STORY OF NARA

STORY OF NARA
sebentar


__ADS_3

Sampai di Mension, seperti biasa Radith kembali ke Mension sedangkan kedua orang dewasa itu kembali menjalankan mobil menuju Apartemen.


"Nana.... bagaimana jika kamu tinggal di Mension saja, lagian kita beberapa hari lagi akan menikah" usul Rajesh.


Nara mengalihkan perhatiannya, menatap Rajesh yang fokus mengemudi, Mension mana yang kamu maksud?" tanya Nara dengan kening mengkerut.


Rajesh terkekeh sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Nara yang menurutnya sedikit lucu karena kepolosan Nara yang bertanya kemana akan tinggal, " tentu saja di Mension Saker, memangnya dimana lagi? berharap di Mension Fernandese ya" goda Rajesh membuat Nara merona malu.


Sebenarnya bukan maksud Nara seperti yang dikatakan Rajesh, tapi karena memang Nara benar benar hanya sekedar bertanya dimana tapi malah tak disangka Rajesh malah menggoda dirinya.


"Eh...bukan itu maksudku, aku hanya memang berniat bertanya saja kok dan bukan apa apa" jelas Nara dengan pipi yang masih merona merah.


"Tidak apa apa kok Jika kamu juga ingin tinggal di Mension Fernandese, agar kita bisa dekat dan sering bertemu beberapa hari menjelang pernikahan" goda Rajesh semaikin gencar.


"Ish kau ini sangat menyebalkan...!" cebik Nara membuat Rajesh terbahak.


"Aku hanya ingin menggoda, kamu tinggallah dirumah keluargamu beberapa hari ini" kata Rajehs.


"Emm... tapi terlalu jauh jika aku berangkat dari Mension" kata Nara menjelaskan keraguannya.


"Tidak masalah, aku juga akan tinggal di Mension dan akan menjemputmu setiap pagi, dan kalau siang hari jika aku tidak bisa maka Leo yang akan menjemputmu" kata Rajesh menjelaskan.


"Baiklah, aku akan kembali ke Mension nanti malam" kata Nara pada akhirnya menuruti keinginan calon suaminya.


"Nanti malam sebelum makan malam aku akan mengantarmu" kata Rajesh.


"Baiklah"


Kembali hening yang terjadi, tidak ada lagi bahan bicara yang melibatkan keduanya dan untungnya mobil yang membawa keduanya sudah sampai di apartement.


"Kau pulang saja Leo, besok jemput di Mension saja" kata Rajesh.


"Baik Tuan Muda, saya pamit pergi" pamit Leo.


"Pergilah!'


Dua pasangan yang sebentar lagi akan halal itu berjalan memasuki apartement menggunakan lift dan memasuki apartement masing masing karena sesuai dengan kesepakatan jika nanti Nara akan kembali ke Mension Saker.


"Masuk dan berbereslah" kata Rajesh.


"Baiklah, kau juga" kata Nara yang dijawab anggukan disertai senyuman manis dari bibir pria itu.


***


Sesuai dengan kesepakatan, malamnya sebelum jam makan malam, Nara sudah bersiap dengan pakaian yang sudah tersusun rapi dalam koper, apartement sudah dibersihkan lebih dulu karena memang Nara tidak akan kembali lagi ke apartement itu.


"Sudah siap?" tanya Rajesh setelah pintu apartemen dibuka oleh pemiliknya.


"Sudah, aku hanya membawa beberapa pakaian saja, sisanya biar disini saja" jawab Nara menunjukan hanya satu koper yang dia bawa.


"Tidak masalah, nanti akan ada yang membersihkan apartementmu dan apartementnku juga tiap minggunya" kata Nara.

__ADS_1


"Ayo berangkat" ajak Nara.


Mereka sudah sampai di parkiran, memasuki mobil lalu mulai berjalan membelah jalanan yang masih terlihat pengendara berlalu lalang entah kemana dan tujuan kemana.


"Sudah beritahu orang rumah?" tanya Rajesh memecah keheningan.


"Belum, aku ingin memberikan kejutan untuk mereka" kata Nara.


"Ohh"


Selama perjalanan, kedua pasangan itu asyik berbincang dan bercengkrama menimbulkan tawa jika ada hal lucu yang sedang mereka bahas hingga tak terasa mobil yang mereka kendarai kini sudah memasuki pelantara Mension Saker membuat satpam disana langsung bergerak cepat untuk membukakan pintu.


"Selamat Nona Muda, selamat malam Tuan Muda"


"Selamat malam Mang, maaf ya merepotkan" kata Nara dengan senyum manisnya.


"Tidak apa Non, inikan sudah tugas Mamang" jawab Mamang dengan hormat.


"Ini Mang, untukmu" kata Rajesh memberikan benerap lembar pecahan ratusan ribu untuk satpam Mension Saker.


"Astaga Tuna Muda...ini banyak banget rejekinya terimakasih ya Tuan" Kata Mamang dengan guratan bahagia dan bersyukur dimatanya.


