STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 14


__ADS_3

"Hai boy" sapa Nara.


Radith tidak menjawab saapan Nara, dia hanya menoleh sekilas kemudian kembali berjalan menuju kelas. Nara yang merasa di abaikan langsung mengambil inisiatif untuk menggandeng tangan mungil Radith membuat bocah tanpa itu berteriak.


"Apa yang kau lakukan!" sentaknya.


Nara terkejut mendapatkan respon yang seperti itu dari Radith, Nara tidak menyangka jika bocah tampan ini bisa bersikap kasar seperti ini bahkan kepada gurunya sendiri.


"Radith tidak ada yang mengajarimu bersikap seperti ini" uca Nara dengan tegas.


"Maka jangan sentuh aku!"


"Apa kau punya riwayat penyakit kulit? atau kau alergi jika bersentuhan dengan orang lain?"


Radith mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Nara yang menurutnya tidak masuk akal, bagaimana bisa dirinya yang sangat sehat di beri pertanyaan semacam itu padanya,


"Ckck....pertanyaan konyol!" decak Radith.


"Bukan konyol tapi ini kenyataan Ms.Nara tanyakan padamu" tegas Nara.


"Jangan memberi pertanyaan itu karena jelas aku sangat sehat, tidak ada penyakit seperti itu!" ketusnya.


"Berarti Ms, bisa menggandengmu tanpa takut akan sakit karena tularan darimu" ucap Nara santai.


"Hei-!"


"Jangan membantah jika tidak mau di anggap penyakitan" ancam Nara.


Radith mau tidak mau akhinya diam dan menuruti keinginan Nara, mereka berjalan denhan bergandengan tangan menuju kelas, sesekali Radith akan menengadah untuk mentapa wajah cantik Nara imdi iringi senyum tipisnya.


"Sudah sampai....." ucap Nara.


Radith masih diam saja tapi langkahnya sdah mengayun bergerak maju menuju kelas, semua mata teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan yang berbeda beda melihat dia du gandeng oleh guru cantik mereka.


"Apa kau tidak bisa berjalan sehingga Ms.Cantik itu harus menggandengmu!" ucap salah satu teman prianya dengan sinis.


Radith menlihat bocah seumuranya dengan tatapan tajam, tapi yang di tatap sama sekali tidak peduli seolah tidak takut akan tataoan itu bahkan kini dengan beraninya bersedekap dada di hadapan Radith.


"Aku tidak memintanya" jawabnya cuek.


"Lalu kenapa kau datang bergandengan, kau bisa melepaskan tangannya" sinisnya lagi.


"Ckck... tanyakan saja padanya kenapa harus menggandengku!" ketusnya.

__ADS_1


"Hei kau...! jangan merebut perhatian Ms.Cantik dari kami atau kami akan menghajarmu" ancam teman yang lainnya seraya mencekram bahu Radith dengan kuat.


"Ada apa ini?"


Bariton Nara membuat sekelompok orang yang mengelilingi Radith langsung mundur, mereka menundukan wajah karena takut jika Nara akan memarahi mereka semua, "apa yang kalian lakuka?"


Tidak ada yang menjawab termasuk Radith, mereka semua menunduk tapi tidak dengan Radith yang menatap Nara dengan tajam, "Radith ada apa? apa mereka menyakitimu?" tanya Nara khawatir.


Wajar saja jika Nara Khawatir karena dia jelas melihat bagaimana anak anak lainnya mencekram kasar bahu Radith walau Nara tidaj mendengar pembicaraan mereka.


"Ya, mereka menyakitiku dan itu semua karena kau!" sinisnya.


Nara sangat terkejut mendengar jawaban dari Radith, terkejut karena ternyata teman temannya menyakiti Radith alasan karena Nara, "apa maksudmu boy?" tanya Nara dengan lembut.


Nara berjongkok menghadap Radith, hendak menggapai bahunya tapi dengan kasar bicah tampan itu menepisnya, "jangan menyentuhku! sudah ku katakan jangan menyentuhku..!" teriak Radith dengan marah.


Kembali Nara terkejut mendapati kemarahan Radiht, "Radith, jangab seperti ini" ucap Nara dengan lembut.


"Karena mu mereka jadi mengancamku, dan aku tidak suka harus bertengkar karena hal yang tidak penting!"


Nara berdiri dengan tegak, menatap sekumpulan anak anak yang masih menundukan wajah tidak berani menatap ibu guru mereka yang terlihat seperti marah.


