
Nara memasuki kamarnya dengan perasaan sedih bercampur kesal sedangkan keluarganya hanya bisa mengehela napas, berusaha mengerti perasaan Nara yang saat ini sedang sangat sensitive.
"Maafkan Martha ya" lirih Martha.
"Tidak sayang, justru Ibu yang ingin minta maaf karena Nara bersikap tidak sopan padamu" jawab Naina.
"Tidak, aku tidak mempermasalahkannya Bu.. aku mengerti perasaanya saat ini" jawab Martha dengan senyum tulusnya.
Martah mengerti dan sangat paham akan hal itu, bagaimanapun sesama wanita pasti akan merasakannya dan mungkin jika itu Martah di posiais Nara pasti dia juga akan bertindak demikian.
"Mungkin Martha akan bersikap seperti itu juga jika yang diposisinya adalah aku" lanjutnya.
"Terimakasih sayang"
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, dan Ayah harap nanti agar tidak menyinggung hal ini lagi padanya" lerai Anan sekaligus mengultimatum anggota keluarganya.
"Mommy" panggi Radith saat melihat ibu sambung ya memasuki kamar.
"Loh belum tidur sayang?" tanya Nara dengan senyum manisnya.
Walaupun perasaanya sedang kacau lagi, tapi Nara tentu saja tidak bisa melampiaskannya pada Radith, sebisa mungkin wanita cantik itu mengesampingkan perasaan galaunya jika sedang putranya.
"Belum Mom, aku belum mengantuk" jawab Radith mengatakan apa yang tengah dirasakannya.
Nara mendekat, lalu menaiki ranjang dan duduk bersandar dikepala ranjang, "kemarilah tidur dipangkuan Mommy" titah Nara.
Dengan segera Radith menurut, tentu saja dia tidak akan menolak perintah Nara yang memang sangat disukai posisi tidur dengan Nara yang mengelus rambutnya hingga tertidur.
Radith menghadap perut Nara, tangannya bergerak meraba perut Nara, "semoga kami bisa tumbuh dalam perut Mommy ya adik kecil" gumam Radith tapi masih bisa tertangkap pendengaran Nara, membaut wanita cantik itu kembali berkaca kaca tapi dengan cepar memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya dari putranya.
Dengan cepat Nara mengusap sudut matanya, mencegah air matanya tumpah membasahi pipinya yang akan membuat Radith nantinya tau.
"Mommy" Radith rupanya sangat peka terhadap sikap ibu sambungnya, Nara yang tadinya berpikir Radith tidak akan tau, rupanya sudah tau jika saat ini Nara tengah menangis.
"Maafkan ucapan Radith jika sudah membuat Mommy bersedih, Radith tidak akan meminta adik" ucap Radith sungguh sungguh.
"Tidak sayang, jangan seperti itu" cegah Nara dengan cepat, "tapi Mommy mau tanya deh, bukankah dulu kamu tidak suka adik?" walau Nara sudah mendengar tadi di ruang keluarga tapi tetap saja Nara ingin mendengar lagi dari mulut Radith.
"Aku hanya takut Mommy dan Daddy tidak menyayangiku lagi" jawab Radith dengan mata yang berkaca kaca, "tapi... sekarang Radith ingin sekarang Radith ingin punya adik karena aku yakin Mommy dan Daddy pasti akan tetap menyayangiku" lanjut Nara.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu sayang, Mommy dan Daddy pasti akan tetap menyayangimu" saut Nara.
"Tapi Radith tidak mau lagi kalau itu membuat Mommy bersedih lagi" kembali Radith lagi mengungkapkan isi hatinya dan itu membuat Nara kembali bersedih.
__ADS_1
"Berdoa untuk Mommy ya sayang, semoga adikmu bisa segera ada" pinta Nara.
"Tentu, tentu saja aku selalu berdoa agar bisa punya adik" jawab Radith dengan cepat.
"Sudah, ayo kita tidur lagi" ajak Nara dan akhirnya keduanya tertidur dengan Radith yang berada dalam pelukan Nara, pelukan yang sejak tiga tahun terakhir ini memberikan kehangatan padanya, kehangatan dari seoang ibu yang sejak kecil diidamkan.
Sore harinya, Nara terbangun, waktu sudah menunjukan pukul lima sore sedangkan Radith masih saja terlelap dalam tidurnya didekapan Nara membuat wanita cantik itu tersenyum.
Inilah yang selalu disukai Nara dari anak sambungnya, mampu memberi penghiburan tersendiri untuk Nara terutama dari setiap sikap Radith yang begitu menyayangi dirinya.
