STORY OF NARA

STORY OF NARA
aneh


__ADS_3

Hoek Hoek Hoek


Nara merasakan mual saat mencium aroma makanan yang dibawakan maid dihadapannya, rasanya perutnya di aduk aduk tak karuan tapi saat mengeluarkannya hanya cairan bening saja yang keluar tapi lemas bukan main dirasakan oleh wanita cantik itu.


"Nyonya.. Nyonya Muda tidak apa apa? apa saya telpon Tuan Muda saja" Maid yang tadinya membawa sarapan langsung menyusul Nara ke kamar mandi dan membantu memijit tengkuk Nara untuk meredakan rasa mualnya.


"Tidak udah Bi, aku baik baik saja" jawab Nara, "mungkin karena aku masuk angin saja" lanjut ya.


"Saya hubungi tuan Muda ya Nyonya Muda" ulang maid itu.


"Tidak usah Bi, itu akan mengganggu pekerjaanya" cegah Nara.


"Tapi Nyonya sangat lemas sekali terlihat" sanggah Maid.


"Tidak masalah, aku hanya butuh teh hangat saja dan istrahat lagi" Nara tetap keukeh melerang asisiten rumah tangganya untuk menghubungi suaminya yang pastinya belum lama sampai dikantor.


"Baiklah Nyonya, silahkan istrahat saja tapi minum teh hangat itu terlebih dahulu" ucap Maid dan membantu Nara untuk berjalan menuju ranjang.


"Terimakasih Bi" Nara kembali menyodorkan cangkir yang tadinya berisikan teh dan setelahnya wanita cantik itu kembali merebahkan dirinya.


"Nyonya sungguh tidak ingin sarapan lebih dulu?" Maid itu kembali memastikan pada Nyonya Mudanya, wajar saja karena tanggung jawab itu sudah dilimpahkan Rajehs tadi pagi padanya dan dia tidak mau dianggap teledor apalagi tidak becus dalam mengurus majikannya yang sedang sakit seperti ini.


"Tidak udah Bi, aku belum mau makan dan rasanya akan muntah lagi nanti, jadi lebih baik bawa pergi dari sini makanan itu" titah Nara.


"Baiklah Nyonya, panggil saja saya jika butuh sesuatu" ucap Maid sebelum benar benar pergi meninggalkan ruangan itu.


"Iya Bi" jawab Nara dengan singkat.


Pembantu rumah tangga itu lekas pergi dari kamar Nara, bukan untuk melanjutkan pekerjaanya melainkan masuk dalam kamar sederhananya dan menghubungi tuan mudanya untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi terhadap nyonya muda rumah itu.


Sedangkan di kantor, Rajesh tengah disibukan dengan berkas berkas yang harus di tanda tangani tapi harus terhenti kala ponsel miliknya berbunyi.

__ADS_1


"Bibi...." gumam Rajehs.


Perasaan Rajehs mendadak tak karuan, tidak biasanya pembantu mensionnya menghubungi jika bukan kalau ada kondisi yang mendesak dan dia yakin pasti saat ini ada konsdisi seperti itu, tiba tiba saja ingatannya tertuju pada wanita yang dicintainya yang saat ditinggalnya bekerja belum bangun dari tidurnya.


"Hallo..." Rajesh langsung menjawab panggilannya saat bunyi kedua kalinya.


"Tuan Muda... Nyonya muda baru saja muntah muntah dan tidak mau makan, saya sudah memaksa tapi tetap tidak mau bahkan menyuruh saya untuk tidak mengatakan pada anda kalau dia tengah lemas saat ini" lapor maid itu.


"Apa..." Rajehs sangat terkejut mendengar laporan dari asisiten ruang tangganya, bagaimana bisa seperti itu.


"Iya Tuan Muda, saya tidak tau harus melakukan apa" ungkap Maid itu


"Saya segera kembali kerumah Bi, terus lihat kondisi istriku" titah Rajehs sebelum memutuskan panggilannya.


"Leo... Leo...." Rajehs berteriak memanggil asisitennya dengan wajah yang penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan lagi.


"Ya Tuan Muda"


"Kau urus kantor, aku harus kembali ke rumah, istriku sedang sakit" ucap Rajehs dan langsung melenggang pergi setelah merampas kunci mobil dari Leo.