"Tidak masalah Mang, untuk keluarga itu" jawab Rajesh dengan sedikit senyum tersungging di sudut bibirnya.


Nara tersenyum, merasa bangga dengan sikap Rajesh, walau dia tidak tau apakah tulus atau tidak tapi tetap saja Rajesh sudah menunjukan rasa kemanusiaannya, tapi jika ditelisik lagi Nara yakin jika Rajesh benar benar ikhlas memberikannya.


"Mari Mang"


"Silahkan Non, semua ada didalam"


"Ayo masuk"


Keduanya memasuki ruang tamu, sepi tidak ada orang disana, dan langkah keduanya kembali melangkah untuk masuk lebih lagi menuju ruang keluarga karena Nara sangat yakin jika keluarganya pasti ada disana.


"Ayo kita masuk saja" ajak Nara yang dijawab anggukan oleh Rajesh.


Dan benar saja dugaan gadis cantik itu, ayah dan kakaknya sedang asyik bercengkrama sembari menunggu makanan siap di sajika oleh dua waniya cantik yang menjadi penghuni unggul dalam Mension itu.


"Haiii guyzz..." sapa Nara.


Serempak kedua pria yang sedang asyik berbicara itu menoleh kearah sumber suara, senyum bahagia terbit di sudut bibir mereka saat melihat siapa gerangan yang datang menyela waktu mereka.


"Haiiii Princess..." sapa Anan dan Lionl bersamaan.


"Maaf ya mengganggu kalian" kata Nara bencanda membuat sang Kaka mendengkus sebal mendengarnya.


"Sejak kapan adikku ini merasa tidak enak hati!" ketus Lionel sebagai respon dari perkataan adiknya.


"Astaga kakak....ada apa denganmu, akukak ingin bersikap sopan pada kalian " cebik Nara dengan alasannya.


"Ckck.... biasanya juga kekanakan tidak mau peduli situasi" sindir Lione.

__ADS_1


Anan dan Rajesh hanya terkekeh mendengar perdebatan itu, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.


"RF.. kau juga datang?" tanya Anan yang baru tersadar jika bukan hanya Nara putrinya yang datang.


Lionel yang mendengar sapaan ayahnya spontan mengalihkan perhatiannya dan melihat Rajesh yang rupanya berada tidak jauh dari tempat mereka.


"Kau juga datang rupanya?" tanya Lionel merasa tidak enak hati.


"Iya, maaf jika menggangu" jawab Rajesh.


"Tidak, tidak masalah, ayo duduk" jawab Anan.


"Loh kenapa bawa koper? diusirkkah?" celutuk Lionel dengan pertanyaan konyolnya.


Nara kembali dibuat berdecak sebal dengan pertanyaan konyol kakanya, bagaimana bisa kakaknya berpikir dia diusir dari apartemennya sendiri, sunggu menjengkelkan memang seperti itu.


"Apa menurut Kaka penghuni apartement sendiri bisa diusir!" ketus Nara.


"Barang kali pemilik yang melakukannya" jawab Lione asal.


"Itu tidak mungkin kakak, kenapa Kakak jadi menyebalkan siah" kesal Nara.


"Emm maaf, tapi saya yang memintanya untuk tinggal disini beberapa hari kedepan samapi hari pernikahan kami" jawab Rajesh menjelaskan kedatangan mereka.


"Loh ada putri Ibu,...? nak Rajesh juga ada?" tanya Ibu yang baru saja dari dapur menaruh panci makanan diatas meja makan.


"Selamat malam Ibu" sapa Rajesh.


"Bu... putrimu sangat rindu" kata Nara dan bergegas mendekat dan memeluk ibunya.


"Ibu juga merindukanmu sayang, apa kau akan tinggal?" tanya Naina yang melihat koper yang berada tidak jauh dari tempat menantunya.


"Iya Bu, ini permintaan Rajesh" kata Nara.


"Memang seharunya seperti itu sayang, dan sebenarnya dari kemarin Ibu ingin memintanya hanya saja Ibu tidak mau kamu merasa ibu terlalu mengaturmu" kata Naina sesungguhnya.


"Kenapa Ibu berkata seperti itu, aku akan datang jika Ibu minta tapi ya... harus ada alasan logis" kata Nara dengan menyengir kuda.


"Dasar kau ini ya..."


"Kalian sudah makan?" tanya Anan.


"Belum Ayah, kami belum makan malam saat kesini" jawab Nara dengan cepat saat tau Rajesh hendak menjawab.


Dan dia sudah menebak jawaban apa yang akan diberikan calon suaminya itu dan sudah pasti jawaban yang bertujuan untuk menolak.


"Lebih baik kita makan malam dulu" ajak Anan.


Rajehs sebenarnya merasa tidak enak hati dengan ajakan itu tapi melihat pemaksaan dari Anan calon ayah mertuanya membuatnya terpaksa ikut dan kini mereka sudah berada di ruang makan untuk memulai malam malam


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2