
Reyhan yang melihat Nara juga sebenarnya tidak kalah terkejutnya tapi sebisa mungkin Reyhan bersikap tenang dan senyum manis tercetak jelas di bibir pria tampan itu sedangkan Felix yang melihat hal itu hanya berharap harpa cemas, dia berharap tidak terjadi keributan di kantor Fernandese.
"Jangan sikapmu Rey, ingat..! kita berada di kantor lawan" bisik Felix penuh penekanan.
Reyhan tidak mempedulikan omongan Felix, baginya kepuasan memandang Nara adalah yang utama, masalah apapun yang akan terjadi itu perkara nanti.
Nara mengalihkan perhatiannya, langkahnya langsung bergegas menuju memasuki lift khusus Presdir sedanbkan Reyhan kembali kecewa karena wanitanya yang enggan untuk memandangnya.
"Kamu bahkan enggan untuk menatapku Nara" batinnya.
"Sudah ku katakan bukan? kau akan kesulitan mendapatkannya" Felix kembali memprovokasi Reyhan, tapi pria itu malah mendengkus sebal karena sahabatnya tidak membelanya.
"Jangan menyuruhku untuk menyerah terus" ketiss Reyahn.
Ting
Berbarengan dengan itu, pintu lift terbuka dan Reyhan bergegas keluar dengan diikuti Felix disampingnya, "ingat kita harus profesional Rey, jangan bawa perasaanmu di pekerjaan kita" tekan Felix..
"Jangan bawel Felix, aku tidak suka mendengar omong kosongmu"
"Ini bukan omong kosong tapi ini merupakan peringatan untukmu"
"Sudah diamlah" sentak Reyhan dengan suara kecil.
Sementara Nara juga baru saja keluar dari lift, kakinya dengan cepat melangkah menyusuri koridor kantor menuju ruangan suaminya, pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan karena Reyhan bisa berada di Kantor suaminya, "ada apa dia kemari?" tanya Nara dalam hatinya.
"Selamat pagi Nyonya Muda" sapa Mila sekretaris Rajesh
"Selamat pagi" sapa Nara dengan senyum manisnya, "Mas Rajesh ada di ruangannya tidak mbak?" tanya Nara.
"Ada Nyonya Muda, silahkan masuk saja" ucap Mila.
"Terimakasih Mbak Mila"
"Sama sama Nyonya, silahkan masuk"
"Terimakasih ya"
Nara melangkah memasuki ruangan suaminya, ternyata Rajehs sedang disibukan dengan berkas berkas yang ada didepannya, tergeletak inda di atas meja.
"Selamat pagi Mas" sapa Nara.
Rajehs yang mendengar suara lembut yang sangat dikenalinya, langsung menengadahkan wajahnya menatap kearah pintu dan menemukan Nara, wanita pujaan hatinya sedang tersenyum kearahnua dengan rantang yang ditenteng membuat kecantikan Nara semakin telihat dan terpancar.
__ADS_1
"Sayang...." Rajesh langsung berdiri dari duduknya, menghampiri Nara dan mengecup kening Nara dengan mesra, "kamu sudah datang?"
"Maaf ya Mas, aku terlambat datang" ucap Nara mengingat waktu sudah masuk setengah delapan pagi.
"Tidak masalah, ini masih termasuk pagi kok" jawab Rajesh yang tidak ingin istrinya merasa tidak enak hati lagi.
Nara mengangguk merasa lega karena suaminya tidak mempermasalahkan sarapannya yang sedikit terlambat, "ayo kita sarapan Mas" ajak Nara.
"Loh, kamu belum sarapan juga sayang?" tanya Rajesh.
"Belum Mas, pengen sarapan bersama" ungkap Nara.
"Ohhh, kamu membuat suamimu ini merasa samaht beruntung, dan oh bagaimana dengan anak kecil itu? apa dia merajuk lagi karena sarapan bersama dengan Mas?" tanya Reyhan.
"Mas tenang saja, dia tidak masalah karena aku juga menemaninya sarapan" jelas Nara.
"Oklah sayang, ayo sarapan".
Rajesh menuntun istrinya untuk duduk di sofa yang sering digunakan untuk menyambut tamu karena disana dilengkapi dengan meja kecil yang digunakan untuk menyuguhkan minuman.
Nara menghempaskan bokongnya di sofa yang juga diikuti oleh Rajehs, Nara yang sedang sibuk teralihkan kini perhatiannya saat mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
"Selamat pagi Tuan Muda, maaf saya ingin menyampaikan Jika direktur dari Leondra sudah datang" kata Leo.
"Benar Tuan Muda tapi mereka berkata tidak masalah menunggu dan lagi kita masih menunggu investor kita yang belum datang" jelas Leo.
"Berarti masih bisa sarapan kan?" tanya Nara.
"Masih ada setelah jam lagi waktunya Nyonya Muda" jawab Leo.
