
Keesokan harinya, seperti keputusan semalam kini keluarga kecil itu tengah bersiap untuk berangkat ketujaun masing masing dari mension Saker, Nara menyiapkan pakaian suaminya yang tertinggal disana lalu barulah beralih dengan menyiapkan pakaian putranya yang kebetulan masih menggunkana seragam yang sama dan setelah semuanya selesai barulah wanita cantik itu menyiapkan untuk kebutuhannya sendiri.
"Sayang.... bantu Mas pasang dasi" ucap Rajesh.
Nara dengan cepat menghampiri suaminya, mangaitkan simpul dasi suaminya yang memang sangat mudah sebenarnya tapi dasarnya Rajehs yang memang sejak menikah dengan Nara tidak pernah lagi mau memasangkan dasi sendiri, bahkan tak jarang kancing kemejanya sendiripun harus Nara yang mengancingkan.
"Sudah Mas" ucap Nara, tangannya bergerak mengelus dan mengusap pakaian Rajehs untuk memastikan kerapian suaminya agar bisa sempurna dilihat.
"Terimakasih sayang" ucap Rajesh, tangannya dikaitkan dipinggang ramping Nara, merapatkan tubuh keduanya, hidungnya mendusel dusel pipi Nara membuat Nara merasa kegelian karena tingkah suaminya.
"Geli Mas..." keluh Nara, kedua tangannya berusaha mendorong dada bidang Rajesh tapi percuma saja kare tenaganya yang kalah jauh dari kekuatan Rajshs.
"Jangan merusak moodku sayang, Mas ini seperti ini sebentar" pinta Rajesh.
Nara diam, mencoba mengikuti permintaan suaminya yang entah kenapa tiba tiba seperti ini, sedangkan Rajesh yang kini tidak lagi menerima penolakan dari istrinya kini berbah merambat kebawah tepat bagian leher istrinya membuat Nara sedikit meremang kala merasakan gelenyar aneh yang menjalar dengan cepat dialirkan darahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Rajehs dengan senyum manisnya, bersikap seolah tidak merasa bersalah membuat Nara hanya bisa mendengkus sebal, dia tau apa yang tengah dirasakan istrinya tapi Rajehs berniat untuk mengerjai istrinya.
"Jangan bertanya..! aku tau Mas pasti sudah tau tapi pura pura polos, padahal mesum" ketus Nara membuat Rajehs terkekeh.
"Mas memang masih polos sayang" kata Rajehs membuat Nara semakin kesal, sementara Rajehs semakin mengeratkan pelukannya membuat tubuh mereka benar benar tidak ada lagi jarak.
"Ckck... masih polos, tapi lihat ini.... tangannya semakin kuat merangkul pinggangku" ucap Nara dengan tanganya yang menunjukan tangan Rajesh.
Rajehs tidak merespon ucapan istrinya, tangan kanannya menjepit dagu Nara dengan lembut dan mengatakan wajah Nara agar mereka bisa saling berhadapan, "Mas sangat mencintaimu sayang" ucap Rajesh dan langsung mematik bibir Nara dan menyesapnya dengan lembut.
Nara yang mendapat perlakuan lembut dari suaminya menjadi terbuai, inilah kelemahan Nara, naluri kewanitaannya selalu akan kalah dengan perlakuan Rajehs dan pada akhirnya akan selalu pasrah dengan semua yang dilakukan oleh Rajesh.
Nalurinya sebagai wanita normal tentu saja bergejolak dan kini wanita cantik itu menyambut baik sesapan dari bibir suaminya hingga kini ciuman itu berubah menjadi panas dan bergairah membuat keduanya berhasil mengeluh dengan lembut terutama Nara yang sudah kedua kalinya mengeluarkan ******* seksinya menurut Rajehs.
"Mas...." Nara memukul dada bidang suaminya dengan manja saat merasakan pasokan oksigen dalam dirinya mulai berkurang hingga menyebabkan wanita cantik itu terengah.
__ADS_1
Sedangkan Rajehs hanya terkekeh, dia juga sama seperti istrinya yang kekurangan pasokan oksigen dan kini sedang meraup sebanyak mungkin oksigen, tapi tidak bisa menahan tawanya kala melihat wajah cemberut istrinya.
"Kau tau sayang? semalam Mas sangat ingin bersatu tapi putramu itu menjadi penghalang karena harus tidur bersama dengan kita" dengkus Rajehs.
"Dia juga putramu Mas, jangan lupakan hal itu dan lagi, kenapa memangnya kalau dia tidur? justru aku senang karena terbebas menjadi santapanmu" jelas Nara membuat Rajehs melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya, merasa tidak percaya akan hal itu tapi sudah jelas istrinya mengatakan hal itu langsung dari mulutnya.
"Sayang... yang benar saja? kamu sungguh senang dengan hal itu? ohh astaga, aku bisa gila kalau setiap malam seperti itu, tidak menjamahmu rasanya aku bisa gila" keluh Rajehs.
"Ish.. itu saja di otakmu Mas" ketus Nara, "sudah ayo kita turun" ajak Nara.
