STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 8


__ADS_3

"Loh Ms.Nara kenapa di sekolah? bukannya ijin" tanya Dilon.


"Tidak Mr, karena ternyata orang tuaku yang mengunjungiku kemari" jawab Nara dengan senyumnya.


"Oh, baiklah jika seperti itu, selamat bekerja Ms.Nara" ucap Dilon dengan senyum termanisnya berharap Nara akan tertarik.


Nara pun berlalu pergi begitu saja, tanpa melirik atau menanggapi senyum Dilon, karena baginya tidak ada yang lebih menarik senyumnya selain senyum Reyhan kekasihnya.


Ya, mungkin orang orang akan berpikir jika Nara mencintai Reyhan terlalu berlebihan atau mungkin bisa saja mereka berkata jika Nara terlalu bodoh dalam hal cinta, karena apapun yang didapati dari pria lain tidak bida membuat Nara goyah.


Baginya sosok Reyhan adalah sosok pria yang sangat sempurna, sosok yang tidak ada tandingannya, sook yang tidak ada duanya di mata Nara.


Baginya Reyhan bagai dewa cinta bagi Nara yang membuat Nara bisa merasakan indahnya jatuh cinta, bisa merasakan bahagiannya di cintai oleh seorang pria tampan yang jika saja Reyhan memiliki harta maka Reyhan akan menjadi kejaran para wanita.


Tapi sayang Reyhan tidak memiliki itu sehingga tidak sempurna di mata wanita lain, tapi tidak bagi Nara yang begitu memuja kekasihnya walau tidak punya harta tapi tetap saja Reyhan sempurna dimata Nara


"Nara!" seru Vivi dari belakang Nara.


"Iya ada apa?" tanya Nara acuh dan terus melanjutkan langkahnya.


"Bukankah kau bilang ijin hari ini?" tanya Vivi.


"Tidak jadi" jawab Nara singkat.


"Loh kenapa? bukankah kau bilang dia akan kembali dan kau akan menjemputnya?" tanya Vivi yang notabenenya seorang yang kepo.


"Dia tidak jadi kembali karena ada pekerjaan disana" jawab Nara yang terus melanjutkan langkahnya.


"Kenapa tidak bekerja disini saja?"


Nara menghentikan langkahnya, sebenarnya dia enngan untuk membahas ini karena itu akan membuat kembali merindu pada kekasihnya, tapi karena Nara tau kalau Vivi tidak akan berhenti sebelum puas akan sesuatu.


"Vivi! aku mohon jangan membahas dan terlalu tau masalah pribadi orang lain, dan lagi ini tempat bekerja bukan untuk menghibah!" ucap Nara dengan sedikit membentak.


Vivi tersentak kaget melihat Nara membentaknya walau tidak dengan suara nyaring, tapi ini pertama kalinya Nara bersikap seperti ini.


"Maafka aku Nara" ucap Vivi dengan wajah menyesalnya kemudian berbalik.

__ADS_1


"Maafkan aku Vivi, bukan niat ingin membentakmu tapi aku hanya tidak ingin mengingatnya, karena itu akan membuatku semakin merindukannya" ucap Nara penuh penyesalan sudah membentak Vivi.


Vivi tersenyum, dia sama sekali tidak marah justru dia yang merasa bersalah karena terlalu mau tau pribadi Nara sehingga tanpa sadar membuat Nara bersedih.


"Tidak masalah, justru aku minta maaf padamu karena terlalu kepo sehingga tanpa sadar aku membuatmu mengingat dirinya" ucap Vivi.


"Baiklah mari kita masuk di kelas masing masing" ajak Vivi.


Mereka pun masuk dalam kelas masing masing, memulai aktivitas pagi dengan pengetahuan yang di salurkan pada anak anak usia dini.


Tak terasa waktu terus berjalan dan kini waktunya anak anak pulang kerumah masing masing dan seperti biasa Nara tidak akan langsung pulang karena masih harus menunggui anak anak sampai orang tua mereka datang menjemput.


"Nara kau tidak pulang?" tanya Vivi yang lebih dulu anak anaknya di jenput oleh orang tuan mereka.