"Marilah sarapan jika seperti itu" ujak Nara.
"Tidak Nyonya, saya sarapan diluar" tolak Leo.
"Saya bawa banyak kok, jadi cukup untuk sarapan bertiga" jelas Nara yang masih keukeh ingin Leo sarapan bersama dengan mereka.
"Tapi....."
"Mas....." rengek Nara membuat Leo terjeda kalimatnya dan memilik menelannya kembali, dia tau itu adalah jurus andalan Nyonya mudanya tapi dia juga tidak mau mengambil resiko.
"Jangan pernah menolak istriku Leo, kau tau keinginannya adalah yang utama" tegas Rajesh, walau sebenarnya dia juga metasa tidak suka tapi apa boleh buta, kesenangan istrinya adalah yang utama.
"Baiklah" Jawab Leo dengan wajah memelasnya, dia malas sebenarnya tapi mau bagaimana lagi jika si Raja sudah meminta maka seorang hamba hanya bisa mematuhinya.
__ADS_1
"Ayo duduk disini" ucap Nara dengan senyum manisnya, membuat Leo menelan ludahnya kepayahan karena tatapan mata Rajesh yang menghunus tepat ke jantungnya.
"Astaga... Nyonya Muda tidak mengerti sekali, kenapa harus tersenyum seperti itu, kalau begini aku lagi yang jadi sasarannya" jeritan batin Leo hanya bisa dinikmatinya sendiri, tidak bisa didengar oleh orang orang disekitarnya.
Dengan berat hati dan diikuti langkahnya yang terasa sangat berat, akhirnya Leo duduk tapi bukan di tempat yang diinginkan Nara melainkan tempat ya h bersebarangan dengan Rajehs dan Nara, Leo melakukan hal itu tentu saja untuk jaga jaga, mencari aman dari amukan kecemburuan Rajesh.
Selesai sarapan, Nara membereskan tantangannya, menyusun kembali agar bisa rapi lalu membersihkan meja suaminya, "Mas masih ada rapat lagi?" tanya Nara sembari tangannya sibuk membereskan meja.
"Iya, Mas akan ada rapat tender dengan investor dan Reyhan akan ikut juga" jelas Rajesh menjawab pertanyaan Nara membuat wanita cantik itu terdiam, matanya menatap Rajehs lalu kembali menyibukkan dirinya.
"Kenapa sayang" Rajehs menyadari perubahan raut wajah istrinya tapi dia masih ingin bertanya, berpura pura tidak peka.
"Kenapa Mas bisa rapat bersamanya? apa kalian akan bekerja sama?" tanya Nara dengan lirih.
"Tidak...! Mas dan dia akan bersaing memenangkan proyek" ungkap Rajehs membuat Nara kembali menghentikan gerakannya.
Senyum lembut terbit di sudut bibirnya, "semoga Mas bisa memenangkan tendernya" ucap Nara dengan senyum tulusnya dan memang benar itulah harapannya, tender kali ini dimenangkan oleh suaminya walau harus suaminya berkompetisi dengan pria yang dulu jadi masa lalunya.
"Sungguh mendoakan suamimu seperti itu?" tanya Rajehs.
"Tentu saja, ini adalah doa tulus istri untuk suaminya" ucap Nara.
"Tidak berharap Reyhan yang menang?" tanya Rajehs lagi, pria itu mencoba untuk menelisik ekspresi istrinya tapi tidak ada yang disembunyikan oleh Nara dan itu terlihat jelas keseriusan Nara.
"Beraharap tidak, tapi jika memang rejekinya pada Reyhan maka kita harus menerima denhan besar hati" ucap Nara dengan senyum tulusnya.
"Rajehs ikut tersenyum mendengar penuturan istrinya, dia sangat bahagia dan kini dia benar benar yakin jika Nara benar benar sepenuhnya untuk dirinya dan walaupun Reyhan datang kembali, kini Rajehs sudah yakin jika Nara tidak akan berpaling lagi darinya.
"Terimakasih sayang, Mas sangat tenang sekarang, walau dia kembali dan bahkan berniat merebutmu, aku percaya kamu akan tetap bersamaku" ungkap Rajesh.
"Iya Mas, sama sama... sekarang lekaslah bersiap, aku akan menunggu disini samapi waktu Radith pulang sekolah" ucap Nara.
"Baiklah sayang, Mas keluar dulu.... rapatnya mungkin sedikit akan lama jadi jangan bosan ya, kalau mau tidur, kamu istrahat saja di kamar itu" tunjuk Rajehs.
"Baiklah Mas, semangat ya untuk bisa menang"
" Iya sayang"
Rajehs melangkah keluar meninggalkan Nara istrinya untuk rapat bersama rivalnya dan dia berharap dia istrinya mujarap dan dia bisa memenangkan tendernya kali ini.
.
.
__ADS_1
Bersambung....