
Nara berjalan menunu apartementnya, tapi baru saja akan memasuki lift, Leo asisten Rajesh berpapasan dengan Nara membuat Nara yanh tadinya ingin memasuki lift jadi berhenti karena Leo yang ingin berbicara padanya.
"Nona, mobik anda sudah selesai dan terparkir di tempat biasa, dan ini kunci mobilnya" ucap Leo dengan tangan yang terulur memberikam kuncil mobil Nara.
Nara menerimanya dengan senang hati dan senyum hangat yang selalu di berikan Nara pada setiap orang juga di dapatkan Leo membuat pria yang tak kalah tampannya drngan Rajesh itu menjadi terpesona, "benar benar mempesona dirimu nona, pantas saja Tuan Muda tidak lagi mau berpaling" batin Leo.
"Terimakasih ya Leo" ucap Nara.
"Sama sama nona, kalau begitu saya peemisi Tuan Muda sudah menungguku" pamit Leo.
Senyum yang tadinya terbit mendadap muram saat mendengar Leo menyebut Tuannya yaotu Rajesh membuat Nara mengingat kejadian tadi pagi dimana dia mendengar sendiri pengakuan Rajesh jika dirinya sudah punya anak yang artinya pria itu sudah menikah pikir Nara.
Di tambah lagi Rajesh tidak memberi kejelasan apa apun walau dia sudah tau raut wajah Nara yang mengharapkan penjelasan tapi Rajesh seolah sengaja untuk tidak menjelsakannya dan membiarkan Nara dengan pikirannya yang berkecamuk.
Ingin sekali Nara menanyakan pada Leo hanya saja dia ragu, ragu jika Leo tidak mengatakan apapu padanya atau malah berbohong nanti untuk melindungi Tuannya.
"Ada apa nona? ada masalahkah?" tanya Leo yang melihat perubahan Nara.
"Ah em tidak ada..." jawab Nara tapi dari sorot matanya menyimpan banyak pertanyaan yang ingin di utarakan pada Leo.
"Benar tidak ada apa apa nona, jika ada sesuatu yang ingin anda katakan maka katakan saja" pinta Leo.
"Emm....ak...aku boleh bertanya padamu?" tanya Nara dengan suara yanh ragu ragu.
"Katakanlah nona, saya akan menjawab yang bisa saya jawab.
"Emm...apa...apa Rajesh sudah punya anak?" tanya Nara.
"Sudah nona, dia berusia lima tahun dan bersekolah di tempat anda mengajar" jawab Leo dengan tegas.
Nara kembali tersentak, tidak bisa di sembunyikan ada raut kecewa yang terpancar saat ini, tidak seharusnya Nara seperti ini karena kenyataan mereka bukanlah siapa siapa tapi mengapa ada rasa tidak rela pada kenyataan jika Rajesh sudah punya putra yang berarti sudab punya istri pula, lalu kenapa Rajesh masih mendekati dirinya jika sebenarnya dia sudah memiliki keluarga.
Tidak, tidak bisa lagi akal Nara memikirkan semuanya, kepalanya tidak mampu berpikir lagi dan memutuskan untuk menghindari Rajesh walau dia sendiri tidak tau apakah nanti akan sanggup menghindar mengingat pria yang kini mendekatinya adalah termasuk pria pemaksa, yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginanya.
Sedangkan Leo bertanya tanya dalam hatinya melihat ekspresi gadis incaran tuannya seperti ini, Leo jadi berpikir jika Tuannya tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Nara masih melontarkan pertanyaan padanya.
"Apa Tuan Muda tidak mengatakan sebenarnya pada nona Nara?" batin Leo.
__ADS_1
Ah sepertinya lebih baik Leo tidak ikut campue saja, biarkan permasalahan ini menjadi urusan majikannya dan dia yakin untuk semua yang di lakukan Tuan Mudanya Rajesh memiliki alasan sendiri dan Leo hanya akan menunggu hasil akhir dari kisah cinta kedua insan ini.
"Ah sudahlah, kenapa aku harus pusing, sudah cukup aku pusing menhadapi Tuan Muda, aku tidak mau pusing lagi karena masalah percintaan mareka" batin Leo lagi.
"Baiklah nona, tidak ada lagi yang ingin pertanyakan? jika tidak, saya harus pergi Tuan Muda sudah menungguku" ucap Leo.
