
"Mas.. berhenti disitu" Nara menyentikan suaminya dengan setengah berteriak membuat Rajehs mengerem mendadak mobilnya dan alhasil, mereka terhuyung kedepan.
"Astaga Mas... bisa bawa mobil tidak sih, untung kepalaku tidak terbentur" teriak Nara.
"Lohh Mas juga gini karena kamu berteriak dan minta berhenti mendadak, sontak saja Mas terkejut" Rajesh berusaha membela dirinya, tidak ingin dipersalahkan lagi oleh istrinya yang bersikap aneh hari ini.
"Ohh jadi Mas mengatakan aku bersalah begitu" mata Nara kembali berkaca kaca, "Radith, apa Mommy bersalah?" lanjut Nara, menanyakan kebenara pada putranya berharap mendapat pembelaan dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Radith menghela napasnya, tentu saja anak itu tau jika semua karena memang ibunya yang meminta berhenti mendadak, jangan ayahnya tidak tekejut, dirinya sendiri juga terkejut saat mendengar teriakan ibu sambungnya.
"Bukan, bukan Mommy yang salah, tapi ini salah Daddy" pada akhirnya Radith harus mengalah dan menyalahkan ayahnya dalam hal ini agar pterkara tidak diperpanjang lagi.
Nara yang mendengar pembelaan putranya tersenyum merekah, "tuh Mas dengarin, aku tidak bersalah" ucap Nara dengan senyum mengembang.
Rajehs hanya bisa menahan kekesalan dalam hatinya, dia mengerti Radith mengatakan hal itu agar istrinya tidak kembali menangis dan pria tampan itu hanya bisa pasrah akan keadaan dimana dia selalu bersalah dalam segala hal.
"Sudah ayo turun" ajak Nara tanpa rasa bersalahnya.
Kedua pria itu hanya bisa menurut tanpa bisa berkomentar lagi, "baru sehari Mommymu bersikap seperti itu, rasanya Daddy sudah ingin tenggelam saja" keluh Rajesh.
"Sabar Dad, aki saja mengambil jalan aman dan Daddy juga harus seperti itu" ucap Radith.
"Ckck... kau mudah mengatakan itu" decak Rajehs.
"Mau bagaimana lagi, bukankah kita sudah sepakat untuk mengiyakan semua ucapan Mommy? mari berdoa saja semoga Mommy kembali sedia kala besok" ucap Radith penuh harap.
"Ya kau benar, dan ayo kita segera mendekat agar Mommymu tidak mengoceh lagi"
"Ayo Mas duduk disini, ayo Boy" seru Nara pada kedua putranya.
Kedua pria yang berbeda generasi itu merasa enggan untuk duduk, melihat tempatnya yang sangat sepi walau memang tertata rapi tapi tetap saja meragukan akan kebersihanya.
"Silahkan Nona, Tuan Muda, tenang saja kami menyajikan makanan yang bersih kok hanya saja memang tempatnya saja yang sederhana" ucap penjual itu yang memanh mengerti rasa enggan dari orang kaya itu.
"Ayo Mas... sudah dengar kalau dia mengatakan bersih, jadi jangan menolak lagi atau aku akan marah" ancam Nara membuat kedua pria itu mau tidak mau akhirnya mengikuti keinginan Nara.
"Pak... ayam gepreknya tiga ya, jusnya.... emm aku mau jus pukat saja, dan duanya lemon saja" ucap Nara memberi request terhadap pesanan mereka dan dia sudah menghafal satu persatu minuman kesukaan kedua pria yang sangat dicintainya itu.
Rajehs dan Radith hanya diam, membiarkan Nara mengatur semuanya karena percuma juga jika komplein kalau akhirnya hanya akan berujung kepasrahaan lagi.
__ADS_1
"Ini Nona, Tuan silahkan nikmati makanannya" ucap pemilik warung setelah beberapa menit memasak untuk tamu yang jika dinilai dari penampilannya adalah orang orang kaya.
"Yeyyy sudah datang" girang Nara dan langsung melahap makanan yang ada dihadapannya.
Rajehs dan Radith hanya menatap tingkah wanita cantik yang seperti orang kelaparan saja, bahkan jika dipikir pikir makanan didalam mensionnya pasti jauh lebih enak.
"Loh ayo makan, nanti keburu dingin" ucap Nara setelah menelan beberap suapan nasinya.
"Sungguh ini enak rupanya Mom? sepertinya Mommy sangat menikmatinya" Radith yang awalnya tidak ingin meliriknya akhirnya angkat bicara mempertanyakan bagaimana dengan hidangannya, memastikan terlebih dahulu sebelum memutuskan akan memakannya atau tidak.
"Tentu saja ini sangat enak, Mommy tidak pernah berbohong dan ini sesaui selera Mommy" jawab Nara.