Rajesh kembali terkekeh dan kakinya melangkah mengikuti langkah istrinya yang semakin menjauh darinya, "Jangan ngambek begitu sayang, memangnya kamu tidak suka dengan sentuhan ku" bisik Rajehs tepat di telinga Nara setelah langkah keduanya sejajar menuruni anak tangga.
"Mas... jaga sikap, ini bukan rumah kita" tegur Nara, tangannya mencubit perut Rajesh dengan gemas membuat Rajes memekik kesakitan..
"Aduhh sayang... sakit, masa kamu tegas ih cubit suami sendiri, bukannya disayang juga" keluh Rajehs sembari mengusap perutnya yang terkena cubitan yang lumayan panas dari wanita garang yang sialnya adalah wanitanya, istrinya dan kesayangannya.
"Biar saja, agar tingkah Mas bisa melihat kondisi" cuek Nara dan segera turun dengan cepat.
Radith sendiri mendengkus sebal melihat sikap ayahnya yang tidak melihat tempat, "ckck.. Daddy tidak tau tempat banget sih, tidak di rumah sendiri, di Mension utama dan disini jadi ga bertingkaj" cibir Radith.
Lionel mengatupkan bibinya menahan tawa kala mendengar Radith mengumpat ayahnya, bukan apa apa hanya saja ini kali pertama Lionel melihat ada yang berani pada adik iparnya, bahkan dirinya sajapin harus melihat situasi untuk mengerjai Rajehs tapi ini, anak kecil yang baru berusia delapan tahun sudah dengan lancangnya mencibir seorang Rajesh Fernandese.
"Hei Boy... bisakah kau menjaga wibaya ayahmu" sentak Rajesh.
"Daddy sendiri tidak mau berwibawa disini" balas Radith cuek.
"Astagaa anak ini selalu membuatki darah tinggi" keluh Rajehs.
"Putraku benar Mas, makanya jangan bertingkah agar wibawamu tidak berkurang" bela Nara pada putranya
"Iyalah... giliran memojokanku, kau pasti mengatakan putramu seorang, tapi giliran apesnya saja kamu bilang putra kita, pasti ada bahianku kalau menyangkut hal itu" ucap Rajehs dengan pura pura tertindas.
__ADS_1
"Astaga... Daddy, bukankah aku sudah pernah bilang agar tidak memasang wajah sepeti itu, tidak ada yang berani meninda Daddy tapi justru Daddy yang selalu menindas orang, contoh barangnya saja Pama Leo" ucap Radith sengaja memukul mental ayahnya.
Rajesh hanya bisa menggeram marah dengan tingkah anaknya, sungguh harga dirinya tidak ada lagi jika Radith sudah bicara, apalagi istrinya yang ikut ikutan membela Radith membuat anak kecil itu semakin besar kepala.
Lionel sudah ridak bisa menahan tawanya lagi, pria tampan itu mengajak sejadi jadinya melihat wajah adik iparnya yang sedang menahan kekesalan hatinya tapi tidak bisa tersalurkan.
"Hahaha.... aku tidak menyangka adik dan keponakanku bisa membuatmu tak berkutik" ucap Lionel semakin tertawa keras.
Tentu saja hal itu tidak bisa diterima oleh Rajehs, harga dirinya semakin terinjak karena ditertawakan oleh seseorang yang menurutnya masih jauh dibawahnya, "sepertinya Kakak iparku ini memiliki banyak nyawa sehingga begitu lempang menertawakan ku" Rajesh berkata dengan senyum manisnya tapi Lionel mendadak kaki tububnya, mulutnya langsung bungkam bahkan kini dirinya kesusahan menelan ludahnya sendiri.
"Mampus aku... bagaimana bisa aku menertawakan singa ini" batin Lionel, wajahnya mendadak pucat kala matanya bersiborok dengan mata elang milik Rajesh.
Martha yang mendapati suaminya diintimadi oleh adik iparnya tentu saja tidak terima, dan kini wanita beranak satu itu menyenggol lengan Nara, "Nara... tegur suamimu agar berhenti menatap suamiku" bisik Martha yang sebenarnya juga merasa takut.
"Ehmmm Mas...." panggil Nara dengan nada yang ditekan habis.
Rajehs mengalihkan perhatiannya kini menatap wanitanya dan senyum manis ditunjukan pada Nara, "ya sayang..."
"Jaga sikap dan jangan menakuti kakakku" ucap Nara dengan mata tak kalah tajamnya.
Anan dan Naina hanya diam saja, mereka cukup menyaksikan saja karena mereka sudah sangat yakin jika tidak akan ada yang saling menyakiti dan terbukti walau Nara sudah menikah dengan Rajehs tapi tetap saja tidak mau jika kakaknya merasa terancam.
"Tidak sayang... Mas tidak melakukan apapun"
"Sudah kita kapan sarapannya jika seperti ini terus" lerai Anan dan akhrinya semuanya mengambil posisi masing masing untuk memulai sarapannya, karena jika kepala rumah tangga yang sesungguhnya sudah berkata maka tidak ada yang bisa membantah bahkan Rajehs sekalipun.
.
.
Bersambung...
__ADS_1