
Clara terdiam mendengar penuturan suaminya, dia tidak berpikir sampai kesana, justru sebaliknya dia berpikir jika menantunya sedang dalam mode marah padanya tapi tak taunya suaminya justru lebih peka dalam mambaca situasi.
Rajesh juga ikut diam, dia juga sependapat dengan penjelasan ayahnya, karena dia bisa merasakan sikap istri yang saat ini yang salah sangka dan menatap kearah ibunya sejak tadi sejak di meja
"Apa boleh kami pindah Pa?" tanya Rajehs pada akhirnya.
"Papa sudah bilang jika itu demi kebaikan maka lakukan saja tapi alangkah lebih baik berembuklah terlebih dahulu dengan istrimu, tanyakan bagaimana pendapatnya tentang usulan papa" jelas Heru.
Clara yang merasa tidak perlu membantah lagi apalagi setelah mendengar penjelasan suaminya tentang situasi saat ini membuat Clara akhirnya menyetujuinya, karena mungkin memang ini yang terbaik, mungkin dengan begini menantunya bisa lebih leluasan dan tidak terlalu merasa terbebani.
"Bagaimana menurut Mama? apa Mama mengizinkan jika kami tinggal di mension kedua?" tanya Rajesh, Pria itu tetap meminta pendapat mamanya bagaimanapun juga peran ibunya sangat penting sebagai orang tua.
Clara menghela napasnya terlebih dahulu, walau berat tapi dia tidak boleh egois, "Mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika itu memang sudah menjadi keputusan yang terbaik maka lakukan saja tapi.... boleh kan kalau mama sering main kesana?" tanya Clara dengan wajah cemasnya.
"Tentu saja bisa Ma, kenapa harus bertanya dan meminta ijin seperti ini? ada ada saja Mama ini" kekeh Rajesh.
"Ohh syukurlah Mama masih boleh kesana" ucap Clara dengan nafas leganya.
"Hei... apa yang kamu pikirkan kata tanya apa mau berfikir anak-anak kita akan melarang untuk kesana? tentu saja tidak, bahkan jika kita ingin menginap di sana sekalipun itu tidaklah masalah, Papa mengusulkan hal ini hanya karena ingin menghindari hal-hal seperti yang terjadi tadi sore" jelas Heru karena heran dengan respon istrinya.
"Mama hanya tidak mau jika dibenci sama anak dan menantu Mama" ungkap Clara apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Astaga Mama...itu tidak mungkin kami lakukan, bahkan Narapun tidak akan melakukan hal itu, Mama tidak salah, semua hanya kebetulan dan situasi yang tidak menundukung saat itu, jadi jangan merasa terbebani terus seperti ini" Rajshs meyakinkan ibuhya agar tidak menyalahkan dirinya terus menerus seperti ini karena dia yakin jika istrinya tidak akan mungkin menyalahkan apalagi marah pada ibu mertuanya.
"Jadi rencananya akan pindah ke Mension kedua?"
tanya Clara.
"Belum tau Ma, aku harus membicarakan ini bukan pada Nara, dan perpindahan kami semua tergantu persetujuan dirinya, aku tidak ingin memaksakan kehendakku, aku ingin semua keputusan berdasarkan keputusan kami bersama" jelas Rajesh bijak yang tidak ingin memikirkan keputusan dirinya sendiri.
"Baguslah, bicarakan secepatnya dengan istrimu agar kita bisa mempersiapkan perpindahan kalian.
"Baikllah Pa, aku masuk kamar dulu" pamit Rajehs.
"Pergilah"
Sementara didalam kamar Radith, Nara sibuk mengajarkan Radith untuk mengerjakan tugas, bukan hanya itu saja, wanita cantik itu juga mengajarkan Radith soal soal SD sesuai dengan request putranya dan Nara dengan senang hati melakukannya, dengan begini mungkin dia bisa melupakan apa yang baru saja terjadi, sesuatu yang sampai kini masih mengganggu pirikannya.
__ADS_1
Rajehs yang melihat keasyikan dua orang yang dicintainya hanya tersenyum, dia membayangkan jika kelak Tuhan memberikan mereka kepercayaan untuk memiliki anak maka dia akan melihat pemandangan seperti ini setiap saat dan itu pasti akan sangat membahagiakan untuknya.
"Ekhmmm" Rajehs berdehem membuat dua orang yang sedang asyik dengan dunia mereka itu menoleh kearah Rajesh, Nara tersenyum manis melihat suminya sedangkan Radith kembali fokus pada pekerjaanya yang diberikan Nara.
"Sedang apa sih? kok asyik banget sepertinya" ucap Rajehs dan mendekat kearah dua orang tersayangnya.
"Mengajarkan anak kita unutk belajar, dia minta diajari pelajaran SD agar nanti bisa lebih unggul dengan teman temannya nanti saat SD katanya" adu Nara.
