STORY OF NARA

STORY OF NARA
jaga hati jaga mata


__ADS_3

Hari hari terus dijalan Nara dengan bahagia, suaminya selalu berusaha membuat Nara mengukir senyum bahkan putranya juga ikut memberi warna terhadap gadis cantik itu, terkadanh kedua prianya akan berdebat untuk mencari perhatian darinya dan itu membuat Nara semakin bahagia.


Apalagi Nara yang diperbolehkan oleh keluarga suaminya untuk tetap mengajar walau sebenarnya Rajesh sangat berat melakukan itu tapi karena terus bernegosiasi akhirnya keputusan adalah Nara tetap bekerja tapi nanti jika wanita cantik itu mengandung makan harus berhenti bekerja, bahkan harus melepaskan jabatannya sebagai seorang PNS walau nanti akan membayarkan denda pinaltinya.


Bayi Rajesh sendiri pinalti itu bukan masalah besar, seberapapun besarnya pasti akan dibayarkan olehnya asalkan nanti istrinya berada dirumah dan fokus mengurus keluarga kecil mereka.


Radith, tentu saja bocah tampan yang semakin lama semakin menggemaskan itu sangat bahagia karena ibunya akan tetap mengajar, tapi terkadang dia harus menahan cemburu kala anak lain mencari perhatian ibunya, tapi lagi lagi hanya bisa menahannya dalam hati karena tidak mungkin mengutarakan keinginannya tehadap Nara, dia takut justru nanti ibunya malah menjauh darinya.


Ya, selalu ketakutan bocah tampan itu adalah takut dijauhi oleh Nara, takut Nara tidak lagi memberikan kasih sayang untuknya, padahal itu semua hanya pikirannya saja, karena kenyataannya Nara sudah sangat menyayanginya bahkan menganggap Radith anak kandungnya sendiri.


Sementara Pasangan lainnya Reyhan dan Cleora sudah resmi bercerai, Reyhan juga sudah melepaskan jabatannya menjadi Direktur diperuasahaan milik Abraham dan kini mulai merintis karirnya pada usaha yang sedang diperjuangkannya.


Walau sebenarnya dia sangat tidak bisa menerima kenyataan karena yang menjadi penyuntik dananya adalah Rajesh, pria yang menjadi rivalnya sendiri tapi mau bagaimana lagi ini semua demi ambisinya untuk tetap merebut Nara, dan dia ingin usahanya berkembang terlbih dahulu barulah nanti dia akan bergerak merebut Nara kembali.


"Sayang..... tolong pasanga dasiku dong..." terima Rajesh dari dalam kamar menuju dapur.


Nada yang sedang berkutat didapur langsung menghampiri suaminya, dia tidak mau jika suaminya kembali berteriak dan mengganggu semua orang, "jangan berteriak terus Mas...nanti orang orang terganggu!" ketus Nara.


"Hehehe...."


Rajehs hanya memasang cengirannya, memasang wajah polos untuk menghindari Omelan istirnya yang tidak akan berhenti sampai dia menghilan dari rumah atau sampai orang tua Rajehs databg dan berkumpul dengan mereka.


"Ishh malah menyengis, sok manis Mas ini" ketus Nara.


"Istriku semakin cantik jika marah seperti jni" rayu Rajeh.


"Apaa sih... lagi marah kok malah dibilang cantik, gimana coba ceritanya" decak Nara menutupi rona wajahnya.


"Kenyataan istriku memang cantik" kata Rajehs lagi yang tidak berhenti menggombali istrinya.


"Sudah ah, selesai" ucap Nara dan mengibas kibaskan tanganya membersihkan dan merapika. pakaian suaminya, memastikan tidak ada sebu yang menempel baju dan jas suaminya yang akan membuat penampilan pria tampan itu tidak sempurna.


"Terimakasih sayang" ucap Rajesh lalu memberi satu kecupan dipucuk kepala Nara.


"Aku lihat Radith dulu Mas" pamit Nara, kebetulan masakannya sudah masak jadi sekalian kembali ke kamar dan memeriksa putranya.


"Sayang....kamu sudah bangun? wahh anak Mommy sekarang makin pintar ya, makin rajin lagi" ucap Nara.


"Tentu saja Mom, aku harus mengikuti apa yang dikatakan disekolah" saut Radith yang tidak secara langsung mengatakan jika dia mengikuti perkataan Nara.

__ADS_1


"Itu anak Mommy yang sangat pintar" puji Nara.


"Sini Mommy bantu berkemas biar cepat" ucap Nara.


