


cup


Seperti biasa usai mengucapakan terimakasih pasti akan ada ciuman sebagai hadia dari Rajesh untuk Nara, hadia atas pelayanan setiap paginya.


"Ayo kita sarapan dulu" ajak Nara.


Selesai sarapan, kini satu kelurga itu berjalan menuju pintu utama,Rajesh dan Radith berangkat, tapi sebelumnya seperti biasa ritual pamitan selalu terjadi, "aku berangkat dulu sayang" pamit Rajesh dan mengecup kening dan bibir Nara singkat setelah Nara mencium punggung tangan Rajesh.


"Hati hati Mas"


"Mom, Radith berangkat ya" pamit Rajesh mencium tangan dan pipi Nara sehingga menerbitkan senyum manis dari sudut bibir wanita cantik itu.


"Hati hati sayang, belajar dengan baik" ucap Nara yang dibalas anggukan oleh Radith.


Setelah mengantarkan suami dan anaknya, Nara langsung menuju kamarnya seperti Clara yang sehabis mengantarkan suaminya juga menuju kamarnya karena memang tidak banyak yang menjadi obrolan bagi mereka dan lagi ini masih terlaku pagi untuk mengobrol.


Nara membersihkan dirinya terlehih dahulu lalu kembali beristirahat memejamkan matanya menunggu waktu siang datang untuk memasak makan siang untuk keluarganya, hingga beberapa jam kemudian, bunyi ponsel membuat wanita cantik itu terbangun dari lelapnya, meraih dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo Mas..." sapa Nara dengan suara seraknya.


"Sayang...kamu baru bangun?" tanya Rajehs dari sebrang sana.


"Iya Mas, tadi istrahat sejenak" jawab Nara masih dengan suara seraknya.


"Kamu tidak apa apa kan? tidak ada yang sakit kan sayang?" tanya Rajesh dengan nada khawatirnya.


"Tidak ada Mas, aku tidak sakit hanya sedikit mengantuk saja tadi" jawab Nara mencoba meyakinkan suaminya.


"Baiklah kalau tidak sakit, oh ya kita makan siang di luar ya,,, kebetulan aku ada meeting didekat sekolahan Radith, sekalin nanti jemput anak kita" ucap Rajesh mengutarakan niatnya menghubungi. istrinya.


"Berarti tidak makan siang di rumah?" tanya Nara, karena bisanya selama satu Minggu ini, suaminya akan selalu makan siang di rumah bersa dengan mereka.


"Sepertinya tidak bisa sayang, dan juga Mama dan Papa mungkin akan keluar sama sepertiku" ungkap Rajesh.

__ADS_1


"Jadi tidak usah masak ya aku?"


"Tidak usah sayang" jawab Rajesh.


"Baiklah"


Nara bersiap mengingat waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, dia tidak mau membuat putranya menunggu terlalu lama di sekolah dan lagi dia juga tidak mau suaminya menunggu dirinya terlalu lama untuk malam siang.


Sampai disekolah, Radith rupanya sudah menunggu karena memang Nara sedikit terlambat karena kemacetan jalan raya, "maaf sayang, Mommy terlambat" ucap Nara


"No problem Mom, aku juga belum lama keluar" jawab Radith yang sama sekali tidak mempermasalahkan keterlambatan jemputnya.


"Ayo, kira makan siang bersama Daddy" ajak Nara.


"Dimana Mom?"


"Didekat sini katanya" jawab Nara.


"Baiklah, tapi aku tidak punya baju ganti" keluh Radith.


"Mommy sudah menyiapkannya Son, jadi jangan khawatir" ucap Nara, wanita itu selalu memprediksikan memang segala kebutuhan yang diperlukan jika dalam situasi seperti itu dan itulah yang memhuar Radith sangat menyayangi Nara karena merasa diperhatikan dan dimengerti oleh ibu sambungnya.


"Tentu saja, Mommy harus jadi yang terbaik untuk putra Mommy yang tampan ini" gemas Nara.


Sampai di kafe yang dimaksud oleh Rajesh, rupanya sang kepala rumah tangga itu belum nongol atau lebih tepatnya belum selesai dengan urusanya bersa kolega bisnisnya dan terpaksa ibu dan anak itu harus menunggu terlebih dahulu, lagi pula waktu belum genap jam dua belas siang, jadi menurut Nara tak apa jika menunggu sebentar lagi.


