
Dengan berat hati Nara melangkah meninggalkan ruangan suaminya, kepalanya beberapa kali menoleh kebelakang memastikan bahkan sangat berharap dia bisa melihat bayangan suaminya ada disana.
"Leo...."
Panggilan Nara kembali menghentikan langkah Leo yang tadinya berjalan mendahului Nara, dengan penuh kesopanan Leo berbalik Menghadap Nyonya Mudanya.
"Ada yang bisa saya lakukan Nyonya Muda?" tanya Leo dengan nada datarnya.
"Tolong cari suamiku Leo" Nara mengiba pada Leo, berharap kali ini asisten suaminya bisa membantunya kini.
Leo sendiri hanya bisa menghela napasnya dengan berat, "baiklah, tapi Nyonya harus kembali ke mension sesuai dengan perintah Tuan Muda" ucap Leo pada akhirnya memenuhi permintaan Nara.
Leo juga sangat khawatir akan keadaan Rajesh dan tanpa diminta sebenarnya pria tampan itu juga akan mecari tau keadaan dan keberadaan Tuan Mudanya, tapi karena perintah Rajesh adalah yang utama sehingga dengan berat hati Leo mengikutinya.
"Terimakasih Leo" ucap Nara dengan senyum bahagianya.
"Mari Nyonya, waktu sudah sangat siang" Leo malah tidak merespon ucapan terimakasih dari Nara dan memilih untuk mengingatkan Nara untuk segera berangkat membuat wanita cantik itu mendengkus sebal karena sikap asisten suaminya.
"Kau sangat menyebalkan Leo" ketus Nara.
Senyum yang tadinya ditampilkan untuk Leo berubah drastis menjadi tatapan penuh kekesalan tapi pria tampan itu tidak mempermasalahkan hal itu, karena memang menurutnya tidak akan ada berpengaruh padanya.
"Mari Nyonya" ulang Leo saat Nara hanya menatapnya dengan kesal tapi tidak beranjak dari sana.
Nara mengehentakkan kakinya sebelum melangkah dan Leo hanya bisa menggeleng dengan sikap istri dari Bosnya yang terkadang lucu juga baginya.
"Pantas saja Tuan Muda sangat mencintainya, dia selain sangat cantik dan bersinar, Nyonya Muda juga memiliki karakter yang membuat kita bisa terhibur.
"Leo...."
Tidak ada jawaban dari Leo, saat ini keduanya sudah berada dalam mobil di perjalanan menuju mension kedua milik Fernandese.
"Leo......" panggil Nara dengan suara yang dibuat lebih panjang durasinya dari yang pertama, tapi lagi lagi tidak ada sahutan lagi dari asisten tampan itu.
"Hei Leo.. kau mendengarku tidak..." sentak Nara.
Wanita itu sudah terlihat kesal karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari Leo, "berani sekali kamu mengabaikanku ya Leo, nanti aku adukan kamu pada suamiku" ancam Nara.
__ADS_1
"Maaf Nyonya Muda, tapi saya rasa anda tidak bisa membaca situasi ya" ejek Leo.
"Apa maksudmu?" tanya Nara dengan tatapan yang mendelik.
"Anda tua kita berada dalam ruangan yang sama yaitu dalam mobil?" tanya Leo yang dijawab anggukan oleh Nara.
"Anda juga tau kalau kita tidak terlalu jauh jarak, bahkan saat saya bicara santai, anda juga mendengarnya bukan?" tanya Leo yang lagi lagi dijawab anggukan oleh Nara.
"Lalu kenapa Anda harus berteriak lagi padaku? sementara anda sudah jelas tau aku mendengar panggilan anda" Leo tersenyum licik melihat wajah yang awalnya bingung kini berubah menjadi masam.
"Tapi aku ingin kau menjawabku Leo..." Nara yang sudab geram menggertakan giginya, ingin sekali Nara menjitak kepala Leo tapi tidak bisa dilakukan.
"Dan Nyonya bilang mau mengatakam pada Tuan Muda, bahkan saat ini kalian sedang bertengkar" lanjut Leo membuat Nara kembali tercengang.
"Ka..kamu tau dari mana?" wajah Nara pucqt tapi bukan karena takut, melainkan karena tidak menyangka ada orang lain yang mengetahui pertengkaran mereka.
"Tentu saja, Tuan Muda tidak akan bertindak seperti ini jika tidak bertengkar dengan Nyonya, dan kini anda mengatakan akan mengadukannya bahkan kalian belum tentu bertemu hari ini"
Leo tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Nara yang seperti itu, "akhirnya ada masa dimana aku bisa membuat Anda tak berkutik Nyonya, hahaha...." tawa Leo dalam hatinya.
"Leo... dimana suamiku?"
" Dimana biasanya suamiku berada saat sedang pusing seperti ini Leo?"