"Sayang.... bangun ini sudah sore" Nara mengusap lembut pipi Radith.
Radith menggeliat manja tapi bukan untuk bangun, justru Radith malah semakin masuk dalam pelukan Nara dan kembali memejamkan matanya dan mencari posisi nyaman untuk terlelap.
Nara hanya terkekeh melihat sikap putranya, "sayang ayo bangun..." Nara kembali membangunkan putranya.
"Lima menit lagi Mom" saut Radith dengan suara serak.
"Sayang... lekaslah mandi, takutnya Daddy pulang" ucap Nara lagi.
Dengan malas Radith bangun dan duduk menyandarkan punggungnya dengan malas di kepala ranjang, dan Nara juga turut serta duduk dan bersandar.
"Bersihkan dirimu sayang, Mommy akan mengaambilakn pakaian salinmu" ucap Nara.
Beberapa menit kemudian, Radith sudah selesai dan Nara langsung memakaikan pakaian untuk putranya, "sudah, kita turun temani adik Raisa dan Mommy akan memasak untuk kita" ajak Nara.
"Ok Mom"
Nara dan Radith langsung keluar dari kamar, menuruni tangga dan langsung menuju ruang keluarga, "temani adik Raisa ya sayang" titah Nara.
"Ok Mom,"
"Kak.. aku bantu" ucap Nar setelah sampai di dapur.
"Tentu, ayo kita masak bersama" jawab Martha.
"Ibu lebih baik temani Raisa dan Radith saja ya" pinta Nara.
"Iya Bu, lebih baik ibu temani kedua cucumu saja" timpal Martha.
"Baiklah, kalau begitu Ibu temani kedua cucu Ibu dulu" pamit Naina.
Setelah kepergian Naina, mendadak hening mengambil alih suasana dapur, baik Martha maupun Nara sama sama bungkam, Martha sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Nara bungkam dengan pikirannya yang merasa bersalah dengan sikapmua terhadap kakak iparnya tadi siang.
__ADS_1
"Kakak ipar" panggil Nara dengan lirih.
"Ya, ada apa Nara?" tanya Martha dengan suara yang terlihat santai saja.
"Maaf" cicit Nara.
Martha mengerutkan keningnya, Martha paham maksud Nara hanya saja dia mengikuti perkataan ayah mertuanya untuk bersikap biasa saja dan tidak mengungkit hal itu lagi.
"Maaf karena aku bicara kasar dengan kakak tadi siang" jelas Nara dengan mata yang berkaca kaca.
Martha hanya tersenyum mendengar penjelasan Nara, "tidak Nara, kakak sama sekali tidak marah dan lagi kakak mengerti dengan perasaanmu dan maaf jika ucapan kakak juga membuat kamu bersedih" ucap Martha.
"Tidak... kakak tidak bersalah, aku yang salah karena mengikuti perasaanku yang terlalu sensitive ini" ucap Nara.
"Kakak paham perasaanmu, semua wanita akan seperti itu bahkan kakak juga akan seperti itu jika berada diposisimu hanya saja kakak akan tetap bilang untuk tetap bersabar, yakinlah Tuhan akan memberikannya jika sudah waktunya" jelas Martha dengan lembut.
"Terimakasih kak"
"Sudah, ayo kita masak lagi" ajak Martha, "malam sebentar lagi akan tiba"
Nara menganggukan kepalanya, dengan semangat wanita cantik itu membantu kakak iparnya memasak dan tentu saja wanita cantik itu senang karena memasak kali ini ditemani oleh kakak iparnya, tidak seperti saat di rumahnya yang hanya memasak sendiri.
Selesia dengan kegiatan itu, Nara seperti biasa langsung membersihkan dirinya, jangan tanyakan dari mana pakaian salin, tentu saja karena pakaian lama Nara masih tersusun rapi didalam lemari di kamarnya.
"Mommy...." panggilan Radith membuat langkah Nara terhenti
"Yes sayang"
"Apa Daddy masih lama?" tanya Radith.
"Sepertinya sayang, kata Daddy tadi pagi agak malam pulangnya, memang kenapa?" tanya Nara diakhir kalimatnya.
"Tidak ada, kalai Daddy pulang malam lebih baik kita tidur disini saja, aku masih ingin bersama adik Raisa" ungkap Nara
"Tunggu Daddy pulang sayang, Mommy tidak bisa menjawabnya" ucap Nara.
"Baiklah Mom" jawab Radith dan Nara kembali melangkah menuju kamar untuk membersihkan dirinya.
.
.
Bersambung...
__ADS_1