STORY OF NARA

STORY OF NARA
butuh anak


__ADS_3

Martha melototkan matanya mendengar perkataan adik iparnya, dia tidak menyangka jika adik ipar dan Reyhan si mantan dari adik iparnya sudah bertengkar dalam waktu dekat ini.


"Loh kok bisa sih?" tanya Martha.


"Kejadiannya sangat cepat, Reyhan tiba tiba datang dan melayangkan pukulannya pada suamiku, alasanya karena Rajesh sudah merebutku darinya" helaan nafas berat terdengar dari Nara, tapi sesungguhnya bukan itulah beban pertama yang menghantui pikirannya, melainkan masalah yang paling membuatnya sensitive.


"Sudahlah, biarkan saja dia seperti itu" ucap Martha, "cukup pikirkan keluargamu, Kakak yakin jika nanti dia akan menyerah sendiri" lanjut Martha.


"Mudah mudahan ya Kak" ucap Nara.


"Sudah, lebih baik kita bergabung dengan mereka saja" ajak Martha yang dijawab anggukan oleh Nara.


"Baiklah Kak"


Kedua wanita cantik itu akhirnya melangkah menuju ruang keluarga bergabung bersama dengan keluarga yang lainnya.


"Sayang... pinjam ponsel Mommy dong" pinta Nara dengan lembut.


"Astagaa ini ponsel Mommy, jadi untuk apa pinjam" kata Radith yang merasa lucu dengan omongan ibu sambungnya.


Nara hanya terkekeh mendengar anaknya berkata seperti itu, dia memang sengaja berkata seperti itu dan itulah yang dia sukai, putranya bukan putra yang cepat tersinggung, "Mommy pake dulu ya sayang, mau telpon Daddy dulu" ucap Nara.


"Ok Mom"


Nara berlalu sebentara mencari tempat yang hening untuk menghubungi suaminya, sedangkan di restoran Rajehs masih menikmati makan siangnya yang hampir selesai, tapi saat ponselnya berbunyi, tangannya dengan cepat menghentikan aktifitas makanannya dan menjawab panggilan dari wanitanya.


"Hallo Mas..." sapa Nara.


"Iya sayang, kamu sudah selesai makan siang?" tanya Rajehs.


"Sudah Mas, maaf ya karena Radith yang jawab panggilannya" ucap Nara.


"Tidak apa sayang, oh iya.. anak itu sudah makan siang juga?" tanya Rajehs, walau tadinya sudah mendengar jawaban putranya tapi jawaban dari Nara jauh lebih melegakan menurut Rajesh.


"Sudah Mas, tadi di jalan sambil makan, sengaja begitu biar gak kelaparan orangnya" jawab Nara.


"Ohh baiklah sayang, terimakasih" ucap Rajesh.


"Mas udah makan siang juga?" tanya Nara.


"Ini masih di restoran dan setelahnya langsung berangkat" jawab Rajesh.


"Yasudah, Mas hati hati ya nanti di jalan"


"Pasti sayang, tunggu Mas sampai pulang ya"

__ADS_1


"Iya sayang, sudah ya aku matikan telponnya dulu" pinta Nara.


"Iya sayang"


Leo yang berada disamping Rajehs hanya bisa berdiam saja, walau sebenarnya dalam hati meresa mual dengan majikannya yang terlalu lebai bicara pada istirnya tapi mau bagaimana lagi Leo hanya perlu menebalkan telinga untuk mendengar hal Hela seperti itu setiap saja.


"Ckck.... lebai sekali Tuan Muda ini, giliran sama saya saja bicaranya garang terus" batin Leo.


"Jangan membicarakanku dalam hatimu Leo, atau hatimu akan gagal berfungsi setelahnya" gertak Rajehs.


Leo tersentak tiba tiba mendapat teguran dari Rajesh, dia berpikir mungkin Tuan Mudanya masih asyik kasmara tapi ternyata matanya sudah sangat jeli membaca ekspresi Leo.


"Sial... matanya tidak pernah lengah" batin Leo.


"Saya tidak melakukan hal itu Tuan Muda, saya hanya terlalu menikmati makan siangku" elak Leo.


"Sungguh?" tanya Leo penuh selidik.


"Tentu saja Tuan, dan em... sepertinya ini waktu kita berangkat"


Rajehs mendengkus sebal mendengar Leo yang terus terusan mengingatkan dirinya untuk mereka segera berangkat, "jangan pikir bisa lepas dari hukumanku Leo, lihat saja nanti" ancam Rajehs lalu beranjak dari kursinya, "kau bayar sendiri saja" ketus Rajehs.


"Baik Tuan Muda" jawwab Leo, "tidak masalah karena ATM Tuan ada bersamaku" lanjut Leo dalam hati, senyum liciknya tentu saja terbit tapi bukan dihadapan Rajesh.


