STORY OF NARA

STORY OF NARA
Berharap


__ADS_3

"Mas hanya ingin bebas sayang, Mas ingin bebas berekspresi denganmu tanpa. memikirkan perasaan orang orang disekitar kita, Mas ingin didalam rumah hanya ada kita, keluarga kecil kita" jelas Rajehs.


"Ada apa denganmu Mas? kenapa tiba tiba sekali?" desak Nara.


"Sudah Mas bilang bukan alasannya, jadi kenapa harus ditanya lagi" kekeh Rajesh.


"Lalu bagaimana dengan Papa dan Mama?" tanya Nara.


Nara harus memikirkan perasaan orang tua Rajehs bagaimana, dia tidak ingin membuat mertuanya merasa jika dirinyalah yang menginginkan perpisahan itu, dan dia juga tidak mau jika kedua mertuanya merasa kesepian karena sudah pasti jika pasangan itu berpindah rumah otomatis Radit pun akan ikut bersama mereka dan meninggalkan mertuanya di Mension utama.


"Mas sudah membicarakan hal ini kepada mereka barusan dan mereka menyetujuinya tinggal menunggu pendapatmu saja bagaimana kok mas semua keputusan akan bisa diambil jika kamu berikan pendapatmu" jelas rajas memberitahu.


"Apa Mas mengunginkan hal ini juga?" tanya Nara.


"Tentu saja, bukankah kamu sudah tau jika sejak dulu aku ingin kita mandiri tapi karena Mama dan Papa meminta kita untuk tinggal lebih lama lagi dan ini juga hasil bujukanmu, makanya kita masih berada disini sampai saat ini" jawab Rajesh membuat Nara terdiam.


Sesungguhnya jika ditanya keninginan hatinya saat ini, tentu saja dia menginginkan untuk hidup mandiri bersama keluarga kecilnya tetapi Nara juga tidak ingin egois hanya mementingkan keinginannya sendiri, wanita cantik itu memikirkan perasaan kedua orang tuanya, orang tua paruh baya yang sangat menginginkan perkumpulan dan kehangatan bersama dengan anak-anaknya sehingga saat itu Nara membujuk Rajesh agar tetap tinggal di Mension utama.


"Mas yakin jika Mama dan Papa tidak keberatan dengan hal jni?" Nara ingin memastikan sekali lagi tentang hal ini, dia tidak ingin mengambil kesimpulan dan keputusan yang salah.


"tentu saja sayang, Mas sudah sangat yakin masih ingin hidup mandiri bersamamu dan Radit"


"Baiklah, aku ikut kamu saja Mas" akhirnya Nara mengiyakan setelah memastikan jika mertuanya memang tidak keberatan dengan hal itu.


"Yasudah berarti kita Kaka pinda dalam waktu dekat ini, Leo akan mengurus semuanya" ucap Rajehs yang diangguki Nara.


Rajesh mencium kening Nara kemudian beralih pada kedua mata, pipi, hidung dan berakhir dengan ciuman lembut dibibir Nara, tenggelam disana dan menyesapnya penuh perasaan, menyalurkan seluruh rasa yang dimiliki Rajehs untuk istrihya itu.


"Sayang.....Mas ingin bersatu lagi" ucap Rajesh, keningnya menyatu di kening Nara setelah sesapn keduanya terlepas.


Nara menganggukkan kepalanya dengan malu, dia juga menginginkan sentuhan suaminya saat ini entah kenapa bisa seperti itu padahal hampir setiap malam keduanya memadu kasih, mengarungi samudera cinta dan melebur menjadi satu dalam kegiatan panas sebagai pasangan halal.


Rajehs memebaringkan istrinya, kembali pria itu mencium kening istrinya lagi dan berdoa sejenak untuk usaha mereka saat ini bisa membuahkan hasil yang baik dan Tuhan boleh memberi mereka kesempatan menjadi orang orang tua dan barulah Rajehs memulai kegiatannya.


Selsai dengan kegiatan keduanya, Rajesh mencium sayang kening istrinya, kebiasaan yang dilakukan setelah berhubungan lalu membawa istrinya masuk kedalam pelukannya dan tertidur menyambut fajar yang tak lama lagi akan muncul.


***

__ADS_1


Fajar kembali datang, dua manusia yang masih betah merasakan kenyamanan selimut di dalam kamar itu kini mulai menggeliat merasakan sinar matahari yang mulai masuk dan memantul melalui kaca dalam balok kamar.


"Mas...." Nara membangunkan suaminya, dan setelah itu melihat jam yang rupanya sudah pukul tujuh pagi, membuat wanita cantik itu memekik kaget.


Dengan segera Nara bangun meraih pakaian yang tergorok dan berserak dilantai begitu saja, memasuki kamar mandi mencuci wajah lalu langsung bergegas menuju dapur, tujuannya saat ini adalah memasakn sarapan untuk keluarganya.