"Ohhh....putra Daddy sudah persiapan rupanya?" tanya Rajehs.
"Tentu Dad, aku harus bersiap agar terus bisa jadi unggulan dan membanggakan Mommy" jawab Radith membuat Rajesh masam.
"Jadi kau hanya ingin membuat Mommy saja yang bangga sedangkan Daddy tidak begitu maksudmu?" tanya Rajesh pura pura marah.
"Hei Dad...tidak cocok jika harus masam begitu, tentu saja aki juga ingin membuat Daddy bangga karena apa? karena nanti Daddy yang akan memberiku hadiah" ucap Radith membuat Nara tertawa, dia tidak habis pikir dengan otak licik putranya yang selalu saja menguras ayahnya.
"Ohhh jadi Daddy hanya ada untuk memberi hadiah sedangkan yang lain, misalkan kebanggaan, kesenangan dan sebagainya itu Mommy iya ha?"
"Sudahlah Dad, yang penting Daddy sudah ikut berperan walau sebagai penyumban" hibur Radith membuat Rajehs semakin melotot tak percaya dengan perkataan anaknya.
"Ohh jadi hal seperti ini juga kalian kompak ya, tapi tidak apa apa.. apapun untuk orang tersayang Daddy makam Daddy akan lakukan" ucap Rajesh.
Matanya lekat kearah Nara, melihat tawa lepas tanpa kepura puraan dari istrinya dan itu karena Radith, Rajehs semakin yakin jika Nara benar sangat ingin memliki anak dan pria tampan itu hanya bisa berharap Tuhan bisa mendengar setiap seruan doa dan hati mereka.
"Aku senang jika kamu bahagia seperti ini sayang, Mas harap Radith bisa membuatmu terhibur dimasa penantian kita" batin Rajehs penuh harap dan terus menatap istrinya dengan mata sendunya.
"Sudah ini sudah larut, lehih baik kita tidur dan kamu Radith juga sebaiknya tidur, besok kamu harus ke sekolah lagi kan?" tanya Rajesh mengingat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Tapi Dad, aku belum menyelesaikan tugas dari Mommy" bantah Radith.
"Mom, apa ini bisa jadi PR?" tanya Rajesh pada istirnya.
"Tentu saja bisa, besok malam Mommy akan memeriksa lagi dan sekarang kami lebih baik tidur" kata Nara.
"Temani aku Mom, Dad" pinta Radith.
"Tentu saja, sekarang ayo kita tidur, ayo Mas temani putra kita" ajak Nara.
__ADS_1
Mereka bertiga bergegas menuju ranjang yang tidak kalah besarnya, dan itu muat untuk mereka bertiga, Radith kali ini berada ditengah tengah ayah dan ibunya karena memang dia ingin posisi seperti itu.
"Tidurlah sayang, Monnya kan memelukmu" ujar Nara.
"Ok, good night Mom, good nigth Dad" sapa Radith.
"Good night sayang, tidurlah"
Radith memejamkan matanya, dia tidur dan Nara dengan setia mengelus lembut rambut putra sambungnya sedangakan Rajesh sibuk menatap istrinya yang penuh kasih sayang pada Radith.
"Ayo kita ke kamar" ajak Rajesh setelah memastikan Radith tertidur"
Nara mengangguk, dia beranjak dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkan anaknya, melangakah menuju pintu kamar untuk keluar dengan gerakan perlahan juga, dan memasuki kamar mereka sendiri.
"Sini sayang... Mas pengen ngomong sama kamu sebentar" pinta Rajesh pada istrinya agar duduk disebelahnya.
Nara menurut setelah membersihkan wajahnya terlebih dahulu, duduk bersebelahan dengan Rajehs yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menelusup kan kepalanya didada bidang suaminya.
"Ada apa Mas? sepertinya ini penting" tanya Nara.
"Iya ini sedikit penting, dan Mas ingin meminta pendapatmu" ucap Rajesh.
"Apa itu? katakan saja" pinta Nara.
"Bagaimana menurutmu jika kita pindah di Mension kita sendiri?" tanya Rajehs hati hati, tanganya menbelai lembut rambut Nara yang tergerai indah menjuntai ke bawah.
Nara menatap mata suaminya, dia sedang mencari alasan dibalik pertanyaan suaminya, tapi wanita cantik itu tidak mendapatkan apa alasannya hingga akhirnya memilih untuk bertanya saja.
"Kenapa bertanya demikian?" Tanya Nara.
Rajehs menarik nafasnya terlebih dahulu, sebelum menjelaskan alasannya, alasan yang pastinya tidak akan dikatakan yang sesungguhnya karena itu akan membuat istrinya semakin tidak enak hati.
.
.
Bersambung...
__ADS_1