
"Ha! Kalian minggir semua, aku memiliki urusan dengan Patriak Mo disana. Siapapun yang menggangu, akan siap menerima konsekuensi dariku!" Ucap Qin Chen dengan nada dingin.
Qin Chen melangkah kedepan, orang-orang dari keluarga Qin membuka jalan untuk Qin Chen. Mereka mundur, tidak ada yang berani menghalanginya setelah melihat kekejaman Qin Chen sebelumnya.
Patriak Qin bingung dengan sikap Qin Chen sekarang, urusan? Apa yang dipikirkan Putranya tidak dapat di ketahui sekarang, karena dia merasa Qin Chen di hadapannya bukanlah Qin Chen putranya.
'Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tidak seperti Putraku? Atau dia bukan putraku.' Gumamnya di dalam batin.
Di hadapannya, Qin Chen mendekati Patriak Mo. Tiba-tiba, Qin Chen menghilang dari pandangan mereka semua, Qin Chen tiba-tiba muncul di hadapan Patriak Mo.
Semua orang tercengang tidak dapat bergerak, sekaligus Patriak Mo hanya dapat menggerakkan matanya. Patriak Mo tidak sempat untuk menghindar dari Qin Chen.
Dengan cepat, tangan kanan Qin Chen mengarah pada pusaran perut.
Bugh!
"Uagkkkk ... " Seteguk darah keluar dari mulutnya, dengan tulang rusuknya telah mengalami retakan.
Patriak Mo gemetar tidak dapat berdiri dengan baik, para Tetua mencoba menyelamatkan Patriak Mo. Namun para Tetua Keluarga Qin menahannya, karena Tuan Muda mereka tengah mengurusnya.
"Keparat ... Menjauh dari Patriak! Atau kau akan menyesalinya!" Teriak salah satu Tetua.
"Kau sedang berhadapan dengan siapa, bajing*n! Di hadapan Tuan Muda, kalian semua yang berani maju akan berhadapan dengan kami!" Balas Tetua Qin disana.
Sementara itu, Qin Chen menghempaskan tubuh Patriak Mo kebelakang, bergulir di atas tanah hingga menghantam dinding bangunan lainnya.
Serangan Qin Chen sebelumnya menghancurkan Dantian miliknya dan membuat Spritual dalam dirinya tak terkendali dan secara dratis menghilang.
Sedangkan di samping Qin Chen, Patriak Xiao masih berdiri dengan tubuh gemetaran melihat Qin Chen. Patrik Qin yang melihat hal tersebut melesat ke atas dengan pedang di tangannya menyerangnya.
"Seni Pedang Kaisar Abadi!"
Swoosh!
"Sial!" Patriak Xiao tidak sempat menghindari serangan Patriak Qin.
__ADS_1
Saat serangan itu mengenainya, tubuh Patriak Xiao terbelah menjadi dua bagian. Seni Pedang Kaisar Abadi adalah Seni keluarga Qin yang ke sekiannya, Keluarga Qin dulunya diberkati dengan seni-seni kuat.
Qin Chen hanya bersikap biasa saja, Patriak Qin menghela napas untuk pertama kalinya. Ini baru pertama kalinya menggunakan kekuatan Ranah Kaisar Puncak.
'Kekuatan ini, aku belum dapat sepenuhnya mengendalikannya. Ditambah dengan waktu yang singkat sebelumnya, ini membuatku mengalmi kesulitan, kedepannya, aku akan mengendalikannya sebaik mungkin.' Batin Patriak Qin.
Sedangkan Qin Chen, Qin Chen mengulurkan tangannya mengikat Patriak Mo menggunakan Rantai Spritual miliknya. Patriak Mo yang sebelumnya pingsan sekarang tidak berkutik lagi.
"Sepertinya ini waktu yang tepat ... " Gumam Qin Chen.
Patriak Qin sebelumnya mendengar gumaman Qin Chen. Sekitarnya, pasukan Qin mengalami luka-luka ringan yang di dapatkan dari pertarungan sebelumnya.
"Sisanya ... Dobrak Wilayah mereka berdua, jarah segala harta benda milik mereka. Kumpulkan semuanya di ruangan, aku akan mengeceknya sendiri. Namun perlu diingat, putra Patriak Mo, ikat dia hidup-hidup dan seret di ke hadapanku!" Qin Chen memberikan perintah kepada pasukannya untuk bertindak menguasai kedua Wilayah keluarga besar.
"Baik, Tuan Muda!"
Mereka pergi membawa beberapa Tetua di depannya, sementara itu, Qin Chen mengertak giginya karena masih menahan dirinya untuk membunuh Patriak Mo.
"Ayah ... Bawa Ibu ke ruanganku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Qin Chen kepada Patriak.
Qin Chen menyeret Patriak Mo menuju ruangan miliknya, meninggalkan Medan Pertarungan, membiarkan para pasukan dan tetua menyelesaikan sisanya.
***
Di dalam ruangan, Qin Chen tengah duduk di tempat duduknya dengan posisi kaki menyilang di atas kaki lainnya. Di depannya, Patriak Mo masih pingsan dan sekujur tubuhnya di ikat oleh Rantai Spiritual.