Nara mengangguk dia tidak mau menahan Leo lebih lama, dia juga tidak mau menanyakan lebih dari ini. Nara takut jika semakin ia mencari tau maka akan semakin ada kesesakan di dadanya walau sebenarnya dia juga tidak tau alasana kenapa dirinya merasa sesak.
"Pergilah, dan terimakasih sudah membantuku" ucap Nara dengan berusaha memaksakan senyumnya.
"Sama sama nona" jawab Leo, "entah bagaimana reaksinya jika dia tau kalau Tuan Muda sengaja menyuruhku mengempeskan pan mobilnya, apa dia akan mengamuk atau bagaimana aku tidak tau lah" lanjut Leo dalam hati.
Mereka berpisah, Nara memasuki lift sedangkan Leo keluar menuju mobilnya. Dia akan kembali ke kantor dan mungkin dia akak mempertanyakan hal ini pada Tuan Mudanya agar dirinya tidak mati penasaran dengan hubungan mereka.
Walau tadi Leo mengatakan tidak mau mengurusi masalah kedua majikannya tapi ternyata jiwa keponya tidak bisa di kendalikan lagi, berasa tidak afdol rasanya jika tidak mengetahui hubungan percintaan Tuan Mudanya yanga baru kini dia tau karena selama dirinya bekerja dengan Rajesh, tidak sekalipun Leo mendengar adanya berita kedekatan Rajesh dengan seorang wanita, makanya Leo tidak mau ketinggalan berita untuk yang satu ini.
Sementara Nara memasuki apartementnya dengan wajah lesunya, dia patah semangat mendengar kenyataan, walau tadi dia memutuskan untuk menghindari Rajesh dan tidak mau mengurusi masalah pria tampan itu tapi dalam hati kecilnya tingkat kepo lebih dominan kini mendorong dirinya untuk mengetahui lebih dalam tentang pria itu walau nanti mungkin dia akan terluka.
"Apa aku cari tau?" gumam Nara dalam perjalanan kakinya menuju kamar apartement
"Tapi jika aku kepo nanti dia berfikir jika aku menyukainya, padahal kan aku tidak suka padanya. Lagian kenapa sih aku harus kepo coba, kan aku tidak mau berurusan denganya malahan aku harusnya senang jila dia sudah memiliko istri jadinya aku ada alasan untuk mengusirnya"
"Aduh pusing.....rasanya kepalaku mau pecah saja gegara pria itu! keluh Nara.
"Nara sayang...."
Sebua panggilan membuat Nara berhasil diam, mendadak lidahnya kembali keluh, tenggorokannya tercekat melihat siapa yanh datang di apartementnya. Siapa lagi jika bukam Reyhan.
Pria yang sudah menggores luka di hatinya, pria yang membuat cintanya kandas kembali datang walau sudah di usir oleh sang pemilik tapi sepertinya kata menyerah belum ada dalam kamus hidup Reyhan.
"Reyhan..." lirih Nara.
Keduanya saling menatap, Reyhan menatap Nara dengan sejuta kerinduan yang bergejolak meminta di obati dengan pertemuan sedangkan Nara menatap Reyhan dengan perasaan iba. Nara iba melihat penampilan Reyhan yang sangat acakaan tidak terurus, walau dulu Reyhan dari keluaga sederhana tapi Reyhan selalu menomorsatukan penampilanya agar selalu menarik perhatian Nara alasan Reyhan dulu.
"Nara sayang....Aku sangat merindukanmu" ucap Reyhan dan langsung memeluk tubuh Nara.
Reyhan menangis dalam pelukan yang tidak berbalasa itu, ya Nara tidak membalas pelukan itu tapi tidak juga melepaskannya. Walau bagaimana pun dirinya meridukan pelukan hangat pria itu, pelukan yang dulu memberikan kenyamanan padanya tapi kini rasa itu sedikit berbeda dan Nara tidak tau apa penyebabnya.
__ADS_1
"Pelukan ini....pelukan ini sangat aku rindukan Rey, tapi kenapa? kenapa rasanya sedikit berbeda? kenapa rasa nyaman itu mulai tidak aku rasakan dalam pelukanmu? apa kau sudah berubah Rey? atau perasaamu juga sudah berubah? atau malah sebaliknya perasanku yang mulai tidak bisa merasakan kenyamanan itu?" tanya Nara dalam hatinya.