"Ehh ponakan aunty udah bangun ya..?" Nara mengambil alih Raisa dari gendongan ibunya, dan balita cantik yang memang sejak dulu sudah dekat dengan Nara langsung tersenyum dan senang bukan main karena bertemu dengan Nara.


"Aunty..." panggil Raisa dengan bahasa cadelnya.


"Iya sayang, uhhhh gemes banget sihh" Nara mengajak Raisa untuk duduk di karpet bulu yang memang sudah disiapkan diruang keluarga agar Raisa bisa duduk dan bergerak beba di lantai.


Sedangkan Radith yang entah sejak kapan menyukai anak kecil langsung mendekat dan ikut duduk dilantai yang beralaskan karpet bulu itu, "adik cantik... kita bertemu lagi" ucap Radith dan langsung mencium pipi Raisa dengan lembut.


Raisa hanya tertawa menanggapi tingkah Radith membuat anak kecil berusia tahun itu semakin merasa gemas dan seketika Radith memelik erat Raisa dan menciumnya berulang kali.


"Radith suka adiknya?" tanya Anan.


"Suka, sangat menggemaskan" jawab Radith tapi fokusnya masih pada Raisa yang sibuk mencabuti bulu karpet yang tak kunjung tercabut.


"Kenapa suka?"


"Karena sangat menggemaskan, tapi nanti kalau Radith punya adik, aku mau adik Radith lebih cantik dari Raisa" jelas Radith membuat Nara bungkam.


"Loh kenapa?" tanya Martha.


"Biar aku bisa sayang terus padanya"

__ADS_1


Nara hanya diam mendengar ocehan Radith yang entah kenapa justru membuat perasaan Nara hancur, jangan dirinya bahkan anak kecil saja sudah mengharapkan kehadiran seorang anak kecil dalam rumah tangga mereka tapi entah sampai kapan penantiannya terjawab.


"Kamu mau kalau adiknya dari mama Nara?" tanya Martha.


Bukan tanpa alasan dia bertanya demikian, karena setau mereka semua dan itu sudah bukan rahasia umum lagi, jika Radith sejak dulu sangat menolak seorang adik karena takut kasih sayang Nara dan Rajesh akan terbagi untuknya tapi kini mulut anak kecil itu dengan mudahnya mengungkapkan kesukaannya.


"Tentu saja aku mau, tapi sampai sekarang belum ada" lirih Radith, wajahnya mendadak berubah sendu menandakan jika anak kecil itu sedang bersedih karena hal itu.


"Loh bukankah Radith tidak suka punya adik dari Mommy?" kali ini Nara yang ikut bertanya, dia ingin tau tanggapan anaknya saat ini.


"Itu dulu Mom, tapi kini Radith sangat ingin punya adik, teman taman Radith semua sudah punya adik dan mereka terus saja membicarakan adik mereka" lirih Radith.


Nara mengatupkan bibirnya, rupanya bukam hanya dia saja yang merasa bersedih dan hancur tak punya seorang anak, putranya juga ternyata menyimpan kesedihan karena tak kunjung memiliki seorang, dan sudah bisa dipastikan jika rasa iri ada dalam diri Radith hanya saja anaknya itu berusaha untuk menyembunyikannya.


"Nak..." Naina mengusap punggun Nara membuat wanita yang berstatus istri itu langsung menoleh.


"Jangan bersedih sayang" lirih Naina, sengaja mengecilkan suaranya agar tidak didengar oleh Radith.


"Boy... sepertinya sekarang waktunya tidur soremu" ucap Nara.


"Aku tidur di kamar Mommy?" tanya Radith yang langsung dijawab anggukan oleh Radith dan bocah itu langsung bergegas menuju kamar ibunya tanpa curiga jika saat ini ibu sambungnya sedang mengusirnya secara tidak langsung.


Selepas kepergian Radith, air mata Nara jatuh begitu saja tanpa bisa diajak kompromi lagi, sedangkan Naina sebagai seorang ibu langsung memeluk sayang putrinya.


"Jangan menangis sayang" ucap Naina.


"Aku hanya tidak habis pikir, dimana kesalahannya Bu, kenapa hingga kini aku belum bisa menjadi wanita yang sempurna untuk suami dan kuargaku" keluh Nara, wanita cantik itu sudah tidak bisa membendung air matanya.


"Bersabarlah lagi sayang, mungkin saat ini belum waktunya" ucap Naina.


"Jangan terlalu memikirkannya sayang, asalkan Rajesh tidak menuntutmu" timpal Anan.


"Tapi aku tau Mas Rajehs pasti menginginkannya juga Yah" sanggah Nara.


"Tapi tidak memaksakan bukan"? sergah Martha.


"Jangan menjadikan ini alasan untuk kamu mempersalahkan dirimu, bersabarlah lebih sedikit lagi pasti penantian itu akan segera datang" lanjut Martha.


Nara berdiri dari duduknya, "bicara tidak semudah kenyataan kak, dan semua aku yang merasakannya" ucap Nara lalu pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya yang lama.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2