
Reyhan berlalu meninggalkan Mall dengan membawa kepingan hati yang dulunya hancur kini semakin hancur hingga kini menjadi remahan yang tingga menunggu angin menerpa maka akan berterbangan entah kemana.
Sementara di dalam Kafe, Nara bersikap seolah tidak terjadi apapun, padanya walau sebenarnya hatinya gelisah melihat Reyhan tapi dia tetap berusaha bersikap tenang, sementara Rajehs dengan santainya memakan makannya dengan tenang, pria tampan itu juga bersikap seolah tidak terjadi apapun hari ini.
" Mom...." panggilan Radith membuat Nara menolah dan memandang kearah Radith untuk meminta apa yang akan dikatakan.
"Siapa om yang tadi?" pertanyaan Radith membuat Nara terdiam sesaat, melihat Rajesh terlebih dahulu lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Radith dengan senyum lembut yang menghiasi bibinya.
"Dia teman Mommy saat dulu" jawab Nara singkat, tanpa ada niatan untuk menjelaskan lebih detail.
"Lalu kenapa dia melihat Mommy sama dengan Daddy?"
Nara kembali terdiam, dia tidak tau harus menjelaskan apa, Nara mencoba meminta bantuan Rajehs tapi dengan cepat pria itu malah mengalihkan pandangannya berpura pura fokus pada piring yang ada dihadapannya, membuat Nara mendengkus sebal, tapi mau tak mau Nara harus menjelaskan pada Radith, karena Nara yakin jika putranya merasakan ada kejanggalan.
"Sayang..... dia teman Mommy dulu, tapi perkara dia menatap Mommy seperti apa, biarkan itu jadi urusan dirinya yang paling penting adalah....Mommy hanya untuk kalian berdua, untuk Radith dan untuk Daddy" jelas Nara.
Rajesh menyembunyikan senyumnya saat mendengar penjelasan Nara pada putrnya yang secara tidak langsung juga disampaikan padanya, tapi sebisa mungkin Rajehs menahannya, sedangkan Radith masih diliputi rasa keraguan yang terang terangan diperlihatkan dihadapan Nara.
"Sayang.... Mommy hanya untukmu dan Daddy, selamanya tidak akan ada yang bisa memungkiri itu" Nara meyakinkan kembali putranya hingga sebuah anggukan dari Radith membuat Nara tersenyum lega karena akhirnya putra yang sangat dia sayangi mau mengerti dirinya.
"Tentu saja...Mommy hanya untuk kami, karena tidak akan ada yang boleh mengambil Mommy, jika itu terjadi maka aku akan menyuruh Daddy untuk melenyapkan mereka" ucap Radith dengan sorot mata tajamnya, tidak ada nada bercanda disana melainkan kata yang penuh keyakinan akan apa yang baru saja disampaikan.
Nara yang mendengar penjelasan anaknya melototkan matanya tidak percaya dengan ucapan Radith, sedangkan Rajesh tersenyum penuh kepuasan dan kebanggan terhadap putranya, sifat mereka sama dan memang itulah yang akan dilakukan Rajesh jika ada orang lain yang mengambil Nara darinya termasuk Reyhan.
"Kau memang putra Daddy Boy, kau sangat tau apa yang ada dipikiran Daddy" Rajehs tersenyum puas.
"Tentu saja, karena aku adalah putramu yang akan mewarisi semua sifatmu Dad" jawab Radith dengan penuh kebanggaan.
"Good Boy"
Nara menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan keduanya, "jangan pernah berpikir apalagi bertindak seperti itu, Mommy tidak ingin kalian dalam bahaya" cegah Nara.
__ADS_1
"Kita tidak akan dalam bahaya Mom, dialah yang dalam bahaya karena sudah berani mengusik keluarga kita" sergah Radith, anak lelaki itu merasa risaj terima dengan perkataan ibunya, dia merasa seolah Nara membela orang lain.
"Sayang... jangan berkata seperti itu, pokoknya percayakan semuanya pada Mommy, percaya saja pada Mommy yang tidak akan pernah mereka rebut walau dengan cara apapun!" tegas Nara, matanya melirik sinis para suaminya, ingin melihat rekasi dari Rajesh tapi tidak mendapatkan hasil.
Nara mendengkus sebal karena tidak respon seperti yang diinginkan dari Rajesh, padahal wanita cantik itu berharap Rajehs akan memberia senyuman atau setidaknya memberi kecupan mesra seperti biasanya tapi kali ini tidak ada.
"Mas.... dengarin omonganku tidak sih" rengek Nara.
"Dengar sayang" jawab Rajehs dengan Nara lembutnya tapi tetap saja sikapnya masih terlihat cuek.
