
Di dalam ruangan, Qin Chen sedikit termenung mendengar kata-kata yang sulit untuk dia jelaskan.
Melirik sedikit kesamping, wanita ataupun ibunya Qin Chen telah pingsan disana membuatnya sedikit bersalah. Sekalipun umur mereka dapat dikatakan sama, namun membuat orang tua seperti ini membuatnya bersalah.
"Ha ... Baiklah, sebelum itu ... " Qin Chen mengangkat tangannya, menjentikkan jari-jarinya memanggil tiga orang yang Qin Chen kutuk sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah berada di samping Qin Chen. Berlutut ketakutan, sepanjang hari berada tidak jauh dari tempat Qin Chen, karena mereka tidak ingin mati sia-sia.
"Memberi hormat, Tuan." Ucap mereka bertiga serempak.
Patriak Qin dibingungkan, namun Qin Chen mengetahui hal tersebut, dan perlahan mengeluarkan tubuh atau mayat Qin Chen yang telah mati.
Tiba-tiba, dihadapan mereka semua muncul tubuh yang penuh dengan luka-luka fatal. Saat melihat mayat di depannya, Patriak Qin membuka matanya lebar-lebar.
"Ti– Tidak ... Tidak mungkin ... " Dengan gemetar dan emosi yang tidak stabil, Patriak Qin perlahan mendekati tubuh tersebut.
"Kalian bertiga, jelaskan apa yang terjadi pada Qin Chen sebelumnya." Ucap Qin Chen disaat Patriak Qin melihat putranya yang telah mati, namun senyuman diwajahnya begitu bahagia.
"Baik Tuan." Balas mereka.
"Sebelumnya, Tetua Keluarga Mo datang ke Markas Pembunuh Bayaran dan membayar kami untuk membunuh Qin Chen dengan cara apapun. Pada saat yang bersamaan, kami melihat Qin Chen berada di tengah hutan dimana ini adalah kesempatan bagus."
"Disana, kami melakukan tugas kami dan setelah itu membuang mayat Qin Chen kedalam Jurang Kematian." Ucapnya dengan jelas tanpa menyembunyikan apapun.
Pada saat Patriak Qin mendengarnya, dia akhirnya meluapkan amarahnya. Melesat untuk menyerang ketiga orang tersebut dengan tangannya sendiri.
Qin Chen yang melihat hal tersebut langsung menahan amarahnya yang begitu besar dan sangat besar.
Bang!
__ADS_1
Sebuah dentuman kilat memecahkan keheningan ruangan, barang-barang disekitarnya mulai runtuh. Tangan Qin Chen menahan Serangan Patriak Qin.
"Tenanglah Patriak Qin ... Aku tahu apa yang kau rasakan, melampiaskan pada mereka tidak akan membuatmu putramu bahagia disana. Dalang semua ini adalah Patriak Mo dan Putranya." Ucap Qin Chen dengan suara yang begitu tenang.
"Tenang? Apa kau mengatakan padaku untuk tenang disaat Putraku mati ditangan mereka! Haa! Kau ... Apa ini semua rencana licikmu!" Teriak Patriak Qin di hadapan Qin Chen.
Qin Chen mengangkat alisnya. "Sekalipun ini rencanaku, setidaknya aku tidak melakukan hal kotor yang menggunakan orang ketiga sebagai domba hitam. Kekuatan sendiri sudah cukup meratakan ketiga Keluarga besar. Seharusnya kau lebih tahu akan hal ini." Balas Qin Chen.
Saat mendengar hal tersebut, Patriak Qin mulai menurunkan amarahnya dan menarik pukulannya. Kembali ke tempat Putranya berada, dia melihat istrinya yang tengah pingsan disana.
"Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Qin Chen, aku memaksakan diri untuk turun ke Jurang Kematian untuk mencari tubuhnya. Bukan untuk hal lainnya, aku hanya ingin membantunya membalaskan dendam atas apa yang dia dapatkan. Menghancurkan Markas Pembunuh Bayaran, mengutuk Putra Mo dan sekarang, Patriak Mo berada disampingmu. Kau dapat melampiaskan padanya." Qin Chen menjelaskan apa tujuannya sebenarnya.
Patriak Qin melihat ke arah mereka bertiga yang gemetaran di belakang Qin Chen. Saat mengingat perkataan Qin Chen, dia akhirnya mengerti.
