STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 2


__ADS_3

Bunyi ponsel Nara membuyarkan lamunanya berganti senyum di sudut bibirnya melihat ternyata yang menghubunginya adalah orang tersayang dan yang paling di cintai.


"Hallo Rey" ucap Nara setelah menjawab panggilan dari kekasihnya.


"Hallo Nara sayang, kamu sedang apa?"


"Aku baru selesai beres beres Rey, ada apa kamu menelpon?"


"Aku kangen sama kamu sayang?" ucap Reyhan yang membuat senyum Nara semakin meegembang.


"Bukankah kita sudah bertemu tadi?" tanya Nara yang merona merah.


"Tapi itu tidak mengobati rinduku sayang, rasanya ingin terus berasamamu" ucap Reyhan.


"Mari kita bertemu, ada yang ingin aku sampaikan" ucap Nara.


"Baiklah, aku juga ingin berbicara denganmu" jawab Reyhan yang kemudian panggilan terputus dan Nara bersiap untuk bertemu dengan pujaan hatinya.


"Sayang..." panggil Reyhan.


Saat ini Nara sudah berada di taman favorit mereka, tempat awal perjumpaan hingga kini mereka sudah dua tahun menjalin hubungan.


"Kau sudah lama menunggu?" ucap Rey.


"Tidak, aku juga baru sampai" dusta Nara.


Padahal sudah setengah jam Nara menunggu tapi dia berdusta agar kekasihya tidak merasa bersalah, "ayo duduk" ucap Nara menggeser tubuhnya.


Reyhan mengikuti perkataan Nara, duduk dan langsung meraih tangan Nara dan menciumnya dengan lembut dia menatap kekasihnya dengan tatapan penuh puja, sungguh dia sangat mencintai gadisnya.


"Aku sudah pindah di apartement" cicit Nara.


Reyhan melihat Nara, daru tatapan memuja menjadi tatapan penuh tanya "aku bertengkar dengan Ayah" ucapnya dengan pelan memberi penjelasan terhadao tatapan Riko.


"Kenapa? aku tau itu bukan dirimu sayang, jadi katakan apa penyebabnya"


Nara memandang lekat wajah kekasihnya "Apa kau tidak akan terluka jika aku mengatakan kalau Ayahku ingin menikahkan aku dengan pria lain" batin Nara.


"Sayang, katakan padaku" desak Reyhan.


"Ayah ingin menikahkan ku pada Mahes" jawab Nara.


"Mahes pengusaha itu?" tanya Reyhan yang dijawab anggukan oleh Nara.

__ADS_1


Dia menundukan wajahnya, tidak sanggup menatap wajah sendu kekasihnya karena dia yakin jika kini Reyhan sedang bersedih.


"Jangan bilang kau menolaknya sayang" tebak Reyhan.


"Tentu saja, karena aku sudah memiliki dirimu sayang, dan aku hanya ingin bersamamu"


Reyhan kembali mencium punggung punggung tangan Nara, dia merasa tersanjung atas perjuangan dan keteguhan Nara untuk meperjuangkanya dan hal itu membuat Riko semakin mencintainya.


"Terimakasih sayang, kamu sudah mau bertahan pada pria yang tidak punya apa apa ini"


"Sttt jangam berkata begitu" ucap Nara meletakan jari telunjuknya di bibir Reyhan, "bukankah aku sudah pernah bilang kalau harta bisa kita cari tapi ketulusan mu tidak akan bisa aku cari dan belum tentu juga aku bisa mendapatkannya dari pria lain"


Reyhan semakin terharu, dan tekatnya untuk memantaskan dirinya dan mensejajarkan diri dengan keluarga Nara semakin kuat, dia ingin mendapatkan Nara dan memenuhi standar level Ayah Nara.


"Nara sayang" panggil Reyhan dengan lembut, dia mengela napasnya terlebih dahulu untuk menyampaikan apa yan ingin dia sampaikan walau berat tapi ini harus dia lakukan agar bisa mencapai tekatnya.


"Aku ada tawaran dari pihak kampus kita dulu untuk melanjutkan S2 ku sayang"


Nara terdiam mendengar perkataan Reyhan, jika boleh jujur dia tidak ingin berada jauh dan menjalani hubungan jarak jauh tapi mengingat kembali janjinya pada Ayah membuat Nara menekan egohnya.


"Kapan?" tanya Nara berusaha tenang.


"Dua bulan lagi"


"Pergilah, aku tau kau pasti ingin meneriman tawaran itu kan?"