"Belum Vi, anak anak ku masih ada beberapa lagi yang belum di jemput"


"Kau mau aku menunggumu?" tanya Vivi.


"Tidak usah, mungkin kau terburu buru, jadi pergilah lebih dulu"


"Baiklah aku duluan ya" ucap Vivi dan berlalu pergi meninggalkan pelantara sekolah.


"Kau mau pulang Ms.Nara?" tanya Dilon.


"Belum Mr, anak anakku belum di jemput semua" jawab Nara dan tangannya menunjuk beberapa anak yang masih asyik bermain.


"Kau mau aku menunggumu? jika ya maka aku tidak keberatan Ms, sekalian biar hemat ongkos kan" ucap Dilon yang masih belum mengenal sekali siapa Kanara Sakher.


Nara tersenyum di depan Dilon tapi dalam hatinya dia mengumpati pria itu, apa dia tidak mengenalku pikir Nara,Jika mau Nara bisa mendapatkan sepuluh mobil yang sama denga milik Dilon.


" Tidak udah Mr, aku akan baim taxi saja, lagi pula mungkin anda sedang sibuk" uca Nara


"Sebenarnya tidak sibuk makanya jika Ms mau Ms.Nara bisa barengan pulangnya denganku".


"Tidak udah Mr, aku pulang sendiri saja" jawbanya tetap menolak.


"Baiklah jika kau menolak, aku tidak bisa lagi memaksan" ucap Dilon dan langsung melesat pergi meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Setelah memastikan anak anak didiknya di jemput oleh orang tua mereka, Nara memutuskan untuk kembali tapi dalam perjalanan, Nara melewati danau tempat dia dan Reyhan menghabiskan waktu bersantai jika tidak ada kesibukan.


"Pak, berhenti di danau itu saja" ucap Nara menghentikan taxi.


"Terimakasih pak" ucap Nara dan memberikan ongkosnya.


Kakinya membawa dirinya melangkah menuju danau dan berhenti tepat di tempat biasa dirinya dan Reyhan dulu selalu bersantai dan bertukar pikiran menghabiskan waktu bersama.


Nara menarik nafanya dalam, menikmati kesendiriannya yang penuh dengan kerinduan, untuk pertama kalinya Nara menginjakkan kakinya di danau hanya sendiri dan itu pun membawa rindu yang hingga kini belum terobati.


"Aku rindu Reyhan, entah kenapa harus ada status dan harta yang menghalangi sebuah hubungan, aku benci keadaan seperti ini Rey, aku tidak suka!" gumam Nara memejamkan matanya meresapi semilir angin sore yang menyapu permukaan kuitnya.


"Ku harap ini pertama dan terakhir kalinya aku kemarin sendirian Rey, kedepan bersama kamu lagi" gumamnya lagi.


Nara terus berdiri disana menikmati sore yang kini awannya berubah menjadi mendung, dan tak lama disusul guyuran hujan yang membasahasi bumi.


Nara merentangkan kedua tanganya, wajah menengadah mengahdap lagi mendung agar hujan lebih leluasa mengenai kulit wajahnya.


Senyum mengembang terus saja telihar di bibir Nara tanpa sadar jika sedari tadi ada mata yang terus memandang dirinya dari dalam mobil.


"Kenapa dia seperti anak kecil saja? apa dia tidak takut sakit nanti?" guman orang itu.


Seseorang yang menjadi kepercayaanya mengerutkan kening tidak paham gumaman bosnga, walau hanya sekedar gumaman tapi pendengarannya sangat tajam untuk tidak mendengarnya.


Dia melirik bosnya lewat kaca spion dan kemudian ikut mengedarkan pandangannya ke arah tatapan Bosnya dan dia bisa melihat seorang gadis sedang menikmati curah hujan yang turun.


Kembali lagi dia memastikan dengan melihat bos dan wanita itu bergantian "Apa dia memperhatikan wanita itu?" batinnya


"Apa anda mengenalnya?" tanyanya yang akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaranya.


"Tidak" jawaban singkat di berikan dan dia tidak lagi menlanjutkan pertanyaannya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READER TERCINTA,JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAAA DI BABNYA😍😘😘


__ADS_2