"Ishh....menyebalkan sekali Mas siang ini" ketus Nara membuat Rajehs dan Radith langsung tergelak.
"Jangan membuat Mommy kesal Dad, bisa bisa Daddy akan tidur diluar hahahaha..." ucap Radith yang langsung disambut dengan bungkaman dari Rajesh.
"Jangan berkata seperti itu Radith, bisa bisa malah kejadian Mommy menyuruh Daddy tidur diluar" bisik Rajesh.
Hal yang ditakutkan juga akhirnya terjadi, Nara mengatakan apa yang dikatakan Radith membuat Rajesh langsung melemas tak berdaya lagi disana.
"Sayang.... jangan seperti itu" pintu Rajehs dengan wajah memelas.
"Tidak.... ini hukuman karena sudah berani mengacuhkan wanita cantik ini" ketus Nara.
"Sudah Mom, ayo kita lanjut makan" ajak Radith, senyum kemenangan tercetak dan itu jelas ditunjukan pada Rajesh membuat Rajesh geram sendiri tapi hanya dipendam dalam hati saja.
"Awas kamu bocah, akan aku balas kau" geram Rajehs.
Radith tidak mempedulikan tatapan tajam Rajesh, dia asyik menikmati makanannya dengan santia membuat Rajesh semakin menggeram kesal tapi lagi lagi hanya bisa tersimpan dalam hati, dia tua jika tidak akan pernah beruntung jika berdebat dengan putranya dihadapan Nara karena pembelaaan hanya akan Nara berikan pada Radith putranya yang selalu membuatnya kesal.
"Masih mau ke kantor Mas...?" tanya Nara.
"Iya Dad, apa masih mau ke kantor?" timpal Radith.
__ADS_1
"Tidak..." singkatnya jawaban dari Rajehs membuat Radith berdecak sebal.
"Tidak apa ini? tidak kembali lagi atau bagaimana?"
"Hei sejak kapan putraku jadi lemot? bukankah selalu cepat tanggap? tapi kenapa hanya mengartikan kata 'tidak" tidak tau" ejek Nara.
"Jangan membuatku kesal Dad, katakan saja sekarang" ancam Radith, senyumnya sudah mengartikan ada sesuatu yang direncanakan membuat Rajehs kembali mati kutu.
"Ya ya ya Daddy tidak akan kembali lagi, Daddy akan menemani kalian jalan jalan hingga sore" jelas Rajesh dengan sikap malasnya.
"Horeeee.... cepat kita makan Dad, lalu bermain" seru Radith membuat Nara hanya menggeleng melihat tingkah putranya.
Selsai makan, semuanya kembali beranjak, naik ke lantai atas tepat dimana permainan terletak, dan Radtih langsung menancap gas untuk bermain membiar dia orang dewasa itu hanya melihat dengan pandangangan hangat dan memancarkan kebahagiaan.
"Mas..." panggil Nara.
"Hemmm" Rajesh menjawab penggilan Nara tapi matanya tetap fokus pada Radih yang masih asyik bermain.
"Kamu Marah padaku Mas?" pertanyaan Nara sontak membuat Rajehs mengalihkan perhatiannya, dia melihat istrinya dengan lekat.
"Alasan apa yang kupunya hingga harus marah padamu?" jawaban Rajehs yang berupa pertanyaan membuat Nara bungkam, kepalanya menuduk sebentar lalu kembali terangkat dan menatap Rajesh dengan tatapan yang menyiratkan rasa bersalah.
"Aku yang bertemu dengan Reyhan tadi pagi sedangkan aku tidak mengatakannya padamu Mas, tapi percayalah aku bukan tidak mau mengatakan padamu, tapi karena memang belum ada kesempatan untuk memberitahukannya dan niatnya aku ingin mengatakan tadi tapi tak terduga aku malah kembali bertemu dengannya" jelas Nara, matanya berkaca kaca menatap Rajehs membuat pria tampan itu langsung memeluk Nara dan mencium ujung kepala Nara dengan lembut.
"Tidak usah berkata seperti itu sayang, Mas tau... Mas tau kamu tidak ada niatan untuk bertemu padanya, Mas juga tau bagaimana responmu terhadap dirinya dan lagi Mas tau bagaimana perasaanmu padanya, jadi Mas tidak keberatan apalagi Marah, Mas tidak akan bisa marah pada wanita yang sudah menemani dan mencintaiku dengan sangat dalam selama tiga tahun ini" Rajehs mengungkapkan apa yang dirasakannya karena memang dia tidak merasa marah sama sekali.
"Terimakasih Mas...terimakasih kamu Mas sudah mempercayaiku"
.
.
__ADS_1
Bersambung....