Dengan ragu akhirnya Radith mulai memasukan dengan perlahan makanan itu kedalam mulutnya, dan matanua melotot tak percaya kala merasakan rasanya membuat Rajehs jadi penasaran.
"Ada apa Boy?" tanya Rajehs penasaran.
"Enak.. ini sangat enak Dad" ucap Radith dan langsung melahap makanannya.
Nara tersenyum mendengar pengakuan putranya"bukankah Mommy sudah bilang ini tidak akan mengecewakan" ucap Nara.
"Mommy benar sekali" jawab Radith, "ayo Dad, cepatlah malam atau kau akan menyesalinya" lanjut Radiht dengan memprovokasi ayahnya.
"Kalian benar, ini sangat enak" ucap Rajehs dan langsung melahap makannya dengan cepat.
"Ini sangat enak, tapi sayang sekali karena tempatnya seperti ini jadinya orang orang kalngan atas tidak meliriknya" ucap Rajehs setelah santapannya tandas.
"Hadeuh... tadi saja meragu" sindir Nara.
Rajehs hanya cengengesan mendengar sindiran dari istrinya, memang benar awalnya dia ragu tapi setelah menikmatinya justru malah ketagihan hingga tak ada sisa sebutir nasipun di piring pria tampan itu.
"Sudah Dad, ayo kita pulang" ajak Radith, "rasanya aku mengantuk setelah kenyang" lanjutnya.
"Tapi aneh, kamu kok bisa makan ini? biasanya juga cuma masakan Mommy maunya?" tanya Rajehs.
"Gimana tidak mau makan kalau melihat Mommy makan dengan lahap" alasan Radith.
"Ah iya kamu benar sekali Boy, itu tandanya kau memang putraku yang pengertian" ucap Nara dengan nada penuh kebanggaan.
"Dasar, mereka kompak sekali" batin Rajehs yang terus menyaksikan percakapan kedua orang yang sangat disayanginya.
__ADS_1
"Sudah ayo kita berangkat" ajak Rajehs yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan anak istrinya yang terus kompak.
"Bayar ya Mas" ucap Nara dan langsung pergi meninggalkan Rajehs dengan menggandeng Radith putranya.
"Astaga... giliran susahnya saja aku pasti yang menjadi tumbalnya" teriak Rajehs dalam hatinya, tapi tapi sejurus kemudian Rajehs tersenyum.
Merasa senang dengan perlakuan Nara dan Radith seperti itu padanya, artinya keduanya menggantungkan diri pada Rajehs dan jujur saja pria tampan itu merasa bangga karen orang orang yang dia sayang bergantung padanya.
"Tidak masalah, itu artinya mereka sangat membutuhkan aku" gumam Rajehs dan Kemudian berjalan mendekat kearah kasir warung yang ternyata bapak pemiliknya sendiri.
Rajehs mengeluarkan beberapa lembar pecahan ratusan dan menyodorkannya kearah pemilik warung, "ini pak uangnya" ucap Rajehs.
"Loh ini sangat Benyak Tuan Muda" ucap pemilik warung yang kaget ada beberapa lembar uang merah di sodorkan padanya.
"Tidak masalah, anggap sebagai ucapan terimakasihku karena bisa membuat istriku makan siang ini" ucap Rajehs dengan datar.
Pemilik warung itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tau kalau tuan muda yang ada dihadapannya ini orang baik hanya saja tidak tau mau bersikap ramah seperti apa, "terimakasih Tuan Muda, saya terima jika anda ikhlas" ucapnya, "tapi kalau boleh tau memangnya kenapa istrinya tidak makan?"
"Entahlah, sejak pagi dia lemas dan siang ini malah minta makan disini"
"Mungkin istrinya lagi ngidam Tuan Muda" terka pemiliknya.
"Tidak mungkin?" lirih Rajehs.
"Loh kenapa tidak mungkin Tuan Muda? bukankah pasangan suami istri ya pasti punya anak?" pemilik warung itu mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ekspresi tamunya yang seperti itu.
"Kami sudah tiga tahun menikah tapi belum dikaruniai anak, jadi mustahil jika bapak sekarang menebak seperti ini" lirih Rajehs tapi secepat kilat mengubah ekspresinya menjadi datar lagi
"Sudah saya pergi" ucapnya kemudian berbalik dan mulai melangkah.
"Saya doakan semoga istri anda segera di beri berkat Tuan" teriak pemilik warung membuat langkah Rajehs terhenti sejenak dan kemudian kembali melangkah.
"Amin, semoga saja Tuhan mendengarnya walau aku sendiri ragu" batin Rajehs lalu kembali melangkah.
.
.
Bersambung....
__ADS_1