
Malam harinya, ternyata Rajehs pulang lebih cepat dari yang diprediksi walau memang tetap malam tapi tidak selarut yang dipikirkan, Rajehs datang disaat keluarga Saker sedang makan malam.
"Hallo.... sayang....Mas pulang" Rajehs berseru memanggil Nara, tidak ada rasa sungkan padanya seolah dia sudah menjadi penghuni lama dalam kediaman itu.
Nara yang mengetahui suaminya sudah pulang langsung bergegas, "sebentar ya semua, Mas Rajehs sudah pulang" pamit Nara dan langsung menyambut kepulangan suaminya.
"Mas... sudah pulang?"
Nara meraih tangan Rajesh dan mencium punggung tangan suaminya, kebiasaan yang sudah rutin dilakukan Nara setiap Rajehs akan berangkat dan pulang kerja dan juga selalu dibalas dengan kecupan sayang dikening wanita cantik itu sehingga tidak ada rasa sungkan lagi pada keduanya.
"Radith mana sayang?" tanya Rajehs.
"Sedang makan, ayo kita masuk dulu Mas" ajak Rajehs.
Rajehs mengikuti langkah istrinya, keduanya berjalan beriringan dengan jemari yang saling bertautan, "selamat malam semua..." sapa Rajesh.
Pria tampan yang terkenal arogant itu tetap memiliki entitut yang baik, dengan lempang menyalami kedua mertuanya bergantian membuat senyum hangat dari pasangan paru baya itu terbit.
"Kenapa kamu baru pulang?" tanya sekedar berbasa basi dengan menantunya.
Ya, sekarang semenjak dari Rajesh menjadi menantunya kini panggilan dan obrolan yang selalu melibatkan mereka jauh lebih akrab layaknya anak dan orang tua, bukan seperti dulu saat masih menjadi rekan kerja.
"Habis dari luar kota Yah, ninjau lokasi proyek baru" jelas Rajehs.
"Jangan terlalu lelah" ucap Anan.
"Tentu saja Yah, aku akan istrahat jika lelah"
"Sudah makan saja dulu, kamu pasti belum maka kan Nak?" Naina ikut angkat bicara tapi bukan menimpali perkataan suaminya melainkan memberi perhatian pada menantunya.
"Iya, kebetulan aku sudah lapar Bu" jawab Rajehs tanpa sungkan langsung mengambil posisi duduknya dan Nara yang memang peka langsung bergerak melayani sang suami.
"Kenapa kamu tidak menyapa kakak iparmu" Lionel sepertinya sedang melakukan protes dengan sikap adik iparnya yang mengabaikannya.
"Selamat malam kakak ipar" sapa Rajesh tapi tepatnya ditunjukan pada Martha membuat Lionel menggeram kesal sedangkan Martha hanya tersenyum pada Rajehs.
"Hei...! aku yang menegurmu, kenapa malah menyapa istriku" sergah Lionel.
"Kau ada disitu?" pertanyaan tak bersalah dari Rajehs justru membuat Lionel kembali meradang.
__ADS_1
"Tunjukan kau sebagai adik ipar, jangan bersikap seperti itu pada kakak iparmu"
"Kalau kamu bicara terus, kapan aki bisa makan" ucap Rajehs tak kalah kesalnya.
"Lah anak ini ya, makan ya makan saja"
"Maka jangan mengajakku bicara" saut Rajesh membuat Lionel hanya bisa menggerutu dalam hati.
Dia pikir dengan menjadi kakak ipar Rajesh ,maka dia bisa sesuka hati bicara pada Rajehs tapi ternyata dia salah, Rajehs tetaplah Rajesh, pria dingin dan arogant yang tidak akan mengalah pada siapapun.
"Dasar anak ini, adik ipar tapi tidak menghargaiki, awas saja kamu" geram Lionel dalam hati dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam, semuanya berkumpul diruang keluarga sementara Rajehs yang ditemani Nara masuk kedalam kamar lama Nara, tujuannya adalah karena pria tampan yang lebur bekerja itu ingin membersihkan diri.
"Ada pakaian Mas disini sayang?" tanya Rajehs.
"Ada Mas" jawab Nara dan langsung menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian suaminya.
"Mas mandi dulu"
Selesai mandi, Rajehs langsung menggunakan pakaiannya, "kita berangkat malam ini sayang?" tanya Rajesh.
"Oh ya? yasudah kita kembali ke bawah saja" ajak Rajesh.