"Loh Mommy tidak kerja? kenapa belum bersiap? lebih baik Mommy bersiap saja, aku akan berkemas sendiri" kata Radith mengingatkan ibunya.


"Ohh sayang, kamu benar, yasudah Mommy nerkemas dulu ya" ucap Nara.


"Ok Mom"


Nara memasuki kamarnya, langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri dengan secepat mungkin karena dia tidak mungkin membuat mertuanya menunggu dirinya.


Selesai dengan semua itu, Nara menuruni anak tangga dan menuju meja makan, disana semua sudah ada mertua, suami dan putranya sedang menunggu kedatangannya.


"Maaf membuat kalian menunggu" ucap Nara merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah, kami juga baru saja tiba dimeja makan" jawab Clara yang tidak ingin membuat menantunya merasa tidak enak hati.


"Duduk sayang" titah Rajesh.


Nara mulai melayani suami dan anaknya seperti biasanya, dan Clara juga melakukan hal demikian melayani suaminya sendiri lalu mereka semua makan dengan nikmat tanpa bicara sedikitpun.


"Dad, aku masuk dulu" pamit Radith dan mencium punggung tangan Rajesh.


Saat ini mobil yang dikendarai Rajehs dengan disupiri oleh yang yang sama yaitu Leo sudah berhenti sempurna di depan gerbang, karena memang kini Nara tidak diperbolehkan oelh suaminya untuk menyetir sendiri.


Rajesh akan mengantar dan menjput Nara dan putranya setiap hari dan jika tidak bisa menjemput maka Leo akan menyuruh supir kantor untuk menjemput keluarganya.


"Hati hati sayang, belajar yang pintar" ucap Rajesh.


"Pasti Dad, aku akan belajar dengan baik agar bisa jadi juara kelas" saur Radith dengan penuh semangat.


"Bagus, jika kamu jadi Juara kelas, maka Daddy akan memberikanmu hadiah" ucap Rajesh membuat Radith berbinar bahagia.


"Sungguh Dad?"


"Sungguh, apakah Daddy pernah berbohong padamu?"


"No Dad"

__ADS_1


"Maka kau pasti tau jawabannya kan?".


"Tentu saja Dad, dan apa boleh kali ini aku yang memilih hadiahku?" tanya Radith.


"Tentu saja, katakan saja nanti" jawab Rajehs.


"Ok, nanti aku akan mengatakannya" ucap Radith kemudian turun dari mobil.


Nara tersenyum melihat putranya yang semakin hari semakin menggemaskan baginya, semakin hari Radith semakin sering tersenyum dan mau bersosialisasi dengan teman-teman, tidak seperti dulu saat pertama kali bertemu dengannya dan itu sangat disyukuri Nara karena setidaknya dia sudah berhasil membuat kehidupan seorang anak kecil menjadi lebih baik.


"Aku pami Mas" pamit Nara dan mencium punggung tangan Rajesh.


"Hati hati sayang, ingat jangan terlalu lelah bekerja" ucap Rajesh yang tidak pernah berhenti mengingatkan istrinya untuk tidak terlalu berfosil kan tenaganya dalam bekerja.


"Iya Mas, aku tidak akan lelah kok" jawab Nara dengan senyum manisnya, meyakinkan sang suami jika dirinya akan baik baik saja dan tidak akan lelah hanya karena mengajar.


"Baiklah, semoga yang kamu katakan itu benar, kamu tidak ingkar janji" kata Rajesh pada akhirnya mengalah karena sesungguhnya dirinya masih belum rela akan keputusan mereka tempo hari dan dia berharap secepatnya Nara bisa hamil dan wanitanya akan berdiam diri di kediaman saja, mengurus keluarganya, mengantar dan menyambut kedatangannya dari kantor walau sebenarnya itu sudah dilakukan Nara.


"Aku masuk dulu Mas"


"Iya sayang, Mas juga langsung berangkat ya" pamit Rajesh kini gantian.


"Hati hati Mas, ingat jaga mata, jaga hati" ucap Nara becanda tapi penuh nada penekanan didalamnya dan Rajesh paham akan hal itu.


"Tentu saja, Mas akan menjaga mata dan hati untukmu" jawab Rajesh meyakinkan istrihya.


"Aku tau itu, karena jika Mas berani serong, maka aku akan memberimu pelajaran" kekeh Nara.


"Itu tidak akan pernah terjadi"


"Iya...itu tidak akan pernah terjadi sayang, karena aku bukan dia yang dengan mudahnya berbuat bodoh, dan aku bukan pria bodoh menyia-nyiakan perjuanganku mendapatkamu" batin Rajesh.


"Bye sayang"


"Bye Mas..."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2