STORY OF NARA

STORY OF NARA
makan siang


__ADS_3

Ditempat lain, seorang pria tampan dengan wajah dinginnya sedang menahan amarahnya terbukti dari rahangnya yang mengeras dan mukanya yang memerah beserta kepalan tangan yang meremas jarinya sendiri.


Rajehs marah setelah mendapat laporan dari supir yang ditugaskan untuk mengantarkan kemanapun Nara pergi dan sekaligus menjadi mata mata untuknya, dan baru saja pesan singkat masuk mengatakan istirnya bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah Reyhan, informasi yang baru saja disampaikan oleh Leo.


"Jadi dia Sudak kembali?" suara Rajesh terdengar dingin dan mencekam menandakan betapa tidak sukanya Rajesh terhadap pria yang menjadi penyebab dirinya marah saat ini.


"Sudah Tuan Muda, satu Minggu yang lalu" Leo menjabarkan informasi pada Rajehs, "dia Pemiliki perusahaan baru yang berkembang selama satu tahun ini Tuan Muda, dan dua hari lagi resmi akan menjadi kantor pusat dan Reyhan akan menatap di Indonesia"


"Sial...!"


Rajehs mengumpat marah mendengarnya, dia berpikir mungkin pria itu tidak akan lagi kembali setelah berita yang dia dapat tiga tahun yang lalu bahwa rivalnya pergi, dan karena itu dia sudah tidak pernah mencari tau lagi bagaimana perkembangan Reyhan dan apa yang dilakukan pria itu hingga kini hasilnya sedikit mengejutkan dirinya.


"Dia ingin mencari masalah denganku kembali" gumam Nara tapi masih bisa didengar oleh Leo.


"Pertemuannya dengan Nona Muda hanya sebuah kebetulan Tuan, tapi saya tidak yakin untuk kedepannya apakah dia akan berhenti atau mungkin akan semakin penasaran dengan kehidupan Nona" jelas Leo membuat Rajehs menatap asistennya dengan lekat, meminta penjelasan lebih lanjut lewat sorot matanya.


"Tuan pasti tau, jika bukan supir itu saja yang menjadi pengawal Nona Muda, masih ada orang lain disana dan saya mendapat informasi ini karena kebetulan dia berada tidak jauh dari tempan Nona Muda bersantai hingga dia dengan jelas mendengar apa yang dibicarakan Reyhan setelah Nona Muda pergi meninggalkannya" jelas Leo.


"Tutup akses apapun mengenai istriku Leo, jangan biarkan si pengecut itu mengetahui informasi apapun" titah Rajesh.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Muda, semua sudah saya laksanakan sesuai dengan keinginanmu" ungkap Leo.


"Bagus, terus awasi pria itu jangan lengah sedikitpun mengenai istriku"


"Baik Tuan Muda"


Nara sampai di sekolah Radith tapi ternyata dia terlalu cepat hingga akhirnya memilih untuk menunggu saja diruang tunggu penjemputan anak, Nara berpikir itu lebih baik dari pada harus mendengar omonng kosong dari Reyhan, walau tak bisa dipungkiri dia ingin mendengar kabar pria itu tapi melihat bagaimana sorot mata Reynan padanya membuatnya mengurungkan niat.


Setengah jam kemudian, bel sekolah berbunyi pertanda berakhirnya proses pembelaran hari itu, dan Nara bergegas berdiri menyambut putranya.


"Mommy...." terika Radith yang baru saja keluar dari kelas, anak lelaki itu berlari menuju tempat ibunya dengan senyum yang me gembang.


"Hai anak Mommy" sapa Nara dengan senyum lembutnya khas seorang ibu.


Radith memperhatikan ruat wajah ibunya terlebih dahulu, melihat jika ada sisa air mata atau mata sembab lagi diwajah ibunya membuat Nara keheranan saat mendapati sikap putrnya yang menelisik wajahnya.


"Hei sayang ada apa?" tanya Nara.


"Aku hanya ingin melihat apakah Mommy menangis lagi, tapi ternyata tidak" ungkap Radih

__ADS_1


Nara tersenyum mendengar kejujuran putranya, sepertinya Radith sudah mulai mengungkapkan secara terang terangnya apa isi hatinya sekarang,


"Tidak sayang, Mommy tidak menangis karena Mommy tidak ingin membuat pria tampan ini kecewa dengan sikap Mommy" ucap Nara dengan senyum harunya.


Nara terharu betapa Radith yang sangat menghawatirkannya, sangat peduli padanya dan rasa sayang Radith tidak tersudutkan selama tiga tahun ini walau Nara sudah menyakitinya secara tidak langsung karena terang terangan menangisi seorang anak.


