
Rajehs tercengang mendengar permintaan istrinya, pria tampan itu tentu saja sangat terkejut mendengar permintaan yang untuk pertama kalinya Nara ucapakan, tapi tak lama kedua tangan pria itu terkepal kuat, nafasnya memburu berusaha menahan amarahnya yang ingin memuncak.
"Jangan negantur Nara....! walau kau bercanda, aku tidak suka dengan perkataanmu" ucap Rajesh penuh penekanan.
"Aku tidak bercanda Mas, aku sungguh mengatakan hal ini" jawab Nara dengan penuh keyakinan diwajahnya walau sebenarnya dalam hati dia merasa sangat sakit mendengar perkataanya sendiri.
"Apa kamu sudah gila...!" bentak Rajehs.
Kali ini pria itu sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, kali ini sikap dan ucapan Nara tidak bisa ditolerir lagi, kali ini Nara sudah benar benar keterlaluan menurut Rajesh dan mungkin bagi sebagian orang lain juga pasti akan menganggap wanita cantik itu sudah sangat keterlaluan karena dengan tenanganya meminta suaminya menikah kembali.
"Jangan membuatku menjadi pria brengsek dengan permintaan mu Nara... jangan membuatku memiliki cela dalam cintaku padamu karena permintaan konyolmu..." Rajehs memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya gar tidak leas kendali pada istrinya.
"....Atau sebenarnya kau ingin lepas dariku? sehingga kau menjadikan diriku tumbal agar kau memiliki alasan terbebas dari ku? apa kau sudah tidak memiliki cinta untukku hingga kau menjadikan cara ini agar terbebas dariku? ohh... tau mungkin kau masih memiliki perasaan pada pria brengsek itu, dan ini rencana kalian berdua agar bisa kembali bersama" Rajehs sudah tidak waras lagi, pikirannya sangat kacau hingga banyak tebakan demi tebakan Rajehs berikan hingga berakhir dengan menuding Nara masih memiliki rasa pada Reyhan.
"Mas...." Ucapan Nara terpaksa terputus kala Rajehs kembali mengucapkan kalimatnya.
"Dengar Nara...! ku tekankan padamu, walau kau meminta berpisah dariku sekalipun, aku tetap tidak akan menikah hanya karena alasan seorang anak, ingat itu...!" ucap Rajehs dengan nada yang penuh penekanan lalu melangkah keluar meninggalkan Nara dan pergi entah kemana.
Brak
Pintu ditutup sanga keras oleh Rajehs hingga membuat Nara terjingkat kaget akan bunyi keras yang berasal dari pintu ruangan suaminya.
Air mata Nara lurub akhirnya, tidak bisa lagi dibendung apalagi dicegah untuk mengalir membasahi pipi Mulu wanita cantik itu, dia sebenarnya juga terluka mengatakan hal itu tapi dia juga sanga terluka karena orang orang sering menjadikan mereka bahan gosip Karena perkara keturunan.
"Hiks.. hiks... maafkan aku Mas, maafkan aku yang sudah menyakiti perasaanmu, membuatmu seperti pria brengesek, aku juga sebenarnya sakit Mas, sangat sangat sakit saat mengatakannya tapi aku tidak punya pilihan lain agar mereka tidak menghujatmu terus, tapi aku tidak menyangka jika perkataanku justru membuat dirimu akan memiliki cela dan orang orang akan menghujatmu juga"
Nara menenggelamkan wajahnya dilkedua lengannya dengan bertumpukan lututnya yang kini posisinya sedang duduk di lantai karena merasa tidak sanggup menopang tubuhnya karena masalah rumah tangganya yang tidak pernah habisnya hanya karena satu problema.
"Maaf Mas... Maafkan aku..."
__ADS_1
Nara terus meracau di tengah isak tangisnya membuat dirinya tak sadar menjadi tertidur dengan posisi yang masih sama seperti saat dirinya tengah menangis sedangkan waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang.
Ceklek
Pintu terbuak menampakan pria tampan yang tadinya pergi meninggalkan ruang tersebut dengan keadaan marah kini kembali dengan keadaan yang kacau dan matanya terlihat sendu menatap keraha Nara yang masih tidak merubah posisi duduknya.
Dengan perlahan Rajesh melangkah mendekati Nara, tangannya bergerak dengan sangat pelan untuk menggendong Nara dan membaringkannya di sofa yang ada didekat Rajehs, sementara Nara sendiri tidak lagi merakana tubuhnya melayang, mungkin karena terlalu lelah menangis hingga tidak menyadari hal itu lagi.
Tangan Rajehs bergerak menyusuri dengan lembut pipi Nara, matanya sendu dan hatinya sakit melihat bekas jejak air mata yang masih melekat di pipi Nara.