"Mungkin ini waktunya memberitahu mereka berdua, bahwa aku bukanlah Putra mereka. Memendam kebohongan ini terlalu lama membuatku semakin bersalah. Dengan semuanya terungkap, aku dapat terbebas dari masalah ini."
"Bagaimanapun ... Mereka berdua harus mengetahui keadaan Putra mereka sendiri, aku telah mengamankan tubuhnya dan mengawetkannya di dalam penyimpan, sehingga tidak akan membusuk." Ucap Qin Chen sendirian di dalam ruangan.
Saat Qin Chen menunggu, tak lama kemudian suara pintu terbuka membuat ruangan menjadi berisi. Qin Chen yang melihat mereka berdua masuk kedalam dengan wajah yang bingung membuat Qin Chen hanya menghela napasnya.
"Chen'er ... Apa kamu memangil ibu untuk datang kesini? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Ibu?" Tanya wanita dihadapan Qin Chen dengan suara letih lembut.
"Sebelum itu ... Silahkan duduk terlebih dahulu ... Karena ini pembicaraan serius." Balas Qin Chen.
__ADS_1
Mereka berdua duduk di depan Qin Chen, disamping mereka ada Patriak Mo yang masih pingsan dengan sekujur tubuhnya berlumuran darah miliknya.
Qin Chen melihat mereka berdua, lalu menghela napas lagi. "Ha ... Baiklah, sebelum berbicara serius, aku ingin tahu Dimata kalian, aku seperti apa? Pertama, untukmu." Ucap Qin Chen menunjuk wanita di hadapannya.
Suara Qin Chen membuat wanita itu terkejut dan sedih, melihat putranya sendiri menunjuk dan mengatakan dirinya dengan sebutan tidak seperti biasanya.
"Chen'er ... Apa yang kamu katakan ... Kamu adalah putraku, putra kandung ibu. Sayang, apa Chen'er sedang sakit! Cepat panggilkan tabib untuk mengecek kondisinya." Wanita itu begitu khawatir dan mengekspresikan dirinya begitu sedih mendengar perkataan Qin Chen sebelumnya.
Sementara itu, Patriak Qin menatap Qin Chen dengan tajam, sebelumnya dia curiga bahwa dihadapannya bukanlah Putranya. Melainkan orang lain yang memiliki penampilan yang sama seperti Qin Chen.
Saat istrinya tidak menerima tanggapan suaminya, dia begitu panik. Bahkan, dia tidak dapat menahan tangisnya. "Tidak mungkin ... Kamu adalah putra ibu."
"Begitu ... Baiklah, aku akan menganggap perkataanmu adalah pujian bagiku. Namun sebenarnya, aku bukanlah Putra kalian berdua." Balas Qin Chen.
Saat Qin Chen mengatakan hal tersebut, Patriak Qin menutup matanya. Istrinya gemetar, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Qin Chen di depannya.
Dia meneteskan air matanya, namun suaranya seakan tertawa. "Tidak mungkin ... Chen'er, kamu pasti bercanda kan ... Hei, kamu pasti bercanda kan ... Suami, chen'er pasti bercanda kan." Istrinya menarik pakaian suaminya yang tidak menjawabannya dari tadi.
Melihat wanita itu bersedih, Qin Chen tidak dapat berbuat banyak untuk sekarang. Dia hanya dapat menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Jadi ... Kemana Putra kami sebenarnya?" Tanya Patriak Qin yang masih tenang. Istrinya semakin gemetaran, keringat dingin di tubuhnya membasahi dirinya.
"Aku akan menjelaskannya ... Saat aku tiba di Dunia ini, aku tidak mengetahui apapun. Tiba-tiba, pria sebelumnya menarikku datang kesini dan menjadi Tuan Muda Qin. Benar, penampilan diriku mungkin sama seperti Putra kalian, namun sebenarnya tidak, meksipun namaku adalah Qin Chen, aku bukan Putra kalian."
"Saat itu, aku ingin menjelaskan sebenarnya, namun nasib berkata lain. Karena untuk mempertahankan keluarga Qin, dan melihat wanita disampingmu bersedih kehilangan Qin Chen, aku berpura-pura menjadi dirinya. Sampai aku menemukan informasi tentang, dan mencoba mencari tahu dimana dia sekarang."
"Setelah menemukan keberadaan Qin Chen, aku mengerti keadaannya. Orang yang berada disampingmu adalah dalang semuanya, apa yang terjadi pada Putra kalian berasal darinya. Jadi, aku memutuskan untuk berdiam diri di sini untuk mengakhiri penderita Qin Chen dan balas dendam-nya. Dari sini, seharusnya kau telah paham." Qin Chen menjelaskannya sesingkat mungkin untuk memperpendek waktu.
Saat Patriak Qin mendengarnya, dia sempat mengertak giginya menahan amarah yang meluap-luap. Bahkan, istrinya disamping tidak dapat bergerak lagi, dia pingsan saat mendengar penjelasan Qin Chen.
Sementara itu, Qin Chen yang telah merencanakan semuanya gagal. Sebenarnya dia ingin mengungkapnya setelah selesai pertandingan Keluarga, ternyata Takdir berkata lain.
"Dimana putra kami!" Ucapnya dengan nada sedikit keras dan kasar.
...
__ADS_1
*Bersambung ...