Mereka menururni anak tangga satu persatu dan benar saja, Radith masih asyik bermain dengan Raisa anak dari Lionel dan Martha, membuat pasangan itu saling melihat kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Radith..." panggil Rajehs membuat anak kecil itu menoleh.
"Radith ingin menginap disini Dad" Radith tetnu saja peka dengan apa yang hendak dikatakan ayahnya mengingat Rajesh sudah berpakaian dan segar, dan ditambah dengan perkataan Nara sore tadi membuat Radith cepat tanggap.
"Kenapa berkata seperti itu? Daddy saja belum bertanya" Rajesh tidak habis pikir dengan tingkah putranya, sepertinya tingkat kepekaan putranya tidak jauh berbeda dengannya.
"Karena aku sudah yakin jika Daddy akan bertanya 'kita mau pergi atau menginap' begitu pasti" jawab Radith cuek, fokusnya masih pada Raisa yang sejak tadi bermain boneka.
"Kenapa?"
"Ada Raisa Dad, dan aku ingin bermain dengan gadis cantik ini" jawab Radith tanpa sungkan mengatakan Tiada cantik, karena memang menurutnya Raisan merupakan balita yang sangat menggemaskan.
"Baiklah, malam ini kita menginap" putus Rajesh akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Putramu sepertinya memiliki kepekaan yang tinggi" ucap Anan saat Rajehs menghempaskan bokongnya dan ikut bergabung dengan mereka.
"Benar Yah, putraku memang sangat peka" bukan Rajehs yang menjawab melainkan Nara yang menyetujui pendapat ayahnya mengenai Radith.
"Itu bagus, jadinya kedepan dia bisa menentukan mana yang baik dan tidak, dia juga. bisa menjadi penerus yang hebat"
"Ayah benar, mungkin lebih hebat dari adik iparku" celutuk Lionel.
Rajehs mendengkus sebal mendengar perktaan Lionel yang selalu mengatakan adik ipar untuk memanggilnya, berasa pendengaran Rajehs geli setiap kali mendengarnya.
"Berhenti memanggilku seperti itu, rasanya sangat menggelikan" ketus Rajehs, tapi Lionel malah terkekeh senang melihat respon Rajesh.
"Itu memang kenyataan kawan, kau adalah adik iparku jadi terima saja kenyataan" ucap Lionel.
"Ckck.. bahkan umurku jauh lebih tua darimu" decak Rajesh.
"Hei Tuan Fernandese, jangan lupakan kamu hanya tua beberapa bulan saja jadi jangan terlalu berbangga" sergah Lionel.
"Tetao saja aku lebih tua, dan seharusnya kau saja yang memanggilku Kakak" ucap Rajehs dengan senyum liciknya.
"Ckck.... kau akan tetap jadi adik iparku" keukeh Lionel.
"Sudah sudah.... kalian pria sama sama dingin didepan orang lain, menjaga wibawa sebaik mungkin dihadapan orang lain tapi disini? cih biasanya hanya terus berdebat jika bertemu" lerai Anan.
Sementara ketiga wanita itu hanya bersikap acuh, tidak mau ikut campur dengan obrolan para pria yang hanya bisa berdebat terutama Nara dan Martha yang benar benar tidak mau ikut campur karena memang hal seperti ini sudah sering sekali terjadi jika berkumpul seperti itu.
"Kau juga Lionel, jangan terus menggodanya dengan sebutan itu, lebih baik kau memang memanggil namanya saja" ucap Anan membuat Rajehs merasa diatas awan karena dibela mertuanya sedangkan Lionel hanya membuang wajahnya kesal.
"Dan kau juga Rajesh... jangan suka meremehkan putraku, karena bagiamanapun benar yang dikatakan jika kau adalah adik iparnya dan tidak pantas memanggilmu kakak" lanjut Anan membuat raut wajah Rajehs berubah masam sedangkan Lionel kembali tersenyum cerah.
"Pokoknya kalian panggil nama saja satu sama lain" putus Anan pada akhirnya.
Obrolan obrolan kembi terjadi dan kini melibatkan semuanya, baik para wanita maupun para pria terlibat dan sesekali terdengar tawa renyah dari ruang keluarga di kediaman itu mana kala ada yang menurut mereka lucu, tak jarang juga terdengar suara Radith dan Raisa bersahutan saat Radtih sedang gemas gemasnya pada Raisa membuat anak kecil itu tak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi balita cantik itu dan pada akhirnya berakhir dengan Raisa yang akan menjerit dan menangis sebagai wujud protesnya terhadap sikap Radith.
.
.
Bersambung...
__ADS_1