"Bagus, karena aku tidak menyukai Mommy bersedih"


"Ayo sayang kita pergi" ajak Nara, "oh ya bagaimana jika kita jalan jalan saja" usul Nara.


"Wahh udah lama kita tidak jalan jalan, tapi aku ingin dengan Daddy juga" pinta Radith.


"Emm...Mommy sih tidak tau Daddy sibuk atau tidak tapi Mommy akan coba hubungi dulu ya" ungkap Nara dan langsung menghubungi Rajesh dengan ponselnya.


Sementara orang yang maksud, sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, matanya terlalu fokus membaca kata demi kata dalan lembaran yang tergeletak indah diatas meja tepat dihadapannya, tapi fokusnya terpaksa berhenti kalah getara ponsel dalam saku jasnya terasa.


"Hallo sayang ..." Rajesh langsung menjawab panggilan masuk yang ternyata dari istri tercintanya, jangan lupakan juga dengan senyum manis yang terukir indah disudut bibirnya.


"Mas...kami mau jalan jalan, tapi Radith minta ditemani kita sama Mas" ucap Nara, sebenarnya wanita cantik itu merasa tidak hati mengganggu pekerjaan suaminya tapi dia juga tidak mau langsung menolak permintaan putrnya.


Rajehs diam sejenak, sebenarnya banyak pekerjanya tapi mengingat sekarang ada bahaya yang mengancam terpaksa Rajesh meninggalkan pekerjaanya, lagipula jika dipikir pikir mereka sudah jarang keluar bertiga.


"Tidak sayang, Mas tidak banyak pekerjaan dan lagi bisa dikerjakan nanti malam" jawab Rajesh, "kita langsung ketemu di Mall saja ya sayang"


"Benar Mas tidak masalah meninggalkan pekerjaan?"


"Iya sayang, Mas tidak masalah...sudah ya, Mas langsung jalan sekarang biar makan siang bersama sekalian"


"Kami tunggu ya Mas"


"Iya sayang, tapi tolong berikan dulu ponselmu pada supir" pinta Rajeh.


Tanpa bertanya Nara langsun memberikan ponselnya pada supir yang selalu mengantar jemputnya, "pak, ini suami saya mau bicara"


"Baik Nona" supir mengambil ponsel Nara kemudian langsung menempelkan ditelinganya dan siap untuk mendengarkan apa yang hendak disampaikan tuan mudanya, "selamat siang Tuan Muda" sapanya.


"Bawa istir saya keman dia mau, ingat...! jangan beranjak darinya sebelum saya datang" titah Rajehs.


"Baik Tuan Muda, saya mengerti"

__ADS_1


"Kembalikan ponselnya"


Tanpa membantah lagi, supir langsung mengembalikan ponsel majikannya membuat Nara sedikit tertarik untuk mengetahui apa yang dibicarakan suaminya, "apa yang kalian bicarakan?" tanya Nara


"Tuan Muda hanya menyuruh saya untuk mengantarkan Nona Muda dan Tuan kecil kemana Nona mau" jawab supir dengan sikap tenangnya, layaknya seorang pengawal yang sangat berpengalaman dan memang itulah kenyataanya.


"Hanya itu?"


"Benar Nona, sekarang kita akan kemana Nona Muda?"


"ke Mall"


Mobil mulai melaju, sedangkan Nara dan Radith duduk dengan manis dikursi penumpang bagian belakang, sambil sesekali mereka bercerita terutama seputar pelajaran yang hari ini dipelajari Radith dan Nara ingin agar putranya mengulas kembali.


Sampai di Mall yang dimaksud Nara, mobil berhenti sedangkan supir sesuai dengan perintah tuan mudanya, dia dengan sigap mengikuti langkah majikannya membuat Nara dan berhenti dan bertanya.


"Kenapa mengikuti kami Pak?" tanya Nara.


"Apa Daddy yang meminta?" tanya Radith yang lebih peka terhadap situasi.


"Saya akan menemani anda menunggu Tuan Muda Nona" jawabnya dengan wajah datarnya.


"Tidak usah, lebih baik kamu pergi saja"


"Tidak apa Mom, silahkan saja sekalian makan siang" usul Rajesh, dia ingin agar perintah ayahnya tidak diabikan oleh ibunya.


"Baiklah, kita sekalian makan siang"


Mereka berjalan menuju Mall, duduk disalah saru meja dan menunggu Rajesh disana hingga beberapa saat kemudian panggilan untuk Nara terdengar.


"Nara...!"


"Sayang....!".


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2