
Qin Chen dan Chu Qincheng pergi Kekediaman Keluarga Qin. Rombongan Keluarga Qin seolah tengah mengawal mereka untuk sampai kediaman dengan selamat.
Sepanjang perjalanan, orang-orang dibawah memperhatikan mereka. Mereka melintasi gunung dan sungai dan tiba di kediaman keluarga Qin.
Setibanya di kediaman Qin, Qin Chen di tuntun masuk kedalam ruangan pertemuan. Mereka telah membagi tugas untuk menjamu tamu penting yang datang Kekediaman Qin.
Didalam ruangan, Qin Chen duduk bersebelahan dengan Patriak Qin.
Menikmati jamuan yang di sediakan, sedari tadi belum ada sedikitpun suara yang terjadi. Di dalam sana cukup ramai, karena anak-anak muda Keluarga Qin duduk di meja bawah dibandingkan para Tetua.
Sementara itu, mereka sedari tadi hanya melihat Qin Chen yang tengah membelai rambut Chu Qingchen di sampingnya.
Qin Chen memperhatikan sekitarnya, dekorasi yang sempurna ini dibuat oleh orang ahli. Sedikit kagum, karena Fondasi kediaman Qin hampir sama dengan kediaman Qin Dunia Rendah.
"Arsitektur bangunan yang bagus ... Tidak buruk sebagai salah satu Pilar Kaisar." Qin Chen bersuara memuji bangunan tersebut.
"Hahaha ... Lord memiliki mata yang tajam, kalau boleh tahu, apa yang ingin lord bicarakan dengan saya." Tanya Patriak Qin.
Qin Chen menyentuh dagunya, dia sedikit kebingungan mulai dari mana. "Pertama-tama ... Aku ingin tahu tentang sejarah keluarga Qin, aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Maaf Lord ... Namun hal tersebut tidak dapat saya ceritakan. Karena ini menyangkut tentang privasi keluarga Qin saya." Patriak Qin menundukkan kepalanya kepada Qin Chen.
Semua anak-anak muda dari keluarga Qin dibuat diam, bagaimana bisa Patriak Qin menghormati pemuda yang usianya sama seperti mereka.
Qin Chen yang mendengar hanya diam, dia mengambil minumannya lalu menyeduhnya. "Begitu ... " Qin Chen menghela napasnya lalu meletakkan kembali cangkir tersebut.
"Patriak Qin ... Selain anda disini, apa ada orang atau kerabat anda yang terpisah oleh anda?" Tanya Qin Chen.
Pernyataan tersebut membuat Patriak Qin terdiam beberapa saat. Seluruh Tetua sama halnya, mereka tidak bersuara setelah mendengar pertanyaan Qin Chen.
Qin Chen hanya tersenyum tipis, dia tidak bertanya lagi setelah menanyakan hal tersebut. Tangannya menyentuh pipi Chu Qincheng lalu mencubitnya secara lembut sambil menunggu jawaban dari Patriak Qin.
__ADS_1
"Lord ... Apa ini yang ingin anda tanyakan kepada saya?" Tanya Patriak Qin.
"Tidak, aku hanya memastikan sesuatu tentang Keluarga Qin. Jika benar, maka aku akan menanyakan hal yang serius."
Patriak Qin lalu menghela napasnya memulai cerita. "500 tahun yang lalu, saya bersama dengan saudara saya menjelajahi Tanah Abadi Yang Diberkati. Terletak di bagian tepi Alam Semesta, tepatnya di Pusat bintang terbengkalai."
"Saat itu ... Badai Kekosongan tiba-tiba muncul mengangkat material-material di Dunia. Saat itu pula, kami terpisah oleh Badai Kekosongan, dan saya terlempar hingga ke Dunia ini."
Qin Chen mendengarnya dengan jelas, lalu bertanya. "Lalu, bagaimana dengan saudara yang anda miliki?"
Patriak Qin sedikit menampilkan ekspresi wajah yang sedih. "Tidak tahu ... Saat Badai itu melempar saya, saya terpisah oleh saudara saya. Mungkin, dia berada di suatu tempat yang tidak saya ketahui. Saya masih menyakini bahwa kami pasti akan bertemu dalam bentuk apapun."
Qin Chen terdiam setelah mendengar jawaban Patriak Qin. Sama halnya dengan Chu Qincheng, karena dia mengetahui tentang Badai Kekosongan yang baru saja di katakannya.
Semua orang dapat melihatnya yang diam seolah mengetahui sesuatu. Meksipun Qin Chen bukanlah orang peniliti Alam Semesta, namun sejarah yang dicatat oleh para ilmuwan pernah dia baca.