"Apa ketiga orang dibelakangmu diberikan Kutukan olehmu?" Tanya Patriak Qin.
"Semuanya tergantung padamu, Patriak Qin. Aku telah menepati janjiku pada Qin Chen untuk membalaskan dendam-nya, dan membantu Keluarga Qin kembali pada masa kejayaannya."
"Selanjutnya, semuanya ada di tanganmu ... Aku tidak akan ikut campur lagi, karena aku memiliki urusanku sendiri yang lebih penting dibandingkan permasalahan Tiga Keluarga sekarang ini." Balas Qin Chen.
Setelah beberapa menit berlalu, Patriak Qin tidak berbicara maupun bergerak. Dia jatuh kedalam keputusasaan melihat putranya telah mati di depannya.
Napasnya yang tidak keluar, dan tubuhnya penuh dengan luka-luka. Melihat hal ini membuatnya bersedih, gagal sebagai Ayah yang melindungi putranya.
'Nah Sistem, apa kamu tahu cara untuk membangkitkan orang mati? Melihatnya seperti ini, aku mengingat keputusasaan diriku dulu yang kehilangan orang berharga.' Batin Qin Chen bertanya-tanya pada sistem.
[Menjawab Tuan: Ada Tiga cara untuk membangkitkan orang yang telah Mati. Pertama, Reinkarnasi. Kedua, Menarik Jiwanya kembali masuk ke dalam tubuh. Ketiga, mendapatkan Heavenly Soul Orb.]
'Dari ketiga cara itu, Reinkarnasi sangat tidak mungkin di saat Dunia sedang dalam Kekacauan Besar. Kedua, aku bahkan tidak tahu Jiwa itu berada, dan ke-tiga, Heavenly Soul Orb sama halnya, namun ini dapat membantu Patriak Qin agar tidak putus asa.' Batin Qin Chen.
__ADS_1
Qin Chen kembali melihat Patriak Qin disana, dia menghela napasnya dan mulai berbicara. "Ada Tiga cara untuk membangkitkan orang yang sudah Mati. Pertama, Reinkarnasi, Kedua, menarik Jiwa, dan ketiga, menggunakan Heavenly Soul Orb. Dari ketiga hal tersebut, cara kedua dan ketiga adalah yang dapat kau lakukan, namun aku tidak tahu terletak dimana."
Mendengar perkataannya, Patriak Qin melihat ke arah Qin Chen dengan ekspresi wajah yang mendapatkan pencerahan. "Apa yang kamu katakan adalah benar?" Tanya Patriak Qin.
"Ya, itulah yang aku ketahui ... Jika kau ingin putramu hidup kembali, kau mungkin akan melawan ribuan pedang dan melewati lautan berapi. Karena, hal ini adalah tabu bagi Surga dan Bumi." Balas Qin Chen.
"Sekalipun melewati ribuan pedang lautan berapi, aku akan melakukannya untuk menyelematkan putraku. Ini ... Ini adalah penebusan karena tidak dapat melindungi anaknya sendiri!"
Mendengar hal tersebut, Qin Chen tersenyum puas. "Baiklah ... Sekarang, aku akan pergi karena aku memiliki urusanku sendiri." Balas Qin Chen sambil beranjak berdiri.
Qin Chen melangkahkan kakinya hendak keluar, namun ditahan oleh Patriak Qin. "Tunggu ... "
Melirik kesamping. "Ada apa? Bukankah sudah selesai?" Tanya Qin Chen.
"Tunggu ... Siapapun kamu sebenarnya, kamu memiliki penampilan yang sama seperti Putraku. Tolong ... Untuk terakhir kalinya ... "Ucap Patrik Qin sambil sedikit membungkuk meminta tolong pada Qin Chen.
Qin Chen melihat ke arah istri Patriak. Dia tahu apa yang diinginkan oleh Patriak Qin, dia tidak ingin membuat istrinya bersedih ataupun merenungkan kepergian Qin Chen.
"Baiklah ... Aku akan membantumu kali ini, setelah satu hari, aku akan pergi dengan cara meminta izin padanya. Agar dia tidak menangis, bukan?" Balas Qin Chen.
"Terimakasih banyak ... "
"Ya, sama-sama."
Qin Chen kembali duduk ditempat sebelumnya, dimana dia mulai memasukkan kembali mayat Qin Chen kedalam penyimpanan.
...
*Bersambung ...
__ADS_1