Rajehs menancap gasnya setelah sampai di mobil, mengemudikan dengan keadaan penuh kepanikkan, bahkan saat ini pria tampan itu mengemudikan dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai segera di mension miliknya memastikan keadaan istrinya bagaimana.


Rasanya jantung Rajehs tadinya seperti dipaksa berhenti berdekat mendengar penjelasan Maid mensionnya, membuat dirinya merasa bersalah karena tidak peka terhadap kondisi istrinya.


Merasa dia tidak becus menjaga istrinya karena pergi begitu saja tanpa mengecek terlebih dahulu bagaimana keadaan istrinya dan alhasil, dia mendengar dari laporan pembantu dan tidak ada disaat istri ya tengah mengalami kesulitan.


"Maaf sayang, harusnya tadi aku tidak berangkat bekerja sebelum memastikan keadaanmu" lirih Rajehs dan terus menancap gas mobilnya agar bisa segera sampai di mension.


Sampai di mension, Rajehs langsung berlari menuju kamar mereka, tidak lagi melihat kiri kanan didalam mension karena fokusnya saat ini adalah kamar untuk menemui istrinya, bahkan maid yang tadinya ingin menyapa kembali menelan katanya sendiri karena tuannya yang tidak menoleh lagi.


"Sayang...." Rajehs memanggil Nara tepat saat pintu kamar terbuka olehnya.

__ADS_1


Rajehs mengusap dengan lembut pipi Nara, membuat wanita cantik yang sedang terlelap itu menggeliat kecil karena merasa terganggu dengan usapan hangat dipipinnya.


"Mas...." panggil Nara dengan suara seraknya, "kenapa sudah pulang?" lanjutnya.


"Kamu sakit sayang, kenapa tidak bilang dan malah kamu melarang maid untuk mengatakan padaku"


Sebenarnya Rajehs ingin sekali marah tapi hatinya tidak bisa melakukan hal itu apalagi melihat keadaan istriya yang sangat lemas saat ini.


"Tidak apa apa Mas, aku hanya butuh istirahat sebentar" jawab Nara dengan memberikan senyum terbaiknya tapi Rajehs tetap tau jika itu senyum paksaan agar terlihat baik baik saja.


"Jangan mengatakan tidak apa apa, ayo kita ke rumah sakit sekrang" Rajehs hendak mengangkat tubuh istrinya tapi kembali terhenti saat mendengar perkataan istrinya.


"Tidak usah Mas, aku hanya ingin istrahat dipeluk Mas" ucap Nara dengan nada manjanya.


Rajehs tersenyum, dengan segera melepaskan jas yang melekat di tubuhnya beserta sepatu dan segera merangkak naik diatas ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping tubuh istrinya yang langsung disambut manja oleh wanita cantik itu.


"Apa akan nyaman dengan pelukan ini sayang?" Rajehs ingin memastikan lagi keadaan istrinya, "kita ke rumah sakit saja ya sayang" bujuknya lagi.


"Tidak mau..!" ketus Nara, "apa Mas tidak mau memelukku rupanya sampai terus membujukku ke rumah sakit? apa Mas tidak suka jika aki bermanja seperti ini" mata Nara berkaca kaca membuat Rajehs hanya mampu menghela napasnya.


"Bukan sayang, Mas tidak keberatan akan hal itu.. Mas hanya ingin memastikan keadaan kamu saja" jawab Rajehs, "sudah kamu tidur saja, jangan menangis" lanjut Rajehs seraya tangannya mengelus punggung wanitanya agar kembali tenang.


Nara mengangguk dan kembali menelusupkan wajanhnya pada dada bidang Rajehs dengan senyum yang merekah dibibirnya, sedangkan pria tampan itu hanya menunjukan ekspresi bingungnya akan tingkah istrinya.


"Ada apa dengan istriku? aneh sekali pagi, tidak seperti biasanya" batin Rajehs tapi tidak bierani untuk menegur karena takut istrinya akan berpikiran lain lagi.


"Mana tidak bisa ditanya lagi, artiannya pasti salah" lanjutnya dalam hati.


Dan akhirnya Rajehs hanya berbaring menemani istrinya yang sudah kembali terlelap dan tak lama setelahnya pria tampan itu ikut memenjamkan matanya yang suali berat karena kantuknya, menyusul Nara menyelami mimpi disiang harinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2