"Maka aku mendukungmu Rey, pergilah tapi tetap jaga hatimu disana, dan aku akan menantikan kamu kembali" ucap Nara yang sudah tidak bisa menahan laju air matanya.


"Tentu sayang, aku akan selaku menjaga hatiku untukmu"


Nara tersenyum walau sebenarnya dia memaksakannya, dan Reyhan dengan sigap Reyhan menarik Nara masuk ke dalam pelukannya memberi kehangatan dan keyakinan bagi Nara jika mereka akan baik baik saja.


"Kau tidak mau mengajakku ke apartement barumu?"


"Tentu saja kita kau akan ke sana! ayo" ajak Nara.


Di kediaman Sakher, kesedihan masih meliputi rumah itu, tidak ada yang berkeliaran setelah adegan pertenngkaran antara ayah dan anak itu.


"Ayah kenapa melakukan ini jika Ayah sendiri sakit ketika putri kita pergi?" tanya Naina.


"Apa lagi yang bisa Ayah lakukan Bu? Ayah tidak bisa menyakiti permata hatiku".


"Bujuk dia kembali Yah, biarkan putri kita kembali" kata Naina dengan air mata yang kembli menetes.

__ADS_1


"Tidak Bu, biarkan saja sia membuktikan ucapanya! mungkin dengan begitu Reyhan bisa punya dorongan untuk bisa memantaskaj dirinya" jawab Anan Sakher.


"Tapi Ayah akan tetap mengawasi putirku kan?"


"Dia juga putriku, sudah pasti aku akan menjaganya dan tetap mengawasinya daru jauh seperti sebelumnya".


"Baiklah aku percaya pada Ayah".


Pasanga paru baya itu berpelukan dengan erat untuk mencari kekeuatan dan menguatkan pasangat mereka.


Sementara di Apartrment, pasangaj kekasih itu susah tiba disana dan Reyhan sedang menyapu isi apartement gadisnya.


"Sangat luas dan nyaman" gumamny.


"Minum dulu Rey" ucap Nara dan menaruh minuman di atas meja.


"Terimakasi sayang"


Mereka kembali saling memandang, melempar senyum bahagia dan sedah pasti tatapan memuja selalu terlihat diantara keduanya.


"Apa ada bahan makan sayang?"


"Hmm, ada tadi aku sempat mampi dan membeli bahan makanan" jawab Nara.


Reyhan berdiri san bergegas menuju dapur, dia akan membuatkan makan malam untuk mereka bedua, dia mulai mengerjakannya sementara Nara mengikuti dan melihat apa yang akan di lakukan kekasihnya.


Dan sudah pasti bisa di tebak jika malam ini dia akana menikmati lagi masakan kekasih hatinya "bagimana bisa aku melepaskanmu Rey jika cintamu sangat luar biasa besar untukku?" bayin Nara.


Sementara Reyhan yang tidak sengaja bersitatap dengan Nara haya mengukir senyum, kemudian kembali pada aktifitasnya "aku akan mengukir kenangan untukmu sayang sebelum pergi jauh dan dalam waktu yang lama" batin Reyhan.


Makan sudah selesai dan kini terhidang di atas meja, dan kedua insan itu mulai makan layaknya pengantin baru,Nara sebagai istri yang melayani suaminya dan Reyhan sebagai suami yang sedang di layani.


Mereka makan dalan diam, dentingan sendok yang mengambil alih suasana dalam tempat itu, hingga kini semua sudah beres, piring pun sudah bersih dari atas meja dan terususun rapi di rak piring.


"Kau mau langsung pulang sayang?"


"Kau mau aku ingin segera pulang?" Reyhan balik bertanya dengan senyum menggoda ia tampilkan pada Nara.


Nara menunduk malu, dalam hatinya dia ingin sekali Reyhan lebih lama lagi berada di apartementnya untuk melepas rindu sebelum kekasihnya pergi.


"Aku aku ingin kamu masih disini" ucap Nara malu malu.


"Maka itu akan terjadi sesuai keinginan gadisku".

__ADS_1


Mereka duduk di ruang tamu, saling bertukar cerita dan menonton bersama bahkan sesekali tawa renyah terdengar dari keduanya, kebiasaan yang memang selalu mereka lakukan agar tidak ada kejenuhan dalam hubungan yang kana mengancam dan berujung perpisahan dan seperti itu lah prinsip mereka mencipatakan susana dan ruang yang hidup dan hangat.


Bersambung...


__ADS_2