Ditengah keasyikan keduanya menunggu, sesorang datang membuat Nara maupun Radith mengalihkan perhatian dan kini terpusat pada tamu wanita yang tidak undang itu.


"Nara..." panggil gadis itu.


"Cleora.." kejut Nara.


Ya, gadis yang menjadi tamu tak diundang itu salah Cleora, gadis yang dulu menjadikan Nara rivalnya bahkan hingga kini, gadis yang sudah merusak sebuah hubungan pasangan hanya karena sebuah obsesi.


"Duduklah Cleora" kata Nara dengan lembut.


Walau sebenarnya jika disuruh memilih, Nara akan jauh lebih memilih agar tidak lahai bertemu dan berurusan baik denha Reyhan maupun Cleora tapi bagaimana lagi jika sudah waktunya maka tidak Anisa dihindari oleh satupun manausia.


"Bisa kita bicara?" tanya Cleora penuh harap.

__ADS_1


Nara menatap Radith terlebih dahulu, tidak mungkin jika bocah tampan itu mendengar pembicaraan orang dewasa yang walau sebenarnya Nara tidak tau apa yang hendak dibicarakan tapi tetap saja Nara berpikir mungkin itu memang masalah orang dewasa.


"Radith gunakan headsed dulu sayang" pinta nSra menyodorkan hp dan earphone miliknya.


"Baiklah Mom" jawab Radith dan memakai apa yang diperintahkan ibu sambungnya.


Setelah Nara memastikan Radith tidak bisa mendengar percakapan mereka, barulah Nara beralih melihat dan menatap lawan bicaranya.


"Ada apa Cleora? dan bagaimana kau bisa menemukanku disini?" tanya Nara.


Aku tidak sengaja lewat tadi dan aku melihat mobil milik keluarga Fernandese dan melihat kau yang mengemudikan mobilnya, maka aku memutuskan untuk menghampirimu sebentar" jawab Cleora mengatakan yang sejujurnya.


"Ohhh...jadi ada apa?" tanya Nara.


Wanita cantik itu tidak banyak waktunya karena sebentar lagi mungkin Rajehs akan datang dan dia tidak mungkin meninggalkan Cleora sendiri disini.


Cleora menarik napasnya terlebih dahulu sebelum mengutarakan keinginannya, membuat Nara mengerutkan keningnya dan menebak jika ini sebuah masalah dan percakapan serius antara mereka berdua.


"Katakan ada apa Cleora?" tanya Nara, dia bisa menangkap raut sendu dari wajah gadis muda itu dan dia yakin jika itu pasti menyangkut tentang Reyhan lagi suami dari gadis itu.


"Aku akan bercerai demhan Reyhan" lirih Cleora.


Tentu saja berita ini mengejutkan bagi Nara, baru saja dia Minggu yang lalu wanita cantik itu menasihati Reyhan agar bertahan tapi kini malah ada kabar yang memprihatikan dari gadis cantik itu


"Jangan membual Clora" Reyhan tidak mungkin menceraikanmu" ucap Nara setelah rasa keterkaitannya kembali normal.


"Aku...aku yang meminta berpisah" ucap Cleora, lagi lagi Nara tercengang mendengar pernyataan yang keluar dari mulut gadis itu, bukankah Cleora sangat menginginkan Reyhan? lalu kenapa sekarang kata itu keluar? dirinya yang meminta berpisah.


"Sangat sulit bagi Nara untuk mempercayainya tapi kenyataan berkata seperti itu, saksi hidup yang mengatakan itu ada dihadapannya, tapi kembali Nara bersikap biasa saja, dia tidak mau terlaku ikut campur apalagi mencari tau apa penyebabnya karena itu bukan urusannya lagi.


"Aku tidak tau kenapa, tapi jujur itu bukan urusanku lagi" ucap Nara dengan memasang wajah datarnya, tapi seketika ekspresi itu berubah kala mendengar permintaan konyol dari gadis cantik itu.


"Kembali padanya.." pinta Cleora.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2