"Bumi, tahun 1950 ... Tepatnya bagian terpencil di sudut Alam Semesta, bintang terbengkalai diabadikan pencipta. Tahun itu, Badai Kekosongan menjadi kiamat Dunia yang menyebabkan populasi manusia berkurang 80% dari Dunia."
Chu Qincheng sekali lagi gemetar, dia melihat ke arah Qin Chen yang mengetahui Bumi. Ini semakin membuatnya percaya bahwa Qin Chen sama sepertinya yang berasal dari Bumi.
"Ja- Jadi maksud Lord ... Anda adalah orang yang selamat dari Badai kekosongan tersebut?" Sahutnya dengan nada gugup.
Qin Chen menggelengkan kepalanya. "Tidak ... Tepatnya aku belum lahir di Dunia. Mungkin itu adalah sejarah keluargaku yang selamat dari Badai kekosongan. Badai Kekosongan itu adalah awal dari Era Kekosongan di Bumi!"
Qin Chen melirik ke arah Chu Qincheng. 'Mungkin salah satunya adalah Keluarga Chu Qincheng. Hidup di Era Kekosongan sekaligus Korban Era Kekosongan.'
Qin Chen bersimpati akan hal tersebut z dia mengusap-usap kepalanya dengan lembut di hadapannya. Kemesraan yang tidak menunjukkan rasa takut akan hal apapun, inilah kekuatan Mutlak Penguasa Kematian.
"Kalau boleh tahu Patriak Qin. Siapa nama saudara anda? Mungkin, orang yang aku kenal adalah saudara anda yang terpisah tersebut?" Tanya Qin Chen.
"Qin Zhang! Dialah saudara saya yang terpisah saat menjelajahi Tanah Abadi Yang Diberkati." Balasnya.
__ADS_1
Qin Chen hanya tersenyum mendengarnya seolah memang mengenal nama tersebut. Qin Zhang tidak lain adalah Ayahnya di kehidupan ini, nama dan Klan Qin tidak dapat dibedakan lagi menurut apapun.
Senyuman Qin Chen membuat tanda tanya bagi mereka, salah satu Tetua menyela pembicaraan mereka. "Maafkan jika saya lancang Lord ... Apa anda mengenal saudara Patriak?"
"Ya ... Dia ayahku." Balas Qin Chen yang tidak melihatnya, melainkan melihat ke arah Chu Qincheng yang begitu manis sedang makan cemilan.
"Apa!" Mereka sontak terkejut mendengarnya, tidak ada yang tidak terkejut. Semua orang berdiri dengan tubuh gemetaran mendengar jawaban Qin Chen.
Sama halnya dengan Patriak Qin, dia tidak dapat menahan keterkejutan tersebut. Sementara Qin Chen, Qin Chen hanya bermesraan dengan istri kecilnya.
"Qin Zhang ayahku, Zu QianLing adalah ibuku. Selain aku, aku memiliki Saudari bernama Qin Chynna. Namaku Qin Chen, anak kedua dari Qin Zhang dan Zu QianLing."
Qin Chen mengeluarkan sebuah gulungan di tangannya, dia memberikan kepada Patriak Qin. Dimana Patriak Qin membukanya, dia tidak berhenti gemetar.
"Ti- Tidak salah lagi ... Di- Dia adalah saudaraku yang terpisah 500 tahun yang lalu." Gulungan yang terlukiskan wajah Qin Zhang membuatnya gemetaran.
Patriak Qin melihat langsung ke arah Qin Chen yang merupakan anak saudaranya. Air mata kebahagiaan tidak dapat ditahan, putra dan putrinya melihat ayahnya menangis membuat mereka terdiam.
Istrinya yang berada disampingnya sama halnya, sudah wajar baginya yang kehilangan satu-satunya saudara selama 500 tahun merasakan kebahagiaan ini.
Bahkan sekarang, putra dari saudaranya mengunjunginya.
"Ba- Bagaimana keadaan Qin Zhang?" Tanya Patriak Qin.
"Seperti biasa ... Dia baik-baik saja dengan kelurganya." Balas Qin Chen.
"Begitu ... Syukurlah ... " Patriak Qin merasa lega setelah mendengar bahwa saudaranya baik-baik saja.
Qin Chen hanya bersikap biasa, melihat sekelilingnya merasakan keterkejutan yang bahkan membuat jatung mereka hampir terlepas.
...
__ADS_1
*Bersambung ...