"Maaf sayang, bukan maksudku ingin membuatku menangis, hanya saja perkataanku sungguh menyakitiku, menyakiti hatiku yang begi teramat mencintaimu, seolah aku ini tidak ada artinya untukmu hingga dengan mudahnya mulut manismu ini mengucapkan kata haram itu padaku" lirih Rajesh.
Mata berkaca kaca kala mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu saat dengan mudahnya Nara memintanya menikah, membuat pria tampan itu merasa tidak dihargai dan tidak penting bagi Nara.
Tak ingin terus berada disana dengan hati yang semakin hanyut, Rajehs memutuskan kembali keluar untuk menenangkan hatinya, tapi sebelumya pria tampan itu memberi titah pada asistennya untuk terus berada disana hingga Nara tebangun.
" ya Tuan Muda" jawab Leo yang dengan sigap langsung mendekat pada Rajehs.
"Tetap disini, jaga istrimu dan antarkan dia setelah terbangun nanti" titah Rajehs.
"Emm... Tuan, anda mau kemana? tidakkah saya menemani anda saja?" tawar Leo.
"Tidak...! tetpa disini, istrimu jauh lebih membutuhkan tenagamu saat ini" jawab Rajehs dengan penuh ketegasan, memberi isyarat bahwa dia tidak ingin dibantah oleh siapapun termasuk Rajesh.
"Baik Tuan Muda, berhati hatilah" Leo akhirnya mengalah, dia membiarkan tuan mudanya pergi untuk menangkan pikirannya dan tetap berada disana untuk menunggu Nyonya muda mereka bangun agar bisa segera diantarkan pulang.
Walua Leo tidak tau pasti apa yang menyebabkan pasangan itu bertikai tapi pria tampan itu sangat yakin jika itu hal yang sanga menyakitkan keduanya terutama bagi tuan hingga bersikap seperti ini.
"Sebaiknya aku suruh supir untuk menjemput Tuan kecil saja" gumam Leo dan langsung mendial nomor supir kantor untuk menjeput Radith mengingat sudah waktunya untuk anak SD pulang sekolah.
__ADS_1
Selesai dengan itu, Leo kembali menyibukan dirinya di ruangannya sendiri, sembari menunggu Nara bangun dan tak berapa lama setelahnya wanita cantik yang menjadi alasan Leo tidak bersama dengan tuan mudanya sudah terbangun membuat Leo langsung menghampiri Nara.
"Anda sudah bangun Nyonya Muda?" tanya Leo yang kini sudah berada di dalam ruanga Rajehs tepatnya di depan pintu.
Nara menoleh melihat Leo yang berbicara padanya, matanya kembalo bergerak menyusuri ruangan itu mencari seseorang yang sudah dia lukai beberapa jam yang lalu, tapi tidak ditemukan.
"Kenapa suamiku Leo?" tanya Nara dengan suara lirihnya.
"Maafkan saya Nyonya muda, saya tidak tau kemana Tuan Muda saat ini" jawab Leo dengan tenang, karena memang dia sendiri tidak tau kemana gerangan majikannya berada.
"Kenapa kamu tidak tau? kami asistennya harunya kamu tau kemana perginya dan lagi kenapa kamu tidak bersamanya" sentak Nara.
Sepertinya akal wanita cantik itu sudah tidak jernih lagi, penyesalannya dilampiaskam pada Leo karena kesal pada asisten suaminya yang tidak bisa menjaga tuannya.
"Saya juga ingin seperti itu Nyonya Muda, tapi Tuan Muda melarang keras diriku ikut, dan dia menyuruh saya untuk menjaga anda" jawab Leo dengan datar, terlihat sekali dari raut wajah Leo yang merasa tidak senang dengan istri tuan mudanya dan itu bisa dirasakan oleh Nara.
"Cari suamiku Leo, bawa pulang dua untukku" pinta Nara dengan mata yang berkaca kaca.
"Mari Nona saya antarkan anda pulang" Leo tidak menanggapi permintaa istri tuan mudanya, karena baginya itu percuama saja, pun kalau dia menemukan keberadaan Rajehs tapi sudah bisa dipastikan jika Rajehs tidak akan kembali jika bukan keinginannya.
"Cari suamiku Leo" sentak Nara, wanita cantik itu kesal karena tidak direspon oleh Leo, justru dirinya malah secara halus diusir dari perusahaan suami sendiri.
"Mari Nyonya saya antar sekarang" ulang Leo tapi kali ini nada suaranya penuh penekanan, matanya tajam membuat nyali Nara seketika menciut dan mau tidak mau akhirnya mengikuti permintaan Leo.
.
.
Bersambung..
__ADS_1