"Ya Tuhan...kenapa rasanya sangat berbeda?" jerit Reyhan dalam hati, "kenapa pelukanmu tidak sehangat dulu Nara sayang, harusnya walau kau tidak membalas pelukanku tapi aku bisa merasakan hangatnya tubuhmu dalam pelukanku, tapi kini..kini terasa asing Nara, terasa hambar seolah kita baru bertemu dan bersentuhan seperti ini. kemana semua itu Nara? kemana hangatnya pelukanmu? benarkah kau sudah tidak mencintaiku lagi hingga pelukanmu pun tidak dapat lagi aku rasakan? tapi...tapi rasanya sangat sulit menerima kenyataan itu Nara, hatiku terlalu lemah menerima kenyataan ini...ku mohon Nara, sedikit saja ada secerca harapan dalam untuk bisa kembali memilikimu" batin Reyhan.
Nara yang sudah tidak merasakan pelukan yang sama seperti dulu perlaha melepaskan dan mendorong tubuh Reyhan perlahan, awalnya memang Nara ingin memastikan perasaanya melihat hatinya teriris melihat penampilan Reyhan tapi setelah adehan ini membuat Nara sadar akan pikirannya yang sempat berniat ingin memberikan kesempatan pada Reyhan.
"Apa yang sudah aku pikirkan Tuhan, aku tidak boleh seperti ini, akan ada hati wanita lain yang akan terluka jika aku seperti ini dan lagi rasanya Reyhan sudah mulai asing bagiku" batin Nara mengusir pikiran senewennya yang sempat terlintas.
"Pulanglah Rey, jangan menyiksamu dengan cara seperti ini. Kau tau dengan keadaanmu yang seperti ini kau pun secara tidak langsung menyisaku" ucap Nara.
"Jika kau tidak mau aku dan dirimu tersiksa maka kembali padaku Nara, mari kita mulai dari awal lagi Nara..Ayo sayang kita mulai dari awal" desak Reyham seraya meremas lembut kedua tangan Nara.
Perlahan tapi pasti Nara melepaskam genggaan tangan Reyhan dan matanya memandang lekat wajah mantan kekasihnya, "semua sudah berbeda Rey, jangan memakaskam sesuatu yang sulit untuk kita lalukan" jawab Nara.
"Tidak sayang, tidak akan sulit. Makanya kembali lah padaku lebih dulu agar kau tau tidak akan sulit karena kita masih saling mencintai" sanggah Reyhan.
"Maaf Rey, aku tidak bisa" tolak Nara.
"Tidak Nara...kau tidak bisa seperti ini, cintamu masih untukku...jangan berbohong padaku, walau aku merasa pelukanmu sudah berbeda tapi sorot matamu masih tersimpan cinta untukku, aku bisa melihat itu Nara..aku bisa melihat itu" sanggah Reyhan.
"Ti...."
"Reyhan....!" seru seseorang.
Nara yang tadinya ingin menjawab kembali ucapan Reyhan terpaksa berhenti mendengar suara yang memanggil Reyhan terlebih lagi setelah melihat siapa gerangan orang itu. Dia adalah Cleora istri dari Reyhan.
Ya, Cleora datang ke apartement Nara menyusul sang suami yang kata asistennya sudah keluar beberapa menit yang lalu dan Cleora sudah bisa menebak kalau suamiya pergi ke apartement Nara untuk menemui mantannya.
Dan benar saja dugaan Cleora, Reyhan datang menemui Nara, memohon untuk kembali bersama dengan gadis cantik yang masih berseragam PNS itu dan Cleora mendengar semua pembicaraan keduanya bahkan adegan pelukan yang di lakukan keduanya atau tepatnya suaminya Reyhan yang memeluk Nara terekam jelas di kamera penglihatannya membuat gadis muda itu mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
Karena tidak sanggup lagi akhirnya Cleora memutuskan mendekati kedua insan itu, menghentikan pembicaraan yang menurutnya konyol karena suaminya yang terus memohon dan Nara yang masih saja keukeh menolak padahal sudah jelas sekali jika masih ada cinta di mata Nara untuk Reyhan yanh dilihat Cleora.
"Cleora...." gumam keduanya bersamaan.
.
.
__ADS_1
Bersambung...