"Banyak..." jawab Leo sengaja menggantung ucapannya.
"Dimana saja?" Nara semakin mendesak asisten suaminya itu.
"Bisa di Cklub, danau atau mungkin saat ini Tuan Muda sedang berada ditengah jalan di pinggir kota" jawab Leo menjabarkan kebiasaan Tuan Mudanya jika sedang stress dan tempat itu adalah tempat untuk Rejesh menyendiri.
Nara terdiam, dia tidak tau mau komentar seperti apa, "kira kira saat ini suamiku ada dimana Leo?" tanya Nara lagi.
"Saya kurang tua Nyonya, tapi saya yakin Tuan Muda ada di tempat yang pastinya tidak akan merugiakn dirinya dan orang sekitar" jawab Leo.
"Cepat Leo, agar aku bisa sampai di rumah lalu kau fokuslah mencari saumiku" pinta Nara.
Leo hanya bisa menganggukan kepalanya, kaku mobil kemudikan lebih cepat karena sesungguhnya dia juga khawatir dengan keadaan tuan mudanya apalagi dia tidak mengerahkan kan buahnya untuk mengikuti Rajshs karena sudah pasti anak buahnya hanya akan berakhir babak belur nanti.
__ADS_1
Sampai di halaman mension, Nara langsung turun dari mobil tanpa menunggu Leo membukakan pintu seperti biasanya, "cepat cari suamiku Leo, cari sampai ketemu" titah Nara setelah tubuhnya keluar dari mobil.
"Masuklah Nyonya, saya harus memastikan keamanan anda"
"Baiklah, dan kau juga segeralh pergi menyusul suamiku" pinta Nara.
Selepas berkata demikian, Nara melangkahkan kakinya menuju Mension dan disana sudah ada Radith yang menunggu dengan muka masamnya, Nara yang melihat putranya disana baru tersadar jika ia melupakan untuk menjeput putranya.
"Sayang....." panggin Nara dengan nada lembut untuk menutupi rasa bersalahnya.
"Mommy dari mana?" Radith bertanya dengan bersedak dada dihadapan ibu sambungnya, menunjukan jika saat ini moodnya tidak baik karena ibunya.
"Maaf sayang, Mommy dari kantor Daddy, maaf juga tidak menjemput karena Mommy ketiduran" Nara memberi alasanya yang sebagiannya benar dirinya ketiduran.
"Lalu dimana Daddy? kenapa tidak membangunkan Mommy tapi malah menyuruh supir untuk menjemput ku" Radith belum mau luluh dengan perkataan ibunya, anak kecil itu masih terus melontarkan pertanyaan pada ibu sambungnya entah sampai kapan akan berakhir pertanyaan itu.
"Daddy ada pekerjaan di luar, dan Mommy berada di kantor Daddy sendiri, niatnya ingin tidur sebentar tapi malah terlelap" Nara menjelaskan pada Radith walau sebenarnya itu hanya alasan yang dibuat buat Nara karena kenyataanya dia dan sang suami sedang bertengkar.
"Maafkan Mommy Boy, badan Mommy hanya tidak enakan tadi" pinta Nara dengan wajah memelasnya.
Radith yang melihat ibunya memelas padanya menjadi tidak tega, tentu saja anak kecil itu tidak akan membiarkan ibunya memelas seperti itu padanya karena tidak seharusnya Nara seperti padanya.
"Jangan begitu Mom, tidak seharusnya Mommy seperti padaku dan maafkan aku karena tidak mengerti akan keadaan Mommy" ucap Radith dengan lirih, tubuhnya dengan cepat masuk dalam pelukan Nara membuat wanita cantik itu membalas dengan penuh sayang akan perlakuan anak sambungnya.
"Ya Tuhan... aku terlalu serakah karena menuntuk untuk punya anak dari rahimku tanpa mensyukuri yang sudah ada di dekatmu saat ini" batin Nara menjerit saat menyadari dia yang terlalu memaksakan kehendak hingga tak secara langsung menyakiti hati anak kecil yang terlalu menyayangi dan memujanya.
"Tidak.. aku tidak akan meminta lagi, aki hanya akan pasrah padamu dan aku akan merawat putraku dengan baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya" tekat Nara.
"Maafkan Mommy sayang... maafkan Mommy" pinta Nara, tak terasa air matanya lurub begitu saja, hatinya sakit memikirkan bagaimana perasaan putranya jika tau dirinya masih begitu egois menginginkan anak dari rahimnya.
"Kenapa Mommy minta maaf?" tanya Radith dengan tatapan bingungnya, "bukankah aku katakan jika Mommy tidak pantas meminta maaf seperti ini padaku, justru aku yang minta maaf karena tidak mengerti keadaan Mommy" ujar Radith panjang lebar.
"Iya sayang... Mommy pasti akan selalu memaafkanmu."
.
.
__ADS_1
Bersambung...