"Katakan apa yang dikatakan itu benar?" tanya Nara dengan suara lembut tapi namapk tegas.


"kemarilah" pinta Nara setelah emosinya sedikit mereda.


Dengan segera anak anak itu mendekat sedelah mendengar nada suara Nara yang kembali lembut seperti kemarin.


"Katakan kenapa kalian harus bertengkar karena Ms.Nara?"


"Kami tidak suka jika Ms.Nara hanya sayang padanya, kami juga mau di sayang sama Ms.Cantik" jawab salah satu anak.


Nara tersenyum mendengar ternyata anak anak itu sedang memperebutkan kasih sayangya, "dengarkan Ms.Nara bicara, tidak ada yang tidak Ms.Nara sayang, tidak ada yang berat sebelah perhatian Ms" ucap Nara lembut memberi pengertian.


"Ms.Nara menggandeng Radith karena kebetulan berjumpa, besok jika Ms.Nara juga berjumpa dengan kalian pasti di gandeng juga, jadi tidak boleh ada sifat cemburu ya" lanjut Nara yang di anggukan oleh semuanya.


Nara tersenyum senang karena anak anak didiknya mampu mengerti apa yang dia katakan, "jadi kalau salah harus apa?" tanya Nara lembut.


"Minta maaf...!" saut mereka berbarengan.


"Bagus....sekarang ayo minta saling minta maaf"


Akhirnya mereka semua salaman dan meminta maaf, Radith yang awalnya enggan unutk bersentuhan dengan orang lain harus melakukan nya setelah mendapatkan tepukan sayang serta senyum hangat dan tulus daru Nara.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang ayo kita mulai belajar dan bermain....!" ajak Nara dengan semangat


"Yeehhhhh.....!" seru anak anak berbarengan dan langsung duduk mengambip tempat masing masing.


Raditht tersenyum tipis mendapati sikap ibu gurunya yang seperti anak kecil tapi sangat menyenangkan bagi mereka, tidak salah bukan jika dia menjadi guru anak paud, selain karena dia suka anak anak Nara juga cepat sekali mengerti keinginan anak anak.


Sementara di salah satu perusahaan terbesar di seluruh kota itu, seorang pria yang tak lain adalah pimpinan atau CEO perusahaan sedang melamun memikirkan sosok Nara yang memiliki paras cantik, wanita yang mampu menarik hatinya.


Dia adalah Rajehs Fernandese, seorang pria tampan yang konon katanya adalah sosok yang dingin, arogan, datar tanpa ekpresi dan yang pastinya dia adalah pria yang tidak pernag tersentuh apalagi dengan makhluk yang namanya wanita selain keluarganya saja yang boleh akrab dan menyentuhnya.


"Ekhm.... Anak mama sedang memikirkan apa hm?"


"Mama" seru Rajehs.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada, oh ya dimana putraku ma?"


"Tentu saja di sekolahnya memangnya di mana lagi" ketus mama.


"Ohhh, apa dia betah? tidak ada yang menyusahkannya kan?, ohh aku tau tidak mungking putraku kesusahan karena aku yakin tidak akan ada yang berani mendekatinya" cerca Rajehs bertanya dan menjawab sendiri juga serta kekehan renyahnya terdengar saat mengingat putranya sama seperti dirinya.


"Ckck kau menertawakan putramu, apa kau tidak sadar jika itu semua menurun darimu" decak mama.


"Wajar saja jika menurun ma, dia kan putraku" jawab Rajesh disertai kekehannya.


"Kalau seperti ini terus, kapan mama punya menantu" gerutu mama.


"Tunggulah sebentar ma, tidak akan lama lagi" jawab Rajesh dengan senyum mengemang di sudut bibirnya membayangkan wajah Nara.


"Benarkah? kau sudah memiliki calon?" tanha mama dengan binar bahagia.


"Belum ma, tapi aku pastikan ini bukan hanya calon tapi akan menjadi menantu mama"


"Ahhhhh mama senang sekali kalau seperti itu, ok lah mama harus menjemput putramu aku yakin saat ini dia pasti sedang memunghi bersama Ms.Nara"


"Siapa itu ma?" tanya Rajesh saat mendengar ada nama orang lain.


"Ibu guru cucu mama, dia sangat cantik dan mama suka sama dia" jawab mama lalu bergegas pergi meninggalkan Rajesh yang kembali melamunkan Wajah Nara.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2