Sampai disana, rupanya Clara mama mertuanya sudah ada disana sedang berkutat dengan spatula, kompor dan wajan, melihat hal itu membuat Nara menjadi merasa bersalah karena membiarkan mama mertuanya memasak sendirian.


"Ehh kamu sudah bangun sayang?" tanya Clara yang kebetulan melihat kedatangan Nara yang tergesa gesa.


"Maaf Ma, aku terlambat bangun, jadinya Mama masak sendiri" ucap Nara benar benar merasa tidak enak hati.


"Tidak apa sayang, kamu tau ada baiknya kamu tidak bangun, jadi Mama bisa mandiri mempraktekan apa yang mama lihat di tutorial, dan taraaaa....hasilanya seperti ini, bentuknya sih tidak buruk tapi Mama tidak tau bagaimana rasanya" jelas Clara yang merasa tidak percaya diri.


"Jika Mama merasa bumbu intinya sudah pas, pasti akan enak rasanya" ungkap Nara, bukan hanya sekedar menghibur tapi memang itulah kenyataanya.


"Emm..menurut Mama sih udah pas" ucap Clara dengan ragu ragu membuat Nara tekekeh.


"Mama kenapa tidak yakin? kalau seperti itu biarkan Nara coab dulu" tawar Nara dan mulai mendekat kearah ibu mertuanya.


"Bagaimana?" tanya Clara deg degan.


"Mama sudaj seperti peserta lomba masak saja" kekeh Nara.


"Ckck...kamu ini ya, Mama deg deg an tau, Mama kan baru pertama kali memasak ini jadi wajar saja jika agar khawatir" jelas Clara memberi alasan.


"Baiklah, rasanya enak kok Ma, ucah sangat hebat untuk orang yang baru pertama kali memasak seperti ini" ungkap Nara dan memang itulah kenyataan dari penilaiannya.


"Sungguh ini tidak buruk? kamu sedang tidak menghibur Mommy kan? tanya Clara penuh selidik.


"Astaga Mom, tentu saja aku berkara jujur, kalau tidak yakin lebih baik kita tunggu para prai saja, biar mereka yang memberi penilaian sama Mama" ucap Nara membuat Clara akhirnya percaya dengan omongan menantunya, dia yakin jika Nara berkara jujur.


"Jadi masih ada yang perlu dimasak lagi Ma?" tanya Nara.


"Tidak ada, semua sudah mama siapkan" jawab Clara dengan senyum manisnya.


"Maaf ya Ma, membuat Mama jadi repot"

__ADS_1


"Mama ridak repot, Mama justru suka melakukannya, lebih baik sekarang kembalilah ke kamar dan bangunkan suami dan anakku itu, pasti mereka belum ada yang bersiap" titah Clara.


"Baiklah Ma, sekali lagi terimakasih dan maaf sudah merepotkan Mama" kata Nara.


"Iya sayang, sudah sana" usir Clara.


Nara meninggalkan dapur sedangkan Cakra tersenyum lega karena senyum menantunya koni sudah terlihat kembali, dan dia tidak mau menyinggung apapun lagi, Clara tidak mampu membuat mood menantunya menjadi buruk lagi.


" Mama senang kamu bisa tersenyum lagi dan Mama berharap Semoga Tuhan bisa memberi kalian kesempatan dan kepercayaan mejadi orang tua" batin Clara yang berharap akan kebahagian secepatnya menghampiri anak dan menantunya.


Nara memasuki kamar putranya, ternayata Rajesh sudah bersih dan kini sedang berusaha untuk mengenakan seragam sekolahnya, "sini Mommmy bantu" tawar Nara.


"Mom... terimakasih" kata Radith.


Nara memakaikan pakaian Radith, dan setelah itu dia kembali ke kamarnya untuk mengecek suaminya apakah sudah besiap, rupanya Rajehs tengah berada di kamar mandi dan Nara memutuskan untuk menyiapkan pakaian Rajehs dan untuk dirinya sendiri.


"Sayang..."


"Pakai pakaianmu Mas"


"Terimakasih sayang" ucap Rajehs dan mulai menggunakan pakaiannya.


"Aku mandi dulu ya Mas"


"Iya sayang, lekaslah bersiap"


Nara memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya hingga beberapaenit kemudian Nara sudah keluar dengan pakaian dinasnya yang melekakt ditubuhnnya, merapikan dirinya, mulai dari memoles sedikit wajahnya, menata rambut hingga menggunakan parfum kesukaannya dan setelah itu barulah Nara memasangkan dari sang suami yang sudah menunggu.


"Terimakasih sayang" ucap Rajeh lagi dan mengecup kening Nara dengan sayang.


"Ayo sarapan"


Mereka berdua turun dan bergabung sarapan bersama dengan Clara, Heru dan Radith yang sudah turun lebih dulu dan setelahnya barulah mereka masing masing memulai aktifitas pagi.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2